Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Cemburu Dengan Kakak Kandung


__ADS_3

“Arsyanendra Askara, bagaimana?” Ucap Devan dengan menggendong cucunya. Askara sudah bisa dibawa ke ruangan Alana, setelah menjalani pemeriksaan dari dokter. Askara sehat, dan tidak ada suatu masalah apa pun.


“Bagus, Pa,” ucap Alana.


“Bagimana Nadia, Bu Arofah, Bu Aninggar? Bagus tidak nama yang kuberi untuk cucu kita?” tanya Devan.


“Bagus, artinya juga bagus,” ucap Nadia.


“Iya artinya bagus. Arsyanendra artinya lelaki terhormat dan berpengetahuan, sedangkan Askara itu artinya sinar atau cahaya.


“Iya bagus Pak Dev,” imbuh Arofah dan Aninggar bersamaan.


“Jadi kalian semua setuju, kan?”


Nadia, Arofah dan Aninggar menyetujuinya, tapi tidak untuk Ardha dan Iwan. “Wah om curang nih, mentang-mentang nama belakang om ada kata Nendra nya? Jadi Askara di kasih nama yang ada Nendra nya juga?” protes Ardha.


“Lalu mau dikasih nama kamu? Nama belakang Alfarizi gitu? Gak akan, meski ini anak dari kakakmu!” tukas Devan.


“Ya tidak seperti itu, Om? Ya itu juga bagus kok,” ucap Ardha.


“Nyerah kan kamu? Gak bisa kan nyari nama buat lengkapin nama Askara?” ejek Devan pada Ardha.


“Ada, tapi aku menghargai om sebagai opanya Askara,” jawab Ardha.


Ardha memang sudah menyiapkan nama untuk melengkapi nana Askara, tapi biarlah Devan yang melengkapinya, karena Devan adalah opanya, jadi berhak bagi Devan memberikan nama pada cucunya. Sedangkan dirinya hanya sebatas teman Alana, dan mantan adik iparnya. Tapi, Ardha tetap optimis, kalau nama yang tadinya akan menjadi pelengkap nama Askara, suatu hari akan ia kasih untuk anaknya dengan Alana kelak.


“Tenang saja, Om Dev. Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan restu anda, supaya bisa menikahi Alana. Lagian kamu itu gak usah mimpi, Ar! Kalau pun papanya Alana merestui tapi Alananya gak mau gimana?” batin Ardha.


Pintu ruangan Alana terbuka, terlihat Fatih yang baru saja keluar, karena ada urusan mendadak, untung saja dia membawa laptopnya, kalau tidak pekerjaannya akan terbengkalai.

__ADS_1


“Kamu dari mana saja, Tih?” tanya Ardha.


“Ada kerajaan mendadak, Kak,” jawab Fatih.


“Tuh sapa adiknya, adiknya baru melahirkan malah kamunya pergi?”


“Ya kan ada pekerjaan, Mas?”


Fatih mendekati brankar Alana, dia duduk di kursi, lalu menggenggam tangan Alana, dan menciumnya. Fatih meneteskan air matanya, ia tidak menyangka kalau Alana adalah Ayleen, adik yang sangat ia sayangi, yang menghilang puluhan tahun lamanya.


“Ayleen ku ....” Fatih menangis mencium tangan Alana, lalu mencium kening Alana. “Kamu adikku, Lan?” ucapnya dengan suara parau.


Ardha melihat Fatih begitu dekat, dan menciumi kening Alana, rasanya agak jengkel, padahal ia tahu Fatih kakak kandungnya.


“Eh jangan lama-lama ciumnya!” tukas Ardha.


“Ya gak sih, lupa kalau kamu kakak kandungnya,” ucap Ardha.


“Tenang saja, aku tahu kamu cemburu. Tuh ada yang cemburu, Lan,” ucap Fatih.


“Lagian cemburu sama kakakku? Terus kenapa mesti cemburu?” ucap Alana.


Ardha hanya diam, ya benar kenapa mesti cemburu? Toh belum ada hubungan apa-apa dengan Alana. “Gak cemburu, Lan, aku lupa saja ternyata dia kakakmu?” ucap Ardha.


^^^


Alana sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Devan dan Nadia pun turut ke rumah Aninggar. Devan dan Nadia menghormati keputusan Alana untuk tetap tinggal di Jogja, dia tidak mau kembali ke Jakarta, karena di sana terlalu banyak kenangan menyakitkan dengan Zhafran.


Alana juga tidak memperbolehkan semuanya untuk bilang pada keluarga Zhafran kalau dirinya sudah melahirkan. Biar hanya orang-orang yang sekarang ada menemaninya yang tahu soal Alana.

__ADS_1


“Ma, benar ya jangan bilang papi dan maminya Ardha, juga semua keluarganya, hanya keluarga kita saja yang tahu,” pinta Alana pada Nadia.


“Iya, Sayang ... mama tidak akan bilang-bilang. Oh iya, lusa Shaka dan Kak Acha akan ke sini. Kak Acha sudah menikah, nanti akan ke sini sama suaminya,” ucap Nadia.


“Iya, Ma. Asal bilang sama kakak, jangan kasih tahu Om Arkan dan lainnya,” pinta Alana.


“Itu pasti, Sayang,” ucap Nadia.


Nadia dari tadi bergantian dengan Arofah menjaga Nadia dan Askara. Devan dan Fatih sudah kembali ke Jakarta semalam, karena ada pekerjaan mendadak, dan lusa mereka akan kembali ke Jogja bersama Acha dan suaminya, juga Shaka dan kekasihnya.


^^^


Di rumah Zhafran.


Zhafran tidak sengaja menjatuhkan foto Alana yang ada di meja belajar Nina. Selama dia kembali dengan Binka, kamar Nina kosong, karena Nina ikut dengan oma dan opanya. Zhafran  hanya tinggal dengan Binka. Setelah anaknya meninggal dia merasa sangat terpukul sekali. Dia mengingat dosanya saat dia tidak mempertahankan Alana, saat Alana ingin pergi dari hidupnya dengan keadaaa bayinya meninggal, saat baru lahir. Belum saatnya lahir, tapi ketuban sudah pecah, dan terjadi pendarahan hebat. Bayinya Binka juga ada kelainan. Jadi tidak bisa diselamatkan. Lebih mirisnya, rahim Binka juga ikut diangkat, karena ada tumor yang menyebabkan rahimnya lemah, dan harus diangkat demi keselamatannya.


Zhafran dan Binka hanya ikhlas menerima takdir dari Tuhan. Mungkin itu adalah sebuah karma yang langsung dibayar tunai. Anaknya meninggal, dan rahim Binka harus diangkat. Zhafran masih memandangi foto Alana dan Nina, ia menangis melihat foto Alana.


"Kamu sekarang di mana, Lan? Apa anakmu sudah lahir? Dan sehat-sehat saja? Maafkan aku, Lan. Mungkin ini karmaku. Anakku dengan Binka meninggal saat setelah lahir, dan rahim Binka juga harus diambil," batin Zhafran dengan memandangi foto Alana bersama Nina.


Zhafran tidak bisa membayangkan hidup Alana sekarang bagaimana, melahirkan tanpa dirinya, dan anaknya tidak memiliki ayah. Dia merasa terpukul sekali, dia benar-benar lelaki kejam dan bodoh. Benar apa kata keluarganya.


Sekarang, Zahfran  dan Binka juga jarang ke rumah maminya, meski Nina ada di sana. Bahkan saat Binka kehilangan anaknya juga keluarga Zhafran terlihat biasa-biasa saja. Nina juga terbiasa tanpa Binka, jadi dia juga cuek dengan mamahnya. Untuk apa Zhafran dan Binka ke rumah maminya? Kalau kedatangannya kadang membuat orang rumah menjadi patung, tidak mau bicara, dan menjauhi Binka.


“Binka memang salah, tapi apa dia harus menderita seperti ini? Dia kehilangan orang tuanya, kehilangan anaknya, dan sekarang hanya aku yang dia punya, mami, papi, Lina, bahkan Nina pun malas bicara dengan Binka. Memang ini kesalahanku dengan Binka, tapi mau sampai kapan Nina tidak mau denganku, mami-papi akan ramah lagi dengan Binka seperti dulu. Aku memang bodoh sekali!” batin Zhafran dengan menahan rasa sakit di dadanya.


Malam ini, mami dan papinya Zhafran mengundang makan di rumahnya. Sebetulnya Zhafran tidak mau ke sana, karena ujungnya kalau pulang Binka menangis, karena mami, papi, dan adiknya cuek dengan  Binka, apalagi Nina, yang sama sekali tidak mau dengan Binka.


“Aku tidak ingin ke sana, tapi papi mau bahas soal kerjaan? Kalau ke sana sendirian, malah mereka curiga, ke sana dengan Binka nanti di sana Binka diasingkan?” gumam Zhafran.

__ADS_1


__ADS_2