Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Semoga Dia Yang Terbaik


__ADS_3

Zhafran membicarakan soal dirinya yang akan menikahi Alana pada kedua orang tuanya. Arkan tidak percaya, Zhafran akan menikahi Alana. Sebetulnya Arkan tidak mempermasalahkannya, apalagi Alana gadis yang sangat baik, Arkan sudah tahu sejak dirinya melihat Alana di cafe Tiara. Gadis yang tidak pernah mengenal lelah untuk berjuang mempertahankan pendidikannya meski harus susah payah sambil bekerja part time.


“Ini kamu serius, Fran?” tanya Arkan.


“Pi, masa aku gak serius? Aku serius, Pi,” jawab Zhafran.


“Oke, kalau memang kamu sudah cocok, dan kamu juga mencintai Alana, tentunya Alana juga mau, papi merestui hubungan kalian, papi hanya pesan, jangan sakiti Alana, karena dia gadis yang baik, meski papi gak kenal dengan dia, dan baru sekali atau dua kali melihat dia, papi yakin dia adalah gadis yang baik,” tutur Arkan.


“Iya pi, dia gadis yang sangat baik, dan tidak tahu kenapa Zhafran jatuh cinta padanya, Zhafran mencintainya. Sejak dekat dengan Alana, Zhafran merasa dunia Zhafran berbeda, Alana bisa menciptakan dunia dan rasa baru dalam hidup Zhafran, Pi,” ungkap Zhafran. “Kalau mami bagaimana, Mi? Mami setuju kan Zhafran menikahi Alana?” tanya Zhafran pada maminya.


“Mami serahkan semuanya sama kamu dan Alana, kalau kalian saling mencintai apa salahnya kalian segerakan niat baik kalian? Iya, kan?” jawab Thalia.


“Jadi mami setuju, kan?”


“Setuju, bawa ke sini dong Alananya?”


“Nanti ya, Mi? Zhafran akan ke rumah Alana dulu, baru nanti Zhafran ajak Alana ke sini. Lagi pula dua adikku juga tidak di rumah, nanti setelah Zhafran menemui orang tua Alana, dan sudah mendapatkan restu dari orang tua Alana,  Zhafran akan mengajak Alana ke sini, Mi. Kita adain makan malam ya, Mi? Sekalian aku mengenalkan Alana pada semuanya. Ya aku tahu Ardha dan Lina sudah tahu Alana, ini kejutan untuk mereka. Mami sama papi jangan bilang sama mereka ya, kalau aku akan melamar Alana, dan segera menikahinya,” ucap Zhafran.


“Iya mami akan rahasiakan ini semua dari kedua adikmu, biar ini jadi surprize buat mereka,” jawab Thalia.


“Apa benar Alana hanya anak angkat, Fran?” tanya Arkan.

__ADS_1


“Iya gitu pi, Alana sendiri yang bilang sama aku kok,” jawab Zhafran. “Apa papi keberatan dengan status Alana yang hanya anak angkat dari ibu dan ayahnya?” tanya Zhafran.


“Tidak masalah, tapi papi penasaran, apa papi boleh ikut kamu ke sana? Ya sekalian melamarkan dia buat kamu gitu?” ucap Arkan.


“Iya, lebih  baik mami dan papi juga ikut, Fran,” ujar Thalia. “Masa mau melamar gadis, gak bawa orang tuanya?” imbuhnya.


“Kan baru mau pengenalan, Mi? Nanti saja kalau misalkan aku sudah dapat restu orang tua Alana, lalu aku sudah membawa Alana ke sini, baru kita ke sana sama-sama melamar Alana secara resmi,” ujar Zhafran.


“Iya juga sih, Alana juga belum diajak ke sini? Ya sudah kamu ke sana dulu sendiri, kalau sudah ada keputusan dari orang tua Alana, segera kenalkan Alana pada mami, mami ingin sekali mengenal Alana,” ucap Thalia penuh harap.


Thalia memang sudah penasaran sekali dengan yang namanya Alana, apalagi suaminya pernah membicarakan soal Alana pada dirinya, dan sedikit mendengar celentingan Zhalian juga membicarakan soal Alana dengan Tiara. Hanya Ardha saja yang tidak pernah menceritakan soal Alana, padahal Ardha yang lebih sering dengan Alana, dan tahu soal Alana. Ia tidak pernah mau membicarakan orang, meski dia tahu yang sebenarnya soal Alana, dan bagaimana Alana bisa keluar dari cafe Tiara. Ardha hanya bicara seperlunya, dan menjawab seperlunya juga kalau Zhalina cerita soal Alana, saat dulu Alana keluar dari cafe Tiara.


“Dia masih mengurus cabang barunya lagi. Papi sekarang mulai gak ngerti dengan adikmu, kalau sedang rajin ya begitu, rajin sekali, sampai dia bisa membesarkan bengkel peninggalan mendiang Opa Arsyil. Syukurlah, peninggalan Opa Arsyil masih bisa terus berkembang, dan semoga sampai cucu dan cicit papi nantinya,” jelas Arkan.


“Ya kena perusahaan yang Zhafran kelola juga dari Uyut, kan?”


“Iya, semoga bisa berkembang lagi sampai nanti, ya meski sekarang sudah banyak sekali perusahaan yang bonafit, tapi tetap perusahaan kita masih berada di level yang sama dengan perusahaan yang sekarang,” ujar Arkan.


“Iya, semoga juga usaha Lina gak sia-sia, mendirikan Yayasan dan Sekolahan, ini kan cita-cita eyangnya mami? Mami gak bisa meneruskan apa yang eyang inginkan, karena mami pun ikut terjun dengan opamu, mengurus perushaannya. Lina harapan mami, yang bisa melanjutkan jejak eyang, menjadi seorang pengajar, mendidik anak bangsa, supaya menjadi orang yang berguna dalam hidupnya,” ucap Thalia. “Tantemu juga malah memilih menjadi seorang perancang busana, seperti Oma Nisa,” imbuhnya.


“Ya kan kami semua punya cita-cita sendiri, Mi? Masa kalau orang tua kita dokter, anak-anaknya harus jadi dokter semua? Tuh Acha, dia jadi dokter, meski mama dan papanya semua pengusaha, kan? Malah dia ngikutin jejak Pakde Akmal, dan Kak Nadia?” ujar Zhafran.

__ADS_1


“Ya seperti itu, orang tua kan hanya memberi restu pada anak-anaknya, supaya cita-citanya tercapai dan menjadi orang sukses,” jelas Arkan.


“Ya sudah, Zhafran pamit pulang ya, Mi? Mau jemput Nina les, sekalian jemput Alana pulang kerja,” pamit Zhafran.


“Kamu sekarang beli rumah malah jauh dari mami, di rumah urus sendiri, gak ada suster buat jagain Nina, mami sama papi juga sibuk bolak-balik Berlin, Lina juga sibuk, kasihan sekali Nina kalau ditinggal kamu meeting, adanya Bi Tuti, dia kerja sore pulang, gak menginap di kamu?” ucap Thalia.


“Zhafran ajak Nina kok kalau meeting, tapi sekarag ada Alana, dia malah lebih suka ditinggal di rumah Alana, kalau aku ada lembur, atau meeting,” jela Zhafran.


“Jangan merepotkan orang, Fran? Apa susahnya cari suster?” ucap Thalia.


“Iya benar kata mamimu, jangan merepotkan orang, Fran? Lebih baik cari suster lagi,” tutur Arkan.


“Mi, Pi, Zhafran masih ada trauma kalau Nina aku tinggal di rumah dengan suster, Zhafran masih belum lupa waktu suster itu malah kerja sama dengan penculik. Mau percaya sama suster lagi Zhafran belum bisa, Nina anakku satu-satunya, aku gak mau kejadian itu terulang lagi, Mi,” jawab Zhafran.


“Heran dengan Binka, sama sekali tidak peduli anaknya, ke mana batang hidungnya sekarang? Tega meninggalkan anaknya, kalau ibu yang baik, apa pun dia lakukan untuk mendapatkan hak asuh anak, meski dia bersalah dan banyak bukti. Mami lihat dia biasa saja ekspresinya, hak asuh Nina ada padamu? Malah mami lihat, dia seperti bebas dan senang. Ibu macam apa dia?” ujar Thalia.


“Ya begitu, Mi. Ketemu Nina di taman saja dia biasa saja, menyapa Nina seperti tidak menyapa anaknya, hanya hai, bagaimana kabarnya, gak meluk, gak nyium. Gak tahu kenapa dia seperti itu. Ya ini salahku juga gak mau dengar apa yang mami dan papi katakan, juga adik-adikku,” ucap Zhafra penuh penyesalan.


Zhafran sangat menyesal, kenapa dia tidak percaya dari dulu dengan kedua orang tuanya, dan adik-adiknya, kalau Binka bukan perempuan baik-baik. Meski dirinya bukan laki-laki yang baik, tetap saja dia ingin memiliki istri yang baik.


“Bobroknya seorang lelaki, tetap mengharapkan istri yang baik. Semoga Alana yang terbaik untukku,” gumam Zhafran.

__ADS_1


__ADS_2