Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Kejujura Hati


__ADS_3

Alana duduk di tepi ranjang melihat Zhafran sedang sibuk bicara dengan kiliennya di telepon. Rasa takut menyelimuti hati Alana saat itu. Dia takut Zhafran akan kembali bersama Binka, karena Alana merasa hati Zhafran masih ada untuk Binka. Zhafran memang hanya setengah saja mencintai Alana, Zhafran mau menikah dengan Alana karena Nina yang sudah sayang dengan Alana melebihi ibu kandungnya.


"Aku tahu, kamu belum bisa mencintaiku, walaupun sudah ku serahkan seluruh raga ini untukmu, Mas. Tapi, kamu sudah membuat hati ini terlanjur mencintaimu, Mas. Izinkan aku meminta cintamu, walau itu hanya sedikit saja," gumam Alana.


Alana masih duduk di tepi ranjang, mata Alana memandang ke sebelah arah dengan tatapan kosong. Dia masih ingat raut wajah Zhafran yang merasa senang bertemu dengan Binka.


Zhafran mendekati istrinya yang masih saja menatap sudut kamar dengan tatapan kosongnya. Zhafran duduk di samping Alana, dia menggenggam tangan Alana dan menciumnya. Alana menoleh ke arah suaminya, dia tidak menyadarinya kalau Zhafran sudah berada di sampingnya, dan mencium tangannya. Alana tersenyum dengan penuh kehampaan, entah bagaimana rasanya hati Alana saat ini, hidup dengan suami yang hanya menikmati tubuhnya saja tanpa rasa cinta di hatinya.


"Aku merasa, aku adalah boneka bagi Zhafran untuk melampiaskan nafsunya saja. Sehina itukah aku? Aku yakin, Zhafran tidak mencintaiku dengan tulus?" gumam Alana dengan menatap wajah suaminya.


Zhafran mengusap pipi Alana dengan lembut dan mencium Zhafraningnya. Dia tau, istrinya sedang tidak baik-baik saja hatinya karena melihat Binka tadi di pantai.


"Lan," panggil Zhafran.


"Iya, ada apa?" sahut Alana.


"Kamu kenapa?" tanya Zhafran.


"Tidak apa-apa, aku ingin tidur, mas. Aku merasa lelah sekali, bangunkan aku kalau sudah sore,"ucap Alana.


Hati Alana benar-benar tidak tenang. Dia benar-benar melihat sorot mata Zhafran menyiratkan kalau Zhafran masih sangat mencintai Binka, dia melihat tatapan Zhafran yang menyiratkan rindu pada Binka.


Alana meringkuk memeluk guling, tak terasa buliran air mata menetes di pipinya. Dia langsung menyeka dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Sesekali terdengar lirih isakan Alana di telinga Zhafran.


Zhafran bingung dengan apa yang ada di dalam hatinya. Dia memang masih mencintai Binka, tapi di samping dia dan di hidup dia sudah ada wanita baik, yaitu Alana. Wanita yang selalu mengerti dan tahu apa yang Zhafran butuhkan. Wanita yang benar-benar tulus mencintainya. Namun, hati Zhafran tidak bisa berbohong, hanya sedikit saja rasa cinta untuk Alana, itu pun karena Nina.

__ADS_1


"Bahkan aku sudah melakukannya sebagai seorang suami, menggauli dirinya, tapi aku tetap belum bisa memberikan seluruh cinta ini pada Alana. Apa memang belum bisa dan harus terus berlatih mencintai Alana? Atau sama sekali aku tidak akan pernah bisa mencintai Alana, dan hanya Binka yang aku cintai? Aku tidak tahu harus bagaimana, aku mencintai Alana, tapi tidak secinta dengan Binka. Dan, aku tahu ini akan membuat Alana tersiksa," gumam Zhafran.


Zhafran mendengar Alana menangis. Zhafran memang tahu, Alana sedang menangis, dia tidak tahu harus berbuat apa. Meredakan tangisannya dan berpura-pura sangat mencintainya, itu tidak mungkin sekali. Zhafran memang harus jujur dengan Alana, kalau dirinya masih sangat mencintai Binka. Dan, belum mencintai Alana seluruh hatinya, karena masih ada cinta Binka yang tertinggal di palung hatinya.


Zhafran memeluk Alana dan mengusap kepalanya. Dia mencium kepala Alana dengam lembut. Alana semakin terisak dan menumpahka air matanya.


"Lan, aku tahu, kamu menangis karena aku, karena tidak sengaja bertemu dengan Binka. Lan, maafkan aku, iya masih ada cinta di hatiku untuk Binka. Dan, maaf aku masih membagi rasa ini dengan Binka, tidak seutuhnya utukmu," ucap Zhafran.


Tubuh Alana kaku mendengar pernyataan Zhafran. Tangisnya semakin pecah, tapi dia sadar, karena itu memang kenyataannya. Kenyataan kalau Zhafran masih mencintai Binka dan masih setengah hati mencintai dirinya. Alana mengembuskan napasnya dengan kasar.


"Hah! Aku sadar, dan aku tahu itu semua. Kamu memang masih mencintai Binka. Tapi, setidaknya kamu tidak usah bicara seperti itu,"ucap Alana.


"Maaf, Lan, sungguh aku belum bisa memberikan seluruh hati ini untukmu, daripada aku bohong, lebih baik aku jujur apa adanya." Lagi-lagi jawaban Zhafran membuat hatinya sakit.


"Lalu kamu melakukan ini dengan aku? Atas dasar apa?"tanya Alana.


"Ya Tuhan .... aku ini apa? Kau anggap apa aku ini, Mas? Aku istrimu, aku juga berhak dicintai dan disayangi kamu sepenuhya, Mas," gumam Alana.


"Oh, atas dasar itu? Ya sudah aku tidak masalah, selama kamu menjadi suamiku juga aku berhak atas dirimu, berhak untuk mencintaimu," ucap Alana.


"Iya, kamu boleh mencintaiku, tapi maaf, aku belum bisa memberikan hatiku sepenuhnya," ucap Zhafran.


"Lupakan itu. Aku tak mempermasalahkannya," ucap Alana.


Alana menghapus air matanya. Ternyata sia-sia belaka dia menangisi semua, karena pada kenyataannya Zhafran masih sangat mencintai Binka.

__ADS_1


"Oke, aku tidak masalah kamu mencintai Binka. Karena kamu masih berada di sampingku, bersamaku setiap waktu," gumam Alana.


Alana melupakan sakit di hatinya, walaupun sakit itu sesekali muncul lagi di hati Alana. Dia mencoba menjadi istri yang baik saja untuk Zhafran, tak peduli nanti bagaiman ujungnya nasib pernikahan dirinya dan Zhafran.


"Aku harus bisa, aku harus bisa menjadi yang terbaik untuk Zhafran. Entah kapan Zhafran akan mencintaiku dengan sepenuh hatinya hanya untukku, dan entah bagaimana nanti nasib pernikahanku," gumam Alana.


Hari sudah sore, Alana melihat suaminya yang masih tertidur pulas, dia tidak mau mengganggu suaminya tidur. Dia turun dari ranjang, dan mengambil handuknya, dia membawa handuknya ke kamar mandi. Alana mengunci pintu kamar mandinya dan melepas pakaiannya. Dia berdiri di bawah shower, dia merasakan lembutnya air yang menetes di tubuhnya.


Sedikit demi sedikit gejolak hatinya mereda, dengan mengingat ada Nina yang harus bahagia karena dirinya, ada orang-orang yang sangat menyayanginya.


"Inikah nasib pernikahanku? Aku kira, Mas Zhafran akan mencintaiku tulus, tapi ternyata, hanya omong kosong belaka!” umpat Alana.


Alana keluar dari kamar mandi, dia mengambil pakaiannya dan memakainya. Alana mengeringkan rambutnya, lalu keluar dari kamarnya untuk memasak makan malam. Dia sengaja tidak membangunkan Zhafran, dia tidak mau mengganggu tidurnya. Lebih baik dia memasak, daripada melihat Zhafran membuatnya semakin mencintainya.


Zhafran terbangun dari tempat tidurnya, dia sudah tidak mendapati istrinya berada di sampingnya. Zhafran tahu, istrinya paling sedang di dapur untuk memasak. Zhafran beranjak dari tempat tidurnya dan ke kamar mandi untuk mandi.


Zhafran menyadari kalau kata-katanya tadi begitu menyakiti hati Alana. Dia tahu apa yang Alana rasakan saat ini. Selesai mandi Zhafran keluar dari kamarnya. Dia melihat Alana sedang menata makanan di meja makan. Zhafran memerhatikan dari jauh wajah Alana yang terlihat sendu sekali. Dia tahu, kalau Alana habis menangis.


"Dia sedang marah dan kecewa padaku, tapi dia tidak melupakan kewajibannya untuk melayaniku sebagai suaminya. Sungguh baik kamu, Lan. Tapi, maaf aku masih belum bisa memberikan hatiku yang utuh untuk kamu, semua ini aku lakuka untuk Nina," gumam Zhafran.


Zhafran mendekati Alana yang sudah selesai menata makanannya. Dia memeluk Alana dan mencium pipinya. Alana tahu, ini memang kebiasaan suaminya setiap dia menata makanan di meja makan.


"Sudah bangun, mau makan sekarang?" tanya Alana dengan mengembangkan senyumannya.


"Boleh, sepertinya ayam kecapnya enak sekali," jawab Zhafran.

__ADS_1


"Ya, karena ini spesial untuk suamiku," ucap Alana.


Alana dan Zhafran makan bersama dan setelah itu, mereka sedikit berbincang di meja makan seusai makan.


__ADS_2