
Sudah lima bulan lebih Alana meninggalkan kotanya. Dia ingin menenangkan pikirannya di suatu tempat yang tenang dan damai. Alana tinggal di rumah budhe nya di Jogja. Dia tidak tahu mau ke mana lagi, dia hanya memiliki saudara di Jogja. Dan, di sanalah Alana tinggal sekarang.
Sebelum Alana ke Jogja, ia ke rumah ibunya lebih dulu. Tapi, ia tidak mengadu pada ibunya kalau Alana sedang hamil, dan sudah berpisah dengan Zhafran. Alana ke sana hanya ingin bertemu ibunya, dan bicara soal gelang yang Alana ambil dari lemari ibunya. Alana menanyakan itu, tapi ibunya sama sekali tidak memberitahukan siapa orang tua kandung Alana. Ibunya Alana hanya bilang, kalau dirinya tidak tahu siapa orang tua Alana. Memang Alana dulu saat hilang memakai gelang itu, gelang berinisial A, itu kenapa ibunya Alana memberi nama Alana.
Hanya itu yang Arofah katakan pada Alana. Arofah tahu Alana sudah ingin tahu siapa orang tua kandungnya, tapi bagi Arofah sekarang belum saatnya Alana tahu, Arofah belum siap untuk jujur dengan Alana, juga dengan Devan dan Nadia, kalau dirinya lah yang menemukan Alana jatuh ke ladangnya, dan menyembunyikan Alana supaya warga tidak curiga dirinya menemukan Alana. Beruntung ada Aninggar, kakak dari ayahnya Alana yang datang dari Jogja, akhirnya Arofah dan suaminya menitipkan Alana pada Aninggar selama satu bulan, karena supaya keadaannya aman.
Semua bukti penemuan Alana terpaksa Arofah tutup rapat, tapi suatu hari nanti Arofah memang ingin memberitahukan semuanya pada Alana. Dan, setelah tahu Alana dekat dengan anaknya Devan, Arofah malah semakin ketakutan untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Ia takut Alana kecewa, dan tidak mau menganggap dirinya ibu lagi, lalu ia juga takut, Devan akan menindak lanjuti masalah ke ranah hukum, karena dirinya sudah menyembunyikan Alana, berbohong tidak tahu-menahu soal bayi hilang saat Devan, Nadia, polisi, dan tim pencarian mendatangi rumahnya.
Arofah serba salah, ia menyimpan masalah itu sendiri, mau bilang dengan Aninggar pun dia tidak berani, karena pasti Aninggar akan menyalahkan dirinya. Arofah tidak memberitahukan pada Aninggar, kalau Devan dan Nadia sebetulnya orang tua kandung Alana. Aninggar hanya tahu dulu orang tua kandung Alana mencari Alana dengan polisi dan tim pencarian, dan Aninggar hanya membawa Alana pergi ke Jogja, supaya Arofah bisa mengasuh Alana. Aninggar juga paham perasaan kakaknya dan istrinya saat itu, karena sudah puluhan tahun mereka tidak memiliki anak, jadi menemukan Alana adalah suatu anugerah bagi mereka. Itu kenapa Aninggar mau menyembunyikan Alana, karena mNininghat kakak dan kakak iparnya sangat menyayangi Alana.
Aninggar hanya menebak saja kalau Nadia dan Devan adalah ibu kandung Alana. Pasalnya saat bertemu dengan Nadia dan Devan seusai Alana wisuda, Aninggar sedikit keget dengan wajah Nadia yang mirip sekali dengan Alana, juga wajah Devan yang juga agak mirip dibagian hidungnya dengan Alana. Aninggar hanya tercenung kebingungan saat melihat Devan dan Nadia, yang wajah mereka berkolaborasi hingga mirip Alana. Apalagi saat Nadia dan Devan bilang kalau anak mereka hilang di desa Arofah, dan hilangnya sama persis dengan kronologi Alana ditemukan Arofah di ladang. Aninggar semakin penasaran, dia bertanya pada Arofah, apa Devan dan Nadia orang tua kandung Alana, tapi Arofah menjelaskan, ada kecelakaan lagi dua tiga bulan setelah Alana ditemukan. Aninggar percaya saja apa yang dikatakan adik iparnya itu, meski dia pun masih ragu dengan penjelasan Arofah, dia yakin Arofah menyembunyikan sesuatu soal Alana.
Alana menjelaskan semua pada budhenya, kalau dirinya telah hamil dan bercerai dengan suaminya. Aninggar tinggal bersama anak laki-lakinya, bernama Iwan. Beruntung Alana di terima baik oleh Aninggar, meski Aninggar kesal dan jengkel dengan perlakuan Zhafran. Aninggar juga jengkel dengan Alana yang tidak bilang dengan ibunya, kalau dia sedang hamil, juga sudah bercerai dengan Zhafran, karena Alana sedikit kecewa dengan ibunya, yang kesannya menutup-nutupi siapa orang tuanya. Alana yakin sekali ibunya tahu siapa orang tua kandungnya. Aninggar juga sependapat dengan Alana, kalau Arofah tahu siapa orang tua Alana. Bahkan Aninggar sudah yakin, Devan dan Nadia lah orang tua Alana. Alana sama persis dengan mereka, apalagi dengan Shaka dan Fatih, wajanya ada miripnya juga. Tapi, Aninggar tidak mau membahas soal Devan dan Nadia dulu pada Alana.
Kesibukan Alana saat ini adalah membantu menjaga toko milik budhenya. Yakni, toko oleh-oleh yang dari dulu masih saja ramai pengunjung. Alana dulu juga pernah bekerja di toko tersebut membantu budhenya, jika dia lburan, pasti ke Jogja, membantu budhenya jualan. Satu minggu di desanya, satu minggu di Jogja. Beruntung Aninggar sangat baik, dan menganggap Alana seperti anaknya sendiri. Apalagi Aninggar hanya memiliki satu anak saja, yang bernama Iwan.
"Alana, kalau kamu lelah, tidak usah ikut ke toko," ucap Aninggar.
"Iya budhe, Alana agak tidak enak badan," jawab Alana.
"Sudah Alana, di rumah saja. Tapi, aku akan ke kantor, tidak bisa meninggalkan pekerjaan aku, Alana," ucap Iwan.
"Iya, sana berangkat saja, sudah biasa gitu, kan? Weekend saja mumpung aku di sini kamu kerja mulu? Kapan ajak aku jalan-jalan? Sudah mau enam bulan di sini, aku hanya pergi ke toko saja? Punya saudara kerja gak pernah libur, kayak ikut penjajah!” protes Alana.
“Lan, aku kerja demi buat melamar pujaan hati, ya kali mau minta ibu mulu?” jawab Iwan.
“Iya deh sana berangkat, di sini ada Mbak Nining, aku sama Mbak Nining juga gak apa-apa?" ucap Alana.
"Ya sudah aku berangkat.” Pamit Iwan dengan mencium tangan ibunya, lalu mengacak-acak rambut Alana dan mengusap perut Alana yang sudah makin membuncit. “Kamu baik-baik sama bundamu, jangan nakal, jangan bikin bundamu nangis. Okay!”
“Iya, Pakde, aku gak rewel,” jawab Alana.
“Oh iya, Bu, nanti sepertinya akan ada teman Iwan ke sini, ya lebih tepatnya dia Bos Iwan, sih. Cuma dia seumuran Iwan. Ibu bisa masakin untuk makan malam, kan?" ucap Iwan.
"Bos kamu yang dulu itu, bukan?" tanya Aninggar.
"Bukan, Bu. Ibu lupa ya? Iwan kan bosnya baru, Bu? Sekarang Iwan sudah jadi asisten bos besar bu, jadi kemarin bos Iwan yang ke sini itu anak buahnya bos Iwan yang sekarang, ya karena kerja keras Iwan yang bagus, jadi Iwan diangkat dibagian lain, dan bos Iwan ya ganti lagi.” jelas Iwan.
"Oh ibu kira yang kemarin? Yang sangat tampan, seperti orang Korea?” ucap Aninggar.
“Bukan, ini lebih tampan dan masih seumuran Iwan,” jawab Iwan. “Nanti masakin ya, Bu?" pinta Iwan.
"Iya, nanti ibu masakin, biar Mbak Nining belanja sayur nanti. Ibu berangkat ke toko dulu. Kamu hati-hati ke kantornya," ucap Aninggar.
"Iya, ibu. Ibu juga hati-hati," ucap Iwan pada ibunya.
"Alana, aku berangkat dulu, kamu hati-hati di rumah," pamit Iwan.
"Iya, Wan," jawab Alana.
Alana di rumah hanya bersama pembantu rumah tangga yang bernama Mbak Nining. Alana sudah sedikit meredakan rasa sakit hatinya pada Zhafran. Itu semua demi anak yang ada dalam kandungannya. Dia tidak mau kandungannya bermasalah karena memikirkan Zhafran. Terlebih memikirkan Nina. Ya, sejak tinggal di Jogja, yang hanya di ingat Alana adalah Nina. Bukan Zhafran atau yang lainnya.
Sore hari, Alana membantu Mbak Nining memasak, karena akan ada tamu, yaitu teman sekaligus Bosnya Iwan. Dari pada tidak ada kegiatan Alana membantu Mbak Nining memasak.
"Sudah biar saya saja yang masak, Mbak Alana duduk saja," ucap Nining.
"Biar Mbak, aku dari tadi sudah duduk, rebahan dan duduk lagi, capek malah, mbak," jawab Alana.
"Ya sudah, bantuin aja. Kebetulan bisa cepat selesai. Biar ibu pulang sudah siap semua," ucap Nining.
Alana membantu Mbak Nining memasak. Ya, sudah lama sekali Alana tidak pernah memasak, selama hampir enam bulan di Jogja, karena setiap kali bangun tidur, sudah ada masakan di meja makan. Ya budhenya sangat menyayangi Alana layaknya anak sendiri.
Hari sudah hampir petang, Aninggar baru saja pulang dari toko bersama sopir pribadinya. Aninggar pulang agak petang karena toko masih rame hingga tadi. Dan sekarang saja masih buka. Aninggar membeli buah-buahan dan membawanya ke dapur, menyuruh Nining mencuci dan menyiapkan di wadah buah.
__ADS_1
Alana terlihat sudah nyaman dengan dasternya. Perut Alana yang sudah semakin membuncit terlihat seksi dengan daster batik yang cantik. Aninggar menyuruh Alana istirahat dulu sebelum makan malam, dan menunggu Iwan pulang.
"Nak, istirahat dulu sana, kamu nanti kecapean, kata Mbak Nining kamu yang memasak semua ini?" ucap Aninggar
"Tidak sih, Budhe. Aku hanya membantu Mbak Nining saja," ucap Alana berkilah, padahal Alana yang memasak, Mbak Nining yang membantu.
"Budhe Alana ke kamar dulu, ya?" Alana ke kamar karena merasa pinggangnya sedikit sakit. Alana meneguk air putih yang berada di meja sebelum dia ke kamarnya.
"Alana, jangan tidur. Kamu belum makan, rebahan saja," titah Budhe Aninggar.
"Iya budhe," jawab Alana sambil berjalan ke arah kamarnya.
Aninggar mengecek meja makan, sudah siap semua apa belum masakannya. Semua sudah siap, dan sepertinya masakan Alana terlihat enak sekali. Aninggar melihat dua mobil masuk ke halaman rumahnya. Mobil Iwan dan mungkin satunya mobil bosnya Iwan. Iwan masuk ke dalam rumah dan di sambut Aninggar.
"Bu ini lho bosnya Iwan yang baru," ucap memperkenalkan bosnya pada Aninggar. Mata Aninggar membeliak melihat siapa yang datang dengan Iwan.
“Budhenya Alana?” tanya Ardha.
“Ardha? Ja—jadi kamu?”
“Iya, aku bosnya Iwan, Budhe,” jawab Ardha.
“I—ini kok ibu sama Mas Ardha saling kenal?” tanya Iwan bingung.
“Ehm ... aku ini adiknya suami Alana, jadi kamu sepupu Alana?” tanya Ardha.
“I—iya ... kamu jadi adik ipar Alana? Ah maksudnya mantan adik ipar, karena Alana sudah cerai dengan laki-laki brengsek itu!” ucap Iwan dengan geram.
“Mungkin kalian marah dengan kakakku, begitu pun aku, aku sangat marah dan kecewa dengan kakakku, aku salah budhe, harusnya aku bisa menjaga Alana, bukan kakakku!” ucap Ardha dengan mata berkaca-kaca. “Alana sekarang pergi entah di mana, apa budhe tahu? Apa Alana pernah cerita dengan budhe dan kamu, Wan?”
Iwan dan ibunya saling memandang, mereka bingung harus bagaimana mengatakannya kalau Alana sekarang ada di rumahnya. Iwan memang tidak tahu kalau Ardha adalah adik dari mantan suami Alana. Saat Alana menikah dengan Zhafran, Iwan tidak bisa hadir, juga saat Alana wisuda, jadi ia sama sekali tidak tahu, kalau Ardha adalah adiknya Zhafran.
“Budhe, Iwan, aku yakin kalian tahu, jangan menutupinya, budhe. Apa benar ibunya Alana tidak tahu soal Alana yang sudah pisah dengan Zhafran? Soalnya, kata Kak Zhafran, Alana tidak akan memberitahukan pada ibunya soal perceraiannya,” tanya Ardha.
“Budhe, kalau boleh jujur aku sangat mencintai Alana, sejak sebelum kakakku dekat dengan Alana,” ungkap Ardha.
“Sudah kita bicarakan nanti, ya? Iya budhe tahu, budhe tahu kamu sangat mencintai Alana, terlihat dari raut wajahmu yang sangat menyimpan kepedihan saat melihat Alana menikah dengan kakakmu,” ucap Aninggar.
“Di mana Alana, Budhe?”
“Nanti budhe jelaskan, ya? Kita makan malam yuk?” ajak Aninggar. “Budhe sudah capek-capek masak, lho? Nanti budhe akan ceritakan semuanya.” Ardha mengangguk menuruti apa kata Aninggar.
Aninggar lega, ada Ardha setidaknya yang tahu soal keberadaan Alana, dan ia percaya kalau Ardha akan merahasiakan kepada siapa pun bahwa Alana ada di rumahnya. Ardha juga sedikit cerita soal Nina, dan soal Zhafran yang sudah seperti orang asing di mata keluarganya juga anak kandungnya,.
Aninggar memanggil Alana yang berada di kamarnya. Dan Alana keluar dengan mata yang sayu, karena ketiduran. Aninggar akan jelaskan pada Alana, kalau ada Ardha di depan. Tidak mungkin Aninggar membohongi Ardha, kalau Alana tidak di rumahnya.
“Lan, ayo keluar, makan dulu,” ajak Aninggar.
“Bosnya Iwan sudah datang?” tanya Alana.
“Iya, sudah,” jawab Aninggar. “Lan?”
“Iya, Budhe?”
“Budhe boleh bicara?”
“Iya boleh, mau bicara apa?”
“Bosnya Iwan itu Ardha, adik mantan suamimu,” ucap Aninggar.
“I—ini kok bisa budhe? Jadi ada Ardha di luar?”
“Iya, Ardha di luar, budhe juga tidak tahu kalau Ardha itu bosnya Iwan,” jawab Aninggar. “Kamu mau keluar menemuinya tidak? Kalau tidak, budhe akan merahasiakan semua ini pada dia,” tanya Aninggar, memastikan.
__ADS_1
“Alana keluar saja budhe,” jawab Alana.
“Yakin?”
“Iya, tidak apa-apa, aku tahu Ardha bagaimana kok. Dia berbeda dengan kakaknya,” jawab Alana.
“Ya sudah yuk keluar?” ajak Aninggar.
Alana berjalan di belakang budhenya. Ia tidak masalah bertemu Ardha, karena ia yakin Ardha tidak akan ember, dan tidak akan memberitahukan ke semua orang, karena Ardha adalah orang yang amanah menurut Alana.
“Ardha lihat siapa ini?” Aninggar menunjukkan Alana di depan Ardha.
“Ka Alana?” Ardha reflek langsung memeluk Alana.
"Kak, aku mencari kamu ke mana-mana, ternyata kamu di sini? Dan Iwan ternyata anak Budhe Aninggar?" ucap Ardha.
"Ardha, tolong jangan beritahu semua orang kalau aku di sini, tolong Ardha, aku tidak mau, sakit sekali mengingat itu semua. Aku sudah tenang di sini." Alana berkata dengan menangis dan takut.
Ardha mengusap air mata Alana, lalu kembali memeluknya.
"Kak Alana, aku janji aku tidak akan memberitahukan siapa pun, kak. Kakak gak usah takut. Percaya sama Ardha. Kakak akan baik-baik saja di sini. Kakak jangan menangis, kasihan adik bayi yang ada di perut kakak." Ardha berusaha menenangkan Alana dan meredakan tangis Alana.
"Ya sudah, Alana, jangan menangis. Ayo makan, kamu dari tadi menunggu Iwan pulang, kan?" titah Aninggar.
"Iya, budhe." Alana mengambil nasinya dan lauknya.
Dia mempercayai Ardha, dia pasti tidak akan bicara dengan keluarganya. Karena Ardha memang berbeda dari yang lainnya.
Ardha menantap Alana sambil menyendokan nasi ke mulutnya. Ardha tahu ini masakan siapa, dia tersenyum, akhirnya bisa merasakan masakan Alana lagi.
"Kak, ini kamu pasti yang memasak," ucap Ardha.
"Sok tahu, kamu," ucap Alana.
"Ini tidak bisa di curi rasanya. Masakan orang sini rasanya tidak seperti ini," ucap Ardha.
"Iya ini aku yang memasak," jawab Alana.
"Kan benar. Setelah sekian purnama aku merindukan masakan Kak Alana," ucap Ardha.
"Kamu bisa saja."
"Selama kakak pergi, aku jarang pulang, bahkan belum pernah pulang, aku takut di tagih Nina, karena dia menyuruh aku mencari kakak," jelas Ardha.
"Bagaimana kabar Nina?" tanya Alana.
"Dia tinggal bersama mami-papi, tidak mau sama papah dan mamahnya," ucap Ardha.
"Kenapa?"
"Tidak mau, katanya ingat kakak kalau di rumah itu,"
"Sudah Ar, jangan bicara soal itu lagi, mending apa yang ada di sini saja. Aku sudah bahagia di sini, dan tolong jangan beritahu siapa pun, pada Nina juga jangan, hanya kamu yang tahu," ucap Alana.
"Oke. Kakak makan yang banyak, biar keponakanku sehat," ucap Ardha.
"Alana itu, makannya kuat sekali, Ardha. Budhe bersyukur dia juga tidak ngidam yang aneh-aneh," ucap Aninggar.
"Si utun tahu, budhe, kalau ibunya seperti ini," ucap Alana.
Mereka melanjutkan makan malamnya, setelah itu mereka berkumpul di ruang tamu. Ardha seperti melepas rindu pada Alana. Mereka juga bercerita hingga malam dan lupa waktu. Ya, yang mereka bahas bukan masa lalu Alana, tapi yang mereka bahas adalah keadaan saat ini, bersama Iwan dan budhenya.
Ardha menyadari hari sudah semakin malam. Ardha berpamitan, dia juga meminta nomor ponsel Alana. Karena Alana percaya dengan Ardha dia memberikan nomor ponselnya lagi.
__ADS_1