Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Bersaing Dengan Sehat


__ADS_3

Alana tidak berhenti berharap, ia yakin dengan kemampuannya dia bisa melamar pekerjaan sebagai desainer atau mungkin asisten desainer dengan bakatnya yang unggul, apalagi ia adalah mahasiswa yang cukup menonjol, dan nilainya selalu di atas rata-rata. Alana berpamitan dengan teman satu timnya, ia sebetulnya masih membutuhkan pekerjaannya itu, tapi tidak mungkin dia bertahan, karena pasti Tiara akan memecatnya.


Ia tidak menyangka kalau Tiara yang ia anggap baik, bisa kejam juga hanya karena status, padahal dirinya sama sekali tidak ada hubungan dengan adiknya. Adiknya yang selalu mengganggu waktunya, baik waktu kerja, istirhat, bahkan saat sudah di rumah pun Alka yang sering mengganggunya dengan mengirim pesan atau telefon. Kadang juga mengirim makanan untuknya. Padahal Alana sudah menolak keras pemberian darinya, tapi Alka tidak pernah menyerah.


“Mungkin aku harus pindah kost juga, untung saja aku sudah selesai skripsinya, sudah selesai semuanya, hanya menunggu wisuda, ke kampus pun sekarang jarang. Ini kesempatan aku untuk melarikan diri dari mereka semua, Pak Alka, Pak Ardha, dan Mas Fatih. Sadar Alana, mereka itu tidak pantas berteman dengan kamu, yang ada nanti menimbulkan salah paham sperti Bu Tiara, dikira kamu itu suka dan caper mendekati adiknya. Iya, aku harus pindah kost, untung saja kakak sepupuku baik hati, dia baru saja kirim uang buat kebutuhanku. Jadi aku bisa gunakan tabunganku untuk cari kost baru, dan biaya hidup sebelum aku menemukan pekerjaan baru,” ucap Alana dalam hati.


“Kiri, Bang!” Alana turun dari angkot lalu membayarnya. Ia segera masuk ke dalam kostnya dan bersiap untuk menata barang-barangnya.


Ia menemui ibu kostnya untuk membayar uang kost terakhir setelah ia selesai menata barang-barangnya. Beruntung teman akrabnya di kampus memberi info ada kamar kosong tempat dia kost. Alana langsung berangkat ke sana setelah menyelesaikan urusannya dengan ibu kost.


^^^


Ardha tidak menyangka Alana dipecat oleh Tiara gara-gara Alana dekat dengan Alka, padahal Ardha tahu kalau Alana tidak ada hubungan apa-apa dengan Alka. Tiara memang seperti itu, memandang orang benar-benar dari status sosialnya. Meski ia baik dengan Alana tapi bukan berati Alana dekat dengan adiknya dan menjadi kekasih adiknya. Ia tidak ingin reputasinya turun, kalau adiknya malah pacaran dengan karyawannya, meski Alana seorang sarjana, tetap saja Tiara tidak memperbolehkannya, karena tidak tahu asal usul keluarganya dan bibit, bebet, bobotnya. Apalagi Alka akan tunangan dengan perempuan pilihan mamanya.


“Tiara, mereka itu gak ada hubungan apa-apa? Kok kamu asal keluarin dia?” protes Ardha.


“Dia yang mau keluar dari sini. Ya memang aku juga berniat mengeluarkan dia? Ya kamu tahu sendiri, Alka mau tunangan, lagian kamu kok tidak terima sekali sepertinya, kalau Alana aku keluarkan dari sini?” ucap Tiara.


“Ya bukan gak terima, kasihan dia, dia kerja kan buat biaya kuliah?” ucap Ardha.


“Dia anak beasiswa, dia Cuma butuh buat biaya hidup, bukan bayar kuliah. Ya biar saja dia cari kerja lain, toh tempat kerja masih banyak, bukan di sini saja? Kamu kok kesannya bela dia? Atau jangan-jangan kamu juga suka Alana? Ingat Ardha, suka sama orang itu lihat bibit, bebet, bobotnya! Iya dia itu anak kuliahan, dia sarjana, tapi dia berasal dari keluarga seperti apa dulu? Siapa orang tuanya, dan bagaimana kehidupannya? Jangan asal cinta-cinta saja!”


“Aku tidak suka atau cinta dengan dia, aku hanya kasihan saja!” Ardha sedikit menaikkan nada bicaranya, lalu dia meninggalkan Tiara.


Ardha bergegas keluar dari cafe Tiara, dia ingin ke tempat kost Alana. Saat di depan dia melihat Fatih yang baru saja turun dari mobilnya.


“Mau apa kamu ke sini? Cari Alana? Sudah tidak ada dia!” ucap Ardha.


“Maksudnya?” tanya Fatih.


“Tiara memecat Alana, gara-gara Alka dekat dengannya, dia takut kalau adiknya menentang mamanya, tidak mau dijodohkan dengan anak sahabat mamanya,” jelas Ardha. “Kamu mau ikut? Aku mau ke tempat kostnya!” ajak Ardha.

__ADS_1


“Hmm boleh aku ikut,” jawab Fatih.


Ardha langsung mauk ke dalam mobilnya, begitu juga Fatih. Mereka melajukan mobilnya menuju ke tempat kost Alana.


Ardha langsung turun dan menemui ibu kostnya, beruntung ibu kostnya baru saja mengntar anak baru yang akan kost di tempatnya.


“Mas cari Alana?” tanya ibu kost, yang memang tahu kalau Ardha dan Fatih sering dengan Alana. “Kok biasanya ada tiga, ini mas berdua saja?” imbuhnya.


“Satunya gak ikut, Bu,” jawab Ardha.


“Alananya ada, Bu?” tanya Fatih.


“Haduh sayang sekali, Alana sudah pergi kurang lebih dua jam yang lalu, soalnya dia mengejar kereta untuk pulang kampung, Mas. Kan di sini tinggal nunggu wisuda saja katanya, jadi dia ingin sebentar jenguk ibunya, nanti juga balik ke sini, tapi tidak di kost ini, mungkin kost lainnya, karena dia bilang gak tahu kapan akan balik ke sini?” jelas ibu kost.


“Ya sudah terima kasih informasinya, Bu,” ucap Fatih.


“Iya mas, sama-sama. Mari saya mau pulang,” pamitnya.


Ardha terlihat begitu khawatir mendengar jawaban dari ibu kost. Ini sudah sore dan menjelang maghrib, Alana harus pulang ke desanya, hanya karena masalah sepele itu.


“Ya, aku saja menebak seperti itu. Dia hanya menghindari kita. Aku yakin dia masih di sini, hanya pindah kost saja. Kalau dia pulang ke desa, nomornya masih bisa di hubungi dan pasti bilang ke aku atau kamu mas. Nyatanya dari tadi aku telefonin dia, sama sekali gak aktif nomornya,” kata Fatih.


“Besok kita cari Alana ke kampusnya, aku sangat yakin Alana masih di sini,” ucap Ardha.


“Ya sudah aku mau pulang, mau antar mama ke klinik,” pamit Fatih.


“Ya salam buat mamamu,” ucap Ardha.


“Iya, nanti aku sampaikan,” jawab Fatih.


“Ehm, Fatih sebentar!” Fatih kembali menutup pintu mobilnya, saat Ardha memanggilnya.

__ADS_1


“Ada apa, Kak?” tanya Fatih.


“Aku mau tanya, kamu suka sama Alana?” tanya Ardha.


“Kak Ardha suka? Kalau memang aku menyukai Alana dan mencintainya bagaimana?” jawab Fatih.


“Tidak masalah, kita bersaing dengan sehat, bagaimana?” ucap Ardha.


“Baik, asal Alana jangan dijadikan bahan taruhan saja. Kita harus terima siapa yang nantinya Alana pilih,” ucap Fatih.


“Oke, tidak masalah. Jadi kita sepakat?” ucap Ardha.


“Hmm ... sepakat bersaing mendapatkan Alana dengan cara sehat, kalau ada kecurangan, misal kakak memaksa menidurinya, berarti itu bukan cara sehat,” ucap Fatih dengan mengulas senyum.


“Gila kamu pikirannya, aku kira aku ini Kak Zhafran! Tidak lah, kita bersaing sehat! Oke?”


“Oke, deal!” ucap Fatih lalu mereka berjabat tangan.


“Oke, deal. Kita akan bersaing mendapatkan cinta Alana. Lumayan sudah berkurang satu saingan kita,” ucap Ardha.


“Ya, setidaknya tidak begitu membingungkan Alana untuk berpikir. Tapi aku pede sih, Alana pasti maunya sama aku, Kak Ardha sepertinya terlalu tua,” ucap Fatih.


“Jangan meledek kamu! Gini juga wajahku masih seumuran kamu kelihatannya!”


“Iya deh iya. Ya sudah aku pulang. Ingat bersaing secara sehat!” tegas Fatih lagi.


“Iya, dan satu lagi, tolong rahasiakan ini dari kakak-kakakku dan mami-papi,” pinta Ardha.


“Baik, rahasiakan juga dari mama dan papaku, juga Kak Acha dan Shaka,” pinta Fatih.


“Oke, ayo kita pulang, besok kita cari Alana lagi,” ajak Ardha. Fatih hanya mengangguk, lalu dia masuk ke dalam mobil dan melajukannya untuk pulang.

__ADS_1


Fatih sedikit kecewa, harusnya sore ini ia bisa mengenalkan mamanya dengan Alana, tapi ternyata Alana malah pergi. Padahal mamanya sudah penasaran sekali dengan gadis yang bernama Alana, yang diceritakan dirinya dengan papanya.


“Aku pasti menemukanmu, Alana,” ucap Fatih lirih.


__ADS_2