
Seusai makan malam, Zhalina bermain bersama Askara dan Nina bersama Alana di kamar tamu. Sedangkan Binka, dia memilih menyendiri duduk di teras belakang dengan. Nadia yang sedikit mengerti dengan keada Binka saat ini, dia menemani Binka dan duduk di sampingnya.
"Kamu kok di sini sendirian?" tanya Nadia.
"Iya, Tante. Lagi cari udara, di dalam gerah sekali," jawab Binka.
"Zhafran di mana?"tanya Nadia lagi.
"Zhafran sedang bersama Ardha," jawab Binka.
"Kamu baik-baik saja, kan?" Nadia memastikan keadaan Binka yang dari tadi duduk dengan tatapan sendunya.
"Iya, Aku baik-baik saja, Tante," jawab Binka dengan tersenyum getir.
"Tante tahu apa yang kamu rasakan, kamu yang sabar, ya. Mungkin semuanya masih tidak berkenan karena perbuatan kamu dan Zhafran waktu itu. Ya, jujur Tante Nadia juga kecewa dengan kamu dan Zhafran, meski saat itu tante belum tahu kalau Alana itu putri tante. Jujur tante sangat kecewa sekali dengan kalian, melihat Alana yang dikhianati kalian, tante marah, tante kecewa. Kalian sebegitu gampangnya mempermainkan pernikahan. Tapi, ya sudahlah, sekarang Alana sudah bahagia, dia sudah menemukan pengganti yang begitu menyayangi dan mencintainya. Jujur, sejak awal mendengar Alana mau menikah dengan Zhafran, tante sudah tidak setuju," ujar Nadia.
"Iya Tante, seharusnya aku tidak datang lagi di kehidupan Zhafran yang sudah baik-baik saja tanpa aku. Seharusnya saat ini pun aku tidak di sini, semua membenciku di sini, Tante. Aku tahu itu, tapi aku berusaha baik dengan mereka. Dan, sepertinya mereka tetap saja tidak bisa menerimaku lagi? Mami, Papi, Zhalina mereka kecewa sekali denganku, bahkan anakku sendiri, dia tidak mau denganku, karena dia menaganggap aku ini jahat sekali, sudah merebt papanya dari bundanya," ucap Binka dengan menumpahkan air mata dan penyesalannya.
“Mungkin ini balasan untukku yang dulu pernah mengkhianati Zhafran, lalu setelahnya aku menyakiti Alana. Aku di jauhi oleh anak kandungku sendiri, anak keduaku meninggal saat lahir, aku sudah tidak memiliki rahim, dan orang-orang yang ada di sekeliling Nina, sepertinya berusaha menjauhkan Nina dariku, sejak kedatanganku di sini, Nina sama sekali tidak mau berbicara denganku," ucap Binka.
"Mungkin karena Nina jarang sekali bertemu denganmu, ya karena dia juga masih kecewa sama kamu?"
"Ya memang seperti itu, mungkin juga karena semua membenciku, Tante. Jadi Nina juga ikut membenciku," ucap Binka dengan menyeka air matanya.
"Tidak seperti itu juga. Sudah, nanti juga Nina tahu kalau udah gede. Dan pasti akan bersama kamu lagi. Tidak ada seorang anak yang membenci ibunya. Nina mungkin masih merasa kecewa saja, bukan membencimu. Tapi, suatu saat nanti, dia pasti akan mengerti apa yang terjadi. Sudah jangan menangis, ayo ke dalam. Di sini banyak nyamuk." Nadia mencoba menenangkan hati Binka. Dia juga merasakan apa yang Binka rasakan saat ini.
Zhafran sedang berada di taman depan rumah bersama Ardha. Mereka dari tadi membahas masalah Askara. Zhafran yang sangat merasa bersalah sekali akhirnya merelakan Askara memanggil Ardha dengan sebutan Ayah.
"Bagaimana bisa kamu bertemu dengan, Alana?"tanya Zhafran.
"Waktu itu, kebetulan teman kerjaku mengajak makan malam di rumahnya. Dan, ternyata teman kerjaku itu saudara sepupu Alana. Anaknya Budhe Aninggar. Dari situ aku dekat dengan Kak Alana hingga sekarang," jawab Ardha.
"Apa kamu akan menikahi Alana?"tanya Zhafran.
"Untuk masalah itu, kami memang sudah membicarakan, bahkan Om Dev dan Tante Nadia, juga mami-papi sudah menentukan tanggal. Padahal itu masih sangat lama sekali. Kak Fatih saja baru besok mau menikah? Belum juga Kak Shaka? Sebenarnya aku dan Alana sih masih santai, karena aku tahu, bagaimana hati Alana saat ini. Yang aku lakukan sekarang adalah, membuat hidup Alana dan Askara senyaman mungkin denganku, Kak," jawab Ardha.
__ADS_1
"Askara dekat sekali dengan kamu, Ardha," ucap Zhafran.
"Bagaimana tidak dekat? Aku yang menemani Alana melahirkan, aku yang sering sekali bersama Askara. Saat Alana hamil, juga aku yang sering mengantar ke mana Alana akan pergi, jadi wajar jika Askara dekat dengan aku. Kan aku yang setiap hari menemani mereka, aku juga sering dengan Iwan, jadi kita semakin dekat,” jelas Ardha.
“Terima kasih sudah menjaga Askara, sudah menjadi pengganti diriku untuk Askara. Bahagiakan mereka. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, kalau memang Askara tidak mau menganggap aku papanya, dan aku terima semua ini, karena ini adalah kesalahanku. Mungkin ini adalah karma untukku. Aku sudah menyakiti Alana, sekarang aku hanya dengan Binka yang setiap harinya kami hanya meratapi kesedihan dan kesepian. Tidak ada warna lagi dalam rumahku, tidak ada canda dan tawa lagi dalam rumahku. Nina tinggal sama mami-papi, dia sama sekali tidak mau pulang ke rumah. Dengan Binka pun, dia sepertinya masih marah sekali karena kepergian Alana. Anak keduaku dengan Binka, meninggal saat setelah lahir prematur. Sekarang Askara, dia tidak mau denganku. Ini lah yang aku alami sekarang, Ar. Hidup dalam sepinya dunia. Tidak ada canda, tawa, dan warna yang menghiasi rumahku," jelas Zhafran.
"Ya semua itu juga karena perbuatan kakak sendiri. Seperti petani saja, kak. Menanam padi, ya yang di panen padi itu. Kalau kita menanam keburukan, ya kita akan menuai keburukan juga. Tuhan Maha Adil, kak. Kita pernah sakit hati dengan seseorang, tanpa kita membalas dan kita ikhlas, Tuhan lah yang akan membalasnya, dunia itu berputar, kak. Yang tadinya bahagia, pasti akan berduka di kemudian hari, yang tadinya berduka, pasti akan bahagia di kemudian hari," tutur Ardha.
"Iya, aku tahu itu. Ardha. Dan, sekarang aku merasakannya. Merasakan sakit hati Alana yang dulu saat aku menyakitinya," ucap Zhafran.
"Sudah, lupakan itu, jangan pernah ulangi lagi, Kak. Dan semoga, Nina mau dekat dengan kakak dan Kak Binka lagi," ucap Ardha.
Saat Ardha dan Zhafran sedang berbincang-bincang, terdengar Askara menangis memanggil ayahnya. Alana keluar dari dalam rumah, karena melihat Ardha sedang di taman depan. Alana mendekati Ardha karena dia melihat Ardha duduk di bangku taman yang sudah di hiasi lampu warna-warni.
"Kok nangis? Kenapa Askara sampai nangis gini, Lan?" Ardha mengambil Askara dari gendongan Alana.
"Kak Lina menggodanya terus,” jawab Alana sedikit panik kalau Askara sudah menangis seperti itu. “Sudah dong, Sayang ... kan sudah sama Ayah," ucap Alana sambil mencium pipi Askara.
"Nangis kenapa? Siapa yang sudah nakal sama anak ayah yang tampan ini? Sudah jangan nangis. Masa jagoan nangis," ucap Ardha.
"Tuh, mau ikut, sama Pak .... Kok Pakde sih? Papa dong, Kak? Ini anakmu, Kak,” ucap Ardha.
"Ayo ikut pakde," ucap Zhafran tidak memedulikan ucapan Ardha, karena tahu, tidak mungkin Alana mengizinkan Askara memanggil Zhafran dengan sebutan papa.
Askara menepiskan tangan Zhafran. Mungkin belum mengenal, jadi dia belum mau dengan Zhafran. Tadi sama Arkan juga dia awalnya belum mau, tapi lama kelamaan lengket dengan Arkan.
"Kok gak mau? Itu diajak papa lho? Masih malu, ya?" ucap Ardha, yang tetap menyebutkan papa pada Askara. Dia memang kecewa pada kakaknya, tapi bagaimana pun, Askara anak kandung Zhafran, tidak mungkin Ardha mengajari Askara untuk memanggil pakde pada papa kandungnya.
Alana hanya melihat Askara yang masih saja belum mau ikut dengan Zhafran. Alana hanya tersenyum di depan Askara, melihat Askara yang terus mendekap erat tubuh Ardha, karena tidak mau dengan Zhafran.
“Itu diajak papa kok gak mau, Nak?” ucap Alana.
Zhafran tertegun mendengar ucapan Alana yang menyebutkan dirinya papa di depan Askara. Ia menyangka Alana tidak akan menyebutkan dirinya dengan sebutan papa pada Askara, karena Alana sudah sangat kecewa dengan dirinya.
Zhafran malu, ia merasa tidak pantas disebut papa oleh Askara, jadi dia menyebutkan dirinya pakde pada Askara.
__ADS_1
Alana tidak masalah Askara memanggil Zhafran papa, karena ia tidak mau mengingkari kalau Askara adalah anak kandung Zhafran. Alana tidak mau mengubah kenyataan itu, yang terpenting Askara akan bersama dia, hidup bersama dirinya sampai dewasa. Daripada nantinya Askara kecewa kalau sudah dewasa, karena Alana menutup-nutupinya, jadi lebih baik Askara tahu sejak dini kalau Zhafran adalah papa kandugnya.
“Sudah jangan nangis, sudah sama ayah masa nangis terus?” ucap Alana.
Askara menoleh ke arahnya, lalu melihat Zahfran juga yang ada di sebelah Ardha.
“Mau ikut pakde?” tanya Zhafran.
“Kok pakde, Kak? Kamu juga papanya Askara. Askara juga anakmu. Aku mmang sangat kecewa dan marah dengan perbuatan Kak Zhafran, tapi aku tidak mau melawan takdir, kalau Kak Zhafran itu ayah kandung Askara, jadi aku ajarkan anakku memanggil ayah kandungnya dengan sebutan papa, aku tidak mau dia tahu kalau sudah dewasa, dan akhirnya dia akan kecewa denganku. Lebih baik aku ajarkan dia sejak dini, pelan-pelan aku jelaskan yang sebenarnya, karena aku tidak mau dia seperti diriku, yang mencari-cari siapa orang tua kandungku setelah aku dewasa, aku tidak mau Askara tahu kamu ayah kandungnya setelah dewasa nanti, karena aku yakin Askara pasti akan kecewa nantinya, bukan hanya dengan kamu, bahkan dengan aku juga Askara kecewa,” jelas Alana.
“Benar kata Alana, Kak,” ujar Ardha.
“Aku merasa gak pantas disebut papa oleh Askara,” ucap Zhafran.
“Pantas gak pantas tapi tidak bisa diingkari kalau kakak itu ayah kandung Askara, Kak,” cetus Ardha. “Mungkin hanya perasaan kamu saja, Kak. Karena kamu masih merasa bersalah dengan Alana dan Askara, jadi kamu merasa gak pantas untuk dipanggil papa oleh Askara. Tapi, sudahlah, semua sudah berlalu, Alana dan Askara juga sudah mendapat kebahagiaan yang lain selama ini.”
“Aku tidak mempermasalahkan Askara memanggil Kak Zhafran papa, asal Askara masih bersamaku, sampai nanti dia dewasa. Tolong jangan ambil Askara dariku, Kak,” ucap Alana.
“Kenapa kamu mikirnya gitu, Lan? Tidak mungkin aku memisahkan Askara dari ibunya. Aku sudah diberi kesempatan dipanggil papa oleh Askara saja aku sudah terima kasih sekali, Lan. Mana tega aku mengambil Askara dari kamu, memisahkan dari ibu yang sudah melahirkannya? Kejam sekali sepertinya kalau aku seperti itu?” jawab Zhafran.
“Itu yang aku khawatirkan, karena aku tahu, Kak Zhafran sangat menginginkan anak laki-laki,” ucap Alana.
“Aku sudah punya, Askara anak laki-lakiku, aku memiliki keturanan laki-laki, aku tidak mempermasalahkan itu, karena hak asuh anak lebih tepat jatuh pada ibunya, apalagi aku meninggalkan kamu dalam keadaan hamil. Mau aku menuntut hak asuh lewat jalur hukum pun, aku tidak akan bisa mendapatkan hak asuh, karena perbuatanku itu,” jelas Zhafran.
“Sudah yang penting sekarang kamu gak takut lagi kan kalau Kak Zhafran akan ambil hak asuh Asakara? Aku juga gak rela dong, dan tentunya aku akan mempertahankan Askara,” ujar Ardha. “Sudah, jangan ada keributan lagi, jangan ada lagi saling benci, saling bertengkar, masa sesama saudara saling benci?”
“Iya, kamu benar, Ar. Aku sangat berterima kasih padamu. Aku titip Askara, Ar. Jaga dia, dan jangan sakiti Alana,” ucap Zhafran.
“Ya, aku akan menjaga Askara dan Alana, itu sudah tugasku nanti saat aku sudah menjadi suami dan ayah untuk Askara,” jawab Ardha.
“Kapan kalian meresmikan?”
“Nanti kalau Kak Shaka sudah menikah. Ya mungkin akhir tahun ini,” jawab Ardha. “Ayo ikut sama papa, itu papamu kan pengin gendong kamu, Sayang?” rayu Ardha pada Askara.
Askara masih tetap tidak mau bersama Zhafran, dia menepiskan tangan Zhafran, mungkin karena dia belum terbiasa dengan Zhafran. Dia hanya mau dengan orang yang sudah sering bertemu dan mengajaknya. Seperti dengan opa dan omanya, juga dengan kakak-kakaknya Alana.
__ADS_1