
Ardha tidak tahu harus bagaimana memberikan alasan pada kedua orang tuanya. Dia sudah bilang dengan mami dan papinya kalau hari ini akan mengajak perempuan yang ia cintai ke rumahnya, mengenalkan pada mami dan papinya.
Ardha masih santai siang ini, padahal harusnya ia menemui Alana, karena dia kemarin bilang dengan Alana kalau dirinya ingin bertemu dan bicara dengannya, tapi saat malam itu, di mana Alana dibawa kakaknya ke rumah untuk dikenalkan dengan mami dan papinya, Ardha bilang dengan Alana, tidak jadi bertemu. Ardha membicarakannya langsung, dan ia hanya bilang ingin bertemu dengan Alana karena ingin ngajak makan siang. Tapi, karena Alana sudah menjadi calon istri kakaknya dia tidak mau mengganggunya lagi.
Zhafran datang ke rumah maminya dengan Nina. Dia ingin menemui Ardha, supaya mengantar Nina menemui Alana di rumahnya. Nina ingin bertemu dengan Alana, tapi Zhafran siang ini sibuk, tidak bisa mengantar Nina ke rumah Alana. Beruntung hari ini Ardha masih di rumah, jadi ia meminta bantuan Ardha untuk mengantar Nina ke rumah Alana.
“Ardha, untung ada kamu. Kamu bisa antar Nina ke rumah Alana?” tanya Zhafran.
“Aku yang antar, Kak? Bukannya Alana kerja?”
“Iya kamu, mau siapa lagi? Alana hari ini izin untuk satu minggu ke depan. Kami mau mempersiapkan pernikahan kami. Mami sama papi maunya dipercepat, katanya dua minggu lagi,” jelas Zhafran. “Kamu gak jadi pergi?”
“Iya, temanku langsung balik Jogja, ada urusan mendadak, jadi ya gini, aku gak jadi mengajak dia ke sini, untuk aku kenalkan pada mami-papi,” jelas Ardha.
“Ya kan memang pacar kamu sedang ada urusan, lain kali juga gak apa-apa, kan?”
“Iya juga sih.”
“Ya sudah, kakak minta tolong antar Nina ke rumah Alana, ya?” ucap Zhafran. “Nin, sama Om Ardha ya ke bundanya?”
“Iya, papa ... Papa hati-hati, ya?”
“Iya, Sayang. Baju kamu buat menginap di rumah bunda sudah pap siapkan di dalam mobil, ya?” ucap Zhafran.
“Oke, papa ....”
Ardha tidak bisa menolak permintaan kakaknya, apalagi ini yang minta juga keponakan yang sangat ia sayangi. Setelah Zhafran pergi, Ardha langsung mengajak Nina ke rumah Alana.
“Yuk berangkat langsung?” ajak Ardha.
“Om Ardha sedang sakit, ya?” tanya Nina.
“Enggak? Om gak sakit,” jawab Ardha.
“Om sakit, Nin. Hati om yang sakit. Sakit sekali. Om mencintai bundamu, Nin,” ucap Ardha di dalam hati.
“Kok om acak-acakan sekali?” ucap Nina.
“Kan om dari tadi rebahan, gak ada kerjaan, Nin? Jadi ya gini acak-acakan, kek orang belum mandi,” ujar Ardha.
“Om, nanti makan es krim yuk? Kangen makan es krim sama om dan bunda? Udah lama sekali gak makan es krim bareng. Papa selalu gak mau kalau diajak Nina makan es krim, Om,” ucap Nina.
“Makan es krim? Oke, kalau bunda mau om gak masalah.” Ardha mengiyakan ajakan Nina. Ia juga ingin ngobrol dengan Alana lagi, beruntung ada kesempatan untuk ketemu dengan Alana karena Nina.
Ardha melajukan mobilnya ke kontrakan Alana. Ardha baru tahu kontrakan Alana yang sekarang, itu pun Ardha dikasih alamat dari kakaknya.
“Ini benar rumah bunda, Nin?” tanya Ardha.
__ADS_1
“Iya benar, Om,” jawab Nina.
“Ya sudah yuk turun,” ajak Ardha.
Ardha mengambil tas milik Nina. Ia akan menginap di rumah Alana selama Alana libur, karena Zhafran sedang sibuk mengurus kantor, dan mengurus pernikahannya dengan Alana. Apalagi Zhafran harus mencari rumah baru untuk tinggal dengan Alana nanti kalau sudah menikah dengannya.
“Loh kok kamu, Ar?” tanya Alana.
“Iya, Kak Zhafran yang nyuruh aku untuk antar Nina ke sini. Kak Zhafran katanya sedang ada urusan,” jawab Ardha.
“Oh begitu, kok papanya Nina gak bilang?”
“Mungkin Kak Zhafran sedang gugup,” jawab Ardha.
“Oh oke, tidak masalah. Yuk masuk.” Alana mengjak Nina dan Ardha masuk ke dalam rumahnya. “Sini Ar, biar aku taruh tas Nina di kamar.” Alana meminta tas milik Nina pada Ardha.
Ardha duduk di ruang tamu dengan Nina. Alana membawakan minuman dan makanan ringan untuk Ardha.
“Yah, katanya mau makan es krim, kok malah bunda bikin teh buat om?” ucap Nina.
“Makan es krim?”
“Iya, tadi Nina sudah bilang sama om, katanya om juga mau kok,” jawab Nina.
“Hmmm ... gitu?”
“Sama om saja, ya? Bunda gak usah ikut,” ucap Alana.
“Ih bunda, ayo ikut? Sudah lama sekali kita gak makan es krim bareng lho? Kan Om Ardha besok sudah ke Jogja? Nanti pulangnya kalau bunda sama papa akan menikah.”
“Lan, gimana? Mau tidak?” tanya Ardha. “Eh kak, maksudku,” lajutnya.
“Santai saja, Ar. Aku saja sebetulnya gak enak manggil kamu dengan sebutan nama saja,” jelas Alana.
“Gak apa-apa, aku kan memang mau jadi adik iparmu, Kak?” jawab Ardha.
Ardha sebetulnya sakit sekali menerima kenyataan sekarang. Ardha merelakan semuanya untuk kakaknya dan keponakannya.
Alana menuruti ajakan Nina untuk makan es krim. Dia juga sudah pamit dengan Zhafran, dan Zhafran mengizinkannya. Ardha melajukan mobilnya ke kedai es krim dekat dengan rumah Alana.
Mereka menikmati es krim bersama. Ardha melihat Nina yang bermain sendiri di ayunan yang ada di dekatnya, ini kesempatan dirinya untuk mengobrol lebih lama lagi dengan Alana.
“Ini kenapa kok tiba-tiba kamu sama Kak Zhafran sih? Aku masih penasaran sekali, Lan?” ucap Ardha.
“Ya gak tahu juga sih, Ar. Kenapa aku mau sama papanya Nina,” jawab Alana.
“Kamu cinta kan sama papanya Alana?”
__ADS_1
“Iya dong, kalau gak cinta ngapain aku mau menikah dengan papanya Nina?” jawab Alana.
“Gak karena terpaksa? Gak karena Nina kamu menikah dengan Kak Zhafran?”
“Enggak, Ardha ... memang ak juga mencintai kakakmu. Dan, aku tidak menyangka kakakmu akan serius sama aku,” jelas Alana.
Ardha hanya mengangguk saja. Ia yakin Alana tidak terpaksa menerima cinta kakaknya. Tapi Ardha sangat khawatir kalau Alana akan disakiti kakaknya, dan Alana hanya dijadikan pelampiasannya saja. Apalagi selama Zhafran sendiri, Zhafran sama sekali tidak ada hubungan dengan perempuan.
“Lan, apa Kak Zhafran bilang sama mamanya Nina kalau mau menikah dengan kamu?” tanya Ardha.
“Bagaimana bilang sih, Ar? Mamanya Nina saja gak tahu ke mana perginya? Kita pernah bertemu sekali saja, tapi saat awal aku baru pertama jalan sama kakakmu,” jelas Alana.
“Gak tahu kenapa kok Kak Binka akan mengkhianati kakakku. Padahal apa pun yang dia mau, kakakku akan menurutinya. Benar-benar gak waras dia. Bisa-bisanya seperti itu. Mana gak ingat sama anak lagi? Jangankan sudah cerai, belum cerai saja anak selalu sama aku dan Kak Lina, atau mami papi?” ujar Ardha.
“Ya kan hati orang siapa yang tahu, Ar? Kelihatannya harmonis, tapi dalamnya hancur lebur, Ar. Daripada dipertahankan?” ucap Alana.
“Iya sih?”
Cukup lama Ardha dan Alana ngobrol. Mereka juga menemani Nina bermain, Nina masih sangat ingin bermain, jadi mereka belum pulang. Hingga mereka bertemu dengan Nadia dan Devan yang akan membeli es krim.
“Eh kalian? Lho ini kok Ardha yang sama Nina dan Alana?” tanya Nadia.
“Iya, ini Nina yang pengin ke sini, Tante,” jawab Alana.
“Aku disuruh Kak Zhafran antar Nina yang mau menginap di rumah Kak Lana, terus minta ke sini,” jelas Ardha. “Nin salim sama oma dan opa,” titah Ardha.
“Halo opa, oma?” sapa Nina.
Devan dan Nadia malah diam, melihat gelang yang melingkar di tangan Nina saat Nina mencium tangannya.
“Ha—halo juga sayang? Kamu sehat, kan?” ucap Nadia gugup.
“Nad, gelang itu,” bisik Devan.
“Nin, Lan, Ar, tante buru-buru nih, Acha nungguin es krimnya, Tante ke sana dulu ya? Mau pesan,” pamit Nadia. Padahal Nadia ingin buru-buru membahas gelang milik Nina bersama Devan.
“Nin, gelangmu bagus, Nak?” tanya Devan.
“Oh ini punya Bunda, maksud Nina, aku dikasih bunda?” jawab Nina.
“Oh begitu, sepertinya kemarin kamu pakai gelang bukan ini, sekarang jadi gini,” ucap Nadia.
“Ini gelang dariku, Om, Tante. Aku belikan Nina kemarin, sebagai tanda terima kasih, Nina sudah menyayangiku dan menerimaku untuk jadi bundanya,” jelas Alana.
Alana curiga, karena saat Nadia dan Devan melihat gelang itu, ekspresi wajahnya berubah. Seperti tahu soal gelang itu.
“Gak, gak mungkin mereka orang tuaku,” ucap Alana dalam hati.
__ADS_1