
Alana mengajak Zhafran ke desanya, untuk mengenalkan pada ibunya. Alana sudah memantapkan hatinya untuk menikah dengan Zhafran, ditambah ia sudah terlanjur sayang dengan Nina yang juga sangat menyayanginya.
Mereka sudah sampai di desa, tempat di mana ibunya Alana tinggal. Sebuah rumah dengan halaman yang luas, dan di halaman rumahnya tumbuh pohon mangga yang rindang, membuat rumah Alana terlihat sejuk. Rumah yang halamannya sangat bersih, meski rumah Alana terbilang sederhana, tapi rumah peninggalan ayahnya Alana, adalah rumah yang paling bagus di antara rumah tetangga Alana. Ayah Alana memang dari keluarga yang cukup berada, dia juragan terkenal di desa, dan terkenal sangat baik sekali.
“Ayo turun, Mas,” ajak Alana.
“Rumah kamu rasanya tenang, sejuk, aku rindu sekali suasana pedesaan, Lan. Lama sekali aku tidak ke vila opa yang ada di desa, sejak aku kuliah, aku sudah jarang ke sana,” ucap Zhafran.
“Iya, memang di sini sejuk, Mas. Ayo buruan turun, itu ibu sama budhe sudah nunggu kita,” ajak Alana.
Mereka turun dari mobil, dan di depan rumah, ibu Alana sudah menyambutnya dengan senyuman hangat. Alana sudah memberitahu sebelumnya, kalau Alana akan pulang dengan seseorang yang spesial, dan Alana juga bilang, kalau dirinya akan dilamar oleh Zhafran.
“Ini pasti yang namanya Zhafran, ya?” tanya Arofah.
“Iya, Bu. Ibu pasti ibunya Alana, kan?”
“Iya, saya ibunya Alana, ini sebelah ibu budhenya Alana,” jawab Arofah.
“Saya Aninggar, budhenya Alana dari Jogja,” ucap Aninggar memperkenalkan diri.
“Saya Zhafran, Budhe, salam kenal,” ucap Zhafran ramah.
“Budhe sampai bela-belain pulang dari Jogja lho, demi ingin lihat calon suami keponakan budhe,” ucap Aninggar.
“Terima kasih banyak lho budhe, sudah pulang untuk menyambut kedatangan saya,” ucap Zhafran.
“Eh ini siapa cantik sekali?” ucap Aninggar. Aninggar tahu gadis kecil itu adalah anaknya Zhafran. Ibu dan budhe Alana sudah tahu kalau Zhafran seorang duda.
“Nin, itu ditanya mbah uti,” ucap Zhafran.
“Namaku Nina, Mbah Uti,” ucap Nina.
__ADS_1
“Wah ... cantik sekali kamu, Nak. Kelas berapa?”
“Baru mau kelas satu, Uti,” jawan Nina.
“Ya sudah yuk masuk, ibu sudah masak masakan kesukaan kamu, Lan,” ajak Arofah.
Arofah mempersilakan mereka masuk, dan menyuguh beberapa makanan ringan dan teh khas desanya Alana. Arofah langsung mengajak Alana, Zhafran, dan Nina makan siang, setelah sedikit mengobrol.
“Ayo kamu harus cicipi masakan ibu,” ajak Arofah.
Zhafran tidak menyangka calon mertuanya sebaik itu. Arofah sudah menyiapkan beberapa menu makanan yang sangat menggugah selara makan Zhafran.
“Sepertinya masakan ibu lezat sekali,” puji Zhafran.
“Makanya kamu harus cicipi, ayo mumpung masih hangat masakannya,” ucap Arofah.
Zhafran langsung duduk di sebelah Alana, Alana mengambilkan nasi untuk Zhafran, tidak menunggu diperintah ibunya Alana, atau Zhafran yang minta Alana sudah mengambilkan makanan untuk Zhafran.
“Mau pakai ayam kecap, Tante,” jawab Nina.
“Nin, masa manggilnya masih tante? Kan tadi di mobil sudah lancar manggil bunda?” protes Zhafran.
“Lupa, Pa, lagian bunda juga bilangnya Tante?” ucap Nina.
“Iya, bunda lupa, kan sudah biasa Nina manggil bunda tante?”
“Iya juga sih,” ucap Nina dengan lucu.
“Ya sudah ini bunda ambilkan, mau bunda suapi atau Nina makan sendiri?”
“Sendiri dong? Kan udah gede?” jawab Nina.
__ADS_1
Alana terlihat sangat tulus menyayangi Nina, Zhafran juga tidak menyangka, Alana lebih mementingkan makanan untuk dirinya dan Nina dulu, sebelum ia mengambil makanannya sendiri.
“Aku tidak salah pilih, memang restu yang tulus dari mami papi sangat nyata, buktinya Alana begitu menghargaiku,” gumam Zhafran.
^^^
Setelah menikmati makan siang, Zhafran dan Alana mulai membicarakan tujuan dan niat baiknya. Zhafran meminta restu pada ibunya Alana. Arofah menerima niat baik Zhafran yang akan melamar putrinya. Meski Alana bukan putri kandungnya, Arofah begitu menyayanginya, dan Arofah lega, Alana bisa menemukan pria yang tepat.
Arofah selalu khawatir kalau Alana malah jatuh cinta dengan Fatih, karena Arofah tahu Fatih adalah kakak kandung Alana. Arofah tidak tahu soal Zhafran yang juga saudara Fatih, Arofah tidak tahu kalau hubungan keluarga Fatih dan Zhafran begitu dekat sekali. Arofah sudah kadung lega, mendengar Alana akan menikah dengan Zhafran, meski Zhafran duda, Arofah yakin Zhafran bisa mencintai dan menyayangi Alana.
“Lan, ibu agak dingin, bisa ambilkan sweter ibu di lemari pakaian ibu? Sweter rajutan kamu itu, yang warna abu-abu,” pinta Arofah.
“Iya, Bu. Alana ambilkan sebentar,” jawab Alana.
Alana bergegas masuk ke dalam kamar ibunya. Ia membuka lemari pakaian ibunya, dan mencari sweter yang dulu saat SMA ia membuatkan untuk ibunya, kado di hari ibu yang Alana buat sendiri. Alana juga bisa merajut. Ia sering membuat sweter atau syal sendiri, ia rajut sendiri dengan telaten, sampai kadang ada yang memesan pada Alana, lumayan uang dari hasil pesanan rajutannya bisa untuk sekadar beli pulsa, jajan, dan bisa bayar LKS saat SMA.
Alana mengambil Sweter abu-abu dari lemari. Sweternya berada di tumpukan paling bawah. Alana mengambilnya dengan hati-hati, dan menaruh tumpukan paling atas, di tempat tidur ibunya.
Klenting ....
Alana mendengar suara benda terjatuh dari lemari. Gelang bayi berinisial A, jatuh dari lemari, saat Alana mengambil Sweter milik ibunya.
“Apa ini? Gelang?” Alana mengambil gelang yang jatuh, dan melihatnya dengan detai. “ Inisial A? Ini gelang bayi, apa mungkin ini gelang milikku?” ucap Alana lirih, dan menduga-duga.
Alana kembali mencari bukti lainnya di dalam lemari. Alana menemukan album foto yang ada di pojok lemari. Ia membuka-buka album itu. Album yang isinya foto dirinya masih bayi dengan ibu dan ayahnya. Alana benar-benar baru tahu ibunya punya banyak foto dirinya saat masih bayi. Padahal ibunya selalu bilang, saat itu ibunya tidak punya kamera atau ponsel untuk memotret dirinya saat masih bayi, jadi Alana tidak pernah tahu dan tidak pernga melihat dirinya saat masih bayi. Ibunya hanya memperlihatkan foto-foto Alana saat sudah berusia kurang lebih enam tahun. Foto saat dia TK sangat banyak sekali, dan hari ini semua yang Alana tanyakan dulu terjawab, saat ia ingin lihat foto dirinya saat masih bayi.
Alana mengambil beberpa lembar foto, lalu ia masukkan ke dalam saku celananya. Gelang bayi itu juga Alana bawa. Alana juga menemukan baju bayi yang terbungkus rapi di kantong plastik, bersih, dan lengkap dengan sepatu, kaos kaki, topi, juga pernak-pernik lainnya. Alana ingin sekali mengambilnya, tapi mau ditaruh di mana? Alana memotret baju bayi dan lainnya memakai ponselnya. Ia tidak bisa memaksakan untuk membawa baju bayi itu, karena ia sudah mencoba memasukkan ke dalam kaos, namun nanti pasti terlihat, ia hanya memotretnya saja.
Alana kembali merapikan lemari ibunya, ia tidak mau ibunya curiga kalau dirinya sudah mengambil gelang dan foto dirinya saat masih bayi.
“Apa ini adalah petunjuk, supaya aku bisa mencari siapa orang tuaku? Nanti setelah menikah dengan Mas Zhafran, aku akan meminta bantuan Mas Zhafran untuk mencari di mana orang tua kandungku. Aku harus bisa menemukan siapa orang tua kandungku,” ucap Alana lirih. Alana bergegas keluar dari kamar, setelah mengambil sweter ibunya, dan memastikan semuanya rapi, juga barang yang ia ambil tidak terlihat di saku celananya.
__ADS_1