
Semenjak Zhafran bertemu Binka mereka sering sekali berkomunikasi lewat chat atau telepon. Binka merasakan Zhafran setiap hari memperhatikannya. Dia merasa bahagia, di balik keterpurukannya, masih ada yang peduli dengan dirinya. Yaitu, mantan suaminya.
Binka hari ini berencana pergi ke kota Zhafran. Dia ingi sekali bertemu putrinya yang kini sudah berusia tujuh tahun. Sudah lama sekali Binka tidak bertemu dengan putrinya itu. Kurang lebih tiga tahun dia meninggalkan putrinya.
"Maafkan mamah Nina. Jika kedatangan mamah nanti membuat kamu membanci mamah, mamah akan menerima itu. Karena mamah yang salah," gumam Binka.
Binka sudah sampai di kota Zhafran. Dia menggunakan kereta api untuk sampai ke kota Zhafran. Sesampainya di stasiun, dia memesan taksi dan menunjukan alamat rumah Zhafran pada sopir taksi nya. Taksi yang di tumpangi Binka melaju ke rumah Len dengan cepat.
Siang ini di rumah Zhafran. Terlihat Nina dan Alana sedang berada di teras rumahnya. Hari ini hari minggu, semua berkumpul di rumah. Dan, seperti biasa, hari minggu Alana libur tidak ke butik. Mereka bertiga, Zhafran, Alana, dan Nina bermain di teras layaknya keluarga harmonis.
Sebuah taksi berhenti di rumah Zhafran. Alana dan Zhafran melihat ke arah taksi yang berhenti di depan rumahnya.
"Apa itu Binka?" tanya Alana.
"Iya, mungkin dia," jawab Zhafran.
"Kamu tidak apa-apa di ke sini?" tanya Zhafran.
"Iya, dia ke sini untuk Nina, kan? Bukan untuk kamu? Tidak ada mantan anak, Zhafran. Tapi, ingat, matan suami atau istri yang ada," tutur Alana.
Zhafran mengerti dengan kata-kata Alana. Zhafran tahu, Alana selalu takut dirinya akan kembali dengan Binka. Ya, karena hati Zhafran separuhnya bahkan mungkin seutuhnya masih terpaut dengan Binka.
Alana tahu kalau Binka akan berkunjung ke rumahnya. Itu semua karena Binka menghubunginya. Binka tidak mau ada kesalahpahaman di antara dirinya dan Alana. Binka sadar sesama perempuan, dan dia tahu bagaimana hati Alana saat dia dekat dengan Zhafran. Itu mengapa Binka menghubungi Alana dulu untuk meminta izin menemui Nina.
"Hatiku kenapa? Sesak sekali," gumam Alana.
Zhafran tahu, istrinya gelisah. Dia merangkul istrinya saat menyambut kedatangan Binka.
"Nina, lihat siapa yang datang," ucap Alana.
"Bunda, itu mamah? Mau apa mamah ke sini?" tanya Nina.
"Nina, mamah kangen sama Nina," ucap Binka.
"Nina tidak kangen. Mau apa mamah pulang, Nina sudah bahagia dengan bunda, mamah jangan pulang lagi!" Nina menatap Binka dengan tatapan benci sekali.
"Sayang, kamu tidak boleh seperti itu, ayo cium tangan mamahmu, peluk mamah," titah Alana dengan lembut.
"Gak! Gak mau! Mamah jahat! Pergi!" Nina masuk ke dalam rumah, berlari menuju kamarnya.
"Nina Sayang!" Alana mengejarnya ke dalam, tapi pintu kamar Nina terkunci. Zhafran dan Binka juga ikut masuk dan berdiri di depan pintu kamar Nina.
"Nak, buka pintunya, bunda mau bicara sebentar." Alana mengetuk pintu kamar Nina yang terkunci.
"Gak mau! Nina tidak mau ketemu, mamah! Mamah jahat!" Nina teriak sambil menangis di dalam kamar.
"Nina, mamah mohon, mamah ingin bertemu Nina sebentar saja, mamah ingin memeluk Nina sebentar saja." Binka menangis di depan pintu kamar Nina.
"Pergi! Mamah jahat! Pergi!" Nina semakin menangis histeris di kamarnya.
"Mbak, biar aku yang bicara dengan Nina. Pasti dia mau," ucap Alana.
__ADS_1
"Oke, mamah pulang!" Teriak Binka dari depan pintu kamar Nina.
Binka menunggu Nina keluar di ruang tamu. Alana berusaha menenangkan Nina, tapi Nina belum juga membuka pintunya. Alana masih mengetuk pintu kamar Nina.
"Sayang, mamah kamu sudah pulang, boleh bunda masuk?" tanya Alana dari balik pintu.
Alana terpaksa berbohong kalau Binka sudah pulang dari rumahnya. Nina membuka pintu kamarnya dan membiarkan Alana masuk. Nina memeluk Alana dengan erat.
"Kenapa mamah pulang? Mamah mau mengambil papah dan aku lagi dari bunda, aku tidak mau, aku mau sama bunda, mamah jahat." Nina semakin mengeratkan pelukannya pada Alana.
Alana menggendong Nina menuju ke tempat tidur Nina. Alana duduk dengan memangku Nina. Nina masih saja menangis histeris di pangkuan Alana.
"Nak, mamah kamu ke sini, karena kangen sama kamu, mamah ingin bertemu kamu sebentar," tutur Alana.
"Gak bunda, Mamah ke sini mau ambil papah dan Nina, lalu bunda sendiri," ucap Nina dengan sesegukan.
"Kata siapa? Jangan bicara seperti itu, ingat dia juga mamahnya Nina. Yang sudah mengandung Nina, menyayangi Nina." Alana terus memberi nasehat untuk Nina dengan tutur katanya yang lembut.
Zhafran dan Binka menyaksikan Alana sedang menasehati Nina dengan sabar dan penuh kelembutan. Namun, Nina tetap menolak menemui Binka. Dia terus bilang kalau kedatangan Binka hanya akan membawa pergi dirinya dan papahnya.
"Pantas saja, Nina tidak merindukan aku, dia memiliki penggantiku yang sangat sempurna, sangat baik, lemah lembut, dan tulus menyayanginya," gumam Binka.
"Alana begitu lembut sekali, dia sabar sekali menangani Nina yang memberontak tidak ingin menemui Binka," gumam Zhafran saat mendengar anaknya sudah mau menui Binka.
"Nina kan anak pintar, masa tidak sopan seperti itu, apalagi, dia mamah Nina. Nina tidak boleh seperti itu," ucap Alana.
"Mamah jahat, Bunda. Mamah mau ambil papah sama Nina. Dan, Bunda akan sendirian." Nina mengucapkan itu lagi dengan Alana.
"Kata siapa? Kamu kok dari tadi bicara seperti itu," ujar Alana.
Ya, Nina semalam memimpikan Binka datang ke rumah lalu merebut Zhafran dan Nina, dan meninggalkan Alana sendiri. Ini suatu Zhafranyataan bagi Nina. Makanya Nina memberontak dan menangis histeris karena takut kehilangan bundanya.
"Nina, mimpi itu bunga tidur, sayang. Jangan di bawa ke dalam Zhafranyataan," tutur Alana.
"Bunda mimpi juga menjadi kenyataan bisa," ucap Nina yang masih memeluk erat Alana.
Zhafran dan Binka masih berdiri di depan pintu dan mendengarkan apa yang di bicarakan Nina juga Alana.
"Kata siapa?" tanya Alana.
"Waktu papah di luar kota, waktu itu bunda ulang tahun. Papah pulang dari luar kota memberikan kado untuk bunda jam tangan. Dan Om Ardha, dia juga memberi kado yang sama pada bunda. Sebelum itu, Nina malamnya mimpi seperti itu, dan beberapa hari setelah itu jadi kenyataan?" ujar Nina.
"Itu kan hanya kebetulan, sayang," ujar Alana.
Memang waktu itu Ardha akhirnya memberikan kadonya. Dia memang tidak sengaja membelikan yang sama dengan Zhafran, jadi ya, tidak masalah dia memberikannya saja jam itu sebagai hadiah ulang tahun untuk Alana saat itu.
"Itu bukan kebetulan bunda, itu kenyataan yang keluar dari mimpi Nina," ucap Nina.
"Nina sayang, mamah tidak akan mengambil papah dan kamu dari bunda, Nina percaya sama mamah." Binka akhirnya memberanikan diri untuk bicara dan mendekat pada Nina. Dia duduk di samping Nina yang sedang di pangku Alana.
"Tuh, dengar mamah, mamah tadi bicara apa, mamah ke sini itu kangen dengan Nina. Masa Nina gini, mamah jauh-jauh dari kota lain ke sini untuk bertemu Nina. Ayo lihat mamah." Alana terus membujuk Nina agar mau melihat Binka dan memeluk Binka.
__ADS_1
"Ayo, jangan seperti ini. Nina anak yang pintar, Nina sudah gede, masa Nina gini, malu dong, masa udah SD sekarang, tapi seperti ini," ujaa Alana.
Nina akhirnya mau melihat Binka dan mencium tangan Binka. Binka meneteskan air matanya. Dia benar-benar orang tua yang sudah menyia-nyiakan anaknya. Hingga anaknya tidak mau melihatnya dan membencinya.
"Mamah boleh memeluk, Nina?" tanya Binka.
Nina menganggukkan kepalanya dan merentangkan tangannya untuk memeluk Binka. Betapa bahagianya Binka Nina mau dipeluknya. Nina memindahkan dirinya ke pangkuan Binka.
Binka menangis hingga sesegukan bisa memeluk putrinya lagi. Nina menyaka air mata Binka dan mencium pipinya. Binka berulang kali mengeluarkan kata maaf dari mulutnya pada Nina. Binka menciumi wajah Nina dengan sayang sang dengan rasa rindu yang menggebu di hatinya.
"Maafkan Nina juga, mah." Nina memeluk erat Binka. Mereka saling mengikis rindunya setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
"Ayo keluar, mamah ingin gedong Nina," ucap Binka.
"Mainan dulu sama mamah, bunda buatkan mamah minum dulu, sama menata makan siang, nanti makan siang bareng mamah, ya?" ucap Alana.
"Tidak usah repot-repot, Lan," ucap Binka.
"Mbak jauh-jauh dari luar kota, masa iya aku anggurin, aku sudah masak dan membuat sedikit kue," ucap Alana.
"Dia mendengar kamu mau ke sini, langsung membuat kue dan masak itu, masa kamu tega tidak makan masakan istriku?" imbuh Zhafran.
"Oke, aku akan mainan dulu dengan Nina," ucap Binka.
"Mau mainan di kamar atau di luar?" Tanya Binka pada Nina.
"Di sini saja," ucap Nina.
"Oke,"
Binka bermain di kamar Nina, dia benar-benar merindukan Nina. Tidak menyangka Nina benar-benar sangat menyayangi Alana.
Alana ke dapur membuatkan teh untuk Binka dan menyiapkan makan siang. Setelah menaruh teh di meja ruang tamu, Alana kembali ke dapur. Dia sedikit memikirkan mimpi Nina yang tadi di ceritakan oleh Nina.
Zhafran melihat istrinya sedikit gundah dari raut wajahnya. Dia menyiapkan masakannya sambil sedikit-sedikit melamun. Zhafran menghampirinya dan memeluk Alana dari belakang.
"Kenapa? Kamu takut aku kembali pada Binka?" tanya Zhafran yang mengagetkan Alana.
"Mas ... kebiasaan sekali mengagetkanku," ucap Alana.
"Kamu saja yang dikit-dikit melamun, Lan," ujar Zhafran.
"Jangan di pikirkan soal mimpi Nina. Mimpi adalah bunga tidur, Lan," imbuh Zhafran.
"Mas, kalu jadi kenyataan bagaimana? Apa kamu akan kembali dengan Binka lagi?" tanya Alana dengan penuh kekhawatiran.
"Jangan bicara seperti itu, Sayang." Zhafran memeluk Alana dengan Erat. Dia mencium bibir Alana yang manis itu.
Zhafran memang tidak bisa lepas dari tubuh Alana yang sudah menjadi candu dalam hidupnya.
"Jangan khawatir, aku akan tetap di sini, bersamamu dan Nina," ucap Zhafran meyakinkan.
__ADS_1
"Iya," jawab Alana, tapi hati Alana sangat ragu.
Alana meneruskan menata makanannya di bantu oleh Zhafran. Sedangkan Binka, dia dari tadi memerhatikan kemesraan Zhafran dengan Alana yang sedang di dapur. Bahkan dia mendengar semua percakapan Alana dan Zhafran. Binka tidak sengaja mendengarnya. Dia ke dapur karena ingin mengambil air putih untuk Nina.