Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Penolakan Alana


__ADS_3

Zhafran meraih tangan Alana saat Alana akan masuk ke kamarnya, membangunkan Nina yang tertidur pulas di kamarnya.


“Apa lagi sih, Pak?!” Alana menepiskan tangan Zhafran, dia kesal dengan perlakuan Zhafran yang tiba-tiba seperti itu. Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba mengajak nikah.


“Lan, aku tahu ini sangat cepat. Tapi ini kenyataannya, aku kagum dengan kamu, dan entah kenapa rasa mengagumimu semakin menyiksa hatiku, apalagi Nina setiap hari cerita kamu, dan setiap hari maunya dengan kamu, sampai dia lupa keinginannya untuk ke rumah oma dan opanya, bertemu dengan tante dan omnya,” jelas Zhafran. “Alana, mau menikah denganku? Aku mencintaimu, Lan,” ungkap Zhafran.


Alana mengernyitkan dahinya seraya menggelengkan kepalanya heran. Ada orang seperti Zhafran yang tiba-tiba menyatakan perasaannya, dan langsung mengajak nikah. Padahal Alana tahu, Zhafran masih mencintai mantan istrinya meski mantan istrinya sudah mengecewakannya, dan menyakitinya.


“Pak Zhafran tadi bilang apa? Mencintaiku? Lalu mengajak nikah aku? Gak salah dengar, Pak? Seminggu yang lalu bapak ingat saat kita pergi ke taman hiburan dengan Nina, lalu pulangnya mampir dudukan di taman dekat taman hiburan? Ingat Pak Zhafran melihat siapa dan dengan siapa, lalu Pak Zhafran bicara apa denganku? Ingat tidak? Apa semudah itu jatuh cinta? Semudah itu menjalin hubungan bagi Pak Zhafran?” ucap Alana.


Zhafran mengingat-ingat lagi malam itu, dan mencerna ucapan Alana tadi. Bertemu siapa dan orang itu dengan siapa, Zhafran mengingatnya, malam itu dia bertemu dengan Binka. Binka dengan Dokter Alex sedang melintas di jalan taman itu, entah mereka berdua sedang apa di taman, mungkin sedang memadu kasih seperti anak muda, atau sedang apa. Zhafran melihat Binka, lalu Nina memanggil mamanya, hanya memanggil saja, tanpa memeluk, hanya menyapa saja, dan terlihat tidak ada tatapan rindu dengan mamanya. Zhafran tahu Nina pun kecewa, karena saat itu mamanya terang-terangan bilang, akan menikah lagi dengan Dokter Alex, dan entah sekarang Binka sudah menikah dengannya atau belum.


Zhafran masih sedikit kaku dan canggung saat melihat Binka, itu semua karena Zhafran masih sangat mencintai Binka meski Binka sudah mengecewakannya, menyakitinya, dan menodai pernikahannya. Malam itu, Zhafran banyak cerita dengan Alana tentan Binka, dan bilang dengan Alana kalau dirinya masih menyimpan cinta untuk Binka. Tapi, hatinya sudah tidak bisa memaafkan perbuatan Binka yang menjijikan.


“Sudah ingat Pak Zhafran bilang apa malam itu? Cerita apa dengan aku?”

__ADS_1


“Iya ingat. Aku bilang aku masih mencintai Binka,” jawab Zhafran.


“Lalu kenapa ngajak nikah aku, dan segampang itu Pak Zhafran bilang mencintaiku? Aneh sekali, nikah kok buat mainan, begitu pula dengan cinta. Cinta itu bukan untuk mainan, Pak!” ucap Alana, lalu masuk ke dalam kamar.


“Lan, Lan, Lan, tunggu! Auuuhhh!” Zhafran terkena pintu saat Alana menutup pintu kamarnya dengan keras.


Zhafran duduk di ruang tamu, ia tidak tahu kenapa bisa jatuh cinta dengan Alana secepat itu. Hampir setiap hari bertemu Alana, dirinya semakin kagum dengan Alana. Alana yang mandiri, yang tidak pernah menyerah untuk bisa membahagiakan ibunya, yang selalu tersenyum meski hidupnya sedang tidak baik-baik saja. Sejak kenal dengan Alana, dan Nina sering dengan Alana, Zhafran  bisa sedikit demi sedikit melupakan Binka yang sudah menyakiti dirinya.


“Kenapa merusak suasana sih kamu, Fran? Harusnya kamu dekati dulu Alana, luluhkan hati Alana, kalau begini caranya Alana mengira kamu melakukan semua ini demi Nina, bisa jadi malah Alana mengira dia hanya sebagai pelarian kamu yang sudah tujuh bulan jadi duda? Bodoh sekali kamu, Fran! Bisa-bisanya langsung memaksa Alana untuk diajak nikah? Kamu seperti tidak pernah dekatin cewek saja, Fran, seperti tidak pernah pacaran saja. Taklukkan dulu dong hatinya Alana, biar dia luluh denganmu!” Zhafran merutuki dirinya sendiri sambil menunggu Alana keluar dari kamarnya.


Zhafran melihat Alana menggendong Nina yang masih mengantuk, dia tidak mau pulang, dan ingin menginap di rumah Alana, tapi Alana merayu Nina supaya mau pulang, karena besok juga harus sekolah, dan tidak mungkin juga pagi-pagi Alana mengantarkan Nina ke rumah Zhafran.


“Nin, itu papa sudah datang,” ucap Alana.


“Papa ke mana sih, kok lama? Nina kan jadi ngantuk?”

__ADS_1


“Maaf, ya? Papa tadi menemui dua klien papa. Ya sudah yuk pulang? Sini papa gendong,” ucap Zhafran, lalu mengambil Nina dari gendongan Alana. “Makasih ya, Lan? Maaf untuk yang tadi, mungkin kamu memang butuh waktu untuk menjawab semua ini,” ucap Zharfan pada Alana.


“Tidak usah menunggu lama, Pak. Jawabanku tidak,” jawab Alana.


“Lan, aku mohon pikirkan lagi.”


“Aku tidak akan memikirkan itu,” jawab Alana. “Lebih baik bapak pulang, sudah malam.”


Zhafran tidak menyangka dengan jawaban Alana yang seperti itu, dan dengan ketus. Alana mengantar Zhafran hingga ke teras rumahnya, setelah mobil Zhafran pergi dari rumah Alana, Alana langsung masuk ke dalam rumahnya lagi. Ia masih memikirkan ucapan Zhafran tadi, yang tiba-tiba mengajaknya menikah.


“Iya sih dia duda, mapan, kaya raya, tampan, perempuan mana yang menolak kalau diajak menikah dengannya? Aku bingung dengan ajakan menikahnya yang tiba-tiba. Aku belum mau memiliki hubungan khusus dengan pria, apalagi aku belum jelas asal-usulnya aku ini anak siapa? Mungkin kalau laki-laki dari keluarga biasa, aku bisa diterima oleh keluarga laki-laki itu, sedangkan Pak Zhafran? Pengusaha kaya raya, kedua orang tuanya juga pengusaha, didekatin adiknya saja aku takut, ini kakaknya malah ngajakin nikah? Tuhan ... kenapa aku tidak bisa terlepas dari orang-orang macam mereka? Aku ingin hidup tenang, sesuai porsiku, dan sesuai dengan kastaku yang hanya orang biasa,” ucap Alana.


Alana belum memikirkan kapan memiliki kekasih atau menikah, itu semua karena dia belum bisa menemukan siapa orang tua kandungnya. Ibunya seperti terus menutupi saat Alana ingin meminta bukti supaya bisa mencari siapa orang tua kandungnya. Entah itu dengan pakaian yang ia pakai saat pertama di temukan oleh ibunya, atau mungkin bisa jadi orang tua kandung Alana meninggalkan barang disaat membuang Alana, atau bisa jadi surat.


“Masa tidak meninggalkan apa-apa? Kalau memang iya seperti itu, berarti orang tuaku memang tidak menginginkanku? Ya Tuhan, inikah nasibku? Aku ingin tahu siapa orang tua kandungku saja, aku tetap menyayangi ibu, dan tidak akan pernah aku meninggalkan ibu, aku sangat menyayanginya meski ibu adalah ibu angkatku. Ibu yang sudah merawatku sampai sekarang, masa tega aku meninggalkannya kalau aku sudah bertemu dengan kedua orang tuaku? Ibu tetap ibuku sampai kapan pun. Tuhan, beri petunjuk supaya aku bisa bertemu siapa orang tua kandungku?” ucap Alana lirih.

__ADS_1


Alana juga ingin seperti teman-teman pada umummnya, memiliki kekasih, lalu menikah, dan hidup bahagia. Kalau seperti ini, mana bisa dia menikah? Orang tuanya saja tidak jelas sama sekali? Hanya punya ibu angkat, kalau keluarga calon suaminya mengerti keadaan, kalau tidak dan Alana sudah terlanjur cinta? Alana lebih baik memilih untuk tidak mengenal pria lebih dekat dulu sebelum dia mengetahui siapa orang tua kandungnya.


__ADS_2