Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Mengantar Check-Up


__ADS_3

Pagi harinya Alana yang sedang berjemur di halaman rumah, merasakan hangatnya mantari pagi, dan meregangkan otot-ototnya yang kaku. Alana melihat sebuah mobil mewah masuk ke halaman rumah. Mobil yang ia kenal. Ya, siapa lagi kalau bukan mobil Ardha . Entah ada apa Ardha pagi-pagi ke rumah budhe Aninggar. Alana melihat sosok bertubuh tegap itu keluar dari mobilnya dengan mengurai senyum padanya.


"Pagi, Kak Alana, Iwan ada?" tanya Ardha.


"Ada, di dalam, sepertinya sedang mandi," jawab Alana.


"Oh, Kak Alana bagaimana hari ini? Sehat kan?" tanya Ardha lagi.


"Ya seperti ini, Ar. Namanya juga lagi hamil, kadang pinggang sakit, otot juga kadang kaku," jawab Alana.


"Ayo, ke dalam. Kak Alana panggilkan Iwan." Alana mengajak Ardha masuk.


Mereka berjalan beriringan menuju ke dalam sambil mengobrol, entah apa yang mereka obrolkan. Sesekali Alana mendongak ke atas melihat Ardha yang sedang ia ajak bicara. Ya, Ardha memang lebih tinggi daripada Zhafran.


"Wan, ada Ardha," panggil Alana.


"Iya, Alana, sebentar lagi pakai baju," jawab Iwan setengah teriak dari kamarnya.


Iwan keluar dari kamarnya, dan menemui Alana yang sedang membuatkan teh untuk Ardha dan dirinya.


"Alana, ada apa Ardha ke sini?" tanya Iwan.


"Mana ku tahu, dia hanya bilang ada Iwan tidak, ya aku bilang ada," jawab Alana.


"Kamu mau teh tidak?" tanya Alana.


"Iya sekalian. Ibu sudah ke toko?"


"Oke aku buatkan, iya sudah," jawab Alana.


Iwan keluar menemui Ardha yang sedang menunggunya di ruang tamu. Iwan mengerti kedatangan Ardha karena dia ingin bertemu Alana. Iwan senang, akhirnya Ardha bertemu lagi dengan orang yang ia cintai, yaitu saudara sepupunya. Ternyata perempuan yang selama ini Ardha ceritakan pada Iwan adalah Alana. Ardha memang sering curhat soal perasaannya, dari awal Alana menikah dengan kakaknya, sampai Alana pisah dengan kakaknya, karena kakaknya selingkuh dengan mantan istrinya. Iwan tidak tahu perempuan yang sering Ardha ceritakan ternyata Alana, sepupunya sendiri.


"Ar, ada apa pagi-pagi ke sini?" tanya Iwan yang muncul dari dalam.


"Gak ada apa-apa, kamu tahu sendiri kan? Di sini ada siapa?" jawab Ardha.


"Iya, aku tahu. Aku dukung kamu, Ar. Tapi kalau kamu menyakiti hati Alana sedikit saja, aku penggal kepalamu," ucap Iwan dengan serius.


"Wah ngancam nih?" ucap Ardha.


"Bukan ngancam, ini serius. Dia saudara perempuanku satu-satunya. Awas saja kamu menyakiti Alana, aku saja kemarin geram dengan kakakmu, ingin aku ke sana dan memotong *********** itu." Iwan berkata dengan nada benar-benar marah, hingga dia mengepalkan tangannya.


"Memang berani?" ledek Ardha.


"Berani, bawa aja ke dokter, minta dipotongin tuh ******** kakak kamu yang sudah menyakiti Alana," ucap Iwan.


"Sudah lah, yang penting Alana baik-baik saja, dia sehat, dan sudah tidak sedih lagi, kan?" ujar Ardha.


Tak lama kemudian Alana keluar membawa tiga cangkir yang berisi teh dan kue di piring. Alana menyuguhkan itu pada Ardha. Alana mendudukkan dirinya di samping Ardha. Mereka menikmati teh dan kue bersama, sambi mengobrol.


Banyak sekali cerita yang ingin Ardha ceritakan pada Alana, tapi sudah agak siang, dan akhirnya Ardha pamit ke kantor bersama Iwan.


"Oh ya Alana, nanti malam jadwal kamu Check-up. Jangan lupa," ucap Iwan.


"Iya, Wan, aku tidak lupa. Antarkan aku ya Wan, soalnya budhe bilang agak malam pulang dari toko, jadi tidak bisa mengantar aku," pinta Alana.


"Oke, aku antar," ucap Iwan.


Iwan berangkat ke kantor bersama Ardha, dia tidak membawa mobil, karena Ardha yang memintanya. Dan Ardha juga meminta kalau tiap hari akan menjemputnya agar dia bisa melihat Alana.


"Kamu besok jangan bawa mobil lagi, biar aku menjemput kamu, aku ingin lihat Alana setiap hari soalnya," ucap Ardha.


"Alah, modus. Tinggal tiap pagi ke rumahku gak apa-apa. Pintu rumah ku terbuka lebar untukmu, besok aku mau berangkat berasama Arini," ucap Iwan.


"Ya sudah, bagus kalau begitu. Oh iya, nanti malam aku yang antar Alana check-up, ya?" pinta Ardha.

__ADS_1


"Silakan, bahagiakan Alana, tapi sekali kamu meyakitinya. Ingat kata-kata ku tadi," ucap Iwan.


"Oke, siap boskuh!" Ucap Ardha dengan semangat.


Malam harinya, Alana sudah bersiap untuk berangkat check-up ke dokter kandungan. Hari ini adalah jadwal Alana Check-up. Seperti biasa dia di antar Iwan atau sopir pribadinya Aninggar. Namun, malam ini, Ardha yang megantarnya.


"Kak Alana sudah siap?" tanya Ardha yang baru saja pulang kerja bersama Iwan.


"Iya, soalnya biar antriannya tidak kepanjangan, Ar," jawab Alana.


"Alana, udah aku daftarin kamu, sekarang kamu berangkat dengan Ardha, ya? Aku mau ke rumah Arini dulu," ucap Iwan.


"Ih kebiasaan kamu, kalau sama Arini mendadak gitu," ucap Alana dengan kesal.


Arini adalah kekasih Iwan, bukan hanya kekasih, mereka sudah tunangan, dan sebentar lagi akan menikah.


"Kak Alana, sama aku saja, aku gak sibuk, kok," ucap Ardha.


"Apa tidak merepotkan mu, Ar?" tanya Alana.


"Tidak, Kak. Anak kak Alana kan keponakanku juga, bukan keponakan Iwan saja," ucap Ardha.


"Ya sudah, kakak ambil tas dulu di dalam," ucap Alana.


Ardha tersenyum bahagia, rencana mengantar Alana Check-up berhasil malam ini. Ini semua karena Iwan yang beralasan akan menemui dengan Arini. Padahal dia akan di rumah saja meneruskan pekerjaannya yang belum selesai.


"Thanks bro! Kamu memang terbaik," ucap Ardha dengan menepuk pundak Iwan.


"Siapa dulu, Iwan ...." Ucap Iwan sambil menepuk dadanya sombong.


"Iya, iya," ucap Ardha.


"Gajianku naik kan, bos?" ucap Iwan dengan bercanda.


"Itu urusan gampang, ya sudah tuh Kak Alana sudah siap," ucap Ardha.


"Sudah, kak?" tanya Ardha


"Sudah," jawab Alana.


Ardha dan Alana masuk ke dalam mobil. Ardha melajukan mobilnya ke klinik ibu dan anak yang di tunjukan Alana. Ardha dari tadi tidak henti-hentinya mengajak ngobrol Alana, dan sesekali dia mengeluarkan candaan yang membuat Alana tertawa. Baru kali ini Ardha melihat Alana tertwa lebar. Ardha tahu, Alana tidak pernah bahagia menikah dengan kakaknya. Karena kakaknya masih sangat mencintai mantan istrinya.


"Kak klinik ini, kan?" tanya Ardha.


"Iya, benar," jawab Alana.


Alana dan Ardha turun. Alana mengkonfirmasikan pada suster yang menjaga di depan, karena dia sudah mendaftar terlebih dahulu. Setelah itu Alana menunggu nomor antreannya di panggil. Dia duduk di samping Ardha. Sesekali dia menyentuh pinggangnya yang pegal. Ardha memberikan air mineral untuk Alana, agar mengurangi rasa sakit pada pinggangnya.


"Apa sakit sekali, Kak?" tanya Ardha.


"Iya, sedikit sakit, Ar," jawab Alana.


Ardha ikut mengusap pinggang Alana yang sakit. Dia mengusapnya lembut.


"Sudah?" tanya Ardha.


"Iya, terima kasih, Ar," jawab Alana.


Suster memanggil nomor antrean nya Alana, Alana masuk ke dalam diantar oleh Ardha. Ardha juga ikut melihat Alana di perikasa oleh dokter.


"Janinnya sehat, dan aktif, Bu," ucap Dokter itu.


"Dok, kalau pinggangnya sering sakit, apa itu tidak memengaruhi kandungannya?" tanya Ardha.


"Memang usia kandungan yang sudah memasuki trimester tiga sering mengalami sakit pinggang. Jadi jangan terlalu lelah, juga banyak minum air putih, kalau bisa hindari dulu makanan yang pedas," jelas Dokter.

__ADS_1


“Biasanya ibu sendirian? Ini sama suaminya?” tanya Dokter.


“Iya saya suaminya, Dok. Saya kerja di luar kota, jadi baru bisa mengantar istri saya,” jawab Ardha tanpa ragu. Alana hanya mengernyitkan dahinya saja mendengar ucapan Ardha.


“Oh begitu? Kalau bisa sering-sering di rumah ya, Pak? Kan sebentar lagi mau persalinan?”


“Itu pasti, Dok,” jawab Ardha.


Ardha tidak peduli nantinya Alana marah, ini adalah kesempatan Ardha untuk membuktikan ketulusan hatinya yang mencintai Alana. Dia akan menjaga Alana hingga Alana melahirkan, bahkan ia pun akan merawat anak Alana nantinya, bersama dengan Alana. Apalagi Ardha sudah mendapat lampu hijau dari Iwan.


Setelah selesai diperiksa, Ardha mengambil obat di ruangan farmasi. Alana menunggu di kursi tunggu dengan memandangi Ardha yang sedang berbicara dengan petugas farmasi.


"Ayo, kak. Kita langsung pulang, atau mau ke mana? Kakak ingin makan apa?" tanya Ardha.


“Kenapa tadi pakai ngakuin suami aku sih?” ucap Alana sedikit kesal.


“Masa iya kakak mau bilang kakak ini janda? Lagian Cuma di depan dokter saja, daripada bilang janda, masa iya janda hamil, Kak?”


“Ya gak gitu juga, Ar. Memang gak bisa bilang kakaknya kek, atau siapanya?” Alana memang sedikit kesal, karena Ardha sudah bicara gitu.


“Alana tunggu!” Ardha mengejar Alana yang jalan dengan cepat. “Alana ... Alana ... ingat kamu sedang hamil, Lan?” Ardha meraih tangan Alana.


“Lagian kamu!”


“Alana, sudah jangan marah, iya aku minta maaf. Kasihan anakmu kalau kamu marah-marah. Lan, jangan gitu, aku minta maaf,” ucap Ardha.


“Iya, aku maafin, nanti jangan gitu lagi, Ar.”


“Iya, Alana,” jawab Ardha. “Maaf aku hanya manggil Alana saja.”


“Gak apa-apa, aku sudah bukan istri kakakmu lagi, Ar. Jadi kamu bebas mau manggil aku apa,” jawab Alana. “Oh iya, apa aku manggil kamu Pak Ardha lagi saja, ya?”


“Jangan Ardha saja, biar lebih akrab,” jawab Ardha.


Ardha sedikit heran dengan Alana. Moodnya cepat berubah, tadi marah-marah karena dirinya mengaku suami Alana, sekarang malah biasa saja, dan sudah tersenyum lagi.


“Aneh memang orang lagi hamil. Moodnya berubah-ubah sekali, tapi aku suka, kamu lucu sekali, Lan,” ucap Ardha dalam hati.


Alana masuk ke dalam mobil. Moodnya sudah stabil lagi, jadi Ardha lebih leluasa mengajak Alana bicara.


“Ini mau langsung pulang, atau mau ke mana, Lan? Kamu pengin makan apa?” tanya Ardha.


"Ar, aku pengin permen kapas," pinta Alana.


"Permen kapas? Harum Manis, gitu?" tanya Ardha. Alana hanya menganggukkan kepalanya saja dengan manja.


Entah kenapa Alana mejadi banyak mau malam ini, tapi Ardha sama sekali tidak keberatan saat Alana meminta sesuatu. Biasanya Alana tidak seperti ini, mungkin anaknya tahu, ada om nya yang sedang bersama ibunya.


"Tapi jangan banyak-banyak, ya? Itu pemanis buatannya banyak soalnya," ucap Ardha.


"Oke, terus habis itu, aku ingin makan rendang di rumah makan Padang jalan X, kamu tahu kan?" pinta Alana.


"Iya, tahu. Lalu mau ke mana lagi?" tanya Ardha.


"Ingin makan serabi solo yang ada di depan apotek," jawab Alana.


"Ada lagi?" tanya Ardha.


"Sudah," jawab Alana dengan menyunggingkan senyumannya.


Ardha dengan reflek mengusap rambut Alana dengan sayang. Dan, malam ini Ardha menuruti Alana untuk menjelajahi kuliner yang Alana mau, dan yang baik juga untuk kandungan Alana.


“Kita ke mana dulu?” tanya Ardha.


“Ke taman hiburan, cari permen kapas, ya?”

__ADS_1


“Oke, ayo ke sana.”


Ardha menggamit tangan Alana, berjalan menuju parkiran mobil, membukakan pintu mobilnya, dan menyuruh Alana masuk. Ardha akan turuti semua apa yang Alana mau. Kali ini ia janji tidak akan melepaskan Alana lagi. Ia pastikan Alana akan menjadi miliknya.


__ADS_2