Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Kecurigaan Zhafran


__ADS_3

“Kamu beneran gak pengin pulang ke Jakarta, Lan?” tanya Fatih.


“Belum kepikiran, Kak. Aku lebih tenang dan nyaman di sini,” jawab Alana. “Kalau aku di Jakarta ibu gimana? Aku masih ingin sama ibu, walau bagaimana pun, aku besar dengan ibu, dari bayi sampai sekarang. Memang ibu salah, tapi aku sangat menyayangi ibu, Kak,” lanjutnya.


Alana memang belum ingin kembali ke Jakarta, dia tidak mau meninggalkan ibunya, meski nanti kalau ke sana ibunya turut serta, tapi Alana benar-benar masih ingin di Jogja.


“Pulanglah, Lan. Ibu di sini ada budhemu,” ucap Arofah yang mendengar percakapan Alana dan kakak-kakaknya.


“Alana gak mau pulang, mau di sini sama ibu, atau mungkin kita pulang ke desa saja ya, Bu?”


“Alana ... kamu sudah bertemu dengan mama dan papamu, juga kakak-kakakmu, pulanglah, Nak.”


“Enggak, Bu. Ibu sama siapa kalau aku pulang ke rumah mama? Aku juga belum ingin pulang, belum saatnya, Bu. Suatu hari nanti aku akan pulang,” jelas Alana.


“Kalau Alana pulang, ibu juga harus ikut dong? Ibu kan ibunya Alana? Berarti ibu kami juga,” ucap Acha.


“Ibu itu sudah tua, nanti merepotkan kalian. Biar ibu di sini saja dengan budhe dan Iwan,” jawab Arofah.


“Lagian kalian ajak-ajak Alana pulang terus? Dia masih ingin di sini, paham dong dengan hati Alana?” ujar Ardha.


“Kamu saja yang masih ingin Alana lama-lama di sini!” tukas Fatih.


“Ya gak gitu? Aku di sini saja ketemu Alana sebentar-sebentar kok, apalagi aku sibuk dengan kerjaan, tanya saja Iwan. Ini saja aku tahu kalian pada mau ke sini, jadi aku usahakan pulang cepat,” jelas Ardha.


“Sepertinya Kak Lina bulan depan mau menikah, ya?” tanya Acha.


“Iya, katanya. Aku nanti pulang saja tidak lama, paling pas acara sama besoknya, aku kerjaan banyak sekali, Cha,” jawab Ardha.


“Kamu yang dipentingin pekerjaan mulu. Kamu sejak tahu aku di sini gak pernah pulang lho Ar? Memang gak kangen sama mami-papi? Sama Nina juga?” tanya Alana.


“Ya kangen sih, Cuma bingung saja kalau ditanya Nina. Nina masih menagih janji padaku,” jawab Ardha.


“Janji apa?”


“Mau cari kamu sampai ketemu. Dia sampai sekarang saja gak mau nyapa mama sama papanya. Ya nyapa biasa saja, tapi gak mau lama-lama dengan mama dan papanya. Dia lebih sering sama Kak Lina dan mami,” jelas Ardha.


“Aku juga kangen dengan Nina sebetulnya, tapi aku belum mau pulang, rasanya gimana menginjakkan kaki di sana lagi. Aku belum siap,” ucap Alana.


Ardha sebetulnya ingin mengajak Alana pulang saat Zhalina menikah nanti, tapi dia tahu bagaimana Alana, perasaannya masih belum stabil kalau harus kembali pulang ke Jakarta.


^^^


Ardha pamit dengan Alana untuk pulang ke Jakarta, karena Zhalina akan menikah. Ardha sudah mengajak Alana, tapi Alana tetap tidak mau pulang.


“Wan, titip Alana sama Askara, ya?”


“Siap, Bos! Tenang saja mereka aman sama aku,” jawab Iwan.


“Om berangkat ya, Sayang?” Ardha mencium pipi dan kening Askara. Kalau di depan Fatih, Shaka, dan Devan, Ardha memang sengaja mengajari Askara memanggil ayah padanya, itu semua biar kakaknya Alana, dan papanya Alana sewot dengan dirinya. “Lan aku pulang dulu, ya? Jaga diri baik-baik, jangan kecapean. Aku gak lama kok paling dua atau tiga hari.” Pamit Ardha pada Alana.


“Iya kamu hati-hati, ya? Fotoin Nina, ya? Sama Kak Lina juga,” pinta Alana.


“Oke, gak sekalian Kak Zhafran?” ledek Ardha.


“Kalau aku minta, nanti ada yang cemburu?” Alana balas meledek Ardha.


“Kamu bisa saja, Lan. Iya aku cemburu,” jawab Ardha.


“Gak usah cemburu, lagian aku sudah sangat kecewa, marah, dan mungkin benci, tapi bagaimana pun dia itu ayahnya Askara. Ya sudah, biar saja. Aku sial sekali bertemu dengan orang seperti kakakmu,” ucap Alana.


“Sudah jangan ditekuk mukanya. Aku berangkat, ya?” Ardha mengusap kepala Alana, lalu mencium Askara lagi.


“Emaknya gak dicium sekalian, Ar?” gurau Iwan.


“Hussh ... jangan, belum resmi. Kalau sudah resmi jadi calon istriku nanti aku cium,” jawab Ardha.


“Buruan resmikan dong?” ujar Iwan.


“Tanya adik sepupumu tuh? Mau diresmikan kapan?” jawab Ardha.


“Dua kakakku saja belum menikah Ardha? Sabar ....” Ucap Alana dengan mengusap lengan Ardha.


“Aku sabar kok, sampai nungguin kamu jadi janda saja aku sabar, Alana ... sabar pakai banget lho aku ini?” ucap Ardha.


“Sudah buruan sana berangkat, biar kamu cepat pulang lagi,” titah Alana.

__ADS_1


“Okay ... bye ....”


^^^


Ardha sudah sampai di rumahnya. Teras rumahnya sudah disulap dengan pelaminan yang super megah. Ardha langsung masuk dan mencari maminya yang sangat ia rindukan.


“Mi ... mami ... Ardha pulang, Mi?” Ardha sedikit teriak memanggil maminya.


“Om Ardha ....!” Nina langsung berlari saat melihat Ardha pulang. Ia berhambur ke pelukan Ardha.


“Nina ... om kangen sekali ....” Ardha memeluk erat Nina lalu menciumi pipinya. “Sudah gede ternyata keponakan om? Makin cantik saja sih, ini yang dandanin kamu gini siapa?” tanya Ardha.


“Tante Vania, pacarnya Om Shaka,” jawab Nina.


“Om Shaka sudah di sini?” tanya Ardha.


“Iya, sama Om Fatih, sama Opa Dev, dan Oma Nadia juga,” jawab Nina. “Om, katanya mau ajak bunda pulang? Om belum ketemu bunda, ya?” tanya Nina.


“I—iya, Sayang. Maafin om, ya? Om belum bisa menemukan bunda. Om yakin nanti bunda akan ketemu. Kamu berdoa, ya? Ayo om diantar ke oma, oma di mana?” tanya Ardha.


“Ardha?”


“Mami ... i miss you so much.” Ardha langsung berhambur memeluk maminya.


“Miss you too, Sayang ... kamu ini gak pernah pulang apa tidak kangen mami? Satu tahun lebih kamu tidak pulang, Ardha?” Thalia menciumi pipi putra bungsunya itu. “Tega kamu, ya? Mami tahu kamu marah sama kakakmu, tapi gak gini? Masa sampai setahun lebih kamu gak pulang?” Thalia tidak bisa lagi membendung air matanya. Dia sangat merindukan putra bungsunya itu.


“Mami jangan nangis, Ardha sudah pulang ini, Mi? Ardha banyak pekerjaan, Mi, jadi Ardha belum sempat pulang. Bukan Ardha marah dengan Kak Zhafran, tapi pekerjaan Ardha banyak sekali,” ucap Ardha.


“Kamu sudah menemukan Alana, Nak?” tanya Thalia. Ingin rasanya Ardha menjawab sudah, dan sekarang cucunya mami sudah besar, sangat tampan dan lucu. Tapi, ia ingat Alana, Alana belum ingin keberadaannya diketahui oleh keluarganya.


“Belum, Mi. Sabar ya, Mi? Nanti Ardha akan cari Alana,” jawab Ardha.


“Mami sama papi ke desanya Alana, tapi rumahnya sudah kosong, katanya ibunya Alana sedang di rumah saudaranya untuk merawat saudaranya yang sakit,” jelas Thalia.


“Iya, Ardha juga pernah ke sana, Mi. Tapi rumah mereka kosong,” ucap Ardha.


“Alana pasti sudah melahirkan, pasti anaknya sudah sekitar tujuh bulan usianya. Dan sedang lucu-lucunya bayi seusia itu,” ucap Thalia.


“Iya, Mi, Alana sudah melahirkan, cucu mami sangat lucu, menggemaskan, dan sangat tampan. Namanya Askara. Mami tahu, Alana itu anaknya Om Dev dan Tante Nadia yang hilang sejak bayi. Dan, kata mereka Askara mirip dengan Ardha, tidak mirip Kak Zhafran, padahal lebih tampan Kak Zhafran ya, Mi?” Ucapan Ardha itu hanya terlintas di batin saja.


“Iya Ar. Mami merasa bersalah sekali, Ar. Harusnya mami bisa mencegah Alana supaya tidak pergi,” ucap Thalia.


“Sudah, mami gak usah menyesal. Yuk mana papi sama Kak Lina?”


“Di sana semua sedang kumpul di belakang, ada Om Dev sama Tante Nadia, Fatih, Acha, dan Shaka juga di sini, lega mami Fatih mau lamaran,” ucap Thalia.


“Iya deh bagus, biar nanti nikah, kasihan Shaka yang dah ngebet kawin,” ucap Ardha. “Aku juga dong? Biar bisa cepat-cepat halalin Alana,” ucap Ardha dalam hati.


Ardha ke belakang menyusul maminya setelah menaruh tasnya di dalam kamar. Ia sudah rindu dengan kakak perempuannya juga papinya. Ardha bergabung dengan mereka di teras belakang.


“Ardha ... kamu ini sesibuk apa sampai lupa jalan pulang, hah?” ucap Arkan.


“Bukan lupa, Pi. Ardha lagi mewujudkan mimpi Ardha saja. Sejauh apa pun Ardha pergi, dan selama apa pun Ardha tidak pulang, jangan khawatir, Ardha pasti pulang, Pi,” ucap Ardha.


“Maafkan papi, ya?” ucap Arkan dengan memeluk Ardha. “Papi sayang sekali sama kamu, sayang sekali ... jangan pernah merasa papi banding-bandingin kamu, papi sayang anak-anak papi. Papi minta maaf sama kamu, mungkin papi terlalu cuek dan mengabaikan kamu. Maafkan papi,” ucap Arkan dengan meta yang mengembun.


“Papi jangan melow gini ah, gak seru, Pi,” ucap Ardha.


“Kamu ini kelihatannya bahagia sekali kepulanganmu ini?” tanya Arkan.


“Bagaimana aku tak bahagia? Kakak perempuanku mau menikah?” jawab Ardha.


Ardha beralih melihat Zhalina lalu memeluknya. “Aku kangen kamu, Ar,” ucap Zhalina. “Sama kak,” jawab Ardha.


“Kamu gak kangen sama aku, Ar? Atau kamu masih marah soal Alana?” Zhafran mendekati adik laki-lakinya itu.


“Aku kangen sama kakak. Masalah itu sudah lah jangan bahas lagi, kakak sudah bahagia dengan pilihan kakak, dan Alana juga pasti bahagia, di mana pun dia sekarang,” jawab Ardha,


“Kamu sudah mencarinya?”


“Sudah, aku yakin pasti aku bisa bertemu dia,” jawab Ardha.


“Kakak minta maaf, Ar,” ucap Zhafran.


“Sudah kak, semua itu sudah berlalu, aku sudah memaafkan kakak, kakak hanya perlu minta maaf pada Alana, dan anak kakak kelak,” ucap Ardha.

__ADS_1


Zhafran terdiam mendengar ucapan Ardha. Iya suatu hari nanti dia harus minta maaf pada Alana dan anaknya kelak.


^^^


Keesokkan harinya, semua sudah bersiap untuk menyaksikan acara pernikahan Zhalina. Semua keluarga berkumpul, dan satu persatu memberikan selamat pada Zhalina dan suaminya. Mereka juga berfoto dengan pengantin di atas pelaminan yang megah.


Ardha samar-samar mendengar ponselnya berdering. Ia langsung mencari tempat yang agak sepi untuk mengangkat telefonnya. Ia melihat nama Iwan menelefonnya


“Ada apa, Wan? Ada masalah kantor atau Askara?” tanya Ardha.


“Kantor aman, Ar. Tapi, Askara sakit, dari semalam dia demam, Ar. Ini mau dibawa ke rumah sakit, dari semalam dia tidak tidur,” jelas Iwan.


“Tolong kamu urus dulu, aku akan pulang setelah acara selesai! Makasih, Wan,” ucap Ardha.


Ardha bergegas ke dalam, ia langsung ke kamarnya dan menata baju-bajunya untuk pulang setelah selesai acara. Ardha mencari Fatih untuk memberitahukan keadaan keponakannya.


“Askara demam, dia mau dibawa ke rumah sakit, Tih,” bisik Ardha.


“Kamu jangan bercanda, Ar!” jawab Fatih tidak percaya.


“Ini gimana, Tih? Aku gak bisa meninggalkan acara ini, paling tidak nanti malam aku baru bisa berangkat?” bisik Ardha.


“Aku bilang papa dulu, ya? Sudah kamu tenang,” jawabnya.


Fatih mencari papa dan mamanya, untuk memberitahukan Askara yang sedang sakit, dan akan dibawa ke rumah sakit. Fatih memberitahukan papanya dengan berbisik, Devan tahu di dekatnya ada Arkan, Thalia, Zhafran, dan Binka, jadi Fatih bicara dengan berbisik.


“Papa akan berangkat ke sana sekarang,” ucap Devan lirih.


“Ya sudah ayo pamit, aku ikut, Ardha bisanya nanti malam atau besok baru berangkat,” ucap Fatih.


Devan mengajak Nadia untuk pulang, dari tadi Arkan curiga dengan Fatih yang bicar dengan berbisik, tadi juga dengan Ardha seperti itu.


“Kalian bisik-bisik apa sih?” tanya Arkan pada Fatih.


“Gak apa-apa, papa gak dengar aku bicara karena ramai, Om,” jawab Fatih.


“Iya, gak dengar dia ngomong apa, banyak musik, rame,” ucap Devan.


“Acha, Shaka, kalian di sini saja dulu, ya? Papa sama Fatih ada urusan sebentar, mama juga mau ikut papa,” ucapnya pada Shaka dan Acha.


“Ini kenapa papa pulang?” tanya Acha penasaran.


“Papa sama Fatih ada urusan, mama juga mau ikut papa sekalian,” ucap Nadia.


“Arkan, aku pamit, ya? Ada urusan mendadak sama Fatih, Nadia juga mau ikut sekalia,” pamit Devan pada Arkan.


“Kamu itu sedang seperti ini malah pekerjaan yang di pentingin?” protes Thalia.


“Maaf, ini benar-benar di luar dugaan, Thalia,” jawab Devan, lalu langsung pamit pulang.


Arkan hanya mengangkat bahunya saja setelah Devan pamit pulang dengan Nadia dan Fatih. Arkan tanya ke Acha juga, Acha tidak tahu, karena memang Acha dan Shaka tidak diberitahu, mereka duduk di dekat Zhafran, tidak mungkin Arkan memberitahu kepada mereka kalau Askara sedang sakit.


Ardha bergabung dengan Shaka dan Acha yang juga sedang bersama yang lainnya. Ardha dari tadi gelisah, memikirkan Askara yang sedang sakit. Dari tadi dia bertukar kabar dengan Iwan, dan Arofah, tanya soal keadaan Askara bagaimana. Biasanya kalau Askara demam, Ardha yang menemaninya, sampai Askara sembuh. Dia menginap di rumah Iwan, demi menemani Askara yang maunya hanya dengan Ardha.


“Kamu panik sekali wajahnya, Ar?” tanya Shaka.


“Kamu buka chat aku saja, baca pelan!” Jawab Ardha dengan berbisik. “Jangan gugup, biar semua tidak curiga, ini soal adikmu dan keponakanmu,” lanjutnya.


Shaka mengangguk, dia membukan ponselya, lalu membaca chat dari Ardha. Shaka menajamkan matanya saat membaca chat dari Ardha.


“Kamu serius, Ar?” balas Shaka.


“Iyalah, itu kenapa papa dan mamamu pulang, Fatih dan Irvina juga pulang,” jawab Ardha.


“Ada apa, Ka?” tanya Acha.


“Baca chatku saja, Kak,” jawab Shaka.


Acha paham, pasti sedang bicara soal Alana. Benar dugaannya, tidak mungkin mama dan papanya sepanik itu saat pamit tadi. Acha melihat Ardha pun dari tadi diajak ngobrol Alka dan lainnya tidak konsntrasi. Ardha hanya fokus dengan ponselnya untuk mendapatkan kabar dari Askara.


“Ka, kakak mau pulang, kakak capek, yuk kamu ikut pulang, gak? Van pulang yuk?” ajak Acha pada Shaka dan Vania.


“Iya kakakmu juga butuh istirahat, Ka. Yuk mau sekalian pamit tidak?” ucap Riki.


“Iya deh pamit sekalian,” jawab Shaka.

__ADS_1


Shaka dan Acha juga pamit pulang. Sebetulnya dari tadi Zhafran curiga, kenapa mereka bisik-bisik, lalu pamit satu persatu.


__ADS_2