
“Bunda ....” Nina berlari menyambut Alana dan Ardha yang baru saja pulang.
“Hei ... kamu di sini, Sayang?” tanya Alana.
“Iya, aku nginep di sini kan ada Askara,” jawab Nina. “Bunda sama om dari mana kok lama pulangnya?” tanya Nina.
“Bunda sama om ada keperluan, Nin?” jawab Ardha.
Ardha langsung menyambar tubuh Nina dan menggendongnya. Ia menciumi pipi keponakan yang sangat ia sayangi itu.
“Om geli ih!” Nina terkekeh geli saat Ardha menciuminya.
“Kamu sudah gede ya ternyata? Sudah berat sekali,” ucap Ardha.
“Iya memang Nina sudah gede,” jawabnya dengan bermain bulu halus di pipi Ardha. “Om, lehernya kok merah-merah? Kenapa? Om habis digigit apa sih?” tanya Nina polos.
Ardha mengernyitkan keningnya, ia berpikir sejenak tanda merah apa di lehernya. “Astaga ini pasti ulah Alana semalam,” batin Ardha.
“Om kamu habis digigit serangga bergigi putih, Nin,” ucap Zhafran dengan terkekeh.
Blushh ... pipi Alana merona karena malu saat mendengar Nina bertanya seperti itu, dan papanya Nina menjawabnya dengan raut wajah yang aneh menurut Alana.
“Ah iya benar papamu, om digigit serangga semalam,” ucap Ardha dengan tersenyum canggung.
“Itu bunda juga merah lehernya?” tunjuk Nina pada leher Alana.
“I—ini sama sayang, bunda digigit serangga, semalam ada serangga di kamar bunda dan om,” jawab Alana gugup.
“Hmmm ... serangganya ganas ya, Nin?” ucap Zhafran.
“Ganas banget malahan kak,” sambung Zhalina.
“Gak ganas-ganas lagi, Kak. Bikin panas,” timpal Ardha.
“Jangan terlalu ganas, Ar,” ucap Zhalina.
“Ah kakak kayak gak pernah merasakan saja. Maklum baru yang pertama kali digigit serangga, sampai gak sadar merah-merah gini,” ucap Ardha.
“Kalian itu bahas serangga terus. Bagaimana, Ar? Sukses, kan?” tanya Arkan yang baru keluar dari dalam dengan menggendong Askara.
“Gak sukses lagi, Pi. Makasih lho pi?” jawab Ardha.
Alana mendekati papinya, dia langsung meminta Askara dari gendongan papinya. “Bunda kangen kamu.” Alana menciumi pipi Askara, baru dua malam tidak tidur dengan Askara, rasanya sudah rindu berat.
“Baru dua malam sudah kangen, apalagi satu minggu? Harusnya kamu menghabiskan waktu bulan madumu satu minggu, Lan,” ucap Arkan.
“Kalau satu minggu harus bawa Askara dong pi? Aku juga kangen sekali sama Askara?” ucap Ardha.
“Kalian ini gak ada ide mau bulan madu ke mana gitu? Bisa santai sekali kalian?” ucap Zhalina.
“Ya ada sih rencana, nanti deh habis acara di Jogja,” jawab Ardha.
“Jadi ada acara di Jogja, Ar?” tanya Zhafran.
“Jadi, Kak. Mungkin minggu depan, hari ini juga ibu, Iwan, sama budhe pulang, katanya mau mempersiapkan untuk acara nanti,” jawab Ardha.
Sampai siang Alana dan Ardha masih di rumah Arkan. Mereka makan siang di rumah papinya lebih dulu sebelum pulang ke rumah Devan. Makan siang ini Alana yang memasak. Thalia padahal sudah melarang Alana memasak, tapi Alana tetap ingin memasakkan Ardha.
“Yeay... ada masakan kesukaanku!” ucap Nina dengan girang saat melihat ada udang chrispy kesukaannya, apalagi yang masak Alana. “Ini pasti bunda yang masak?” imbuhnya.
“Iya dong, bunda yang masak. Kamu harus makan yang banyak, ya?” ucap Alana sambil menata masakannya di meja makan.
“Kamu itu repot-repot sekali, masak sendiri? Padahal ada bibi, Lan?” ucap Thalia.
“Ya biar saja mi, aku sedang pengin masak kok,” jawab Alana. “Ayo mi, cicipi masakan Alana?”
“Sudah pernah makan masakanmu, masakanmu bikin nagih, Lan. Pantas saja Ardha di rumah budhe betah, ya? Kamu pintar masak,” puji Thalia.
Semua berkumpul di ruang makan. Zhafran terlihat lahap memakan masakan Alana. Jujur dia pun kangen masakan Alana yang selalu enak, tidak pernah Alana memasak keasinan atau tidak enak. Setiap hari saat bersama Alana, Zhafran selalu merasakan masakan Alana enak terus, bahkan masakan maminya kalah jauh dengan Alana.
Binka melihat suaminya yang makan dengan lahap, pun dengan Nina, dia juga sangat lahap makan masakan Alana.
__ADS_1
“Mau nambah, Mas?” tanya Binka.
“Boleh, boleh,” jawab Zhafran semangat.
“Aku juga mau nambah, enak sekali masakan Alana,” ucap Binka.
“Ma, aku juga mau nambah dong,” pinta Nina pada mamanya.
“Oke, sini mama ambilkan. Enak ya masakan bunda?” ucap Binka.
“Enak, masakan mama juga enak kok,” jawab Nina, untuk membanggakan hati mamanya, karena dia tidak mau melihat mamanya sedih lagi kalau terus membanding-bandingkan maaskan mamanya dengan bundanya.
Binka hanya tersenyum mendapat pujian dari Nina. Binka melihat Alana makan dengan porsi yang sedikit. Alana memang seperti itu kalau habis masak, rasanya perut sudah kenyang, jadi makannya pasti sedikit.
“Lan, kamu makan kok sedikit sekali?” tanya Binka.
“Alana memang seperti itu, kalau habis masak dia makannya sedikit, katanya perutnya kenyang,” jawab Ardha dan Zhafran bersamaan.
“Kalian kompak sekali?” ucap Arkan.
Ardha dan Zhafran saling menatap, karena mereka tidak sadar telah mengucapkan kalimat yang sama. “Ehm ... maaf, Ar. Aku memang tahu Alana seperti itu,” ucap Zhafran canggung.
Entah kenapa memori Zhafran berputar ke masa dulu, saat bersama Alana. Ia merasakan dirinya yang dulu masih menjadi suami Alana.
“Santi saja, Kak. Kan memang Alana seperti itu? Aku juga tahu, kakak pernah hidup lama dengan Alana, jadi tahu kebiasaan Alana,” ucap Ardha.
“Iya, Ar. Sekali lagi kakak minta maaf, bukan maksud kakak ....”
“Sudah tidak apa-apa,” potong Ardha. “Lanjutkan makannya, Kak. Hari ini saja lho bisa bernostalgia dengan masakan Alana? Besok atau lusa aku sama Alana sudah balik ke Jogja,” ucap Ardha.
“Kok cepat pulang ke Jogjanya?” tanya Zhalina.
“Ya kan aku harus persiapan acara di sana, Kak?” jawab Ardha.
Alana dari tadi diam, saat Ardha dan Zhafran mengucapkan kalimat yang sama. Alana tidak enak hati dengan Binka dan Ardha saat Zhafran berbicara seperti itu. Bisa-bisanya mantan suami yang sudah menjadi kakak iparnya itu masih ingat kebiasaan dirinya kalau sehabis masak.
“Pasti habis ini Ardha merajuk nih, terlihat sekali wajanya sangat kesal. Lagian Kak Zhafran apa-apaan sih! Pakai acara bilang seperti itu,” batin Alana dengan menatap wajah Ardha.
“Enggak, Lan. Sudah kenyang kok,” jawab Ardha singkat.
“Tuh kan benar, dia pasti ngambek. Huh ... pasti aku didemin nanti,” batin Alana.
Binka juga terlihat sedikit tidak nyaman dengan ucapan Zhafran tadi. Ia tahu suaminya sangat suka masakan Alana, saat pertama kembali dengan dirinya saja Zhafran lebih suka mengajak makan dirinya di luar, padahal Binka tahu, Zhafran tidak suka masakannya, karena saat dirinya menghidangkan masakan, Zhafran hanya sedikit memakannya.
“Memang aku gak enak masakannya, tapi aku kan selalu berusaha sebaik mungkin? Sepertinya setelah Ardha menikah dengan Alana, Zhafran jadi aneh, seperti cemburu saat melihat Ardha berlaku romantis pada Alana. Buktinya saat tadi Alana dan Ardha baru pulang, Zhafran melihat Alana di perlakukan romantis oleh Ardha, seperti tidak terima,” batin Binka.
^^^
Alana dan Ardha sudah berada di kamarnya untuk bersiap pulang ke rumah Devan. Alana dari tadi melihat Ardha yang diam, dia hanya rebahan di sebelah Askara yang sedang tidur.
“Mas, apa besok atau lusa kita sudah harus ke Jogja?” tanya Alana.
“Iya,” jawabnya singkat.
Alana tahu suaminya sedang cemburu dengan kakaknya yang baru saja memuji masakan dirinya, juga tahu akan kebiasaan Alana setelah memasak.
“Aku minta maaf ya, Mas.” Alana mendekati Ardha, dia merebahkan diri di sebelah Ardha dan memeluknya.
“Minta maaf untuk apa? Kamu gak salah kok?” jawab Ardha dengan mengusap kepala Alana.
“Harusnya aku tidak usah masak ya tadi? Jadi kamu tidak mendengar ucapan kakakmu yang sperti itu,” ucap Alana.
Ardha menatap wajah Alana, lalu mengecup keningnya. “Jangan bicara seperti itu, kamu tidak salah masakin suami kamu, yang bikin aku gak enak hati kenapa Kak Zhafran masih ingat kebiasaan kamu, Lan? Sebetulnya dia itu bagaimana sih? Katanya gak cinta sama kamu, dia meninggalkanmu, tapi rasanya aneh saja setelah aku menikahimu, dia itu kayak ingin tahu lagi soal kamu. Apalagi ada Askara di antara kalian?”
“Mas, aku juga merasa tidak nyaman sebetulnya. Kak Zhafran tadi pagi saat kita baru sampai, dia menatap kita saat di depan, saat kamu merapikan rambutku, dia itu natap aku kek marah gitu? Maksudnya apa tatapan dia? Aku gak nyaman sebetulnya kalau di sini lama,” ucap Alana.
“Ya sama, aku cemburu Kak Zhafran begitu. Aneh rasanya, dia itu sudah melepaskanmu, tapi seperti itu?”
“Ya, dia menyesal mungkin? Ya biar saja, salahnya sendiri, istri lagi hamil diceraikan? Bair saja dia merasa begitu?” ucap Alana. “Kamu jangan diemi aku dong?” ucap Alana.
“Iya enggak. Sudah kamu jangan ngambek dong?”
__ADS_1
“Yang ngambek kan kamu, Mas?”
“Aku gak ngambek, Sayang?” Ardha menciumi wajah Alana. “Ya sudah yuk siap-siap untuk pulang ke rumah papa? Terus besok atau lusa kita ke Jogja, atau kamu masih mau di rumah mama dua atau tiga hari lagi?”
“Aku sih masih kangen mama, Mas. Tiga hari lagi ya kita di rumah mama?” pinta Alana.
“Oke, tidak masalah. Ayo aku bantu kemas-kemas,” ucap Ardha.
^^^
Ardha dan Alana sudah tiga hari di rumah Devan. Sebetulnya Devan masih kangen dengan Alana, tapi mau bagaimana lagi, Alana dan Ardha juga harus mempersiapkan acaranya di Jogja, jadi mereka harus segera kembali.
“Papa itu masih kangen sama kamu, Lan?” ucap Devan.
“Mama lebih-lebih, tapi mau bagaimana lagi? Kalian mau siap-siap untuk acara di sana?” ucap Nadia.
“Nanti mama sama papa kan juga ke sana? Nanti nginep di sana yang lama ya, Ma?” ucap Alana.
“Iya itu pasti,” jawab Nadia.
Alana dan Ardha kembali pulang ke Jogja. Ardha sudah lega, karena Alana tidak lagi jadi pusat perhatian kakaknya. Ada Ardha dan Alana di Jakarta membuat Zhafran selalu mencari alasan untuk bertemu dengan Ardha, supaya bisa melihat Alana. Ardha paham dengan keadaan yang seperti itu.
“Kamu itu bodoh, Kak. Aku kira kamu bisa menjaga Alana dengan sebaik mungkin dan tidak akan menyakitinya. Sekarang terbukti ucapanku bukan? Aku akan merebut Alana darimu saat kamu mencampakkannya, dan sekarang hatimu kalang kabut melihat aku bisa membahagiakan Alana, aku yang selalu dianggap sebelah mata oleh papi, selalu dibanding-bandingkan karena tidak seperti kamu. Apa yang mau dibandingkan lagi? Sekarang aku jauh lebih baik darimu, meski secara finansial kamu yang terbaik, tapi aku bisa menghargai dan menjaga wanitaku, tidak seperti kamu!” ucap Ardha dalam hati.
Ardha menggenggam tangan Alana lalu menciumnya. “Sekarang kita akan hidup berdua saja, tanpa ada yang mengganggu. Kita akan hidup tenang, tentram, dan selalu di penuhi dengan cinta,” ucap Ardha.
“Iya, aku lebih nyaman kita hidup berdua saja. Ya bukan maksud aku ini tidak butuh saudara atau orang tua. Aku ya tetap butuh mereka, tapi kita sudah berumah tangga, kita harus bisa melepaskan mereka untuk membangun rumah tangga dengan nyaman dan tentram. Mending jauh sekalian dari mereka daripada masih satu kota, sepertinya ya sama saja,” ucap Alana.
“Iya benar, untung saja kita memang sudah terbiasa jauh dari orang tua, jadi sekali menikah, tinggal jauh dari keluarga dan orang tua ya biasa saja. Tidak seperti Kak Lina, lihatlah dia tidak betah di rumah sendiri, dia lebih suka di rumah mami-papi, padahal rumah sendiri saja lebih besar daripada rumah mami?” ujar Ardha.
“Iya juga sih, sama dong seperti Kak Acha, dia juga senangnya tetap di rumah mama? Padahal rumah Kak Acha lebih bagus daripada rumah mama, terus itu kan rumah peninggalan mama kandung Kak Acha? Terus istrinya Kak Fatih dan Kak Shaka, mereka juga lebih sering menginap di rumah orang tuanya. Padahal Kak Fatih sudah punya rumah sendiri, Kak Shaka pun begitu?” ucap Alana.
“Kita biasa jauh dari orang tua ternyata itu suatu bekal kita kalau sudah menikah ya, Lan? Jadi gak bergantung pada orang tua kita,” ucap Ardha.
“Iya, apalagi aku sudah biasa mandiri sejak ayah tidak ada. Aku kuliah di Jakarta sendirian, hidup mandiri di kost, kerja part time, pokoknya ya gitulah,” ucap Alana mengingat-ingat perjuangannya dulu saat kuliah.
“Terus selalu digangguin tiga cowok, ya? Di kirimin makanan barengan, dijemput ya sama tiga cowok, sampai bingung mau milih siapa?” ucap Ardha terkekeh dengan mengingat itu.
“Iya, ngirim makanan barengan, kenapa gak dijadwal gitu? Kan aku bisa ngirit uang makan tiga hari? Sekali ngirim bareng-bareng, bagaimana makannya coba? Ya aku kasih sama kamar tetangga jadinya?” ucap Alana.
“Lalu yang kamu makan milik siapa?”
“Punya Kak Fatih, punya Alka aku kasih ke kamar sebelah, punya kamu aku makan berdua sama kamar sebelah juga,” jawabnya dengan terkekeh. “Habis kayak perutku muat makan banyak? Sekali kirim makanan janjian?”
“Ya mana aku tahu Alka sama Fatih kirim kamu makanan? Aku kan gak mau kamu itu telat makan?”
“Lagian aku ini kan bisa masak sendiri, beli di warung depan juga dekat? Ngapain pakai di kirim makanan, di samperin mulu lagi? Ibu kost sampai bilang satu lagi biar kek Drama Korea. Di sukai empat cowok tajir,” ucap Alana dengan terbahak.
“Masa sampai bilang gitu?”
“Iya, ibu kost bilang seperti itu, eh beneran empat, kakakmu ikut-ikutan? Tapi setelah Alka menikah, dan aku sudah kerja, waktu itu aku sudah ngontrak rumah, dan gak tahunya deket sama rumah kakakmu,” ucap Alana.
“Jadi cinta kalian bersemi karena tetanggaan ya?”
“Ih apaan sih! Mungkin kalau bukan karena Nina aku gak akan mau, itu semua karena Nina, ya begitulah,” jawab Alana.
“Iya, Nina itu kek sayang banget sama kamu, kalau dijemput aku saat pulang sekolah saja mintanya ketemu kamu,” ucap Ardha.
“Ya sudah, sekarang gak usah bahas-bahas lagi soal Kak Zhafran, karena kamu sudah jadi milikku, dan aku minta, jangan pernah pernah kamu khianati aku, jangan pernah tinggalkan aku. Kamu tahu orang yang pernah ditinggalin sama orang yang paling disayangi itu gak bisa di bayar sama apa pun buat ngebayar rasa sakit dan rasa kehilangannya. Dan, aku tidak mau itu terjadi lagi dalam pernikahanku yang kedua. Kalau terjadi lagi aku tidak bisa membayangkan sakitnya seperti apa, Mas,” ucap Alana.
“Aku tidak akan meninggalkan kamu, Lan. Justru aku yang takut kehilangan kamu,” ucap Ardha.
“Kenapa gitu?”
“Karena sainganku ada dua,”
“Siapa?”
“Alka dan Kak Zhafran. Sepertinya mereka belum bisa move on dari kamu deh?”
“Itu Cuma perasaanmu saja, Mas,” ucap Alana.
__ADS_1
“Ya mungkin, tapi aku yakin mereka masih belum bisa move on. Untung Fatih kakak kandungmu, kalau bukan, sainganku ada tiga,” ucapnya dengan terkekeh.