
Fatih tidak menyangka mamanya akan seakrab itu dengan Alana. Padahal baru pertama bertemu, tapi mereka terlihat sudah sangat dekat sekali. Alana pun sudah tidak canggung lagi dengan mamanya, padahal baru hari ini Alana bertemu.
Arofah makin ketakutan, kalau Devan akan menanyakan lagi soal dulu saat Devan dan Nadia menemui dirinya di rumah saat mencari anaknya yang jatuh karena kecelakaan.
Dua puluh tahun yang lalu Arofah menemukan bayi saat sedang berada di ladang bersama dengan suaminya. Ia melihat bayi menangis, dan langsung membawanya pulang. Beruntung saat itu hari sudah mulai gelap, tidak ada orang yang melihat Arofah dengan suaminya membawa Alana ke rumahnya. Warga pun tidak curiga dengan adanya bayi di rumah Arofah, karena saat itu ada Aninggar dengan suaminya yang baru datang dari Jogja. Arofah bilang pada warga, kalau anak tersebut adalah anak Aninggar.
Aninggar paham dengan apa yang Arofah dan suaminya lakukan, itu semua karena Arofah ingin sekali memiliki anak. Di usia pernikahannya yang sudah dua puluh tahun Arofah belum juga diberikan keturunan. Jadi, Arofah ingin mengadopsi anak yang telah ia temukan saat di ladang.
Arofah meminta Aninggar untuk membawa bayi itu ke Jogja lebih dulu, karena ia yakin akan banyak polisi atau para tim pencarian mencari bayi yang telah ditemukan. Arofah meminta Aninggar segera membawanya ke Jogja, lalu setelah semuanya reda, baru ia mengambil bayi itu lagi, dan bilang dengan tetangga juga warga sekitar, ia mengadopsi dari teman Aninggar di Jogja.
Benar dugaan Arofah, kalau polisi dan tim pencarian bayi hilang akan mendatangi rumah warga, juga rumah dirinya. Beruntung Aninggar sudah membawa Alana ke Jogja saat itu. Saat itu Devan dan Nadia pun ikut dalam pencarian dan bertemu dengan Arofah juga suaminya. Arofah juga sempat diberikan kartu nama oleh Devan dan Nadia. Padahal saat itu Devan menjanjikan uang dengan jumlah banyak, bagi siapa yang menemukan Ayleen. Tapi, tetap saja, rasa ingin mengadopsi Ayleen yang telah Arofah dan suaminya temukan di ladang mengalahkan uang ratusan juta yang ditawarkan Devan.
Soal uang bagi Hasta tidak penting. Hasta adalah juragan dan petani kaya raya saat itu. Bahkan sejak ia mengadopsi Alana Hasta sudah mempersiapkan semua biaya hidup dan biaya pendidikan untuk Alana. Namun sayangnya, Arofah sakit-sakitan setelah Hasta meninggal, dan Alana baru mau masuk SMA. Jadi uang tabungan miliknya untuk berobat Arofah saat itu. Alana yang mendapatkan beasiswa kuliah, akhirnya demi pesan terakhir ayahnya yang ingin Alana kuliah, Alana melanjutkan kuliahnya dengan sambil bekerja paruh waktu.
Arofah merasa dunia begitu sempit. Puluhan tahun ia menyembunyikan rahasianya itu, pada akhrinya Alana bertemu dengan orang tua kandungnya, dan dia dekat dengan kakak kandungnya selama kuliah di kota. Rasanya ia tidak rela kalau Alana tahu Nadia dan Devan adalah orang tua kandungnya. Ia tidak ingin kehilangan Alana. Ia tidak mau jauh dari Alana. Hidupnya sudah ia curahkan untuk Alana, meski Alana adalah anak angkatnya. Bahkan Alana sendiri sudah tahu, kalau Alana adalah anak angkat. Namun, Arofah belum siap menjelaskan semua yang sebenarya pada Alana. Ia masih merahasiakan siapa orang tua Alana, dan ia menyembunyikan semua bukti yang berkaitan dengan Alana, saat Alana terjatuh ke jurang.
^^^
“Lan, sering-sering dong main ke rumah tante?” ajak Nadia.
“Nanti kapan-kapan Alana main, Tante. Alana sudah mulai bekerja lagi sekarang. Ya meski jadi asisten desainer di butik, alhamdulillah dapat bos baik sekali,” ucap Alana.
“Oke, tidak masalah, tapi nanti harus main, ya?”
__ADS_1
“Iya tante, kalau Alana libur,” jawab Alana.
“Nanti biar Fatih yang jemput kamu.”
Akhrinya Fatih tahu di mana Alana tinggal. Sepertinya dewi fortuna berpihak pada Fatih. Fatih seperti dipermudah jalannya untuk mendekati Alana. Sedangkan sampai sekarang Ardha pun belum menemukan tempat tinggal Alana yang baru.
Fatih mengajak Alana duduk di teras depan, saat mama dan papanya sedang mengobrol dengan ibu dan budhenya Alana. Arofah masih bingung, ia ingin membawa Alana pulang, tapi tidak mungkin, Alana ingin mewujudkan mimpinya, ia ingin menjadi desainer ternama, Alana juga baru saja kerja satu bulan, belum gajian pula? Jadi Arofah terpaksa merelakan Alana tinggal di kota.
Fatih duduk di depan Alana, dan memandangi Alana tanpa berkedip. Fatih membenarkan, kalau Alana mirip sekali dengan mamanya. Ia sampai berpikir kalau Alana adalah Ayleen, adikya yang hilang.
“Ini tempat kost kamu yang baru, Lan?” tanya Fatih.
“Iya, Mas,” jawab Alana.
“Mas, aku minta tolong, jangan bilang Pak Ardha dan lainnya, ya? Aku sudah tidak mau berurusan dengan mereka lagi. Takut dan trauma, siapa yang deketin, aku yang disalahin?” ucap Alana.
“Iya, enggak. Asal ada uang tutup mulutnya,” ucap Fatih dengan tersenyum.
“Ih aku belum gajian, Mas,” jawab Alana.
“Uang tutup mulutnya, kamu harus mau kalau aku ajak ke rumah, ya meski seminggu sekali,” ucap Fatih.
“Ya kalau begitu, aku tidak masalah. Tapi tunggu waktu libur, Mas. Aku liburnya tidak pas weekend soalnya. Aku libur juga sebulan paling dua kali,” jelas Alana.
__ADS_1
“Kalau masalah itu gampan, Lan, nanti aku pikirkan lagi. Ya sudah aku pamit pulang, itu papa dan mama juga sudah pamitan sama ibu dan budhe?” ucap Fatih. “Oh iya, Lan. Selamat sekali lagi, semoga setelah ini kariermu semakin bagus,” lanjutnya.
“Aamiin ... terima kasih sekali lho, Mas. Sudah ngenalin mama dan papanya Mas Fatih, juga traktirannya hari ini,” ucap Alana.
“Iya, sama-sama. Itu papa yang traktir. Nanti aku traktirnya kamu, kalau kita ada waktu lagi,” ucap Fatih.
Devan dan Nadia menghampiri Alana yang sedang mengobrol dengan Fatih. Ia harus pamit, karena Nadia harus bersiap ke klinik nanti sore.
“Lan, tante pulang, ya? Jangan lupa lho, nanti kapan-kapan main ke rumah tante, ya?” pamit Nadia.
“Iya, tante. Kalau ada waktu nanti Alana pasti main,” jawab Alana. “Ini terima kasih banyak lho om, tante. Alana sudah dikasih hadiah banyak sekali, dan diajak makan siang,” ucap Alana.
“Iya, tidak apa-apa. Om senang melihat kamu bisa lulus dengan nilai terbaik. Om jadi ingat Tante Nadia saat wisuda dulu, sama seperti kamu, dia dapat nilai terbaik, dan persis seperti kamu, mirip dengan kamu,” ucap Devan.
“Om Dev bisa saja,” ucap Alana.
“Tante bangga dengan kamu, Lan. Kamu baik-baik di kost, ya? Apalagi ibu dan budhe kan mau pulang?” ucap Nadia.
“Iya, Tante. Alana sudah biasa sendirian kok, semua akan baik-baik saja, Tante,” ucap Alana.
Nadia memeluk Alana, dan mencium kedua pipi Alana dengan sayang. Terlihat Nadia begitu menyayangi Alana, dari sorot matanya tidak bisa bohong, kalau Nadia begitu menyayangi Alana. Baru kali ini Fatih melihat mamanya care sekali dengan teman perempuan anak lelakinya. Dengan Vania kekasih Shaka pun tidak seperti saat dengan Alana.
“Aku kok merasa kalau Alana adalah Ayleen? Apa aku harus mencari tahu? Lalu perasaanku? Aku mencintainya, kalau dia adik kandungku bagaimana? Aku curiga juga dengan ibunya Alana yang dari tadi gelisah sekali, apalagi saat Alana menyebutkan nama desanya, aku melihat ibunya Alana seperti ingin mencegah, dan saat mama bilang anak mama hilang di desa itu, raut wajah ibu dan budhenya Alana berubah, langsung tegang, pucat, dan sangat takut sepertinya,” gumam Fatih.
__ADS_1