Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Aku Mencintai Alana


__ADS_3

Malam ini Alana tidur di kamar tamu. Beruntung Nina sedang di ajak liburan oleh Arkan, Thalia, dan Zhalina ke luar kota selama lima hari. Alana belum bisa memejamkan matanya, rasanya ada yang kurang. Biasanya dia tidur dengan di peluk Zhafran, sekarang dia harus tidur sendiri. Setelah tadi siang meminta Zhafran untuk menceraikannya.


Rasa kehampaan menghinggapi dirinya malam ini. Dia tidak bisa lagi menarik kata-katanya dan mempertahankan Zhafran untuk tetap berada di sisinya. Bagaimana mau dipertahankan? Jika bertahan Zhafran akan tetap menikah Binka. Jadi dia lebih baik melepaskan Zhafran, dari pada dia dimadu. Semua wanita di dunia ini tidak ada yang ingin dimadu, jangankan dimadu, melihat suami dekat dengan wanita lain saja akan menyakitkan hati.


"Aku harus bisa ikhlas. Lebih baik kehilangan Mas Zhafran, dari pada mempertahankannya, itu akan menyakitiku seumur hidup," gumam Alana.


Zhafran masih belum bisa memejamkan matanya di dalam kamar. Alana tetap pada pendiriannya untuk bercerai dengan Zhafran. Zhafran memang egois, ingin memiliki semuanya, baik Alana ataupun Binka. Dia memang tidak mencintai Alana, tapi dia nyaman saat bersama Alana.


Zhafran masih saja gusar mencari tempat yang nyaman untuk tidur, karena biasanya dia tidur memeluk Alana dan bermanja pada Alana. Tapi, malam ini dia benar-benar harus tidur sendiri tanpa Alana.


"Alana, apakah kamu yakin akan pisah denganku? Alana, aku tidak bisa, tapi aku mencintai Binka, dia juga sedang hamil anakku," gumam Zhafran.


Hari terus berganti, hingga hari di mana Alana harus pergi dari rumah Zhafran tiba. Pengadilan agama sudah memutuskan Alana dan Zhafran resmi berpisah. Alana tahu ini begitu menyakitkan, tapi lebih menyakitkan jika dia harus berbagi suami dengan wanita lain. Terlebih wanita itu adalah wanita yang sangat di cintai suaminya.


Alana sudah menyiapkan semua kopernya. Dia sudah siap untuk melangkahkan kakinya untuk pergi dari rumah Zhafran. Gadis kecil yang menyayangi Alana seakan tidak rela jika Alana harus meninggalkan dirinya, siapa lagi kalau bukan Nina. Begitu juga dengan keluarga Zhafran. Semua keluarga Zhafran tahu, kalau Alana sudah bercerai dengan Zhafran sejak tiga hari yang lalu. Alana memang memberitahukan semuanya pada keluarga Zhafran, tapi tidak untuk kehamilannya Alana.


"Bunda ... jangan pergi ...." Nina terus memeluk Alana yang akan pergi dari rumah Zhafran.


"Sayang, walaupun bunda pergi, tidak di sini lagi, tapi bunda akan ada di hati kamu, Nak. Bunda harus pergi, kamu baik-baik dengan papah, dan juga nanti ada mamah," ucap Alana.


"Tidak mau, aku mau bunda, bunda jangan pergi." Nina semakin erat memeluk Alana.


"Nak, bunda harus pergi, bunda dan papah sudah tidak bisa tinggal satu rumah lagi." Alana juga memeluk erat Nina, dan menangis.


"Ini semua karena mamah, mamah jahat, mengusir bunda pergi!" Nina teriak dan menangis kencang.


Zhafran mengambil Nina dari pelukan Alana, dia menggendongnya. Nina berontak dari gendongan Zhafran saat Alana pergi melangkahkan kakinya.


"Bunda! Bunda! Nina mau ikut bunda, Papah jahat! Opa, Oma, Nina mau ikut bunda." Nina masih memberontak dalam gendongan Zhafran.


Zhafran tidak peduli Nina memukuli tubuh Zhafran dengan sangta keras. Bagi Zhafran, mempertahan Alana juga akan menyakiti hatinya, karena dia tetap akan menikahi Binka.


“Alana kamu mau ke mana, Sayang?” Nadia baru saja sampai di rumah Zhafran, ia dan Devan ingin memastikan apa Alana benar-benar cerai dengan Zhafran.


“Tante ....” Alana memeluk Nadia, rasanya benar-benar tenang mendapat dekapan Nadia.


“Kamu benar cerai dengan Zhafran, Nak? Kenapa, apa masalahnya?” tanya Devan.


“Om Dev, maafkan Alana, Alana tidak bisa menceritakan semuanya, biar Mas Zhafran saja yang cerita,” jawab Alana.


“Alana pamit, Om, Tante.” Devan dan Nadia memeluk Alana. Nadia menangis merasakan sakit seperti Alana.


“Kamu jangan pergi, Lan. Kalau kamu butuh tempat tinggal, tinggallah di rumah om dan tante, ada rumah yang tidak om pakai, kamu bisa gunakan untuk menenangkan pikiranmu dulu,” tutur Devan.


“Tidak, Om. Alana harus pergi, terima kasih untuk tawarannya,” ucap Alana.


“Alana, tidak baik pergi dalam kondisi seperti ini,” tutur Nadia.


“Alana baik-baik saja, Tante. Alana akan pulang ke rumah ibu. Alana pamit.” Alana lagi-lagi memeluk Nadia, karena pelukan Nadia begitu nyaman baginya.

__ADS_1


“Mi, Pi, Kak Lina, Aku pamit. Nin, bunda pergi, ya? Nina jangan rewel, harus nurut sama papa, ya?” ucap Alana.


“Bunda ... jangan pergi!” Nina memberontak lagi di gendongan Zhafran, tapi Alana tetap pergi. Ia tidak menoleh ke arah Nina karena dia tidak tega melihat gadis kecil yang ia sayangi menangis.


"Ayo ikut Tante Lina, nanti menyusul Bunda." Zhalina mengambil Nina dan membawa ke dalam kamarnya.


"Plak!" Satu tamparan dari Arkan mendarat pada pipi Zhafran. Devan menarik keras Zhafran untuk duduk di kursi.


"Puas kamu menyakiti Alana!" Arkan geram terhadap anak laki-lakinya.


"Ayah tidak menyangka kamu seperti ini, Zhafran. Kamu laki-laki bodoh yang baru papi temukan di dunia ini." Arkan benar-benar kecewa pada Zhafran, dia tidak tahu jalan pikiran anaknya itu.


"Maafkan Zhafran, Mi, Pi. Zhafran tidak mencintai Alana, Zhafran mencintai Binka. Binka hamil, dan dia mau Zhafran menikahinya. Zhafran meminta Alana untuk tetap di sini, menjadi istri Zhafran, dan Zhafran juga akan menikahi Binka. Dia memilih pergi. Alana juga sedang hamil," jelas Zhafran.


Arkan semakin naik pitam mendengar penuturan Zhafran yang bilang Alana hami. Arkan menampar Zhafran dengan keras, dia murka dengan anak laki-lakinya itu. Bagaimana bisa dia menceraikan istrinya yang sedang hamil. Melihat Arkan yang naik pitam, Devan melerainya. Meskipun Devan juga sangat kecewa dengan Zhafran, tapi ia masih bisa menahan emosinya.


“Cukup, Arkan!” lerai Devan. “Kamu, duduk, Zhafran! Tega kamu menyakiti Alana, tega kamu!” erang Devan kacau. Ia memikirkan Alana, ia tidak tahu ke mana perginya.


"Kamu! Kamu kenapa menjadi laki-laki bodoh, Hah? Alana sedang hamil, kamu ceraikan? Di mana otak kamu, Zhafran?" Devan benar-benar marah sekali dengan Zhafran saat ini


"Alana yang memintanya, jika Zhafran menikahi Binka, Alana lebih memilih untuk bercerai, Om Dev. Aku juga tidak bisa, aku harus menikahi Binka. Bayi di kandungan Binka juga anakku, Om," ucap Zhafran dengan suara seraknya.


"Papi tidak menyangka kamu seperti ini, Zhafran. Susul Alana, kamu harus rujuk dengannya," titah Arkan.


"Alana tidak mungkin mau, Pi. Ini semua keinginan Alana, Pi," ucap Zhafran.


"Cari Alana!" titah Arkan dengan penuh amarah.


Ardha yang mendengar semuanya dari Zhalina lewat telepon, dia langsung pulang dan meninggalkan semua pekerjaannya. Di jalan Ardha sudah memikirkan Alana, pasalnya setiap kali Ardha menelepon Alana, pasti suaranya seperti habis menangis. Ardha melajukan mobilnya dengan cepat. Jarak tempuh yang seharusnya hingga sembilan sampai sepuluh  jam kini ia tempuh hanya kurang dari tujuh jam.


Malam hari Ardha sudah berada di kotanya. Dia masih berada di mobil kesayangannya itu. Ardha menambah laju kecepatan mobilnya untuk segera tiba di rumah.


Semua masih berkumpul di rumah Zhafran. Zhafran mencari Alana karena di suruh papinya dan Devan Namun, hasilnya nihil. Alana tidak pulang ke rumahnya, dan rumah yang dulu juga kosong tak berpenghuni. Entah Alana pergi ke mana, semua tidak ada ada yang tahu.


Arkan semakin cemas karena menantunya itu tidak tahu ke mana perginya. Zhafran duduk di depan Arkan dan Devan dengan menyandarkan kepalanya di sofa. Dia tidak tahu ke mana harus mencari Alana. Rasa bersalahnya semakin menjalar di seluruh rongga hatinya. Dia tidak tahu akan seperti ini, memiliki hubungan tersembunyi dengan Binka, malah menambah masalah dalam hidupnya.


"Semenjak dengan Alana, aku tak pernah memiliki masalah dengan keluargaku, semua baik-baik. Ini salahku, salahku yang tidak bisa melepaskan Binka dari hatiku. Alana, semoga kamu baik-baik saja," gumam Zhafran.


Ardha berjalan dengan cepat masuk ke ruang tengah rumah Zhafran. Dia langsung menghampiri Zhafran yang sedang duduk memegang kepalanya.


"Brengsek! Bught!" Ardha menarik tubuh Zhafran dan memegang kerah baju Zhafran hingga tubuh Zhafran terangkat oleh Ardha lalu memukul wajah Zhafran.


"Bisa-bisanya kamu menyakiti,Alana! Kamu tidak lebih dari seorang penjahat! Biadab kau Zhafran!" Ardha melempar tubuh Zhafran ke sofa lagi, dan Ardha sudah menindih tubuh Zhafran untuk memukulnya lagi


"Ardha! Hentikan! Jangan menambah masalah!" Arkan melerai Ardha yang sudah membabi buta ingin memukul Zhafran.


"Asal kalian tahu. Aku rela Alana menikah dengan Kak Zhafran, tapi kalau untuk di sakiti, maaf aku tidak terima. Aku mencintai Alana, sebelum kamu mengambil hatinya! Aku tidak terima wanita sebaik Alana di sakiti oleh lelaki brengsek seperti dia!" Ardha begitu marah dan dengan tegasnya dia mengungkapkan semuanya kalau dia mencintai Alana.


"Kalau ada apa-apa dengan Alana, kamu orang pertama yang akan aku cari, dan mungkin, aku tak segan-segan memenggal kepalamu!" Ardha berkata dengan penuh amarah dan menunjukan jari telunjuknya di depan wajah Zhafran.

__ADS_1


Ardha langsung pergi entah ke mana perginya. Dia benar-benar tidak menyangka kakaknya menyakiti orang yang sangat ia cintai. Apalagi Alana sedang hamil. Ardha menghentikan mobilnya di depan rumahnya. Iya dia pulang ke rumah, dia tidak ingin melanjutkan keributan dengan kakaknya itu.


Ardha masuk ke kamarnya dia membuka sepatunya dan menaruhnya ke sembarang tempat. Ardha merebahkan dirinya dan meredam segala amarahnya. Dia tidak tahu, Zhafranapa dia reflek mengucapkan mencintai Alana di depan semuanya.


"Arrgghhtt! Kenapa menjadi seperti ini! Aku terang-terangan di depan mereka bilang mencintai Alana. Bodoh sekali, Ardha." Ardha menjambak rambutnya, perasaannya semakin kacau, dia sangat mengkhawatirkan Alana dan di sisi lain dia memikirkan ucapannya tadi di depan semua keluarganya.


Suasana hening menyelimuti ruang tengah rumah Zhafran. Semua masih berkumpul di ruang tengah, kecuali Zhalina yang dari tadi masih di kamar Nina dan membujuk Nina untuk makan. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Nina kecuali memanggil nama Alana.


Arkan memang sudah tahu Ardha mencintai Alana, itu semua dari Devan, tapi  melihat Zhafran yang sangat membahagiakan Alana, membuat Arkan tenang, tidak khawatir Zhafran akan melukainya.


Zhafran juga tak menyangka adiknya mencintai Alana. Pantas saja dia selalu menanyakan kabar Alana saat dia meneleponnya dan Zhafran atau, kalau Ardha sering berkirim pesan dengan Alana, untuk sekadar menanyakan kabar Alana saja.


"Apa iya, Ardha mencintai Alana?" Zhafran betanya-tanya dalam hatinya.


Zhafran masih memikirkan ke mana perginya Alana. Dia tidak bisa menghubungi Alana sampai saat ini. Kontak Alana semuanya tidak aktif.


"Kapan kamu rencana menikhai Binka lagi?" tanya Arkan.


"Tidak tahu, pi," jawab Zhafran.


"Nikahi Binka secepat mungkin, tidak usah ada pesta, tidak usah ada tamu. Toh orang tua dia juga sudah tiada," ucap Arkan.


"Benar katamu, Akran. Dia selalu memporak porandakan keluarga kita," ucap Devan.


"Maafkan Zhafran pi," ucap Zhafran.


"Tak ada guna kamu meminta maaf dengan kami semua. Kamu hanya perlu meminta maaf pada Alana dan anakmu kelak," ucap Devan. "Meninggalkan orang yang sedang hamil, menjadi beban dosa untuk diri kita, Zhafran. Ternyata kamu melakukan itu, Om jamin kamu akan merasa bersalah seumur hidupmu," lanjut Devan.


Thalia dan Nadia sedang berada di kamar Nina, mereka membujuk cucunya yang belum mau makan dari siang tadi. Dia hanya mengigau memanggil bundanya. Badannya panas dan tidak mau membuka matanya dari tadi.


"Bunda ... bunda jangan pergi. Nina tidak mau dengan mamah, mamah jahat, bunda pulang." Nina terus mengigau seperti itu.


Thalia semakin khawatir dengan cucunya. Panasnya semakin tinggi. Dia begitu terpukul dengan kepergian Alana. Berbeda dengan dulu saat Binka pergi dari rumah, dia sama sekali tidak peduli.


Zhalina memanggil papinya dan Zhafran untuk masuk ke kamar Nina, karena suhu tubuh Nina semakin tinggi.


"Badan Nina panas sekali, Pi." Zhalina dengan panik memanggil papinya dan lainnya.


Arkan, Devan, dan Zhafran langsung bernjak dari tempat duduknya dan berlari ke kamar Nina. Tubuh Zhafran melemas, melihat anaknya memanggil nama bundanya. Bibir mungilnya terus memanggil Alana. Zhafran benar-benar merasa bersalah saat ini. Tidak hanya hati Alana yang sakit, tapi hati putri kecilnya juga sakit. Ini semua karena kebodohannya.


"Nina, bangun sayang, iya nanti papah nyuruh bunda pulang, Nak. Nina, bangun nak. Ini papah." Zhafran terus membangunkan Nina yang dari tadi mengigau tidak sadar memanggil nama bundanya.


"Zhafran, ini badan Nina panas sekali, kita harus segera bawa dia ke rumah sakit, Zhafran," ucap Thalia.


"Iya, mi, kita bawa Nina ke rumah sakit," ujar Zhafran.


Zhafran langsung menggendong Nina untuk ke rumah sakit. Arkan mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit. Zhalina mengabari Ardha kalau Nina ke rumah sakit. Dia thau, Ardha pasti pulang ke rumah.


Ardha melihat pesan dari Zhalina, dia langsung menuju ke rumah sakit yang diberitahukan Zhalina.

__ADS_1


"Kak Zhafran benar-benar tega, tidak hanya Alana yang tersakiti, tapi Nina ikut seperti ini," gumam Ardha sambil mengendari mobilnya.


__ADS_2