Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Cinta Yang Tulus


__ADS_3

Ardha menemui Fatih malam-malam, setelah Alana dan Zhafran pulang dari makan malam di rumahnya. Ia tidak peduli sudah hampir larut, tapi ia rasa harus menemui Fatih secepatnya soal masalah Alana. Apalagi Fatih tidak membahas Alana selama ini, dan Ardha yakin Fatih belum tahu soal Alana yang akan menikah dengan kakaknya.


Ardha menghubungi Fatih terlebih dahulu, dan beruntung Fatih malam ini belum pulang dari kantor, karena ada pekerjaan yang belum selesai, jadi ia lembur di kantor. Ardha langsung mengambil kunci motornya saat Fatih bilang mau menemuinya di cafe yang dekat dengan kantornya. Ardha mengambil jaker dan helmnya, ia memilih mengendarai sepeda motor, karena lebih santai, dan tidak ribet. Arkan dan Thalia yang masih di ruang keluarga, melihat Ardha yang gugup memakai jaket dengan memegang helm dan kunci motor.


“Ar, kamu mau ke mana? Kamu itu seperti gak betah sekali di rumah? Ini sudah mau jam sebelas, kamu mau keluar? Mau pulang jam berapa, hah?” tanya Arkan.


“Iya, kamu seperti gak ada waktu saja, malam-malam keluyuran? Mau menemui siapa, sih? Pacarmu? Besok kan masih ada waktu, Ar? Masa mau menemui perempuan jam segini?” ujar Thalia.


“Mami, Papi, aku mau ketemu Fatih, sebentar, ada urusan mendadak,” jawab Ardha.


“Ini sudah malam, mana mungkin Fatih mau ketemu kamu, Ar?” ujar Arkan.


“Pi, tadi baru saja Ardha telefonan sama Fatih kok, papi telefon saja Fatih kalau gak percaya. Udah mi, pi, tenang saja, Ardha sama Fatih beneran kok. Uregent pokoknya. Ardha pamit ya, Mi, Pi?” Pamit Ardha dengan terburu-buru. Ia benar-benar ingin menceritakan semuanya pada Fatih soal Alana dan kakaknya.


Ardha melajukan sepeda motornya ke tempat yang diberitahukan Fatih. Ardha yakin Fatih tidak tahu menahu soal ini, kalau Fatih tahu, pasti Fatih akan memberikan kabar jauh-jauh hari pada dirinya.


Ardha sudah sampai di tempat di mana ia janjian dengan Fatih. Di Cafe milik Om nya Fatih. Ardha langsung masuk ke dalam cafe, mencari di mana Fatih duduk. Ardha langsung melihat Fatih, karena Fatih melambaikan tangan ke arahnya. Ardha segera mendekati Fatih dengan langkah cepat, lalu ia langsung duduk di depan Fatih.


“Kak Ardha ini kesetanan apa sih? Tiba-tiba mau ketemu aku malam-malam gini? Sudah mau jam sebelas lho kak?” tanya Fatih penasara.


“Kau belum memesankan minum untukku, Tih?” tanya Ardha.


“Belum, mau pesan?”


“Iya lah, samain saja seperti minumanmu,” jawab Ardha. Fatih langsung memesankan pada pelayan cafe.

__ADS_1


“Ini ada apa sih? Kayaknya urgent banget, Kak?” tanya Fatih.


“Kamu sudah tahu soal Alana?” tanya Ardha.


“Alana, tahu masalah apa ini?”


“Ya berita tentag Alana?” jawab Ardha.


“Berita apa? Alana memang kenapa? Sepertinya dia baik-baik saja? Toh minggu kemarin dia ke salon sama mama dan Kak Acha? Mereka sering pergi bareng, aku tahunya Cuma itu, dan sekarang di ngontrak katanya, tapi memang kami belum tahu di mana kontrakan Alana, soalnya mama itu suka banget sama Alana, setiap mama meminta Alana ke rumah, Alana langsung menurutinya, meski tidak ada aku di rumah,” jelas Fatih.


“Permisi, pesanan minumnya, Pak,” ucap pelayan. Obrolan mereka terjeda karena ada pelayan yang mengantar pesanan Ardha.


“Iya terima kasih, Mbak,” jawab Fatih.


“Jadi kamu hanya tahu itu saja kabar soal Alana? Kalau soal Alana mau menikah?” tanya Ardha.


“Siapa yang halu sih, Tih? Ini benar Alana mau menikah, dan kamu tahu siapa calon suaminya?” ujar Ardha.


“Ya mana kutahu? Aku saja gak percaya Alana mau menikah?” jawab Fatih.


“Kak Zhafran?” Ucap Ardha dengan tatapan kosong.


“Maksud kamu Kak Zhafran kenapa, Kak?” tanya Fatih semakin penasaran.


“Ya Kak Zhafran  calon suami Alana,” jawab Ardha.

__ADS_1


“Maksud Kak Ardha, calon suami  bagaimana sih?”


“Ya Kak Zhafran calon suami Alana. Mereka mau menikah,” jawab Ardha.


“Ah ngaco kakak ini, masa iya Alana mau sama duda?” ujar Fatih gak percaya.


“Ngaco bagaimana? Kalau aku ngaco, aku gak akan ke sini malam-malam menemui kamu, Tih? Aku kira kamu ini yang bakal ngedapatin Alana, tapi kenapa malah Kak Zhafran? Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba sama Kak Zhafran. Aku padahal besok sudah menyiapkan semuanya, mau memberikan kejutan pada Alaan, dan akan melamarnya. Tapi, ternyata perempuan yang akan dikenalkan Kak Zhafran itu Alana? Kenapa jadi seperti ini, Fatih? Kalau dia sama kamu, dan memang cinta sama kamu, aku tidak masalah. Aku rela, toh memang kita sedang berusaha memperebutkan hati Alana? Tapi kenapa malah Kak Zhafran? Kenapa bukan kamu saja, Tih?” ucap Ardha dengan kacau. Ia meremas rambutnya, ia masih belum percaya kalau Alana akan jadi kakak iparnya.


“Gak lucu sekali, aku memanggil Alana dengan sebutan kakak. Orang yang aku cintai akan menjadi kakak iparku, Tih. Ini bagaimana ceritanya?” desah Ardha kacau.


Fatih hanya diam. Ia tahu saudaranya memang sangat mencintai Alana. Dia pun sama, tapi cinta untuk Alana, bukan cinta untuk kekasih, melainkan cinta Fatih untuk Alana karena ia menganggap Alana adiknya. Ia selalu mengingat Ayleen jika dengan Alana. Rasanya ingin sekali mengungkapkan perasaan cintanya, tapi seperti ada tembok besar yang menghalanginya saat ingin mengungkapkan perasaannya pada Alana.


“Kenapa bukan kamu saja yang denga Alana, Tih? Jangan kakakku. Aku tahu kakakku bagaimana. Aku ragu dia benar-benar mencintai Alana atau tidak. Aku takut Alana disakitinya,” ujar Ardha.


“Gak akan mungkin Kak Zhafran seperti itu, Kak. Sudah jangan berpikiran macam-macam. Lagian aku belum berani menyatakan pada Alana. Makanya aku cuek kalau dia ke rumah ya sekedar menyapa saja, gak lebih. Gak tahu rasanya  aneh. Aku mencintai Alana, tapi bukan mencintai layaknya ingin memiliki Alana, aku mencintai dia seperti aku mencintai Kak Acha, dan Shaka. Seperti adikku sendiri, entah kenapa aku menganggap Alana itu Ayleen, adikku yang hilang,” jelas Fatih.


“Kenapa kamu begitu?” tanya Ardha.


“Ya gak tahu aku bisa kepikiran Alana itu Ayleen. Kalau sama dia aku itu rasanya sayang banget, pengin melindungi dia. Bukan pengin memilikinya sebagai kekasih.”


“Memang Ayleen selama ini belum ada tanda-tanda ketemu, Tih?”


“Ya begitu, sampai sekarang kita semua satu keluarga gak tahu di mana Ayleen. Dia masih ada apa sudah tidak ada,” ucap Fatih dengan tatapan nanar.


“Aku harus gimana, Tih? Aku sangat mencintai Alana,” ucap Ardha.

__ADS_1


“Aku tahu, tapi mau bagaimana lagi, Kak?” jawab Fatih.


Fatih melihat sorot mata Ardha menyiratkan begitu banyak cinta untuk Alana, cinta yang tulus, dan Fatih yakin Ardha tidak main-main dengan perasaannya.


__ADS_2