
Malam ini Zhafran melakukannya lagi berkali-kali dengan Alana. Alana tak menghiraukan rasa sakit dalam hatinya karena Zhafran yang tidak mencintainya. Alana merebahkan tubuhnya di samping Zhafran. Zhafran melihat Alana yang masih menatap langit-langit, dan belum juga tidur.
"Kenapa belum tidur, Sayang?" tanya Zhafran yang membuat Alana sedikit terjingkat kaget.
"Aku belum ngantuk," jawab Alana dengan sedikit gugup.
"Sini mendekatlah." Zhafran menarik tubuh Alana dan memeluknya.
"Tidurlah, aku tahu, jika belum di peluk kamu tidak bisa tidur," ucap Zhafran sambil mengusap kepala Alana.
Alana hanya mengangguk dan membenamkan wajahnya di dada Zhafran. Tidak membutuhkan waktu lama, Alana tertidur pulas di pelukan Zhafran.
Sementara di rumah Binka. Dia begitu gelisah, mendengar apa yang Zhafran lakukan dengan Alana tadi. Ya, Alana yang sengaja tidak menutup teleponnya saat bercinta dengan Zhafran, dan membuat panas di sekujur tubuh Binka.
Sebenarnya Binka juga masih memiliki perasaan yang sama dengan Zhafran. Dia masih sangat mencintai Zhafran, tapi dia sangat malu dan merasa sangat berdosa pada Zhafran, karena telah mengkhianati orang sebaik Zhafran.
Binka terpakasa pergi, meninggalkan Zhafran dan buah hatinya karena merasa malu dengan keluarga Zhafran yang sangat baik padanya. Dia pergi tanpa kabar setelah resmi bercerai dengan Zhafran.
"Ini memang salahku, ini salahku, Zhafran sekarang sudah memiliki Alana, dia sudah resmi menjadi suami Alana. Sedangkan aku, aku masih tidak tahu bagaimana nasib aku dengan Alex. Nadin yang tidak mau di ceraikan Alex, membaut aku terus menunggu dan melakukan hubungan terlarang dengan Alex," gumam Binka.
Binka menjambak rambutnya dan menangis sangat keras di kamarnya. Dia merasa kalau dia adalah wanita paling bodoh sedunia, karena hanya mementingkan hubungan intim saja. Binka mendengar teleponnya berdering, dia menyeka air matanya dan mengangkat teleponnya.
"Ya, Hallo?" sapa Binka dengan orang di seberang sana.
Binka terdiam sejenak mendengarkan apa yang orang itu katakan di balik teleponnya. Hingga isakkan tangis terdengar lagi.
"Iya, aku akan segera ke sana." Binka langsung menutup teleponnya dan mengemasi semua pakaiannya dan memasukan ke dalam koper.
Binka menelepon Alex, hanya Alex yang setiap hari peduli dengan Binka, karena dia sangat mencintai Binka lebih dari apa pun.
"Kamu yakin akan pergi?" tanya Alex yang sudah berada di rumah Binka.
"Iya, aku akan segera pergi, ini surat resign ku." Binka memberikan surat pengunduran diri pada Alex.
"Aku akan ikut kamu," ucap Alex.
"Lalu pekerjaanmu di sini?" tanya Binka.
"Sudah, itu bisa di atur. Hanya aku yang kamu punya saat ini, Binka. Izinkan aku ikut denganmu," pinta Alex.
"Baiklah," jawab Binka.
"Biarlah Zhafran dan Alana bahagia. Ya, mungkin ini balasanku, aku sudah mengkhianati cinta tulus Zhafran," gumam Binka.
Mereka berangkat pergi berdua, entah mau ke mana. Setelah menerima telepon dari seseorang tadi, Binka begitu gugup ingin segera pergi. Binka dan Alex pergi ke tempat di mana orang yang menelepon tersebut tinggal.
Pagi ini Zhafran melihat Alana yang sudah terlihat cantik sekali. Tumben sekali dia menyiapkan sarapan sudah rapi dan cantik seperti ingin pergi ke butik. Zhafran duduk di kursi dan memandangi Alana yang sedang menuangkan teh di meja makan.
__ADS_1
"Ada apa memandangku seperti itu? Apa aku ada yang salah?" tanya Alana.
"Kamu cantik sekali, mau ke mana?" tanya Zhafran.
"Kamu kalau lihat aku cantik, ditanyain mau ke mana. Ya aku di rumah saja. Setelah itu ke butik seperti biasa," jawab Alana.
"Kok tumben beda sekali," ucap Zhafran.
"Beda bagaimana?" tanya Alana.
"Ya beda." Zhafran beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Alana.
Zhafran tiba-tiba memeluk erat Alana dan mencium tengkuk Alana. Bau wangi khas aroma tubuh Alana menyeruak di Indra penciuman Zhafran. Aroma yang membuat candu bagi Zhafran sekarang. Tangan nakal Zhafran kembali bergerilya di tubuh indah Alana.
"Mas, nanti Nina lihat," ucap Alana dengan napas yang sudah tak beraturan.
"Dia masih tidur, lagian ini masih jam enam pagi, Lan," ujar Zhafran.
Zhafran menggendong tubuh Alana membawa ke kamar tamu, kamar tamu yang tidak di pakai dan sekarang menjadi tempat untuk mereka bercinta, agar Nina tidak mendengarnya.
"Lan, besok Nina harus sudah tidur di kamar sendiri, dia sudah mau 5 tahun," ucap Zhafran dengan suara parau dan tangannya bermain di sekujur tubuh Alana.
"Iya, sayang besok aku akan desain kamar untuk Nina ...," ucap Alana dengan suara terengah-engah.
Zhafran malakukannya lagi, berkali-kali di kamar tamu. Tubuh Alana sekarang menjadi candu untuknya. Zhafran mencium kening Alana sesudah melakukan hubungan berkali-kali.
Mereka masih bercumbu mesra setelah melakukan permainannya. Alana mendengar Nina memanggil-manggil dirinya dan Zhafran.
Alana menghentikan tangan Zhafran yang masih saja bermain di area sensitif di tubuh Alana.
"Sayang, dengar tuh, Nina memnggil. Sudah ya, nanti lagi," ucap Alana.
"Yah ... kenapa bangun sih, kan ini masih jam tujuh lebih," ucap Zhafran dengan kesal.
"Sudah, nanti malam lagi, ya?" Alana mencium pipi Zhafran, tapi Zhafran masih saja ngambek tidak mau turun dari atas tubuh Alana.
"Sayang, jangan gini, dong. Kasihan Nina, dia mencari kita," ucap Alana.
"Ya sudah, kamu bersihkan dulu badanmu, aku akan keluar menemui Nina." Zhafran memakai bajunya lagi dan menemui Nina di luar yang masih memanggil-manggil namanya.
"Mas," panggil Alana.
"Apa, sayang," jawab Zhafran yang sudah berada di ambang pintu.
"Bajuku kan di robek kamu tadi. Ambikan bajuku," pinta Alana.
Memang tadi Zhafran bermain sedikit kasar saat bercinta dengan Alana, hingga merobek baju Alana. Bermain kasar bukan berarti Zhafran kasar saat melakukannya. Hanya dia terburu oleh nafsu yang sudah memuncak dan Alana menikmati permainan itu. Hingga Alana berkali-kali meminta lagi pada Zhafran.
__ADS_1
"Salah sendiri pakaianmu tipis, ya aku robek," jawab Zhafran.
"Memang sengaja mancing kamu,"ucap Alana.
"Dasar, setiap hari saja kamu memakai pakaian seperti itu kalau aku di rumah," pinta Zhafran.
"Oke, nanti aku beli lagi," ucap Alana.
"Aku ambilkan baju, kasihan Nina juga mencari kita, mandilah,"
"Oke,"
Alana masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tamu. Dia masih membayangkan permainannya tadi dengan Zhafran yang benar-benar menyenangkan hingga dia ingin lagi dan lagi.
"Aku akan terus membuat kamu seperti ini, Mas. Agar kamu lupa dengan Binka," gumam Alana.
Zhafran berjalan lirih dan mengagetkan Nina yang sedang mencarinya dengan suara serak ingin menangis karena tidak menemukan papah dan bundanya.
"Bunda ... papah ... kalian di mana? Nina takut." Isak Nina sambil mencari papah dan bundanya.
Zhafran memeluk Nina dari belakang saat Nina menangis mencarinya. Nina sudah sangat takut sekali.
"Doorrr!" Zhafran memeluk Nina dan menggendongnya.
"Papah! papah dari mana? Nina takut." Nina merajuk dan memluk erat Zhafran.
"Papah dari belakang sayang," jawab Zhafran.
"Kok tadi Nina cari tidak ada?" tanya Nina.
"Kamu gak lihat kali,"
"Mungkin, mana bunda?" tanya Nina.
"Bunda sedang mandi," jawab Zhafran.
"Oh ya, Nina. Nina kan sudah gede, Nina besok mulai tidur sendir, ya?" tutur Zhafran.
"Emm ... iya deh, tapi sebelum tidur, papah dan bunda menemani Nina dulu hingga Nina terlelap," pinta Nina.
"Oke, sekarang kamu tunggu di meja makan, papah mau mengambilkan baju bunda," titah Zhafran.
Nina berlari ke arah meja makan, dia duduk di kursi dan meminum susu yang sudah Alana siapkan seperti biasanya. Nina memang suka sekali minum susu di pagi hari. Jadi, Alana tidak pernah absen membuatkan susu untuk Nina.
Zhafran sudah berada di kantornya. Dia di sibukan oleh pekerjaannya karena sudah tiga hari dia tidak ke kantor. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia memikirkan ucapan Alana yang akan membeli baju seksi lagi. Zhafran segera mengambil kunci mobilnya dan keluar dari kantornya, lalu mengemudikan mobil ke tempat tujuannya.
Zhafran sudah sampai tempat yang ia tuju. Toko underware adalah tujuannya. Dia ingin membelikan pakaian seksi untuk Alana. Dia membeli beberapa model baju seksi untuk istrinya. Ya, dia tak merasa malu membeli semua itu, karena itu untuk istrinya.
__ADS_1
Zhafran kembali ke kantornya lagi, setelah mendapatkan pakaian seksi untuk istrinya.
"Aku tidak pernah segila ini bercinta dengan wanita. Dulu dengan Binka aku merasa biasa saja. Tapi, setelah dengan Alana, walaupun hanya setengah hati aku mencintainya, aku selalu menikmati saat bercinta dengannya, dia selalu tahu apa yang aku mau, aku benar-benar sudah kecanduan dengan wangi tubuh Alana yang indah," gumam Zhafran.