
Zhafran tanpa rasa bersalah mendekati Alana yang sudah selesai memasak. Alana menata makanannya dan di meja makan, lalu berjalan melewati Zhafran yang berdiri di depannya.
"Sudah selesai, Sayang?" tanya Zhafran.
"Sudah, aku mandi dulu," jawab Alana.
"Iya." Zhafran memerhatikan istrinya yang kala itu tidak seperti biasanya.
"Alana tumben cuek sekali," gumam Zhafran.
Zhafran pergi ke ruang tamu, dia membuka ponselnya lagi dan mulai chat dengan Binka. Entah apa yang merasuki Zhafran saat itu. Dia benar-benar ingin sekali menghubungi Binka setiap waktu. Zhafran mengirim chat kepada Binka lagi.
"Sudah sampai mana?" ~Zhafran.
"Sebentar lagi sampai rumah, ini baru keluar dari stasiun. Zhafran, tadi aku meneleponmu, kamu angkat, tapi tidak ada suara." ~Binka.
"Kapan? Aku tidak tahu, Binka. Aku tidak mengangkatnya kok?" ~Zhafran.
"Masa? Kamu angkat lho, coba lihat riwayat panggilan masuk." ~Binka.
Zhafran segera mengecek panggilan masuk, dan tidak ada sama sekali panggilan masuk. Zhafran bingung, apa Alana yang mengangkatnya.
"Apa karena itu Alana jadi acuh dengan aku? Apa iya, Alana yang mengangkatnya?" gumam Zhafran.
Zhafran membalas pesan Binka lagi, dia bilang pada Binka kalau sama sekali tidak ada panggilan masuk.
"Binka, tidak ada panggilan masuk. Ini buktinya." ~Zhafran.
Zhafran mengirim bukti screenshoot tidak ada panggilan pada Binka. Ya, memang benar, tidak ada di ponsel Zhafran panggilan masuk dari Binka.
"Kok tidak ada ya, Zhafran? Aku telfon kamu jam segini tadi, Zhafran." ~Binka.
Binka juga mengirim bukti screenshoot pada Zhafran, kalau dirinya tadi menelefon Zhafran. Zhafran bingung soalnya tidak ada jejak di ponsel Zhafran kalau Binka menelepon.
"Sudah, jangan di bahas. Aku mau makan malam dulu, Alana sudah menyiapkan makan malam." ~Zhafran.
"Istrimu pandai memasak, kamu betah ya jadinya? Tidak seperti aku dulu. Zhafran, maafkaan aku." ~Binka.
"Sudah, jangan ungkit masa lalu, aku sudah memaafkanmu. Oh ya, Minggu depan aku akan mengecek proyek ku yang ada di kotamu. Boleh kan, kita nanti bertemu?" ~Zhafran.
"Tentu saja. Ya sudah, sana makan malam dulu, aku sudah sampai di rumah. Mau bersih-bersih badan. Sampai jumpa Minggu depan." ~Binka.
Zhafran makan malam dengan Alana dan Nina. Suasana makan malam ini benar-benar dingin, tidak seperti biasanya. Alana hanya berbicara pada Nina saja. Dia berbicara pada Zhafran hanya jika Zhafran bertanya pada Alana.
__ADS_1
"Alana aneh sekali malam ini," gumam Zhafran.
Alana mengemasi piring kotor dan lainnya setelah makan malam. Dia mencuci piring dan membereskan dapur. Zhafran mendekati Alana seperti biasanya. Dia langsung memeluk Alana dari belakang.
"Kamu kenapa, Sayang? Mau datang bulan, ya? Kok mukanya di tekuk?" Zhafran mengusap pipi Alana dengan lembut lalu mengecupnya.
"Tahan Alana, kamu jangan seperti ini. Terlihat baiklah di depan suamimu, jangan sampai dia curiga. Ayo Alana, kamu pasti bisa." Alana menoleh ke arah Zhafran, membalikan tubuhnya dan mencium kilas bibir Zhafran.
"Aku lelah sekali, sayang. Kakiku sakit sekali, dari tadi sehabis masak," ucap Alana dengan membohongi hatinya.
"Ya sudah kamu duduk, aku bantuin beresin ini semua," titah Zhafran.
"Ini sudah selesai, Sayang. Aku mau ke kamar. Aku ingin di gendong," pinta Alana dengan manja.
"Manja sekali istriku ini. Ayo aku gendong." Zhafran menggendong Alana sampai di kamarnya.
Mereka bercengkrama hingga malam. Alana sengaja mengajak Zhafran cerita panjang kali lebar, agar Zhafran tidak menghubungi Binka lagi. Alana merasakan kantuk menyerang di matanya. Alana memeluk Zhafran dan tertidur pulas di pelukan Zhafran. Zhafran mengusap kepala istrinya dan menciumnya.
"Maafkan aku, sayang. Aku masih mencintai Binka," gumam Zhafran.
Zhafran mengeratkan pelukannya pada Alana. Raga Zhafran memang tidak bisa jauh dari Alana, tapi hati Zhafran, sangat jauh untuk menyentuh hati Alana. Itu semua karena dia masih menyimpan Binka di hatinya. Dan entah sampai kapan Zhafran akan mencintai Binka.
^^^
Binka berusaha memejamkan matanya. Namun, bayangan Nina masih menyelimuti matanya yang indah itu. Dia sesekali menyeka air matanya yang keluar dari sudut matanya karena ingin sekali memeluk putri kecilnya itu yang sekarang sudah tumbuh menjadi gadis kecil.
"Tuhan, apa ini cobaan untukku? Aku yang telah berdusta pada suamiku? Mengkhianati cinta suci dan ikatan suci pernikahan dengan suamiku. Iya, ini semua balasan untukku, bahkan putriku sendiri tidak mau bersamaku kalau Alana tidak membujuknya," gumam Binka.
Binka membuka ponselnya, ingin rasanya dia mengirim chat pada Zhafran. Binka tidak tahu kenapa dalam pikiran Binka saat ini hanya Zhafran dan Nina.
"Andaikan waktu bisa kuputar kembali, aku ingin mempertahankan Zhafran dan Nina. Tapi, semua sudah terlewatkan karena kebodohanku sendiri. Ya, aku menyesalinya, dan tak ada gunanya aku menyesali semuanya," gumam Binka.
Binka mengingat percakapan tadi dengan Zhafran di chat nya. Dia bahagia mendengar Zhafran masih sangat mencintainya, tapi takdir tak bisa merubahnya kalau dirinya sekarang orang lain bagi Zhafran, dan Zhafran sudah milik wanita lain, wanita itu adalah Alana. Seketika senyum bahagia di wajah Binka hilang menjadi senyuman penyesalan.
"Aku masih menginginkan kamu, Zhafran. Tapi, kamu milik wanita lain, sebesar apa pun cinta kita, kita tidak akan bersatu," gumam Binka.
Binka perlahan memejamkan matanya yang sudah sayup-sayup di terpa rasa kantuk. Binka mencoba menepiskan rasa sesalnya itu agar terbawa oleh pekatnya malam.
^^^
Pagi hari di rumah Zhafran.
Alana sudah tidak menghiraukan suaminya yang dari tadi sudah bercengkrama dengan ponselnya. Alana tahu, dia sedang chat bersama Binka, siapa lagi kalau bukan dia? Alana hanya diam dan membiarkan. Mau bagaimana lagi, kalau Alana bicara juga tidak ada gunanya. Zhafran selalu mengelak, bahkan marah.
__ADS_1
"Tuhan, jika masih ada sedikit harapan yang baik dalam keluargaku, tolong eratkan lagi keluarga ini. Dan jika tidak, pisahkan kami dengan sebaik-baiknya perpisahan." Alana bergumam sambil memandang Zhafran yang masih saja bermain ponselnya.
"Mas, tidak sarapan?" tanya Alana.
"Iya Alana, sebentar. Aku sedang chat Edward, katanya Minggu depan mau menemui ku," jawab Zhafran.
"Keluar kota lagi?" tanya Alana.
"Sepertinya begitu, paling tiga harian kok," jawab Zhafran.
"Ya sudah, ayolah sarapan, Nina juga sudah di ruang makan," ucap Alana.
"Iya, sayang." Zhafran beranjak dari sofa dan memeluk Alana yang sedang di depan meja rias.
"Kamu tambah cantik sekali. Alana, bolehkan aku minta sebentar saja," ucap Zhafran yang sudah membuka resleting baju Alana.
"Mas, ini sudah hampir jam tujuh, jangan gini sayang?" Alana membalikan badannya dan mencium kilas bibir Zhafran.
"Oke, kita sarapan, sehabis Nina berangkat sekolah, kita lanjutkan. Aku bolos kerja hari ini," ujar Zhafran.
"Ih tuh kan mas sekarang hobi sekali bolos kerja!" tukas Alana.
"Itu semua karena kamu sayang, semalam kamu tidur dulu, aku ingin sekali, tapi kamu pulas sekali tidurnya," jawab Zhafran.
Zhafran memang seperti itu. Jika libidonya sudah memuncak, apa pun di terjang. Ya, seperti hari ini, dia ada meeting dengan karyawannya, malah di undur siangan. Itu semua karena dia ingin menikmati permainan di ranjang dengan istrinya.
Zhafran tidak mencintai Alana, tapi dia butuh tubuh Alana untuk menumpahkan hasratnya. Hati Alana sebenarnya sakit sekali, tapi mau bagaimana lagi, Zhafran adalah suaminya. Zhafran berhak atas tubuh Alana, dan selama ini Zhafran juga menjadi suami yang baik, walau tidak sepenuhnya mencintai Alana.
Seperti yang Zhafran katakan, dia tidak akan ke kantor sebelum menuntaskan hasratnya pagi ini. Setelah mengantarkan Nina ke sekolah, Zhafran kembali pulang dan segera menemui istrinya. Alana sedang terlihat sibuk menyiapkan beberapa desain baju untuk ia buat. Zhafran yang melihat istrinya memakai baju agak longgar tapi masih terlihat tubuh Alana yang seksi itu, Zhafran langsung menyambarnya dan menggendong Alana ke arah sofa di ruang tengah.
Beruntung tidak ada orang di rumah, karena memang Zhafran tinggal dengan anak dan istrinya saja, tidak ada pembantu, hanya sopir pribadi yang sedang ambil cuti. Jadi, rumah Zhafran hari ini sangat sepi.
"Zhafran, aku sedang kerj ...." Ucapan Alana terhenti karena bibir Zhafran langsung menyambar bibir Alana.
Mereka hanyut dalam ciuman yang dalam. Zhafran menanggalkan baju yang melekat di tubuhnya, lalu melepaskan semua baju Alana, hingga Alana polos di depan Zhafran.
"Jangan di sini, Sayang ...." Rintih Alana yang sudah merasakan sentuhan tangan Zhafran yang nakal sedang menjelajahi tubuh indahnya.
"Aku sudah tidak tahan, Sayang. Di sini saja, lagian tidak ada orang," ucap Zhafran sambil memaju-mundurkan badannya di atas Alana.
Alana menikmati setiap gerakaan suaminya itu. Alana meninggalkan rasa sakitnya jika ingat dengan chat suami dan Binka saat itu, dan mungkin sampai saat ini mereka masih sering bertukar kabar. Suaminya memang pandai membuat kemarahan Alana gugur karena permainannya yang sudah menjadi candu untuk Alana.
"Mas ...." Ucap Alana sambil menikmati apa yang Zhafran lakukan
__ADS_1
"Iya, Lan. Kamu nyaman?" Alana hanya menganggukkan kepalanya saja, dengan menikmati permainan panas Zhafran di atas tubuhnya.
Entah kenapa Zhafran seperti kesetanan saat bermain dengan Alana pagi ini. Dia ingin lagi dan lagi. Akhirnya mereka melepaskan hasratnya. Tidak hanya sekali dua kali, Zhafran masih saja ingin bermain hingga pukul dua siang mereka baru menyudahi permainannya.