
Alana meneruskan menata makanannya di bantu oleh Zhafran. Sedangkan Binka, dia dari tadi memerhatikan kemesraan Zhafran dengan Alana yang sedang di dapur. Bahkan dia mendengar semua percakapan Alana dan Zhafran. Binka tidak sengaja mendengarnya. Dia ke dapur karena ingin mengambil air putih untuk Nina.
Binka memberanikan diri untuk mendekati mereka yang sedang bermesraan. Ya, itu semua karena Nina meminta air putih. Tidak mungkin dia kembali ke kamar dengan tangan kosong.
"Maaf mengganggu. Nina minta air putih, Lan," pinta Binka.
"Oh, sebentar aku ambilkan," ucap Alana.
Alana mengambil gelas dan menuangkan air putih ke dalam gelas. Alana memberikan gelas berisi air putih pada Binka.
"Ini mbak, air putihnya." Alana memberikan segelas air putih untuk Nina pada Binka.
"Terima kasih, Lan." Binka kembali ke kamar Nina.
Binka merasa rumah tangga Alana dan Zhafran sangat harmonis sekali, dia tidak pernah sama sekali dengan Zhafran di dapur bersama, masak bersama selama dia menjari istrinya. Dan saat bersama Alana, Zhafran mau terjun ke dapur membantu Alana menyiapkan masakan.
"Zhafran berubah sekali, dia dulu tidak seperti itu. Mungkin karena aku juga yang tidak bisa memasak, jadi mana mungkin dia ke dapur, masa ia masak dengan bibi?" gumam Binka sambil berjalan ke kamar Nina lagi.
Binka bermain cukup lama di kamar Nina. Saat sedang asik bermain, Alana dan Zhafran masuk ke kamar Nina. Mereka mengajak Nina dan Binka makan siang
"Ayo, makan siang dulu, tuh bunda sudah masak kesukaanmu," ucap Zhafran.
"Udang crispy lagi, kan? Sama sayur sop?" tanya Nina.
"Iya, apa lagi kalau tidak itu. Papah sampai bosan lihatnya," ucap Zhafran.
"Tapi Nina suka, dan tidak pernah bosan," ucapnya.
"Ya sudah ayo makan," titah Zhafran.
"Gendong," pinta Nina.
Zhafran menggendong Nina menuju ke meja makan. Binka dan Alana berjalan di belakang Zhafran menuju ke meja makan. Mereka duduk melingkar di depan meja makan. Alana mengambilkan nasi untuk suaminya terlebih dahulu, setelah itu Nina, baru dirinya.
"Ayo, Mbak. Jangan dilihatin makanannya. Ayo ambil, terserah mau makan apa yang mbak suka, mbak tidak alergi udang atau ikan laut, kan?" tanya Alana
"Tidak, Lan. Iya, ini aku mau makan. Ini kamu semua yang memasak?" tanya Binka.
"Iya, Mbak. Siapa lagi kalau bukan aku," jawab Alana.
Binka mengambil makanannya dan menikmati masakan Alana. Dia merasakan masakan Alana sungguh lezat sekali.
"Pantas Zhafran sangat mencintai Alana, dan cepat melupakanku. Nina juga, dia senang sekali dengan Alana," gumam Binka.
"Nina, papa minta udang Crispy nya dong," pinta Zhafran.
"Tidak, kan papa sukanya udang saus tiram, ini milik Nina." Nina menyembunyikan udangnya.
"Yah, pelit," ucap Zhafran.
__ADS_1
"Kasih papanya, nanti bunda gorengin lagi," tutur Alana.
"Satu saja ya, pah?" Nina memberikan udan Crispynya pada Zhafran. Dia menyuapi papahnya.
"Enak ya, pantas kamu suka," ucap Zhafran.
"Enak sekali, pah. Makanya setiap hari Nina tidak bosan," ucap Nina.
Binka memandangi kehangatan mereka saat makan. Ya, memang seperti itu, Alana, Zhafran, dan Nina.
"Mereka sangat bahagia sekali," gumam Binka.
"Mamah mau?" Nina menawari udang crispynya pada Binka.
"Coba mamah minta, suapi Nina, ya?" pinta Binka.
Nina menyuapi Binka, memang benar, masakan Melan semuanya enak sekali.
"Hmm ... enak ya? Pantas Nina suka," ucap Binka.
"Bunda mau?"tanya Nina.
"Buat Nina saja, ini bunda sudah banyak lauknya, sayang," jawab Alana.
"Oke," ucap Nina.
Hari sudah sore, Binka berpamitan dengan Zhafran, Alana, dan Nina untuk kembali ke kotanya. Taksi yang Binka pesan sudah menunggu di depan rumah Zhafran untuk mengantarnya ke stasiun.
"Lan, Zhafran, terima kasih, sudah mengizinkan aku menemui Nina,"ucap Binka.
"Iya, Mbak. Nina putrimu, kapan pun mbak ada waktu, temuilah Nina," ucap Alana.
"Iya, Lan," ucap Binka.
"Mamah pulang ya, Nak," pamit Binka pada Nina.
"Iya, mah. Nanti kalau mamah libur main lagi, ya?" ucap Nina.
"Oke." Binka memeluk dan mencium Nina sebelum pulang.
"Zhafran, aku pulang," pamit Binka.
"Iya, hati-hati Binka," jawab Zhafran.
Binka masuk ke dalam taksi, dia melambaikan tangannya pada Nina. Rasanya hati Binka kosong lagi setelah meninggalkan Nina. Bayangan wajah mungil Nina di matanya masih saja nampak. Binka hanya meneteskan air matanya. Dia merasa berdosa sekali, dia merasa tidak pantas disebut mamah oleh Nina.
"Maafkan mamah, Nak. Mamah janji akan menemui kamu kalau mamah libur lagi,"gumam Binka.
Zhafran masih memandang ke depan, hingga taksi yang di tumpangi Binka lenyap dari pandangannya. Zhafran merasa ada yang hilang hari ini, setelah seharian dia memandangi wajah Binka. Ya, tak bisa dipungkiri, Zhafran masih sangat mencintai Binka.
__ADS_1
"Binka, andai aku belum menikah, aku akan menerimamu kembali, walau kamu sudah begitu dalam menyakitiku," gumam Zhafran.
Alana melihat Zhafran yang masih memandang ke depan dengan tatapan kosong. Alana tahu, kalau Zhafran masih sangat menginginkan Binka.
"Ehem ...." Alana berdehem dan Zhafran sedikit terjingkat, menyadari Alana masih di sampingnya.
“Taksi yang ditumpangi Mbak Binka sudah jauh, sudah tidak terlihat, Mas. Mas sedang bengong lihatin apa?” tanya Alana.
“En—enggak Cuma lihat ke depan saja. Ya, lihat ke depan,” jawab Zhafran dengan gugup.
"Mas masih mencintai Mbak Binka?"tanya Alana.
"Kamu jangan tanya seperti itu, ayo masuk, sudah mau petang." Zhafran mengalihkan pembicaraan Alana dan mengajaknya masuk.
"Maaf Lan, aku masih sangat mencintainya. Aku juga mencintaimu, Lan, meski cintaku padamu tak sedalam cintaku untuk Binka. Walau aku sudah merasakan hangat tubuhmu dan merasakan nyaman bercinta denganmu. Tapi, hati ini tidak bisa berbohong, aku sangat menintai Binka," gumam Zhafran.
Alana semakin tahu, Zhafran masih sangat mencintai Binka. Selama dua tahun, dia hanya menjadi tawanan cinta untuk Zhafran. Dia mencintai Zhafran, tapi Zhafran hanya memberinya separuh hati, separuh pun sepertinya tidak penuh. Zhafran hanya ingin tubuhnya saja, tidak hatinya.
"Ya Tuhan, rumah tangga macam apa ini? Aku memiliki suami yang hanya ingin menikmati tubuhku saja, tanpa memberi cinta yang tulus," gumam Alana.
Zhafran berjalan mendahului Alana masuk ke dalam rumah, dan menuju kamarnya. Hati Zhafran saat itu benar-benar goyah sekali. Dia seperti kehilangan kendali, berkali-kali dia berbalas Chat dengan Binka selepas Binka pulang dari rumahnya.
Alana memandangi Zhafran dari balik pintu yang sepertinya bahagia memandangi ponselnya. Alana tahu, dia sedang berbalas Chat dengan Binka pastinya.
"Apa gunanya pernikahan ini, Mas? Apa gunanya perhatianmu, ucapan sayangmu, ucapan rindumu, kalau cintamu hanya separuh saja, dan separuhnya untuk Binka? Apa gunanya semua ini?" Alana meneteskan air matanya dengar terus memandangi Zhafran yang sedang bahagia dengan ponselnya.
Zhafran meletakan poselnya, dia menambil handuk dan menuju ke kamar mandi. Ini kesempatan Alana untuk melihat ponsel Zhafran. Karena Zhafran sangat bahagia sekali dengan ponselnya.
Alana masuk ke dalam kamarnya, dia mengambil ponsel Zhafran, dan saat Alana baru memegang ponsel Zhafran, Binka meneleponnya. Dengan Reflek jari lentik Alana menggeser tombol hijau di layar. Alana mencoba mendengarkan apa yang Binka katakan tanpa bersuara.
"Zhafran, kamu jangan seperti itu, Alana sangat baik, aku juga masih sangat mencintaimu, Zhafran. Tapi, apalah dayaku, kamu sudah menjadi milik Alana seutuhnya. Kita tidak mungkin bersama lagi. Dan, jika kita bersama, akan ada hati yang tersakiti, Zhafran. Yaitu, Alana." Binka bicara seperti itu di balik ponsel Zhafran.
Hati Alana bagai tersambar petir. Air mata Alana lirih seketika medengar pernyataan Binka.
"Hallo Zhafran, hallo," ucap Binka dari balik ponselnya.
Tidak ada sahutan dari Zhafran, akhirnya Binka mematikan ponselnya. Alana menguatkan hatinya untuk melihat isi chat Zhafran dengan Binka. Benar sesuai dugaan Alana, kalau Zhafran masih mencintai Binka. Berkali-kali dalam chat nya Zhafran menyatakan cintanya pada Binka. Hati Alana semakin sakit. Rumah tangga yang ia bangun selam dua tahun ini, sama sekali tidak bisa merubah hati Zhafran untuk mencintainya.
"Kamu tega sekali, Mas! Selama ini melakukan semua itu denganku itu atas dasar apa? Hanya pelampiasan nafsumu saja? Kamu melakukannya dengan aku, tapi hati kamu untuk orang lain. Cobaan apa lagi, Tuhan. Apa yang harus aku lakukan? Membiarkannya, lalu aku mengalah pergi? Bertahan juga untuk apa? Suami ku ternyata selama ini berpura-pura bahagia dengan aku." Alana menangis meratapi nasibnya.
Alana sadar, masih memegang ponsel Zhafran. Dia segera meletakkannya, dan menghapus air matanya. Alana pura-pura tidak mengerti apa-apa. Dia keluar dari kamarnya, Alana ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Tenang Lan, andaikan Zhafran memilih kembali dengan Binka, kamu harus rela. Buat apa kamu mempertahankan suami yang tidak mencintaimu? Jangan mengemis cinta, Lan. Ingat, kamu bisa hidup tanpa laki-laki. Daripada hidup dengan laki-laki yang tidak mencintai kamu, bu maafkan Alana, Alana salah memilih. Benar kata ibu waktu itu, entah kenapa Alana tidak berpikir lebih panjang lagi saat itu. Aku melihat Nina, aku sayang Nina, dan aku memang jatuh cinta dengan Mas Zhafran saat itu, saat dia mulai memberikan perhatian penuh padaku, peduli padaku, dan menyatakan cintanya padaku, tapi ternyata cinta itu palsu, cintanya tidak tulus. Mungkin dia hanya butuh pengasuh buat anaknya, dan pelampiasan nafsunya saja, jadi apa pun dia lakukan untukku, termasuk pura-pura mencintaiku," gumam Alana.
Dua tahun bersama Zhafran melupakan tujuan awal Alana untuk mencari orang tua kandungnya. Ia terlalu hidup bahagia dengan Zhafran, jadi dia tidak memedulikan urusannya untuk mencari siapa orang tua kandungnya. Sejak dua tahun itu juga, Alana yang tadinya ingin tanya-tanya soal gelang dengan Nadia, ia urungkan. Sebab ia ingin sekali menikmati momen-momen rumah tangganya yang bahagai dengan Zhafran.
“Aku sampai melupakan mencari orang tuaku. Padahal sudah aku dapatkan bukti gelang itu, sayangnya Nina sudah tidak mau memakainya. Tapi, ada untungnya, ibu jadi gak melihat gelang itu. Mungkin ibu belum sadar aku mengambilnya,” ucap Alana.
Nadia sendiri pun mengerti, ia juga enggan membahas itu pada Alana, ia mengurungkan niatnya untuk mencoba tes DNA. Nadia ingin melihat Alana bahagia dengan suaminya. Dua tahun pertama pernikahan memang momen kebahagiaan tercipta, itu kenapa Nadia tidak dulu membahas soal Ayleen dengan Alana. Nadia juga sedang fokus dengan ayahnya yang sudah sering sakit-sakitan.
__ADS_1