
Mendengar mami-papinya ke Jogja dengan menggunakan sepeda motor, Lina begitu khawatir. Pun dengan Zhafran. Tidak anak-anak Arkan dan Thalia saja. Fatih, Shaka, dan Acha juga sangat khawatir mendengar Ardha yang memberitahukan kalau mama dan papanya ke Jogja dengan menggunakan sepeda motor layaknya orang muda saja.
“Lan, jangan biarkan mama sama papa pulang pakai sepeda motor. Ini mama sama papa pikirnya masih muda atau gimana sih? Pakai gak ada acara pamit lagi? Pantas saja sepi sekali hari ini gak ada telefon atau chat dari papa mama, yang biasanya tanya aku dengan suami dan anak sehat atau tidak?” ucap Acha lewat telefon.
“Iya, Kak. Tadi aku sudah bilang, nanti pulangnya aku antar sama Ardha, atau pakai travel atau kereta,” jawab Alana.
“Gak usah, Lan. Kami ada rencana mau liburan ke situ sih lusa, jadi biar papa dan mama nanti ikut kami pulangnya, Om Arkan dan Tante Lia juga,” ucap Acha.
Ardha juga masih telfonan dengan Zhalina. Lina benar-benar tidak mengerti dengan mami dan papinya. Memang akhir-akhir ini, kalau ke rumah Lina pun, Arkan dan Thalia lebih suka berboncengan pakai sepeda motor, ketimbang pakai mobil.
“Papi sama mami sepertinya sedang demam motoran, Ar. Kayak sedang mengenang masa mudanya gitu. Ya gak heran sih, mungkin kangen masa mudanya dulu, apalagi mami sama papi kan sedirian sekarang, jadi ya begitu. Sudah, jangan dimarahin terus papi sama maminya, biar saja. Nanti lusa kakak ke situ kok, sudah janjian sih sama kakak-kakaknya Alana juga. Kalau kami mau liburan ke situ, jadi biar mami sama papi di situ dulu, nanti pulang sama aku,” ucap Lina.
“Tadinya mau aku antar saja, kalau kakak mau liburan ke sini ya bagus dong, kita kumpul semua di sini, lagian sudah lama juga, kan? Gak kumpul bareng-bareng?” ucap Ardha.
“Iya juga sih, kakak juga kangen kamu, lama gak ketemu kamu,” ucap Lina.
Ardha mengakhiri telefonnya dengan kakaknya. Ia membantu Alana menyiapkan teh dan makanan untuk orang tau mereka. Devan dan Arkan terlihat berbaring di atas karpet yang berada di rungan tengah, meluruskan kaki nya, karena semua persendiannya terasa kaku dan pegal.
“Nikmat sekali ya, Dev? Capek ternyata, Dev?” ucap Arkan.
“Ya begitulah, nikmati saja, toh sudah diniatin? Alhamdulillah sampai di sini, dengan selamat, meski capek bukan main,” jawab Devan.
“Iya benar, itu Thalia saja sedang digantung kakinya, katanya pegal sekali,” ucap Arkan.
“Sama tuh, Nadia yang bilang tadi gak capek saja kecapekan kok,” ujar Devan.
“Aku kira dia gak capek? Kayaknya dia semangat banget lho?” ucap Arkan.
“Iya kelihatannya, semangat, tapi ya capek juga. Wajar kan perjalanan jauh? Lima belas jam lho, Arkan? Dulu kita masih muda, ya? Kayaknya sampai Jogja pas Adzan Maghrib saat itu,” ucap Devan.
“Iya betul, kita sholat lalu cari penginapan waktu itu,” jawab Arkan.
Ardha mendekati mereka yang sedang berbincang-bincang sambil melepas lelahnya. “Sudah mengenang masa mudanya? Enak pa, pi? Capek gak?” tanya Ardha.
“Huh, mantap! Tapi udah deh kayaknya ini touring terakhir yang jauh, gak lagi ah,” jawab Arkan.
“Ya meman capek, Ar, tapi senang, bisa ketemu kamu dan Alana. Udah ketemu anak mantu yang sehat dan baik-baik saja, capeknya jadi ilang,” jawab Devan.
“Ya benar, Dev. Apalagi sudah lihat cucu kita, yang semakin gede, dan sehat? Capeknya ilang,” ucap Arkan.
“Tadi aku dengar papa capek?”
“Ya capek, tapi capeknya gak sia-sia, Dev. Tergantikan semuanya,” jawab Devan.
“Hmm gitu, ya? Itu ada minuman herbal, biar badannya gak pegal, tadi Iwan yang buatin,” ucap Ardha.
“Wah ... terima kasih, Wan!” ucap Arkan semangat.
“Iya, Om. Diminum dulu, biar nanti tidurnya enakan, nanti itu mandinya pakai air serai juga, biar enakan badannya,” jawab Iwan.
__ADS_1
Devan dan Arkan mengiyakan ucapan Iwan, ia segera meminum minuman herbal yang dibuatkan Iwan, dan mereka membawakan kepada istrinya yang sedang di kamarnya. Supaya minum juga.
^^^
Arkan dan Devan sudah dua hari di rumah Ardha. Rasa lelahnya sudah terganti dengan rasa bahagia bisa bermain dengan cucunya. Karena, sudah satu bulan mereka tidak bertemu. Saat sedang bermain dengan Askara, empat mobil berhenti di depan rumah Ardha. Arkan dan Devan tahu itu mobil siapa. Itu mobil anak-anak mereka.
“Kok mereka pada ke sini, Pi?” tanya Thalia.
“Mungkin mereka tahu kita di sini?” jawab Arkan.
“Iya, pasti Alana sama Ardha memberitahukan mereka nih,” ujar Nadia.
“Siap-siap kena sembur Acha ni papa, Ma?” ucap Devan.
“Ya sama, mama juga pastinya,” jawab Alana.
“Gak Cuma kalian, ini pasti Lina sama Zhafran marahin aku juga,” ucap Arkan.
“Iya, Pi. Pasti nih mereka ngomelnya gak berhenti-berhenti,” ucap Thalia.
“Sudah resiko dong? Kan papi sama mami gitu, gak pamit sama mereka? Papi mami kan tanggung jawab kami, ada apa-apa sama mami papi, kan kita pasti yang turun tangan? Kalau kemarin ada apa-apa di jalan gimana? Kan kita gak tahu apa-apa, Pi, Mi?” ujar Ardha.
“Iya sih, tapi sudah lah, papi mami, dan mertua kamu kan sehat, gak ada apa-apa, ya Cuma itu gak mau lagi deh balik pakai motor, kalau gak ada mereka jemput, kami mau pulang pakai kereta,” ucap Arkan.
Mereka semua turun dari mobilnya, dan langsung disambut Ardha dan Alana, juga orang tua mereka.
“Sudah ya, Pa, Ma? Ini terkahir kalinya, kalau mau ke sini, pakai mobil kan ada, atau diantar sopir, atau kalau mau menikmati perjalanan pakai transportasi umum ya pakai kereta atau travel, jangan motoran lagi,” tutur Fatih.
“Iya papa ih, aku dengarnya ngeri, papa sampai Jogja pakai sepeda motor,” timpal Shaka.
“Iya gak lagi, papa janji,” ucap Devan.
Zhafran dari tadi memeluk papinya. Dia memang khawatir, tapi dia lebih banyak diam, karena dia tahu hobi papinya apa. Dia hanya menepuk-nepuk bahu papinya, karena bangga masih bisa bermotor ke Jogja.
“Zhafran salut sih, masih kuat juga pinggang papi?” ucap Zhafran.
“Ya begini, memang papimu kuat kan?”
“Iya, iya ... tapi sudah ya, Pi? Ini terakhir kalinya,” pinta Zhafran. “Kalau papi ada apa-apa, misal mau ke mana, malas setir mobil sendiri, terus gak ada sopir, papi kan ada Zhafran? Aku ini anak papi, kalau ada apa-apa bilang dong, Pi?”
“Iya maaf, tadinya sih papi mau kasih kejutan buat Ardha dan Alana, tapi malah dia telfon kalian buat ke sini?”
“Ih aku sama Lina memang mau ke sini, mau Lina mau liburan, dan aku ada pekerjaan, jadi sekalian bareng. Fatih, Acha, Shaka saja mereka memang sengaja mau liburan ke sini kok,” ucap Zhafran.
Rumah Ardha sangat ramai sekali semua saudaranya di rumah mereka, katanya mereka memang mau liburan, dan ternyata mereka janjian sudah sewa vila, ke rumah Ardha hanya untuk main dan pengin ketemu Askara.
“Jadi kalian sudah sewa vila buat liburan?” tanya Alana.
“Iya, kan memang rencananya liburan? Terus nanti ke sini, karena kangen kalian,” jawab Acha.
__ADS_1
Alana bahagia sekali semua keluarganya berkumpul di rumahnya sore ini. Ardha pun sama, apalagi melihat Zhafran yang sudah lumayan baikan sama Zhalina, sejak Zhafran meninggalkan Alana, semua menjadi menjauhi Zhafran, pun dengan kedua orang tuanya. Arkan juga menjadi cuek dengan Zhafra, tapi tadi melihat Zhafran memberikan perhatian lebih pada papinya, dan papinya juga menerima nasihat Zhafran dengan baik, Ardha merasa lega, kakaknya sudah tidak di cueki lagi oleh papi, mami, dan Zhalina.
^^^
Alana bahagia sekali, bisa berkumpul dengan keluarganya lagi. Setelah puluhan tahun terpisah dari orang tua kandunghnya, kini dia bisa berkumpul lagi bersama orang tua kandung dan kakak-kakak kandungnya. Alana bersyukur, dirinya di kelilingin orang-orang yang begitu mencintainya. Papa dan mamanya, ibu angkatnya, suami, dan saudara-saudaranya begitu menyayangi Alana.
Meski puluhan tahun tidak bertemu, tapi mereka benar-benar mencintai dan menerima Alana dengan tulus.
Pun dengan Devan dan Nadia. Puluhan tahun menanti anak kandungnya yang hilang, akhirnya bertemu juga. Dan, ia tidak menyangka kalau anak kandungnya itu adalah Alana. Ayleen adalah Alana, gadis yang ia sayangi, meski belum tahu kalau Alana itu anak kandungnya.
^^^
P.O.V Alana
Aku tidak tahu harus bahagia yang bagaimana lagi. Sekarang aku memiliki keluarga yang benar-benar mencintaiku dan menyayangiku. Papa, mama, ibu, suamiku, Askara dan kakak-kakakku, juga budhe dan Iwan. Mereka adalah harta yang paling berharga dalam hidupku.
Setelah ribuan purnama aku mencar siapa orang tua kandungku, akhirnya aku bertemu, dan pertemuan itu adalah pertemuan yang paling mengharukan. Di saat aku terpuruk karena aku dikhianati suami, dan aku tengah berbadan dua, mereka hadir melengkapiku. Ibu akhirnya menjelaskan siapa orang tua kandungku. Meski awalnya aku kecewa karena puluhan tahun ibu menutupinya, tapi aku sadar, ibu melakukan itu karna ibu takut kehilangan aku. Aku memakluminya, mungkin aku juga akan begitu. Puluhan tahun tidak memiliki anak, sekali menemukan anak, tidak mungkin ingin melepaskannya.
Meski ibu hanya ibu angkatku, beliau begitu menyayangiku, ibu adalah orang yang membuat hidupku kuat menghadapi apa pun. Kuat menghadapi pengkhiantan suamiku juga saat dulu. Meninggalkan aku, saat aku tengah hamil Askara.
Sekarang hidupku jauh lebih baik, saat aku temukan sosok lelaki yang begitu tulus mencintaiku. Dialah Ardha, adik kandung mantan suamiku. Lucu kedengarannya. Menikah dengan mantan adik ipar. Tidak menyangka Ardha begitu mencintaiku, sejak pertama kali bertemu denganku. Dia memendam rasa bertahun-tahun, hingga aku akan menikah dengan kakaknya pun dia belum mengungkapkan rasa cintanya padaku. Aku bahagia memilikinya.
Aku melihat keluar, ke teras rumahku yang ramai saudara-saudaraku dan Ardha yang sedang berlibur di kotaku. Mereka sedang berkumpul, bercerita, bercanda tawa, dan bahagia.
“Sayang ... bahagia ya melihat mereka akur?” ucap Mas Ardha sambil memelukku dari belakang.
“Iya, mereka begitu kompak sekarang,” jawabku.
“Semua ini karena kamu, Sayang,” ucap Mas Ardha.
“Karena aku?”
“Iya, karena kamu bisa mendamaikan mereka semua, kamu yang bisa mempererat tali persaudaraan mereka. Meski kami masih satu keluarga besar, tapi kami jarang sekali berkumpul sehangat itu. Ada acara apa pun tidak sehangat ini nuansaya,” ujar Mas Ardha.
“Bukan, Mas. semua ini bukan karena aku, tapi lihat ke sana, semua bisa tertawa bahagia karena ada Askara di tengah-tengah mereka,” ucapku.
“Iya benar, Lan. Ada Askara, jadi mereka bahagia. Askara membawa perdamaian bagi semuanya.” Ujar Mas Ardha.
Meski aku jauh dari mereka semua, tapi rasanya sebulan sekali rumahku ramai karena kedatangan mereka. Mereka selalu menyempatkan waktu untuk ke sini menengok kami, menanyakan keadaan kami. Mungkin karena kami paling jauh sendiri dari mereka, jadi mereka sering ke sini, menjenguk kami, karena memang kami jarang sekali pulang ke Jakarta.
Aku malas saja kalau sering pulang ke Jakarta, kecuali kalau sedang ada keperluan, kalau tidak ya di sini. Jakarta bagiku kota penuh luka. Di sana aku merasakan pengkhianatan yang dalam sekali. Tapi sudahlah, semua sudah berlalu. Dan aku di sini sudah menemukan bahagiaku.
Semua orang berhak bahagaia, aku pun juga. Biar semua kenangan di kota itu menghilang sendiri, tanpa aku menapaki hidup di sana.
“Aku beruntung memilikimu, Sayang,” bisik Mas Ardha.
“Aku juga beruntung memilikimu, Mas. Terima kasih untuk sejuta cinta yang kau persembahkan untukku. Aku tidak tahu jika aku tidak bertemu kamu, setelah aku mengalami patah hati karena kakakmu. Sejak aku mengalami patah hati yang benar-benar menghancurkan hidupku aku mencoba mengalihkan pikiranku darimu, aku terlalu takut patah hati lagi. Tapi, hidup seharusnya mampu berjalan seperti biasanya, kan? Karena aku sadar, bukan ragaku yang patah. Hanya hatiku saja, dan kau berhasil merakit hatiku yang patah itu, menjadi sempurna seperti sekarang.” Aku mencium tangan Mas Ardha.
Bagian yang tersulit bukanlah patah hati. Namun, bagian yang tersulit adalah saat kita sedang menjalani patah hati itu sendirian. Tidak ada teman yang menemani untuk bertukar pikir. Saat betemu Ardha, kepingan hati yang lara karena sudah patah, berhasil terakit kembali dengan cinta yang Ardha persembahkan untukku. Cinta yang tulus dan tanpa pamrih.
__ADS_1