
Ardha dan Meilan sedang dirias oleh tim MUA untuk acara resepsinya di Jogja. Kini mereka dirias lagi layaknya pengantin, tapi hanya mengenakan gaun biasa, tidak ada acara adat lagi, atau lainnya. Hanya untuk menemui tamu-tamu kantor Ardha, dan rekan bisni
Mereka terlihat bahagia di atas pelaminan megah, menyambut beberapa tamu undangan, dengan menggendong Askara. Dari tadi Askara nemplok saja dengan Ardha, padahal semuanya sudah membujuk Askara untuk ikut dengan mereka, Askara tetap tidak mau, dia maunya dengan Ardha dan Alana yang sedang menemui tamu di atas pelaminan.
“Pak Ardha ... selamat, ya?” ucap seorang perempuan, dia adalah staf di kantor Ardha, yang katanya suka dengan Ardha.
“Iya, Dini, terima kasih,” jawab Ardha.
“Pak Ardha, buy one get one, ya? Ah ... ditaksir gadis malah milih yang janda, memang janda makin di depan ya, Pak?” gurau pria yang ada di belakang Dini.
“Kemarin kantor kita rame, Pak. Rame cewek-cewek galau, katanya hari patah hati sedunia, Pak Ardha menikah,” ucapnya dengan terkekeh.
“Kalian ada-ada saja, ya ini pilihan saya, cinta pada pandangan pertama, tapi saya punya semboyan, ku tunggu jandamu, jadi sekali Alana jadi janda, aku kejar dia, gak peduli apa pun,” ucap Ardha.
“Sekali lagi selamat, Pak,” ucap mereka.
“Ih ... gantengnya ... kok mirip Pak Ardha, ya?” ucapnya sambil mengusap pipi Askara.
“Mirip dong, kan aku ayahnya, jodoh kan jadinya? Meski bukan ayah sambungnya, tapi dia mirip denganku?” ujar Ardha.
“Selamat ya, Mbak. Cantiknya, pantas Pak Ardha gak pernah mau lirik perempuan lain, mbak cantik sekali,” puji seorang wanita, pada Alana.
“Terima kasih, Mbak,” ucap Alana dengan ramah, meski sedikit sewot karena ternyata banyak sekali yang mengagumi sosok Ardha di kantor.
Setelah para tamu memberi ucapan selamat, Alana menyenggol lengan Ardha, “Ternyata fans kamu banyak, ya? Cewek-cewek kantor sampai merayakan hari patah hati sedunia karena kamu menikahi janda?” ucap Alana.
“Jangan gitu dong, mereka memang keterlaluan bercandanya. Aku kalau ditanya stafku yang perempuan, sudah punya pacar belum, aku jawab sudah, aku sudah punya calon istri bukan pacar lagi, dan fotomu yang selalu aku kasih lihat ke mereka,” ucap Ardha.
“Ah masa sih?”
“Bener, Sayang, tanya tuh Iwan,” ucap Ardha.
“Iya aku percaya sayang. Kamu milikku, aku tidak akan membiarkan perempuan menggodamu!”
“Tenang saja, perusahaan nanti aku pasrahkan sama Iwan. Aku mau fokus ke bengkel, katanya anaknya Om Fajar mau ikut ke sini, jadi bisa bantu aku mengelola bengkel. Aku tidak bisa meninggalkan dunia otomotifku, mungkin papi bisa, itu pun karena opa memaksanya memegang perusahaan. Jadi papi menyerahkan semua pada Om Fajar. Dulu Opa Arsyil juga terpaksa urus perusahaan, dan akhirnya semua urusan bengkel di pegang ayahnya Om Fajar, sekarang aku tidak mau kalah sama Om Fajar dan ayahnya Om Fajar dong? Masa iya peninggalan Opa Arsyil yang jadi penerus anak cucu mereka, sekali-kali dong aku meneruskan tanpa nyabang ke perushaan keluargaku?” ucap Ardha.
“Iya juga sih, sayang kalau tidak dikelola. Makanya aku lebih memilih meneruskan toko ayah yang lama terbengkalai, jadi butik aku tinggalkan dulu sementara,” ucap Alana.
Selesai acara, semua keluarga berkumpul di ruang tengah. Mereka akan bermalam di rumah Ardha, tapi karena rumah Ardha hanya ada empat kamar, satu kamar utama, dua kamar tamu, dan satu kamar Askara, jadi paling bisanya digunakan orang tua Ardha dan orang tua Alana, dan kamar Askara sementar Ardha gunakan untuk menaruh barang-barang. Jadi kakak-kakaknya Alana dan Ardha harus menginap di rumah Budhe Aninggar.
Ardha memang membuat rumah tidak terlalu megah dan besar seperti rumah orang tuanya dan kakak-kakaknya. Ardha membuat rumah dengan minimalis tapi mewah, tatanan di dalam rumah Ardha meski minimalis tapi terkesan mewah.
Padahal Zhafran ingin sekali tidur di rumah Ardha, karena ia tidak ingin jauh dari Askara, dan juga ia ingin terus melihat Alana. Entah kenapa sejak Alana menjadi istri Ardha, bayang-bayang Alana tak bisa lepas dari pelupuk mata Zhafran.
“Aku ini kenapa? Kenapa bayangan Alana terus menghantuiku? Kenapa aku selalu ingin melihat dirinya? Ingat Zhafran, kamu sudah mencampakkan dia, ini hukuman buatmu! Benar apa yang Ardha katakan, aku akan menyesal dan menderita hidupnya jika menyakiti Alana, dan sekarang terbukti aku sangat menyesal dan menderita,” gumam Zhafran.
^^^
Satu Minggu setelah acara resepsi di rumahnya, Ardha kini sudah mulai berkatifitas seperti biasanya. Ia pergi bekerja pagi-pagi, siangnya ia sempatkan makan siang di rumah, dan pulang kerja jam lima sore.
Sejak mereka hanya tinggal bertiga saja, karena asisten di rumah Ardha hanya sampai sore saja, tidak menginap di rumah, Ardha semakin berlaku manis sekali terhadap Alana. Tidak seperti biasa, Ardha lebih romantis. Karena setiap harinya, selalu membawakan oleh-oleh untuk anak dan istrinya saat pulang kerja. Dan hari ini Ardha memberi sebuah hadiah untuk Alana.
__ADS_1
"Sayang, apa ini? Ini bukannya tiket pesawat?" tanya Alana dengan senyum bahagia.
"Ya, kita bertiga akan ke Bali, kita bulan madu. Dan aku juga ingin mengajak Askara. Jangan di tinggal, dia anak kita, jadi ke mana pun kita pergi, dia harus ikut," ucap Ardha.
"Iya dong harus, kasihan nanti kalau sendiri, masa mau dititipin budhe sama ibu? Mereka juga sama-sama sibuk, kan?" jawab Alana.
“Iya, makanya kita wajib bawa Askara ke mana pun kita mau pergi, entah itu liburan atau apa,” ucap Ardha. “Kalau pun ada baby sitter, ya tetap saja Askara kita bawa, tanpa baby sitter. Toh kita sudah biasa merawat Askara bersama, jadi mau ke mana pun kita bisa membawa Askara tanpa kerepotan.”
“Iya, kita kan apa-apa sendiri? Kadang juga aku lebih milih bawa Askara ke toko, daripada aku sewa baby sitter. Kan di toko aku buat kamar, buat istirahat Askara?” ucap Alana.
Seusai makan malam, Alana menyiapkan baju -bajunya untuk besok pergi ke Bali. Ardha sibuk bermain dengan Askara. Tapi, sepertinya Askara sudah sangat mengantuk, dan dia menidurkannya di atas tubuhnya. Tidak membutuhkan waktu lama, Askara tertidur pulas dia atas dada Ardha.
Ardha mengajak Alana duduk di tepi ranjang seusai menidurkan Askara. Mereka berbincang-bincang sebentar sebelum tidur. Ardha mengusap kepala Alana dan mencium keningnya.
"Sayang, aku bahagia sekali, orang yang sangat aku cintai, berada di sampingku saat ini. Terima kasih, sayang, kamu sudah mau menemani hidupku dan mencintaiku, menjadi teman hidupku sampai kita senja nanti, dan mengarungi bahtera rumah tangga ini bersama," ucap Ardha.
"Sama-sama mas, kita lewati bersama lika-liku hidup ini bersama ya, Sayang." Alana memeluk Ardha.
Ardha sudah bersiap untuk berangkat ke Bali. Ardha dan Alana memang tidak mengabari kedua orang tua mereka kalau mau bulan madu ke Bali. Ardha memang dadakan, karena dia seminggu ini sudah meninggalkan Alana bekerja, dan tidak bisa pergi-pergi karena pekerjaan Ardha begitu padat dari pagi sampai sore, bahkan kadang sampai malam. Jadi weekend ini, Ardha berniat mengajak Alana liburan sekalian bulan madu.
“Iya, Pi. Ardha dadakan mau ke Balinya, jadi ya gak sempat kabar-kabar,” jawab Ardha saat papinya telefon dan katanya akan ke Jogja lusa dengan orang tua Alana.
“Ya sudah kamu have fun dengan keluarga, ya?”
Ardha mengakhiri telefon dari papinya. Baru saja mematikan telefon dari papinya, papa mertuanya menelefonnya.
“Iya, Pa?”
“Pa, gak usah repot-repot, kami sewa hotel saja nanti,” jawab Ardha.
“Jangan, nanti papa minta penjaga Vila untuk siapkan semuanya, kamu tinggal pilih saja, mau yang dekat pantai, atau yang di daerah pegunungan, atau kalian bisalah berapa hari menikmati daerah pantai, dan beberapa hari ke daerah pegunungan. Papa siapkan semua, papa nanti suruh sopir jemput kamu di bandara, jangan sewa mobil atau hotel, kamu nurut sama papa!” tegas Devan.
“Iya deh, kalau papa sudah bicara gini aku bisa apa?” jawab Ardha.
Setelah berbincang lama dengan papa mertuanya, Ardha mengakhiri panggilannya. Dia memeluk Alana yang sedang menata baju di kopernya. “Papa itu sukanya begitu? Padahal aku gak ingin merepotkan papa atau papi,” ucap Ardha lalu menciumi pipi Alana.
“Ya begitu orang tua kita. Sepertinya aku merasakan mereka itu terlalu khawatir dengan kami yang jauh dari mereka, ya?” ucap Alana.
“Iya sih, kadang aku gak enak sendiri malah sama kakak-kakak, kalau papi dan mami berlebihan sama aku dan kamu, itu makanya aku gak bilang mau liburan ke Bali sama kamu,” ucap Ardha. “Eh Iwan yang bilang sama Fatih, tembus deh ke mana-mana? Apalagi papi sama papa mau ke sini katanya?”
“Ya itu, aku pun sama, aku gak mau mereka seperti iri pada kita yang selalu diperhatikan. Aku tahu sih, aku ini baru ketemu mereka sekarang, jadi wajar papa dan mama ingin memberikanku apa yang belum sempat mereka berikan kepadaku,” ucap Alana.
^^^
Keesokan harinya Alana dan Ardha sudah berada di Bali. Mereka bermain bersama Askara di tepi pantai. Hamparan pasir putih begitu berkilau di mata mereka. Alana menggunakan dress berwana biru muda. Mereka terlihat seerti keluarga yang sangat bahagia.
Ardha tahu, ini adalah hal terpenting dalam hidupnya. Berbulan madu bersama istri tercintanya. Tapi, dia tidak melupakan Askara. Dia tetap mengajak Askara ke Bali, karena Ardha tidak mau sehari tanpa Askara. Ya, karena Ardha menyayangi Askara lebih dari apa pun, seperti anak kandungnya sendiri. Dan, Ardha menggantinya dengan kata liburan keluarga.
"And, kenapa kamu ajak Askara ke sini?" tanya Alana.
"Kan liburan? Masa Askara gak diajak? Askara itu anakku juga. Mana mungkin aku meninggalkan dia dengan iwan dan budhe, atau ibu? Atau dengan orang tua kita dan mungkin dengan Binka dan Kak Zhafran. Itu tidak mungkin, Sayang. Di setiap momen hidupku, aku hanya ingin kita bertiga, tidak hanya berdua saja. Karena kalian hidupku. Kalau aku tinggalkan Askara di rumah, seperti ada yang kurang dalam hidupku, dan setiap embusan napasku menjadi tidak sempurna, sayang," jelas Ardha.
__ADS_1
"Uluh ... so sweet nya suamiku ini," ucap Alana dengan menggoda Ardha.
"Jangan menggoda, nanti aku makan lagi seperti semalam. Aku tidak bisa romantis, Sayang. Itu kata-kata memang dari hatiku, karena kamu dan Askara adalah hidupku. Itu kenapa aku bersikeras tetap tinggal di Jogja. Aku tidak mau kita di sana, dan Askara mengenal Kak Zhafran lebih dekat lagi. Bukan aku menjauhkan anak dari ayah kandung nya, tapi aku masih belum terima dengan perbuatan dia dulu pada kamu, sayang. Dan, aku terlalu cemburu jika Kak Zhafran dekat-dekat kamu dan Askara, juga saat Kak Zhafran curi-curi pandang ke kamu," jelas Ardha.
"Ya, aku tahu kamu tidak bisa romantis, tapi aku suka caramu mencintaiku, Mas," ucap Alana. “Aku juga masih sangat kecewa, bahkan aku masih marah dengan Kak Zhafran dan Binka. Tidak mudah melupakan rasa sakit itu, Mas. Terlebih, saat meminta dia untuk menceraikan aku, dia begitu terlihat bahagia, tanpa meminta aku kembali, dan tidak membujuk aku. Ya, dia membujuk, tapi tidak sering, karena aku tahu, dia sangat mencintai Binka, dan dia juga sedang mengandung anaknya. Aku sedikit heran saja, dia lebih memilih orang lain dari pada istri sahnya," ungkap Alana.
"Itu yang membuat aku kecewa sekali pada Kak Zhafran. Aku sudah tegaskan pada dia saat dia mau menikahimu, kalau sampai menyakiti kamu, aku jamin hidupnya akan berantakan dan tidak baik-baik saja. Dan, sekarang, terbukti kata-kataku. Hidupnya hanya dengan Binka saja, dia di jauhi mami, papi, dan Zhalina. Lebih parahnya lagi, Nina. Dia sama sekali tidak mau tinggal dengan Kak Zhafran dan Binka. Coba kamu tidak membujuk Nina kemarin, dia tidak mau dekat lagi dengan Binka dan Kak Zhafran. Tapi, aku merasa kasihan juga sih. Ya, begitulah karma. Dan karma selalu berlaku dalam kehidupan kita," tutur Ardha.
"Iya, betul katamu, Mas. Aku juga tidak menyangka, Nina sebegitu marahnya dengan Binka," ucap Alana.
"Ya begitu, memang dari kecil Binka tidak dekat dengan Nina. Nina lebih dekat dengan mami dan Kak Lina. Tahu sendiri, Binka sibuk dengan selingkuhannya itu," ucap Ardha.
"Sudah jangan bahas mereka, lebih baik kita menatap masa depan kita, aku, kamu dan Askara, juga calon anak-anak kita nanti. Biarlah masa laluku milikmu, masa laluku miliku, tapi masa depan adalah milik kita. Bukankah begitu kata Bapak **. Habibie, Sayang?" ucap Ardha sambil mengusap pipi Alana.
Askara dari tadi senang sekali bermain pasir di tepi pantai. Alana dan Ardha membuat istana pasir dengan Askara. Mereka terlihat bahagia. Kini lengkap sudah kebahagiaan Ardha. Alana wanita yang ia cintai, kini berada di dekapannya.
"Aku janji, Lan. Aku akan terus menjagamu, dan menjaga Askara serta anak-anak kita kelak," gumam Ardha.
Di rumah Arkan, Arkan terlihat sedang duduk di teras rumahnya. Sejak Zhalina ikut suaminya, Arkan dan Thalia hanya tinggal berdua saja di rumah. Ada rasa kesepian dalam hidupnya sekarang, tapi mereka bahagia, anak-anaknya sudah menemukan bahagianya. Dan, Nina sudah mau ikut dengan Binka, karena Alana yang membujuknya.
Thalia menghampiri suaminya yang masih terlihat tampan meski usianya sekarang sudah menginjak kepala enam. Thalia duduk di samping Arkan dan menyandarkan kepalanya di bahu Arkan.
"Pi, aku cariin malah di luar," ucap Thalia.
"Sepi, ya mi?" tanya Arkan.
"Beginilah orang tua, Pi. Kalau anak-anaknya sudah berkeluarga. Yang penting, mereka bahagia semua, pah, dengan pasangan mereka," jawab Thalia.
"Iya, mi. Rasanya baru kemarin, kita bermain dengan mereka, bercanda, dan sekarang, mereka sudah hidup masing-masing dengan pasangan mereka. Kita tinggal berdua, Nina juga sudah ikut Zhafran dan Binka," ucap Arkan.
"Ya, mami juga merasakan seperti itu. Tapi ini lah hidup, Pi. Nanti juga berkumpul lagi, yang terpenting mereka bahagia dan sehat semua." Thalia tidur di pangkuan Arkan dengan berkata seperti itu.
"Hmm ... Manja nih mentang-mentang tidak ada anak dan cucu," ucap Arkan sambil mengusap kepala Thalia.
"Ya, aku rindu bermanja dengan kamu, Pi," ucap Thalia.
"Ya sudah, kita bulan madu, seperti Ardha dan Alana," ucap Arkan.
"Hmm ... maunya,"
"Mau lah,"
"Mi, papi kangen Askara, nanti kalau mereka pulang dari Bali, kita ke sana, ya?" pinta Arkan.
"Iya, pi, dia lucu, ngangenin, tampan sekali sama seperti Ardha waktu kecil, dan mirip kamu, pi," ucap Thalia.
"Iya, banyak yang bilang seperti itu, Zhafran yang ayah kandungnya malah tidak mirip dengan Zhafran sama sekali," ucap Arkan.
"Iya, benar pi,” ucap Thalia.
Arkan dan Thalia berbincang hingga malam hari di depan teras. Ya, mereka akhirnya lega, perselisihan antara Zhafran dan Ardha sudah selesai. Kini mereka hidup bahagia dengan pasangannya masing-masing.
__ADS_1