
Ardha makin siaga pada Alana, apalagi sudah mendekati HPL, dan tekanan darah Alana sering tidak stabil di usia kandungannya yang sudah mendekati persalinan. Alana dijaga ketat oleh budhenya, ibunya, dan Ardha. Arofah sudah berada di Jogja, setelah tahu kalau putrinya sekarang sedang hamil. Ia menyesal, tidak bisa merawat Alana yang ternyata sedang hamil, dan sudah bercerai dengan suaminya. Arofah tahu saat Devan dan Nadia pergi ke tempatnya untuk menjenguk Alana.
Devan dan Nadia tidak tahu kalau ternyata Alana tidak di rumahnya, terkahir bertemu saat di stasiun, dan Alana bilang akan pulang ke desanya. Devan dan Nadia yang memang sedang sibuk mempersiapkan pernikahan Acha, dia akhirnya tidak berpikir untuk menjenguk Alana, padahal Thalia dan Arkan juga sudah berencana ingin menjenguk Alana di desanya.
Arofah sudah di Jogja sejak sebulan yang lalu. Selepas Devan dan Nadia mengunjungi rumahnya, dan menanyakan soal Alana, Arofah tahu di mana putrinya berada, Arofah sangat yakin Alana ada di Jogja bersama Aninggar. Arofah tidak memberitahukan Devan dan Nadia, kalau kemungkinan Alana di Jogja, karena ia yakin putrinya ingin menjauh dari keluarga Zhafran. Selepas Devan dan Nadia pergi, Arofah langsung meminta tolong tetangganya untuk mengantarkannya ke Jogja, ke rumah Aninggar.
“Bu ....” Alana menyandarkan kepala di bahu ibunya.
“Maafkan ibu ya, Lan?”
“Ibu gak salah kok. Alana tahu, ibu takut kehilangan Alana kalau sampai Alana tahu siapa orang tua kandung Alana. Ibu gak usah khawatir, Alana sangat menyayangi ibu, Alana tidak akan pernah meninggalkan ibu, meski Alana tahu siapa orang tua Alana. Alana akan bersama ibu,” ucap Alana. “Alana minta maaf, karena Alana tidak memberitahu ibu soal perceraian Alana, dan kehamilan Alana. Jujur Alana waktu itu kecewa, dan akhirnya Alana ke sini, karena di sini, di rumah budhe banyak kenangan Alana dengan ayah.”
“Ibu akan memberitahukan siapa orang tua kamu, Lan. Tapi, beri waktu ibu untuk menenangkan hati ibu, karena untuk mengungkapkan semuanya ibu butuh keberanian, ibu terlalu banyak berbohong, Lan. Ibu takut, setelah ibu menceritakan semuanya, orang tua kandung kamu menuntut ibu,” ucap Arofah.
“Bu, menuntut bagaimana? Orang tua Alana kan yang membuang Alana?” Suara Alana sedikit memekik, karena menahan sakit dibagian perutnya.
“Semua itu salah, Alana. Sebenarnya ....” Ucapan Arofah terhenti saat merasakan tubuh Alana lemah dan terjatuh di pangkuannya.
“Alana? Alana .... bangun, Nak! Mbak Aning ... Iwan .... Ardha .... tolong Alana!” teriak Arofah panik.
“Alana!” Ardha mendekati Alana yang pingsan di pangkuan ibunya. “Ibu ... darah!” Ardha melihat darah mengalir di kaki Alana.
“Wan, siapakan mobil!” titah Aninggar pada putranya.
Ardha membopong tubuh Alana, membawanya ke dalam mobil. Aninggar mengambil tas yang sudah ia siapkan untuk dibawa ke rumah sakit saat Alana akan melahirkan. Aninggar dan Arofah sudah mempersiapkan semua sebelum persalinan, supaya tidak gugup.
Iwan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak peduli dengan jalanan yang rame.
“Wan, hati-hati bawa mobilnya, boleh ngebut asal jangan ugal-ugalan!” Ardha sedikit takut Iwan mengemudikan mobil dengan bar-bar.
“Aku tidak mau Alana kenapa-napa, Ar!” jawabnya, lalu menambahkan kecepatannya, dan menyalakan lampu hazard.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Sakit, Iwan langsung memanggil tim medis untuk menangani Alana. Perawat mengambil brankar dan membawa Alana ke IGD untuk segera ditangani.
“Sus selamatkan adik saya dan bayinya!” ucap Iwan panik.
Ardha tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya mondar-mandir di depan IGD dengan melantunkan doa di dalam hatinya. “Selamatkan orang yang aku cintai, Ya Allah.”
“Keluarga dari pasien bernama Alana?” panggil suster.
“Iya sus, saya ibunya,” ucap Arofah.
“Suaminya ada?” tanya Suster.
Mereka yang di depan saling menatap, Arofah mengisyaratkan Ardha untuk mengaku suami Alana, tapi Ardha ragu, dan tidak enak dengan Arofah, karena ini masalah darurat. “Dia suaminya,” ucap Arofah dengan menunjuk Ardha.
“I—iya sus, saya suaminya,” jawab Ardha.
“Baik, mari ikut saya, Pak. Dokter yang menangani ibu Alana ingin bicara dengan bapak,” jelasnya. Ardha berjalan di belakang suster tersebut untuk menemui dokter.
“Selamat sore, Pak?”
“Begini, istri anda mengalami pendarahan yang sangat hebat, sehingga harus segera diambil tindakan operasi,” jelas Dokter.
“Lakukan yang terbaik, Dok,” hanya itu yang Ardha katakan.
“Kami juga membutuhkan beberapa kantong darah untuk pasien. Golongan darahnya AB, apa ada keluarga yang memiliki golongan darah yang sama?” tanya Dokte.
“Iya, nanti saya bicara dengan keluarga saya di depan,” jawab Ardha.
“Papa, iya papa golongan darahnya AB, Fatih juga AB, tapi mereka di Jakarta? Sedangkan Alana butuh sekarang?” batin Ardha.
Arofah sibuk menghubungi seseorang yang sedang dalam perjalanan ke rumah Aninggar. Arofah memang akan menjelasakan semuanya pada Devan dan Nadia soal Alana, jadi Arofah sudah membuat janji dengan mereka untuk ke Jogja hari ini, tapi mereka belum juga sampai, dan sekarang kondisi Alana seperti ini. Arofah semakin takut, takut akan terjadi apa-apa dengan Alana.
__ADS_1
“Selamatkan anakku, dia belum tahu yang sebenarnya, jangan biarkan dia tidak tahu orang tuanya selamanya. Ya Allah, berilah kemudahan Alana untuk persalinana, selamatkan Alana juga bayinya,” batin Arofah.
Arofah mendengar ponselnya berdering. Ia melihat siapa penelefonnnya, lalu menjawabnya. “Segera ke rumah Sakit Prima Sehat, Alana di rumah sakit, dia pendarahan,” ucapnya menjawab telefon.
Aninggar melirik adiknya yang sedang bicara dengan seseorang, ia penasaran, karena dari kemarin adiknya seperti ada janji dengan seseorang. “Siapa, Fah?” tanya Aninggar.
“Orang tua kandung Alana,” jawab Arofah.
“Siapa sebenarnya, Fah? Kamu tega ya menyembunyikan sampai Alana kepikiran dan jadi seperti ini?” desah Aninggar.
“Mbak, aku takut Alana meninggalkan aku kalau dia tahu siapa orang tuanya,” jawab Arofah.
“Siapa orang tua Alana sebenarnya, Fah?”
“Nanti orangnya ke sini, kamu akan tahu siapa mereka, Mbak. Maafkan aku, Mbak. Aku sudah menyembunyikan ini, harusnya aku memberitahukan semua ini, apalagi Alana sudah dekat dengan mereka,” ucap Arofah dengan terisak.
“Siapa, Fah? Apa Devan dan Nadia orang tua kandung Alana?” tanya Aninggar penuh selidik.
Arofah hanya diam, dia ingin menjawab iya, tapi ia takut. Takut kalau Aninggar semakin marah.
“Arofah, katakan siapa? Apa benar Devan?!” gertak Aninggar.
“Mbak, aku minta maaf, iya mereka orang tua Alana,” ucapnya.
“Astaga Arofah ... Mbak tidak menyangka kamu setega itu, apa salahnya jujur, Alana juga masih sangat menyayangimu!”
“Aku tidak sanggup jujur, Mbak. Karena aku sudah membohongi Devan dan Nadia, mereka pernah mengunjungi ke rumah, dan aku jawab aku tidak melihat bayi jatuh, padahal Alana sudah ada pada mbak,” jelas Arofah.
“Lalu yang kamu bilang padaku? Yang setelah Alana jatuh ke dasar jurang, ada anak yang jatuh lagi? Itu semua kebohonganmu, Fah?”
“Sebetulnya, sebelum Alana jatuh, ada anak yang jatuh, dan ketemu, tapi meninggal. Sebulan setelah itu Alana, aku menemukan masih keadaan sehat,” jelas Arofah.
__ADS_1
Aninggar benar-benar tidak mengerti ke mana jalan pikiran adik iparnya itu. Kasihan Alana, dia selalu berharap ingin bertemu dengan ibu dan ayah kandungnya, setiap malam, selama di rumah Aninggar, Alana selalu cerita kalau dirinya ingin bertemu dengan orang tua kandungnya, sebelum ia meninggal. Sekarang melihat Alana keadaannya seperti ini, Aninggar benar-benar ketakutan, ia takut keponakan yang sangat ia sayangi dan ia cintai tidak bisa bertemu dengan orang tua kandungnya.
“Selamatkan Alana, Ya Allah. Beri dia kesempatan bertemu dengan orang tua kandungnya,” batin Aninggar.