Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Honeymoon Dadakan


__ADS_3

Alana benar-benar merasakan seperti menikmati masa remaja. Jalan di malam hari berdua dengan kekasihnya, yang tak lain kekasih halalnya. Ardha pun sama, seperti kembali muda lagi, bisa jalan dengan istrinya berdua, naik motor berboncengan menyusuri jalanan menikmati malam.


“Mau ke mana lagi, Lan?” tanya Ardha.


“Beli martabak sudah, beli kebab sudah, beli cilok sudah, makan bakso urat sudah, yang belum makan kamu, Mas,” jawabnya dengan terkekeh.


“Dasar! Yang ada nanti kamu yang kumakan!” kelakar Ardha.


“Pulang yuk? Kasihan Askara,” ajak Alana.


“Nanti, masih sore kok, ada ibu, mama, mami, pasti dia gak rewel, ke pantai dulu yuk?”


“Ngapain ke pantai malam-malam?”


“Ya dudukan saja, sesekali pacaran berdua, Lan. Menikmati pacaran sama kekasih halal,” jawab Ardha.


“Ya sudah, tapi jangan lama-lama, ya?” Alana mengiyakan ajakan Ardha.


Mereka sampai di pantai. Ardha menyetandarkan sepeda motornya, lalu mengubah posisi duduknya, menghadap ke Alana. Ardha melepas helmnya, pun Alana, ia melepas helmnya. Mereka duduk berhadapan saling bertatapan mesra.


“Gak nyangka aku bisa menikah denganmu, Lan,” ucap Ardha. “Orang yang aku cintai sejak aku bertemu denganmu, di mini market, dan berlanjut di pemaran lukisan.”


“Aku juga tidak menyangka, kamu akan jadi suamiku. Orang yang aku anggap seperti kakakku sendiri, ada di saat aku membutuhkan sesuatu, dan selalu tahu apa yang sedang aku inginkan,” ucap Alana. “Jangan seperti kakakmu, ya? Aku tidak habis pikir kenapa aku bisa mau diajak menikah kakakmu, dan pada akhirnya aku kecewa.”


“Jangan diingat, aku tidak seperti Kak Zhafran. Aku dengan dia itu bagai langit dan bumi. Berbeda dari dulu, ditambah papi, opa, selalu saja membanding-bandingkan aku dengan dia. Apa yang aku lakukan di mata papi dan opa itu salah,” jelas Ardha. “Tapi, tidak untuk mami dan oma. Mereka yang selalu mengerti aku, apa yang aku lakukan, mereka selalu mendukungku.”


“Kenapa bisa sampai membng-bandingkan?” tanya Alana.


“Gak tahu, mungkin Kak Zhafran itu pandai, selalu dapat peringkat terbaik saat sekolah, dan lulus kuliah dengan nilai terbaik, dan lulus dengan cepat. Sedangkan aku? Sekolah dan kuliah sebagai formalitas, bahwa aku harus mendapatkan pendidikan yang layak. Selebihnya aku malah ke game, touring, balap liar juga pernah, ya buat senang-senang saja. Aku memang suka dengan dunia game dan otomotif sejak SMA, tapi ya papi dukungnya aku ini biar seperti Kak Zhafran, jadi pengusaha muda sukses. Makanya aku lebih memilih kabur, memilih cari jati diriku sendiri,” jelas Ardha.


“Makanya temenin aku, ya? Kita melangkah sama-sama, kita hidup berdua jauh dari orang tua, bukan berarti kita gak mau menuruti jejak mereka. Kita juga harus bisa mandiri, kita bangun rumah tangga kita dengan cara kita sendiri, dengan kebahagiaan kita. Lagian kalau di sini, nanti kamu ketemu mantan terus,” ujar Ardha.


“Mantan?”


“Iya mantan suami, yang sepertinya dia itu nyesel sekali kamu menikah denganku, apalagi kamu punya anak laki-laki darinya. Aku dari tadi lihat mantan suamimu curi pandang mulu, jadi aku ajak jalan kamu, nanti pulangnya nunggu di pulang dulu,” ucap Ardha.


“Oh jadi cemburu nih?” ucap Alana dengan  menarik hidung Ardha.


“Iyalah cemburu? Istrinya dilihatin terus sampai gak kedip kok?  Makan saja lihatnya ke kamu, Lan,” ucap Ardha.


“Jangan gitu dia kakakmu.”

__ADS_1


“Ya habisnya, dia seperti menyesal sekali, dari raut wajahnya seperti nyesel sekali. Ya aku sih biasa saja, tapi hatiku gak bisa bohong, aku cemburu, Lan,” cetus Ardha sungguh-sungguh.


“Gak usah cemburu, aku ini milikmu, Mas.”


“Tapi belum seutuhnya, aku belum sentuh kamu, Sayang?”


“Udah gak sabar, ya?”


“Banget, Lan,” jawabnya serius.


“Ya sudah nanti malam, semoga saja Askara tidur pulas,” ucap Alana.


Ardha mendengar ponselnya berdering, ia melihat siapa yang menelefonnya. “Sebentar papi telefon.” Ardha menerima telefon dari papinya.


“Ada apa, Pi? Askara reewel, ya?” tanya Ardha.


“Enggak, dia gak rewel, malah sudah tidur,” jawab Arkan. “Papi tadi sudah pesan kamar hotel, kalian nikmati malam berdua sama istrimu, Askara gak rewel biar dia tidur di sini dengan papi dan mami, tenang saja Askara pasti gak rewel kok,” ucap Arkan.


“Pi, tapi kan aku pakai motor? Gak ada siap apa-apa lho pi?”


“Lagian mau tidur saja mau siap-siap apa lagi sih? Mumpung papi lagi baik lho ini?”


“Kamu itu dikasih kesempatan malah begitu?”


“Papi, aku sama Alana itu gak bisa lama-lama jauh dari Askara,” jawab Ardha.


“Ya sudah papi Cuma bilang gitu saja, terserah kamu bagaimana mau atau tidak,” ucap Arkan.


“Nanti aku pikir-pikir dulu sama Alana.”


Ardha mengakhiri panggilannya dengan papinya. Ia tidak menyangka kalau papinya malah memesankan kamar hotel.


“Ada apa, Mas?”


“Papi malah nyuruh kita bermalam di hotel, Lan,” jawab Ardha.


“Ih jangan kasihan Askara.”


“Katanya sih udah tidur dan gak rewel. Papi bilang biar Askara tidur sama mami papi. Gimana, Lan? Mau gak?”


“Mau gak ya? Kalau gak mau?”

__ADS_1


“Ya sudah, kalau gak mau gak masalah kok, kan masih ada waktu lagi besok dan seterusnya, karena kita kan sama-sama terus? Tapi, gak enak sama papi saja, secara gak langsung papi dah ngasih kado lho untuk kita?”


“Iya juga sih, ya sudah yuk?”


“Ke mana, pulang?”


“Kamu ingin kan, Sayang?” ucap Alana dengan genit.


“Ih genit juga kamu? Ya sudah yuk?”


Ardha melajukan sepeda motornya untuk ke lokasi yang sudah diberitahukan papinya.


“Mas, ini kocak sih, ke hotel mewah, kelas bintang lima, pakai sepeda motor? Tuh lihat orang pada pakai mobil mewah, kita masa pakai motor, nanti disangka kita anak muda yang pacaran mau check-in?” ucap Alana.


“Ya biar saja, mereka tahu siapa kita, ini hotel milik papamu, Lan. Papa kan punya beberapa hotel mewah di sini, ini pasti ide papamu juga, Lan,” ucap Ardha.


“Iya sih aku tahu itu, tapi coba lihat Satpam saja tadi lihatin kita, Mas?”


“Ya sudah sih biarkan saja. Gak usah diurusin,” jawab Ardha.


Ardha memarkirkan sepeda motornya, dia langsung masuk, dan menuju ke resepsionis.


“Oh kamar yang tadi dipesan atas nama Arkan Alfarizi, ya? Mari saya antar,” ucap resepionis dengan ramah.


Kali pertamanya Ardha masuk hotel dengan pakaian santai, pun Alana. Biasanya Ardha menginap di hotel karena pekerjaan, dan sekarang mau honeymoon dadakan dengan istrinya.


“Silakan, Pak. Ini kamar yang Pak Arkan dan Pak Devan pesan tadi, kalau butuh bantuan, silakan hubungi kami,” ucapnya.


Ardha dan Alana masuk ke dalam, dia melihat kamarnya sudah dihias seperti kamar pengantin. Di atas tempat tidurnya sudah dihiasi kelopak bunga mawar merah.


“Ini papa sama papi ada-ada saja idenya,” ucap Ardha.


Alana mengambil secarik kertas yang ada di atas meja kecil. “Selamat menikmati honeymoon, bikinkan cucu yang banyak untuk kami. Mami sudah siapkan baju ganti kalian, terserah kalian mau bermalam berapa hari di situ, Askara biar kami yang urus, dia anak pintar, tidak rewel, jangan khawatir.” Alana dengan membaca tulisan di secarik kertas.


“Mereka ada-ada saja,” ucap Alana lirih.


Alana membuka lemari baju, dan benar sudah ada beberapa baju ganti untuknya, juga baju seksi untuk dinas Alana.


“Wow ... ini baju apa? Niat gak sih bikin baju? Udah tipis, nerawang, kurang bahan pula?” ucap Ardha.


“Gak usah sok polos, Mas! Ini baju dinas,” jawab Alana.

__ADS_1


__ADS_2