
“Iya, Pi. Askara anaknya Alana, anaknya Kak Zhafran juga,” jawab Ardha.
“Jadi kamu sudah bertemu Alana?” Ardha hanya mengangguk saja. “Sejak kapan?” tanya Arkan lagi.
“Sejak kandungan Alana masuk bulan ke tujuh, ya kira-kira di kandungan Alana umur segitu,” jawab Ardha.
“Apa itu alasan kamu tidak pernah pulang ke rumah?”
“Iya, aku ingin menemani Alan, Pi. Sampai Alana melahirkan, sekaranh usia Askara sudah jalan enam bulan,” jelas Ardha.
“Lalu kenapa Devan tadi menyebut nama Askara juga? Apa dia tahu soal Alana yang sudah melahirkan?”
Arkan terus bertanya pada Ardha soal Alana, dan kenapa Devan sepanik itu tadi, dengan menyebut nama Askara, dia langsung pulang begitu saja.
“Om Dev dan Tante Nadia, mereka orang tua kandung Alana, Pi,” jawab Ardha.
“Ma—maksudmu? Alana itu?”
“Iya, Alana adalah Ayleen, bayi Om Dev dan Tante Nadia yang hilang saat itu,” cetus Ardha.
“Jadi Alana itu? Astaga ....” Arkan tidak menyangka Alana itu anak Devan yang hilang dulu.
“Papi jangan bilang-bilang sama yang lain ya, Pi? Alana sebenarnya tidak memperbolehkan Ardha cerita dengan siapa pun, Pi. Apalagi dengan Kak Zhafran, dia melarang sekali, Pi” pinta Ardha.
“Iya, papi janji tidak akan bilang pada Zhafran. Tapi, mamimu juga harus tahu, Ar,” ucap Arkan.
“Iya, mami tahu tidak masalah.”
“Papi ingin bertemu dengan Alana, Ar.”
“Nanti ya, Pi? Ardha cari waktu, Ardha juga akan bilang pada Alana dulu, mau tidak dia ketemu papi dan mami,” jawab Ardha.
Ardha menceritakan semuanya, menceritakan pertemuaanya dengan Alana di Jogja pada papinya. Ardha juga menceritakan kedekatannya dengan Alana, meski Alana belum mengiyakan untuk menerima cintanya, setidaknya Alana sudah memberikan lampu hijau pada Ardha, hanya dia belum siap saja untuk memulai lembaran baru dengan Ardha. Dia masih sedikit trauma untuk memulai hidup baru.
“Ardha nanti malam pamit pulang ke Jogja ya, Pi?”
“Kamu yakin nanti malam kamu akan pulang?” tanya Arkan.
“Iya, Pi. Biar besok pagi-pagi aku sampai, mungkin Om Dev, Tante Nadia, dan Fatih sudah berangkat tadi,” jawab Ardha.
“Ya sudah, kamu hati-hati, istirahat dulu, nanti malam kamu akan perjalanan jauh,” tutur Arkan.
__ADS_1
Arkan keluar dari kamarArdha. Dia tidak menyangka Ardha sudah lama bertemu dengan Alana, dan dia sama sekali tidak memberitahukan pada dirinya soal pertemuannya dengan Alana.
Arkan masuk ke kamarnya, ia melihat istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tamu di depan hanya tinggal Tamu Zhalina dan suaminya saja, jadi Thalia masuk ke dalam.
“Papi ini dari mana saja?” tanya Thalia yang baru melihat suaminya.
“Dari kamar Ardha, papi ngobrol sama Ardha,” jawab Arkan.
“Tadi Pak Yusuf mau pamit, papi malah gak ada?” ucap Thalia.
“Iya, papi terlalu asik dengar cerita Ardha mi,” jawabnya.
“Hmm ngobrol apa sih sampai lupa waktu?” tanya Thalia penasaran.
Arkan menggamit tubuh istrinya, lalu mengajaknya duduk di sofa yang ada di kamarnya. Thalia penasran apa yang akan dibicarakan suaminya itu.
“Sepertinya papi ini mau bicara serius?” ucap Thalia.
“Iya ini sangat serius, tapi papi mohon sama mami, mami jangan cerita ke siapa-siapa ya, Mi? Hanya kita berdua yang tahu,” ujar Arkan.
“Iya, memang papi mau bicara apa?” Thalia sangat penasaran dengan suaminya.
“Mami lihat ini.” Arkan memperlihatkan foto Alana sedang menggendong anak laki-laki, dan di sebelahnya adalah Ardha.
Mata Thalia mengembun menatap foto tersebut, ia sesekali menatap suaminya, seakan tidak percaya potret itu menunjukkan Alana dan anaknya.
“Pi, i—ini Alana?” tanya Thalia dengan parau.
“Iya, itu Alana, dengan anaknya. Anaknya laki-laki, kita punya cucu laki-laki, Mi. Namanya Askara.” Arkan memeluk Thalia dan menyeka air matanya yang luruh karena bahagia bercampur haru.
“Ini Ardha sudah ketemu Alana dari kapan, Pi?” tanya Thalia.
“Katanya dari usia kandungan Alana enam atau tujuh bulanan. Sepupunya Alana ternyata orang kepercayaan Ardha, pas diundang makan malam di rumah sepupunya, ternyata Alana tinggal di situ,” jelas Ardha.
“Kenapa Ardha tidak memberitahukan kami sih?”
“Karena Alana belum siap untuk diketahui keberadaannya oleh kita, Mi. Mami pasti tahu perasaan Alana bagaimana, kan?” ujar Arkan.
“Iya juga sih, mami tahu perasaan dia.”
“Makanya hanya kita yang tahu saja ya mi? Jangan bilang ke Zhafran atau Zhalina, biar nanti saja kalau sudah saatnya mereka tahu,” jelas Arkan.
__ADS_1
“Iya, mami tidak akan memberitahukan itu, Pi. Tapi, mami ingin bertemu Alana, Pi,” pinta Thalia.
“Sabar ya, Mi? Nunggu Ardha bicara pada Alana, dia mau tidak ketemu sama kita,” jawab Arkan. “Oh iya, mami harusl lagi, dan ini mungkin akan membuat mami sedikit tidak percaya,” ucap Arkan yang membuat Thalia makin penasaran.
“Jadi, Alana itu anaknya Nadia dan Devan yang hilang, Mi. Dia Ayleen,” ucap Arkan. Thalia menatap suaminya penuh arti, dia benar-benar tidak percaya apa yang dikatakan suaminya.
“Papi gak bohong, kan?”
“Untuk apa papi bohong? Ardha yang bilang semuanya, Mi. Apa mami tadi gak curiga Devan dan anak-anaknya langsung pulang dengan wajah yang panik?”
“Iya, tadi Shaka dan Acha juga panik sekali pas mau pulang, Pi,” jawab Thalia.
“Iya itu karena Askara sedang sakit, Mi. Dia sedang demam, makanya nanti malam Ardha akan ke Jogja lagi. Alana dari tadi telefon Ardha, Askara nangis terus, dan infusnya dilepas terus sampai tiga kali, kata sepupunya Alana, pasti Askara maunya sama Ardha, soalnya kalau Askara rewel, Ardha yang menemaninya terus,” jelas Arkan.
“Mami pengin sekali ke sana, Pi, pengin lihat Alana dan Askara,” ucap Thalia dengan tatapan sendu, karena merindukan Alana.
“Sabar ya, Mi? Nanti biar Ardha cari waktu dulu untuk bicara dengan Alana, dan tentunya kalau Alana mau juga,” jawab Arkan.
“Semoga Alana mau bertemu kita ya, Pi?”
Thalia bahagia sudah tahu kabar menantunya yang hilang itu. Iya, meski Alana sudah bukan istri dari Zhafran, Thalia tetap menganggapnya sebagai menantu, bahkan dia sudah menganggap Alana seperti anak perempuannya sendiri.
^^^
Tepat pukul dua dini hari, Nadia dan Devan sampai di Rumah Sakit tempat di mana Askara di rawat. Fatih juga ikut menemani mama dan papanya ke Jogja. Nadia dan Devan mempercepat langkah kakinya menuju ke ruang perawatan Askara. Nadia melihat Iwan sedang menggendong Askara yang sedang menangis. Askara belum tidur sama sekali, Alana sampai takut sendiri putranya seperti itu, biasanya sakit juga tidak seperti itu.
“Sayangnya oma ... sini sama oma ya, Sayang?” Nadia mencoba mengambil Askara dari gendongan Iwan, tapi Askara menepis tangan Nadia.
“Sama opa ya? Sini cucu opa yang tampan, ayo ikut opa.” Askara langsung merentangkan tangannya dan minta digendong Devan.
Askara sejenak bisa diam di gendongan Devan. Devan mengusap punggung Askara sampai Askara tertidur di gendongannya.
Alana menyandarkan kepalanya di bahu Nadia. Dia menceritakan semuanya dari kemarin malam Askara rewel, tidak mau tidur dan demam sampai semua panik.
“Kamu yang sabar, ini moment yang sangat dirindukan jika kelak anakmu sudah dewasa dan sudah menikah, kalau sakit bukan ibu lagi yang urus tapi pasangannya. Kamu harus kuat, jangan ikut nangis dan panik. Askara sakit begini mungkin akan tambah pintar, biasanya kalau mau pintar apa, bayi pasti demam atau apa,” tutur Nadia.
“Iya semalam ibu juga bilang sama aku begitu, Ma. Tapi aku kan panik, Ma,” ucapnya.
“Sudah jangan panik, tuh Askara sama opanya diam,” ucap Nadia.
Semalam Alana juga sangat panik, dia hanya bisa menangis, apalagi ini adalah momen awal dia menjadi seorang ibu, jadi pasti emosinya belum stabil kalau melihat anaknya rewel sampai demam.
__ADS_1