
Sudah pukul sepuluh malam, mereka masih berkumpul untuk melepas rindu. Alana dari tadi mengobrol dengan Thalia dan Nina. Nina juga dari tadi bergelayut manja pada Alana. Untung saja Askara dari tadi dengan opanya dan Ardha, jadi Alana bisa melepaskan kangen dengan Nina. Askara tidur di gendongan Arkan. Arkan bahagia sekali, akhirnya Askara mau digendongnya, butuh perjuangan sekali saat tadi merayu Askara. Mungkin karena tidak pernah bertemu, jadi Askara tidak mau digendongnya.
“Lan, Askara sudah tidur, ini mau ditidurkan di mana?” tanya Arkan.
“Di kamarku, Pi,” jawab Alana. Alana mengantar Arkan ke kamar untuk menidurkan Askara.
Askara pulas sekali tidurnya, mungkin dari tadi siang dia lelah bermain, dan tidak tidur siang. Sekarang Askara memang susah sekali kalau diajak tidur siang, jadi malamnya pasti pulas sekali tidurnya. Arkan menatap wajah Askara yang sudah terlelap.
“Dia seperti Ardha saat bayi,” ucap Arkan.
“Masa, Pi?” ucap Alana.
“Iya, sangat mirip dengan Ardha saat bayi.” Jawab Arkan membenarkan.
“Namanya juga keponakan Ardha, Pi?” ucap Ardha yang juga ikut masuk ke kamar Alana.
“Iya, cocok kalau kalian menikah, Askara mirip Ardha,” ujar Arkan.
“Bagaimana gak mirip Ardha? Orang Ardha yang selalu ada sejak Askara ada di perut,” ujar Alana.
“Selalu ada, tapi kamu kesel mulu sama aku? Makanya anaknya mirip!” tukas Ardha.
“Daripada mirip papanya mending mirip omnya yang jelas baik sama kamu ya, Nak?” ucap Alana. “Meski kadang ngeselin, bikin bunda jengkel,” imbuhnya.
“Sudah kalian jangan berdebat, ayo papi mau istirahat, katanya istirahat di rumahmu saja?” ajak Arkan.
“Iya, papi sama mami istirahat di rumahku saja,” jawab Ardha.
“Lho bukannya ibu sudah siapkan kamar buat papi sama mami? Menginap di sini saja Pi?” ucap Alana.
“Pulang saja, Lan. Besok pagi-pagi ke sini lahi, dekat juga rumahnya, paling gak ada satu jam,” ucap Ardha.
“Ih ibu kan sudah siapkan kamar, Ar?”
“Sudah buat papa mamamu saja besok kamarnya, lagian aku malas tidur sama Iwan, Lan,” ucap Ardha.
Alana keluar mengantarkan Ardha dan mami-papinya pamit pulang. Padahal Aninggar sudah menyiapkan kamar untuk Arkan dan Thalia, tapi Arkan penasaran dengan rumah Ardha, jadi ingin menginap di rumah Ardha saja.
“Kenapa gak di sini saja, Pak Arkan?” tanya Aninggar. “Saya sudah siapkan kamar tadi, biar Ardha tidur sama Iwan, toh sudah biasa menginap di sini dengan Iwan tidurnya.”
“Iya, Pak Arkan, menginap di sini saja, kan sudah saya siapkan tadi kamarnya?” ujar Arofah,
__ADS_1
“Saya pengin menginap di rumah anak saya. Sesekali mumpung ke sini, menginapnya di rumah Ardha. Kan saya baru pernah ke sini, Bu?” jawab Thalia.
“Ya sudah, tidak apa-apa, tapi besok pagi-pagi harus sarapan di sini ya? Kita sarapan bersama,” ucap Aninggar.
“Waduh ini saya jadi ngrepotin budhe dong?” ucap Thalia.
“Sudah sesekali ini, Bu Lia,” jawab Aninggar.
“Sarapan di sini saja, Mi. Biar mami gak repot, masa mami tamu repot sih?” ujar Ardha.
“Kamu malah yang merepotkan budhe sama ibu!” tukas Arkan.
“Tidak apa-apa Pak Arkan, kami malah senang, jadi silahturahmi keluarga kita terjaga,” ujar Aninggar.
Arkan dan Thalia mengiyakan. Mereka pamit dengan keluarga Alana, tapi Nina tidak ikut tidur di rumah Ardha, karena dia masih kangen sama Alana.
“Jangan merepotkan bunda, ya?” ucap Arkan.
“Enggak opa? Aku masih kangen sekali sama bunda,” jawab Nina.
“Ya sudah, oma sama opa tidur di rumah Om Ardha, ya?” pamit Thalia.
Ardha mengajak papi dan maminya pulang ke rumahnya. Arkan begitu penasaran seperti apa rumah anak bungsunya itu, sampai-sampai dia betah tidak ingat pulang.
“Bunda, bunda gak akan pergi-pergi lagi, kan? Bunda akan di sini terus?” tanya Nina.
“Iya, bunda akan tinggal di sini terus, Sayang?” jawab Alana.
“Jadi benar bunda gak pulang lagi? Tetap di sini?”
“Iya, sayang. Bunda sudah nyaman tinggal di sini. Paling nanti pulang kalau Om Fatih dan Om Shaka mau menikah,” jawab Alana.
“Nanti berarti ke sini lagi kalau sudah selesai acaranya Om Fatih dan Om Shaka selesai?”
“Iya, Sayang? Bunda kan tinggalnya di sini sekarang,” jawab Alana.
“Mama jahat ya sama tante. Mimpinya Nina terwujud, mama mengambil papa dari bunda,” ucap Nina.
“Nin, jangan bicara seperti itu. Bunda sama papa berpisah karena memang bunda sama papa sudah harus berpisah, bukan karena mama. Jadi Nina jangan terus-terusan nyalahin mama ya, Sayang?” tutur Alana.
“Tapi kan benar mama ambil papa dari bunda, makanya Nina gak mau sama mama, mama jahat! Dulu ninggalin Nina, terus Nina sudah punya bunda yang baik, malah mama buat bunda pergi,” ucap Nina. “Bunda tahu, Nina sekarang gak mau tinggal sama mama papa, kalau ke rumah eyang saja aku tidak lama menemui mama papa.”
__ADS_1
“Kenapa begitu? Jangan begitu dong sayang? Biar pun kamu kecewa, tetap mereka adalah orang tuamu, kamu jangan seperti itu meskipun kamu kecewa,” tutur Alana. “Sekarang bunda tanya sama kamu, kamu seperti ini sama mama dan papa, apa kamu merasa hatimu sakit?” tanya Alana.
“Iya, Bunda. Sakit kalau ingat bunda pergi karena papa bawa mama ke rumah,” jawab Nina.
Alana mendekati Nina. Dia meraih tubuh Nina lalu memeluknya, dan mengecup kapalanya. Mungkin Nina kurang maksud dengan pertanyaan darinya.
“Jadi maksud bunda itu begini. Sayang. Nina merasa menyesal gak kalau marahan sama mama dan papa terus? Perasaan Nina sakit gak kalau Nina lihat mama dan papa mohon supaya Nina maafin mama dan papa, tapi Nina cuek? Terus kalau mama dan papa minta Nina tinggal di rumahnya tapi Nina menolak? Dan, mungkin kalau mama dan papa ngajak bicara Nina tapi Nina jawabnya ketus? Gimana perasaan Nina saat seperti itu? Sakit gak melihat mama yang mungkin kecewa karena Nina menolak itu? Pengin nangis gak lihat raut wajah mama dan papa yang sedikit kecewa karena gak mendapat respon baik dari Nina?” tanya Alana.
Nina sedikit mengerti sekarang ke mana arah pembicaraan bundanya. Iya dia sakit sekali sebenarnya saat melihat mamanya menangis karena dirinya cuek, tidak mau bersamanya, tidak mau diajak bicara lama, lebih-lebih saat dirinya menolak dengan ucapan yang kasar dan membuat mamanya sakit hati lalu bisanya hanya menangis. Sebetulna dia juga kasihan, hatinya sakit, dan sedih melihat mamanya yang seperti itu. Tapi, mau bagaimana lagi, toh adanya dia seperti itu karena sudah terlanjur kecewa dengan mamanya. Kecewa karena mamanya sudah merebut papanya dari Alana.
“Iya, bunda. Sebenarnya Nina sakit dan sedih melihat mama yang seperti itu. Tapi, Nina sudah sangat kecewa sekali, Bunda,” jawab Nina.
“Mau sampai kapan, Sayang? Mereka orang tuamu, hanya punya kamu anak satu-satunya. Mungkin mereka pernah melakukan kesalahan, tapi Tuhan saja mau mengampuni kesalahan hamba-Nya, masa Nina gak mau memaafkan dan melupakan semua kejadian yang menyakitkan itu. Sekarang Nina harus belajar mengikhlaskan, memaafkan, dan menerima keadaan meski begitu menyakitkan. Tidak ada salahnya marah dan kecewa, tapi sesuai porsinya. Kalau kita terus menyimpan marah dan dendam, kita sendiri yang akan sakit, Nin,” tutur Alana.
“Bunda tanya sama Nina lagi, Nina sakit kan melihat mama dan papa Nina sedih karena Nina gak mau dengannya?” tanya Alana.
“Iya bunda, sebetulnya hati Nina sakit, sedih, dan kecewa,” jawab Nina.
“Nah itu yang dinamakan penyakit hati. Coba Nina belajar ikhlas, bunda yakin semua rasa kecewa, marah, sedih, dan sakit hati Nina akan perlahan pergi, dan menghilang. Jangan menjadi pendendam, Nak. Karena akan mengotori hati dan pikiran kamu. Bunda paham kamu kecewa, tapi jangan jadikan kecewa itu berlarut hingga menyakiti dirimu sendiri,” tutur Alana.
Nina hanya diam, dia mengerti apa yang bundanya tuturkan. Benar, selama ini Nina memang menjadi sosok pemarah dan angkuh jika di depan mama dan papanya. Rasa kecewa itu terus menghinggapi hatinya, itu juga karena omanya juga sama-sama kecewa dengan mamanya Nina, juga tantenya. Zhalina juga sangat kecewa dengan Binka, hingga saat ada Binka dan kakaknya di rumah Zhalina malas-malasan menemuinya. Jadi, Nina pun ikutan seperti itu.
“Kalau bunda minta sesuatu pada Nina, apa Nina mau mengabulkan permintaan bunda?” tanya Alana.
“Memang bunda mau minta apa?” tanya Nina.
“Belajar menerima mama dan papa lagi, ya? Pelan-pelan, hilangkan rasa kecewa, marah, dan sakit hati Nina pada mama dan papa, bunda yakin kamu pasti bisa, Nak,” pinta Alana.
“Tapi bunda, mama jahat,” ucapnya.
“Mama jahat, memang mama membunuh orang? Tidak, kan? Bunda paham, mama juga sebetulnya tidak menginginkan semua itu terjadi, tapi suatu hari Nina pasti akan tahu kalau Nina sudah dewasa,” ucap Alana.
“Iya, Nina akan baikan sama mama lagi, tapi Nina belum mau tinggal sama mama dan papa, karena di rumah papa ingat bunda terus,” jawab Nina.
“Mau tinggal sama mama atau tidak, yang penting Nina berusaha memaafkan mama, dan baik-baik lagi sama mama dan papa.”
“Iya, bunda.”
“Ya sudah yuk tidur, besok kita bangun pagi, jalan-jalan pagi di sekitar rumah sama Askara.”
Malam ini Nina begitu bahagia, bisa tidur dengan memeluk Alana lagi. Sudah satu tahun dia merindukan Alana, akhirnya malam ini rindunya terbalas.
__ADS_1
Pun dengan Alana. Dia juga sangat merindukan Nina. Sebetulnya dirinya pun masih kecewa dan benci sekali dengan perbuatan Binka dan Zhafran, tapi dia tidak mau membiarkan seorang anak membenci ibu dan ayah kandungnya. Nina masih membutuhkan mama dan papanya, tidak mungkin Alana membiarkan Nina terus membenci mama dan papanya. Meski dalam kekecewaan, Alana terus membujuk Nina supaya dia mau kembali memaafkan mama dan papanya, dan tidak akan mendiaminya lagi.
“Tidak ada mantan anak di dunia ini. Sebisa mungkin aku mengajari Nina kebaikan. Binka dan Zhafran adalah orang tuanya, tidak mungkin aku membiarkan seorang anak membenci orang tuanya, meski aku sangat membenci perbuatan Binka dan Zhafran. Aku pun nanti tidak akan menutupi pada Askara, siapa papa kandungnya, suatu hari nanti aku akan memberitahukannya, kalau Askara sudah mengerti,” gumam Alana.