
Ardha tidak mengerti kenapa sampai seperti ini. Lama sekali Ardha jarang menghubungi Alana, Ardha kira Fatih lah yang akan lebih dekat dengan Alana, dan dia yang akan memenangkan hati Alana. Tidak disangka, malah Alana lebih dekat dengan kakak kandungnya, dan akan menikah dalam waktu dekat ini.
“Kalian mau meresmikan hubungan kalian kapan nih?” tanya Zhalina.
“Sabar dong, Lin? Kakak sama Alana juga belum mendapat restu dari mami papi?” jawab Zahfran.
“Siapa bilang mami belum merestui? Mami merestui kalian. Kalian sangat cocok,” ucap Thalia. “Iya kan, Pi?” tanya Thalia pada Arkan.
“Cocok, cocok sekali. Papi gak nyangka saja kalian bisa bersama? Semoga ke depannya kalian bisa sama-sama membangun rumah tangga yang bahagia, sakinah, mawadah, warahmah, dan saling melengkapi satu sama lain. Alana sebagai istri harus dan wajib taat dengan suami, menghargai suami, dan Zhafran sebagai suami pun harus menghargai Alana, harus mengerti Alana, dan harus menyayangi Alana. Rumah tangga yang saling mengerti, saling menghargai, dan saling melengkapi, itu adalah rumah tangga yang levelnya di atas keluarga harmonis. Harmonis bukan berarti kita selalu terlihat bahagia di muka umum, yang dinamakan harmonis, ketika di dalam sebuah rumah tangga itu saling melengkapi, saling menghargai, dan mengasihi. Jadikan diri kalian rumah berpulang pasangan kalian, rumah tempat mengeluh, berbagi bahagia , tawa, dan canda. Ya ini bukan berlaku untuk Zhafran saja, untuk Lina dan Ardha juga, ketika nantinya sudah menemukan pasangannya,” tutur Arkan.
“Tuh dengar papi bicara,” ucap Thalia.
“Iya mami, Sayang ...,” ucap Zhalina. “Makanya cepat dong kak, tentukan tanggalnya dan langsung deh menikah?” ujar Zhalina.
“Nanti dong, kan aku belum ajak mami dan papi ke rumah ibunya Alana?” ucap Zhafran.
“Hmm ... mentang-mentang sudah punya calon nih? Jadi pengin kakaknya cepat-cepat menikah, biar habis Kak Zhafran nikah, nanti Kak Lina nyusul,” ujar Ardha.
“Iya dong, habis itu kan kamu? Kamu juga besok mau ngenalin cewek kamu, kan? Jangan-jangan kamu dapat orang Jogja, nih? Lama di Jogja, eh pulang-pulang langsung bilang mau ngenalin ceweknya?” ucap Zhalina.
“Ya gitu deh, lihat saja besok atau lusa, Kak,” jawab Ardha santai.
Bagaimana mungkin besok Ardha akan memabawa teman perempuan spesialnya ke hadapan mami papi dan kedua kakaknya? Perempuan itu sudah dikenalkan oleh kakaknya pada mami papinya, dan dia sudah menjadi calon istri kakaknya, sekaligus calon bunda untuk keponakan tersayanganya.
“Aku tidak menyangka Alana dengan Kak Zhafran. Kapan mereka kenal, dan kapan mereka dekat?” gumam Ardha.
“Benar nih mau kenalin cewek kamu, Ar? Serius?” tanya Zhafran yang sedikit tidak percaya karena selama yang Zhafran tahu Ardha cuek dengan perempuan.
__ADS_1
“Iya dong? Dia orang Jogja, dia cantik, adik dari temanku di jogja. Sudah pokoknya kalau besok dia siap, aku ajak ke sini,” jelas Ardha dengan berbohong, ia tidak mau mereka curiga, jadi mau tidak mau Ardha harus berbohong kalau dirinya sedang dekat dengan seseorang.
“Wah ... adikku ini ada perubahan rupanya, bisa juga kamu suka perempuan?” ledek Zhafran.
“Idih emang aku laki-laki apaan? Aku laki-laki normal ya jelas dong suka perempuan? Kakak ini ada-ada saja!” tukas Ardha. “Ini ngomong-ngomong Kak Alana kok bisa kenal Kak Zhafran? Dari mana kenalnya? Bisa kepincut duda?” tanya Ardha dengan sedikit bergurau.
“Duda juga masih keren lho, Ar. Lihat Alana kan tujuh belas tahun lebih muda dariku, aku masih pantas lah bersanding dengan Alana, masih sama-sama mudanya, kan?” ujar Zhafran.
“Kak dia udah tua kok mau sih?” ucap Lina.
Alana hanya senyum-senyum saja. Dia juga tidak tahu, kenapa dia jatuh cinta dengan Zhafran. Alana memang sempat mengagumi Zhafran saat dulu ia bekerja di cafenya Tiara. Alana kira Zhafran belum beristri, dan masih sangat muda, ternyata Zhafran sudah memiliki anak dan istri. Hanya sebatas kagum, bukan cinta, karena ketampanan Zhafran Alana mengaguminya. Tidak hanya Alana, semua karyawan perempuan di cafe Tiara mengagumi sosok Zhafran yang begitu tampan dan memikat. Teman-teman Alana juga bilang kalau Zhafran itu sugar daddy.
“Gak salah sih kalau Alana mau dengan Zhafran. Gak apa-apa, Lan. Anggap saja dia sugar daddymu dan kamu sugar babynya," ujar Arkan.
"Ih papi ini apaan sih?" ucap Zhalian.
“Iya juga, ya? Ya mereka malah masih kelihatan muda-muda sekali,” ucap Ardha. “Berarti aku harus cari yang baru lulus SMA kali ya, Mi?” ujar Ardha dengan terkekeh.
“Sudah-sudah, kalian malah bercanda. Kita makan malam dulu, lalu lanjutin ngobrolnya sampai malam juga tidak apa-apa,” ujar Thalia.
Ardha sebisa mungkin tidak menampakkan kegundahan hatinya, dan kedukaan hatinya pada siapa pun. Ia mencoba menerima keadaan, kalau Alana sudah menjadi calon istri kakaknya. Mau bagaimana lagi, Alana juga menerima Zhafran sebagai calon suaminya, dan sangat menyayangi Nina. Apalagi Ardha tahu kedekatan Nina dengan Alana. Nina juga pasti yang minta Alana menjadi ibu sambungnya.
“Demi kamu, Nin. Om rela kehilangan orang yang sangat om cintai,” gumam Ardha.
Selesai makan malam, semua berkumpul di ruang tengah, seperti biasa mereka mengobrol dengan menikamti beberapa makan ringan. Alana duduk di sebelah Ardha, dan di sebelah kiri Alana adalah Zhafran. Alana diapit kedua orang yang sangat mencitainya.
Ardha dari tadi mengajak ngobrol Zhafran dan Alana, begitu pula Zhalina. Zhafran sangat heran dengan kedua adiknya, dulu saat dia mengenalkan Binka pada keluarganya, kedua adiknya begitu cuek sekali. Ardha memilih main game sendiri, Zhalina juga sibuk chat entah dengan siapa? Padahal Zhalina adalah teman Binka saat Binka SMA, dan mereka juga dekat, karena Zhalina pernah beberapa kali mengajak Binka untuk kerja kelompok di rumahnya, dan dari situlah Zhafran mengenal Binka, hingga makin akrab dengan Binka, lalu menjalin hubunga.
__ADS_1
Sekarang saat dirinya mengenalkan Alana, semua terlihat bahagia dengan kedatangan Alana. Alana juga ditawari Thalia untuk mengurus butik peninggalan almarhun mama mertuanya. Annisa memiliki dua butik, yang satunya diurus Najwa, kakak dari Arkan, dan yang satunya Annisa dengan Tita yang mengurusnya, sebelum Tita membuka butik lagi hasil jerih payahnya sendiri. Tita memang masih ikut andil di butik itu, karena mamang belum ada yang mengurusnya, jadi Tita dan Thalia yang mengelola bersama.
“Ini kalian bisa ketemu bagaimana ceritanya? Aku penasaran sekali,” tanya Zhalina.
“Kamu itu kepo sekali, Lin?” jawab Zhafran.
“Tapi ak juga sama dengan Kak Lina, kok iya kakak bisa ketemu Kak Alana? Ini aneh lho?”
“Lha kan Alana kerja di butiknya Tante Tita? Apa kalian tidak tahu? Pas kemarin Nina minta dibuatkan baju pesta sama Tante Tita, ya itu awal kakak ketemu, dan kontrakan Alana, dekat dengan rumah kakak yang baru,” jelas Zhafran.
“Oh begitu?” jawab Ardha. Padahal Ardha tahu kalau Alana memang bekerja di butik milik tantenya. Dia gak mau mengulik terlalu dalam, yang nantinya akan membuatnya semakin sakit hati.
“Jadi dekat rumah kontrakannya, terus sering ketemu nih?” tanya Lina.
“Ini keponakanmu yang maunya sama Alana, sampai betah pulang sekolah menemani Alana kerja, dan saat itu memang aku meeting sih, niatnya mau aku titipin ke Tante Tita, eh maunya sama Alana,” jelas Zhafran.
“Kadang Nina menginap di rumah bunda, kalau ayah meeting lama sampai malam pulangnya. Habis mau ke oma, rumah oma sama papa sekarang jauh, Tante Lin sudah tinggal di rumah uyutnya, Om Ardha di Jogja, oma dan opa kan sering ke Berlin juga?” jelas Nina.
“Sama papa nginep di rumah bunda?” tanya Lina.
“Gak, papa pulang ke rumah, baru pagi-pagi jemput Nina ke rumah bunda,” jawab Nina.
“Lagian masa aku menginap di rumahnya gadis? Ntar digrebeg warga gimana?” jelas Zhafran.
“Alah dulu saja sering menginap di apartemen Binka? Eh kali ini kan Alana, bukan Binka. Alana itu perempuan baik-baik, gak seperti Binka, dia mah sudah oversize sebelum waktunya! Heran sama dia, kurang baik apa kakakku ini?” ucap Zhalina dalam hati.
“Sedekat itukah mereka? Ya Tuhan, sakit sekali melihatnya. Tenang Ardha, sabar, sudah lupakan Alana. Tapi, apa aku bisa melupakannya, dan membuang rasa cinta ini untuk Alana? Aku baru pertama jatuh cinta yang sebenarnya, tapi kenapa sesakit ini? Orang yang aku cintai malah calon kakak iparku?” gumam Ardha.
__ADS_1