Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Rencana Touring Jakarta - Yogyakarta


__ADS_3

“Lan, kamu gak usah takut kalau Askara akan dekat denganku, akan lengket denganku, wajar kok anak seusia dia begini, gak siapa pun. Kadang anaknya teman kakak juga begini kalau sudah digendong kakak. Dia gak mau lepas, gak ngebolehin kakak pulang. Sudah jangan berpikiran macam-macam, lagian kakak juga gak sampai hati akan merebut Askara dari kamu dan Ardha. Kakak malah senang dia punya ayah dan ibu yang hebat,” ucap Zhafran pada Alana.


“Ehm ... bukan begitu sih, Kak?” ucap Alana canggung.


“Iya, tapi kakak tahu kok bagaimana perasaan kamu saat ini, saat melihat Askara seperti ini,” ujar Zhafran.


“Sudah Askara mungkin pengin tidur di gendongan papa dulu, ya? Ya sudah tidak apa-apa ikut papa dulu,” sela Ardha. “Kakak gak gugup, kan? Daripada aku ambil paksa Askara nanti malah nangis gak berhenti-berhenti?”


“Iya gak apa-apa, sama papa dulu ya, Nak?” ucap Zhafran dengan menciumi pipi Askara.


Ardha mengajak Alana masuk ke dalam. Ardha pun tahu hati  Alana bagaimana saat ini, tidak mudah bagi Alana melupakan semua memori pahit saat bersama Zhafran. Tidak juga bagi Alana percaya begitu saja pada Zhafran kalau Zhafran tidak mengharapakan hak asuh Askara. Pikiran itu pasti muncul pada diri Alana, ada rasa takut Zhafran akan ambil Askara, dan ada juga rasa takut Zhafran mendekatinya lagi, karena tidak bisa Alana hindari tatapan Zhafran yang penuh arti itu.


Zhafran menimang Askara hingga Askara tertidur pulas di gendongan Zhafran. Rasanya lega sekali dia bisa menimang Askara sampai tertidur pulas di pelukannya. Meski bertemu sebentar saja, tapi menyisakan kesan yang termat dalam. Pertemuan singkat sore ini, membuat hati Zhafran tenang dan menghangat karena bisa menimang anak kandungnya sendiri sampai tertidur pulas. Tidak bisa dipungkiri lagi, ikatan batin antara anak dan ayah pasti ada, meski tidak sekuat dengan ibu.


“Ar, Askara sudah tidur ini,” ucap Zhafran.


“Sini aku tidurkan dulu, Kak.” Ardha mengambil Askara dari gendongan Zhafran, tapi tangannya erat memegangi lengan baju Zhafran.


“Yah ini anak ngerjain papa sama ayahnya saja ya?” ucap Ardha.


“Kakak ke kamar saja, ya? Tidurkan Askara di kamar, kalau dipaksa aku pasti nangis nanti,” pinta Ardha.


“Ya sudah di mana kamarnya?”


“Sini kak.” Ardha menunjukkan kamarnya.


Zhafran menidurkan Askara di kamar. Setelah itu ia pandangi wajah Askara yang sudah terlelap. “Jangan rewel ya, Nak? Papa pulang dulu. Nanti kalau ada waktu papa mampir lagi ke sini, sama Kak Nina juga,” ucap Zahfran, lalu mencium pipi Askara.


“Ar, Lan, aku langsung pamit pulang saja, ya? Ini sudah mau jam sembilan, takutnya malah kemalaman,” pamit Zhafran.


“Iya, Kak. Kakak hati-hati, ya?” jawab Ardha.


“Salam buat Nina ya kak?” ucap Alana.


Zhafran diantar keluar oleh Alana dan Ardha. Dia sebetulnya berat sekali meninggalkan Askara, tapi mau bagaimana lagi? Meski ia adalah ayah kandungnya ia tidak berhak apa-apa kepada Askara. Apalagi dia sudah meninggalkan Askara sejak Askara berada di dalam kandungan Alana.


Zhafran melambaikan tangannya pada Alana dan Ardha, lalu ia melajukan mobilnya perlahan keluar dari pelataran rumah Ardha. Masih tersiksa sekali batin Zhafran saat ini. Batinnya menjerit perih, setelah melihat Askara yang makin besar makin pintar, dan mirip sekali dengan dirinya. Ya, semakin besar Askara mirip dengan papanya. Benar-benar mirip menurut Zhafran, meski semua bilang mirip dengan Ardha. Karena mungkin semua orang sudah membenci perbuatan dirinya, jadi  semuanya tidak pernah melihat lagi Zhafran. Ardha yang sekarang dielu-elukan semuanya. Tapi itu tidak menjadi masalah untuk Zhafran, mau Askara mirip dengan siapa pun, karena dia sudah menang. Menang karena Askara adalah darah dagingnya, keturunannya, anak biologisnya. Dia menang, karena suatu hari meski dia dengan ayah tirinya, Zhafran percaya Askara akan dekat dengan dirinya, entah kapan itu, tapi Zhafran percaya itu akan terjadi.


Zhafran menepikan mobilnya, ia tidak kuat dengan perasaan yang mencekam di dadanya. Sesak sekali rasanya meninggalkan Askara. Bayang wajah Askara masih tertinggal di pelupuk matanya. Ia masih bisa membayangkan wajah Askara yang lucu, saat sedang tertidur pulas di gendongannya.


“Maafkan papa, Askara. Papa memang jahat, papa meninggalkan mamamu, mengkhianati mamamu, saat mamamu hamil. Papa malu sebetulnya jika papa rindu padamu, ingin memeluk dan menggendongmu, papa malu sekali, rasanya papa itu tidak pantas sekali melakukan hal itu, karena papa sudah menelantarkan kamu dan mamamu saat kamu berada dalam kandungan mamamu,” ucap Zhafran dengan terisak.


Zhafran sejenak menenangkan dirinya dulu sebelum melanjutkan perjalanannya untuk pulang. Ia mencoba menenangkan hatinya yang dari tadi masih ingin memeluk Askara.


“Memang penyesalan selalu datang diakhri cerita, aku sungguh menyesal menyakiti Alana seperti itu. Tapi, semua ini sudah terjadi, mungkin ini adalah jalan hidupku. Aku selalu dikenal orang-orang, aku ini orang sukses dalam berbisnis, tapi aku bukan lelaki yang baik, lelaki yang sukses membangun rumah tangga bahagia, ya aku tidak seperti itu, dan aku menyesal, aku tidak bisa membangun keluargaku yang harmonis saat bersama Alana, karena ada orang ketiga hadir saat itu, dan aku terjerumus ke dalam lubang nista saat itu. Aku mengkhianati Alana, meninggalkan Alana dalam keadaan hamil Askara saat itu,” batin Zhafran.


^^^


Sudah lama sekali rencana Devan dan Arkan terbengkalai untuk touring ke Jogja. Tiga bulan yang lalu, yang harusnya ke sana mau sekalian touring tapi Devan merasakan sedang lelah, jadi dia mengajak sopir untuk mengantarkan ke sana. Dan dua bulan yang lalunya pun akhrinya Arkan, Devan dan istri mereka memakai mobil lagi, karena memikirkan risiko lelahnya di jalan.


Namun, rencana touring itu masih dibahas oleh Arkan dan Devan, meskipun tidak tahu kapan terealisasinya. Entah hanya sebuah wacana saja, untuk mengenang masa muda mereka, atau nanti suatu hari akan terealisasi juga. Paling juga mereka akan umpet-umpetan dengan anak-anak mereka. Kalau anak-anak tahu, pastinya semua tidak memperbolehkan mereka untuk berangkat ke Jogja memakai sepeda motor.


“Bagaimana, Dev? Jadi?” tanya Arkan saat menemui Devan di rumahnya.


“Penginnya jadi, tapi kasihan gak sama istri kita kalau nanti capek di jalan?” jawab Devan.


“Itu sih yan aku pikirkan juga,” jawab Arkan.

__ADS_1


“Sudah gak muda lagi, Bro. Ya sih istriku masih muda sekali, tapi tetap saja mikir dia capek atau gak nanti, nanti kalau capek jatahku di ranjang kan jadi kurnag,” ujar Devan.


“Yaelah Dev ... masih aja mikir urusan ranjang kamu!” tukas Arkan. “Lo itu yah ... astaga ... gak habis pikir masih doyan banget ya kamu? Mentang-mentang bini lo masih muda!”


“Idih pakai lo gue lagi! Lo pikir kita masih anak SMA?” kelakar Devan.


“Ya lo nya aja masih doyan banget! Kek masih masa-masa puber aja kamu ini!”


“Puber ketiga mungkin?” jawab Devan. “Ya kan kebutuhan biologis harus tetap tersalurakan, Arkan? Kalau istriku lelah bagaimana coba? Ketunda jadinya, kan bikin pegel kepala, Arkan?”


“Ya iya sih, kalau itu ketunda-tunda memang bikin pusing. Nah istriku tapi gak semuda istrimu, dia kan seumuran kita, ya selisih paling dua tahun lebih muda dariku? Kan seumuran?” ucap Arkan.


“Iya sih, lalu ini kapan touring ke sananya?” tanya Devan. “Rencana saja, tidak pernah terealisasi!”


“Sudah gini saja, kita tetap lanjut rencana kita, meski kapan kesampaiannya. Tapi, aku ini sudah kangen sekali dengan Askran, dan kemarin katanya Zahfran baru saja mampir ke sana, setelah mengurus proyek d sana,” ucap Arkan.


“Zhafran mampir ke sana?”


“Iya, baru beberapa hari yang lalu sih? Katanya sekalian mampir, kan dekat lokasinya dengan rumah Ardha?” ucap Arkan.


“Bagaimana bulan depan saja, kita fix touring ke sana?” ujar Devan.


“Ragu gak kamu? Nanti seperti waktu itu, aku sudah semangat, tiba-tiba kamu bilang pakai mobil saja, aku jemput kamu dan Thalia! Kan jadi kurang semangat akunya!”


“Kan waktu itu bawa mainan dan apalagi itu buat Askara? Kayaknya kalau ini aku Cuma bawa rindu saja buat Alana dan Askara. Kangen anak sama cucuku,” ucap Devan.


“Ya juga sih, kemarin juga Lia bawa apalagi tuh buat Askara sama buat Alana? Kadang itu istri kita yang ribet bawa ini itu, padahal nanti shoping di sana kan bisa ya? Beli di sana?”


“Namanya juga nenek kangen sama cucunya itu gimana sih? Ya pengin bawa oleh-oleh lah!” tukas Devan.


“Iya, nanti aku cari rute yang cocok untuk kita lalui. Sekarang kan ada jalur alternatifnya, kamu ingat touring kita terakhir dulu kan? Pas kamu masih sama Ica? Nadia mungkin masih TK dia. Kan kita ke jogja lewat jalur alternatif itu, ya lebih indah jalannya sih, siap gak paling gak 13 jam dan itu belum istirahat. Kita dulu masih muda bro, jadi bisa geber terus, istirahat Cuma sekali. Kita udah jompo sekarang! Kuat gak kira-kira?”


“Pala lo jompo! Orang dua ronde saja gue masih kuat!” tukas Devan.


“Ranjang lagi bahasannya! Lo itu hyper atau gimana sih?” ujar Arkan.


“Dibilang kebutuhan ih! Sudah balik lagi cari rute yang pas. Iya deh sudah niat nih, kita buktikan ke anak-anak kita, kalau kita masih kuat berpetualang di jalan,” ucap Devan.


“Ya sudah kayaknya lebih asik lewat jalur yang dulu kita lalui pas touring ke sana sih, apalagi sekarang katanya jalannya makin bagus. Yang penting siap bekal saja, jangan ngantuk pokoknya. Kalau istri kita ngantuk kita tali saja pakai kain, kek bapak-bapak boncengin anaknya biar gak jatuh,” ujar Arkan.


“Ya kali istri kita bayi?” ujar Devan.


Mereka berdua masih ribut membahas rute yang akan digunakan untuk nanti bermotor ke Jogja.  Sedangkan istri mereka sedang asik ngemall membeli beberapa baju dan mainan untuk Askara, untuk dibawa ke sana. Nadia dan Thalia sudah selesai membeli baju-baju untuk Askara, juga beberapa mainan untuk Askara, dan hasilnya masing-masing membawa tujuh paperbag besar, yang isinya semua barang-barang untuk Askara. Mereka pulang, dan pulangnya ke rumah Nadia, karena Arkan masih di rumah Nadia, sedang membahas rute untuk Touring ke Jogja.


Sesampainya di rumah mereka di sambut dengan suami mereka yang sedang menatapnya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat mereka membawa banya paper bag, dan baik Arkan maupun Devan tahu kalau itu pasti untuk Askara. “Gagal lagi, Bro!” ucap Arkan dengan menepuk pundak Devan.


“Gagal apa maksudnya, Pi?” tanya Thalia pada Arkan.


“Itu apa di tangan kalian?” tanya Arkan.


“Oh ini, kan mami sama Nadia mau rencana ke Jogja, ini mau bawakan buat Askara, ini punya Askara,” jawab Thalia santai.


“Sudah kuduga, gimana Dev?”


“Haruskah gagal lagi setelah kita sudah berencana dan sudah mendapatkan rute yang pas?” jawab Devan.


“Ini kalian kok bahas rute?” tanya Nadia.

__ADS_1


“Kita sudah bahas rute, mau touring ke Jogja, bulan depan. Kan beberapa hari lagi bulan depan, jadi kita mau motoran ke sana. Ini kalian malah belanja banyak sekali, mau gimana bawanya? Kita ke sana rencananya gak usah bawa apa-apa, Ma? Hanya bekal buat perjalanan, ini malah mama belanja banyak sekali buat Askara?” jelas Devan.


“Kalian itu kok pusing-pusing sekali? Bisa kan dipaketin gitu? Sekarang kan jasa kirim banyak? Terus kita motoran ke sana?” ujar Thalia.


“Iya juga sih, gimana, Dev?” ucap Arkan.


“Boleh-boleh, ya sudah deal ini bulan depan?” ucap Devan.


“Iya dong, deal. Kita fix pakai rute itu kan? Motor harus stabil yang penting,” ucap Arkan.


“Itu sih pasti, aku cek lagi nanti sepeda motorku, aku bawa ke Fajar saja nanti,” jawab Devan.


“Deal, ya? Pokoknya jangan  bilang anak-anak kita, kalau bilang rencana kita bisa gagal lagi,” ujar Arkan.


“Iya dong, nanti Acha, Fatih, Shaka, ngomel semua,” ucap Devan.


^^^


Devan dan Arkan sudah bersiap untuk melakukan perjalanan panjang dari Jakarta ke Yogyakarta. Selepas sholat subuh berjamaan, mereka langsung bersiap-siap. Arkan menginap di rumah Devan, karena supaya persiapannya bareng-bareng, gak saling menunggu.


Mereka mempersiapkan semuanya dengan matang-matang. Dari fisik mereka, sampai fisik kendaraannya. Semua dipersiapkan secara matang-matang. Dua opa tampannya Askara sudah memakai baju touring mereka. Jaket kulit, dan rompi sudah melekat di tubuh mereka. Sarung tangan, masker, knee pad, dan sepatu, sudah rapi dipakai oleh mereka, dan mereka memilih helm yang nyaman untuk dipakai bermotor, karena perjalanan mereka akan menempuh kurang lebih 13 jam.


Mereka juga sudah cek keadaan sepeda motornya, tools kit, jas hujan, dan perlengkapan lainnya juga sudah mereka siapkan secara matang-matang.


“Sudah siap semua?” tanya Devan.


“Sudah, yuk sekarang berangkat,” ajak Arkan.


“Ma, kamu siap, kan?” tanya Devan.


“Iya, Pa, siap dong. Semangat nih aku pertama kalinya diajakin touring jauh sama papa?” jawab Nadia.


“Kamu sudah siap semuanya kan, Mi?” tanya Arkan pada Thalia.


“Iya sudah siap semuanya dong,” jawab Thalia.


“Ya sudah, kita berdoa, lalu berangkat,” ujar Arkan.


Mereka membentuk lingkaran, saling merangkul dan berdoa sebelum melakuka perjalana.


“Bismillah ... yuk, let’s go ....!” ucap Arkan dengan semangat.


Arkan dan Devan sudah berada di sepeda motornya masing-masing, istri mereka juga sudah membonceng di belakangnya.


“Siap, Ma?”


“Iya, pa, yuk kita nikmati perjalanan panjang ini, berasa muda aku,” ucap Nadia.


“Ya memang mama masih muda sekali,” ucap Devan.


“Siap, mi?” tanya Arkan.


“Iya, siap pi, ingat masih pacaran ya pi?”


“Iya ya, ya sudah kita mengenang perjalanan kita pacaran saja yang sering touring bareng,” ucap Arkan.


Mereka berangkat ke Jogja pagi itu, melewati perjalanan panjang, dan mengukir kenangan masa muda mereka yang suka menjelajah kota-kota dengan bermotor.

__ADS_1


__ADS_2