
Dua tahun telah berlalu. Rumah tangga Alana dan Zhafran semakin harmonis saja. Namun, mereka belum juga di kasih keturunan. Zhafran sama sekali tidak mempermasalahkan semua itu. Zhafran masih sabar menunggunya. Tapi, tidak bagi Alana, dia selalu saja khawatir kalau dia tidak bisa memiliki anak. Apalagi Thalia dan Arkan sudah ingin sekali memiliki cucu. Serangkaian program hamil telah Alana jalani, tapi hasilnya masih saja nihil. Zhafran tetap menyemangati Alana agar Alana tidak terlalu setres dengan keadaan ini.
"Zhafran sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu," gumam Alana.
Alana merasakan sudah satu bulan ini Zhafran sangat berubah sekali sikapnya. Entah kenapa suaminya itu sekarang agak dingin dan jarang sekali makan malam di rumah. Alana awalanya tidak memedulikannya, tapi sudah satu bulan berturut-turut Zhafran semakin berubah saja.
Malam ini Alana mendapat kabar kalau Zhafran harus ke luar kota karena ada klien yang mendadak ingin bertemu. Zhafran pulang sebentar hanya mengambil baju-baju gantinya saja.
"Kamu berapa hari, Mas?" tanya Alana.
"Lima hari, sayang. Kamu tidak apa-apa aku tinggal?" tanya Zhafran.
"Iya, tidak apa-apa. Kamu keluar untuk mencari nafkah, aku mengizinkannya. Hati-hati, jaga hati dan dirimu untuk ku dan Nina," ucap Alana.
"Itu pasti, sayang." Zhafran mengecup kening dan bibir Alana dengan lembut
Sebenarnya Zhafran tidak ingin menemui kliennya itu. Sudah satu bulan ini selama menjalin kerja sama dengan klien yang banyak maunya itu, membuat Zhafran jarang sekali makan malam bersama Alana dan Nina.
"Lan, maafkan aku, ini kesalahanku, aku menerima tawara Edward untuk kerja sama, tapi seperti ini. Dia terlalu banyak maunya. Sudah terlanjur tanda tangan kerja sama, aku tidak enak mau membatalkan sepihak," tutur Zhafran saat belum berangkat ke luar kota menemui Edward.
"Sayang, aku tidak apa-apa, toh itu pekerjaan kamu. Kamu semangat, jaga diri dan hati kamu, Sayang. Aku di sini selalu berdo'a untuk kesuksesanmu, kamu juga sudah habis banyak untuk membukakan butik untukku? Aku terima kasih sekali diberikan kado istimewa di ulang tahun pernikahan kedua kita," ucap Alana dengan lembut.
Zhafran memberikan kado anniversary pernikahannya yang kedua pada Alana, sebuah butik untuk Alana. Zhafran mau Alana mengurus butiknya sendiri. Padahal tidak masalah juga ia kerja dengan tantenya, tapi tidak enak juga kalau sering izin, kalau butik milik sendiri kan bebas mau izin kapan pun Alana mau.
"Sama-sama, itu hadiah untuk istriku yang sangat aku sayang, terima kasih kamu sudah setia membersamaiku selama dua tahun, dan terima kasih untuk semua waktu yang sudah kamu curahkan semuanya untuk aku dan Nina. Kamu istri terbaikku. Aku malah gak enak sama kamu, sebulan ini aku jadi jarang makan malam di rumah, Lan, kasihan kamu capek masak, aku tidak menyentuhnya," ucap Zhafran.
"Jangan bicara seperti itu, ya sudah, itu sopir sudah siap, kamu hati-hati." Alana mencium tangan suaminya dan Zhafran mencium kening Alana
"Jaga diri baik-baik di rumah. Oh ya, Ardha Minggu depan pulang, katanya dia ingin sekali di masakan udang saus tiram buatanmu," tutur Zhafran.
"Siap, kamu minggu depan sudah tidak sibuk, kan?"
"Semoga saja, sayang. Aku berangkat," pamit Zhafran.
"Nina, papa ke luar kota dulu, jaga diri dan jaga bunda," pamit Zhafran pada Nina.
__ADS_1
"Siap papah! Papah hati-hati," ucap Nina.
Zhafran berangkat ke luar kota bersama sopir pribadinya. Dia sebenarnya tidak ingin ke luar kota. Tapi, mau bagaimana lagi, ini adalah proyek penting. Jadi Zhafran terpaksa harus ke luar kota malam ini.
"Aku tidak ingin meninggalkan Alana sebenarnya. Apalagi sampai lima hari. Ternyata aku salah, aku salah menerima kerja sama dengan Edward, aku kerepotan sendiri," gumam Zhafran.
Zhafran menang baru kali ini sering kerja lembur dan pulang larut malam. Semua itu karena proyek barunya. Zhafran juga harus rela pulang larut malam terus selama satu bulan, dan sekarang, dia harus pergi ke luar kota, padahal besok adalah ulang tahun Alana.
"Maaf, Lan. Saat di hari bahagiamu, aku tidak di sampingmu. Semoga cepat selesai proyek ini," gumam Zhafran.
Baru saja setengah jam Zhafran meninggalkan Alana, dia merasa merindukannya, dia menelepon Alana. Padahal dia belum sampai di tempat tujuan.
"Lan, aku merindukanmu," ucap Zhafran pada Alana.
"Baru saja setengah jam kamu keluar, mas? Lagian kamu juga sering lembur kok dari kemarin," ujar Alana.
"Sayang, lembur beda, ini aku tidak pulang ke rumah, Lan. Lima hari, coba? Walaupun aku lembur, aku masih bisa memeluk kamu sepulang lembur. Bisa menikmati masakanmu saat sarapan dan makan siang. Sekarang? Lan, aku putuskan saja ya, kontrak kerja dengan Edward?" Zhafran tidak bisa jauh dengan Alana, entah kenapa dia tidak ingin jauh dari Alana saat ini. Zhafran sangat merasa bersalah menerima proyek yang membuat dirinya harus terjun sendiri ke lapangan.
"Sayang, sabar. Aku di sini menunggumu, lagian seperti gak pernah ke luar kota saja kamu, mas?" ucap Alana.
"Kamu kok takut sepertinya? Lima hari mau berada di luar kota?"tanya Alana.
"A—aku ...."
"Kamu takut kejadian Binka terulang lagi?" tanya Alana dengan memotong ucapan Zhafran.
"Em ... Iya, Lan," jawab Zhafran dengan gugup.
"Sayang, aku Alana bukan Binka," ucap Alana.
"Iya, sayang, tapi aku takut," ucap Zhafran.
"Jangan takut, kamu harus semangat, aku di sini mendoakanmu, pasti urusan kamu akan berjalan lancar," tutur Alana.
"Oke, terima kasih, sayang. Kamu memang terbaik," ucap Zhafran.
__ADS_1
"Terbaik, tapi sepertinya mas masih setengah mencintaiku?" Ucapan Alana membuat Zhafran sadar akan dirinya yang masih setengah hati mencintai Alana, namun dia sangat menyayangi Alana lebih dari apa pun.
"Aku tidak mau bahas ini, Sayang," ucap Zhafran.
"Hmm ... Ya sudah, kamu hati-hati, kalau sudah sampai kabari aku," ucap Alana.
"Oke, aku tutup teleponnya, maaf di saat kamu ulang tahun, aku tidak di rumah," ucap Zhafran.
"Tidak masalah, sayang. Kita merayakan minggu depan, kan adikmu juga akan pulang? Kita semua kan mau kumpul, Kak Lina juga kan sudah mau mempersiapkan pernikahannya?"
"Iya, Sayang, oh ya kamu mau kado apa?"tanya Zhafran.
"Kadonya, kamu bisa mencintaiku sepenuhnya, tidak setengah hati, dan aku bisa secepatnya memberi kamu keturunan," jawab Alana.
"Hmmm … akan aku usahakan. Aku tutup ya, teleponnya,"
Zhafran menutup teleponnya, dia memasukan ponselnya ke saku celananya lagi. Dia memikirkan kata-kata Alana. Zhafran memang tidak bisa mencintai Alana sepenuhnya, karena sampai saat ini dia masih mencintai Binka, walaupun dia sudah dua tahun hidup bersama. Cinta itu masih melekat untuk Binka seorang. Zhafran setiap hari berusaha mencintai Alana, tapi rasa itu hanya rasa sayang saja.
"Apa ini cinta? Aku terlalu mengkhawatirkannya dan terlalu takut dia dengan pria lain?" gumam Zhafran.
Zhafran sudah berada di hotel yang ia pesan. Dia masuk ke dalam hotel dan segera membersihkan dirinya sebelum tidur. Seperti biasa saat di luar kota, sebelum tidur Zhafran menghubungi istrinya dulu lewat video Call.
Pagi-pagi sekali Zhafran sudah bangun, karena menadapat telepon dari istrinya. Dia segera bersiap-siap bertemu Edward di restoran untuk membahas proyeknya. Zhafran sebisa mungkin berusaha mempercepat pekerjaannya agar bisa pulang cepat.
Sudah tiga hari Zhafran di luar kota. Hari ini Zhafran dan sopirnya ingin mencari makanan khas kota di mana Zhafran sekarang berada. Saat itu, Zhafran sendang berjalan dengan sopirnya untuk mencari makanan dan oleh-oleh khas kota tersebut.
Tiba-tiba ada pengendara sepeda motor yang ugal-ugalan, dan tidak sengaja pengendara sepeda motor itu menyerempet Zhafran. Pengendara sepeda motor itu melarikan diri, beruntung Zhafran hanya luka sedikit, jadi Zhafran tidak mempermasalahkannya.
Sopir pribadi Zhafran membawa Zhafran ke sebuah rumah sakit di kota itu. Karena bagian betis Zhafran robek, dan perlu segera di tangani.
Zhafran sudah berada di ruang IGD untuk di berikan perawatan. Betis Zhafran sobek, dan perlu di jahit. Seorang perawat mendekati Zhafran dan akan membersihkan lukanya terlebih dahulu.
"Zhafran?" sapa perawat itu.
"Binka?"
__ADS_1