Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Bulan Madu Yang Tertunda


__ADS_3

Malam ini Zhafran dan Alana menikmati bulan madunya. Bisa di bilang bulan madu, karena semenjak menikah mereka jarang sekali pergi berdua, pasti dengan Nina. Nina memang tidak mau jauh-jauh dari Alana. Beruntung tadi pagi mami dan papinya Zhafran bisa membujuknya. Dan, malam ini Nina menginap di rumah opanya. Meskipun sebenarnya Nina terpaksa, karena di iming-imingi akan pergi ke tempat rekreasi, jadi Nina mau ikut dengan opa dan Oma nya.


Zhafran dan Alana sudah sampai di Villa milik Devan yang berada di dekat pantai. Zhafran memilih tempat itu karena Alana memang menyukai pantai. Tadinya dia ingin sekali pergi ke daerah pegunungan, karena papinya yang merekomendasikannya. Ya, dulu Arkan dan Thalia bulan madu di sana, jadi dia merekomendasikan Zhafran dan Alana untuk bulan madu di sana. Namun, karena Alana ingin bulan madu di pantai, akhirnya Devan menyuruhnya ke Villa dia yang berada dekat dengan pantai.


Hawa angin laut di malam hari begitu terasa dingin. Alana dan Zhafran bersiap untuk makan malam. Dinner romantis di tepi pantai sambil menikmati deburan ombak yang lirih sengaja Zhafran persiapkan malam ini. Zhafran tidak mau momen romantis ini sampai terlewatkan. Zhafran dari tadi sore mempersiapkannya sendiri dengan team dekorasi yang ia sewa. Hingga Alana sendirian di dalam kamarnya, karena Zhafran sibuk dengan tempat untuk dinner malam ini.


"Kamu cantik sekali," ucap Zhafran yang melihat istrinya sedang memoles make up tipis di wajahnya.


"Baru tahu kalau aku cantik?" Alana membalikan badannya dan berkata sambil mengembangkan senyuman manis untuk Zhafran.


"Aku tahu, kamu cantik sekali, tapi ini lebih dari biasanya, sayang," ucap Zhafran.


"Sekarang sudah pintar gombal, ya?" Alana mendekati suaminya dan mencium kilas bibir Zhafran.


"Jangan menggodaku, kita mau makan malam, nanti malah kamu yang aku makan," ucap Zhafran.


"Ya sudah, yuk berangkat," ajak Alana.


"Oke,"


Mereka keluar dari kamarnya, Zhafran menggandeng tangan Alana menuju ke tempat untuk makan malam yang sudah Zhafran siapkan dari tadi sore.


"Mas, ini kamu yang menyiapkannya?" tanya Alana.


"Iya, kalau bukan aku siapa lagi," jawab Zhafran.


"Tumben bisa romantis," ucap Alana.


"Dari dulu kali aku romantis,"


Mereka menikmati makan malamnya. Setelah makan malam selesai, Zhafran memegang jari-jemari Alana dan menciumnya. Zhafran berdiri dan berjalan ke arah Alana, dia memeluk Alana dari belakang dan memasangkan kalung dengan Liontin tanda cinta yang bertahtakan berlian.


"Mas, apa ini?" Alana terkejut melihat Zhafran memasangkan kalung di lehernya.


"Kamu suka?" tanya Zhafran.


"Suka sekali. Ini cantik sekali, " jawab Alana dengan mata berkaca-kaca.


"Kan yang pakai juga cantik, Lan." Zhafran mencium pipi Alana.


"Kok nangis?" Zhafran melihat Alana meneteskan air matanya karena bahagia.


"Aku terharu saja," ucap Alana.

__ADS_1


"Jangan menangis," ucap Zhafran dengan menyeka air mata Alana.


Alana bangun dari tempat duduknya. Dia menghadap ke arah Zhafran dan merentangkan tangannya.


"Peluk ...," ucap Alana dengan manja.


"Sini aku peluk, manjanya istriku,"


"Manja dengan suami boleh, kan?" ucap Alana dengan menenggelamkan kepalanya di dada Zhafran.


"Iya, boleh, dong. Aku juga ingin di manjakan kamu malam ini. Ayo, ke kamar lanjut manja-manjanya," ajak Zhafran.


"Oke, mau berapa ronde?" tanya Alana dengan menggoda.


"Mau berkali-kali," jawab Zhafran.


"Oke." Alana mengiyakannya.


Zhafran berjalan merangkul pinggang Alana masuk ke dalam villanya. Malam ini dia menghabisakan malamnya sampai pagi. Tak kenal lelah mereka berdua, Zhafran mau lagi, dan lagi. Zhafran merasa menikmati di setiap permainannya. Karena Alana bisa mengimbangi permainannya.


Zhafran melihat istrinya yang sudah kelelahan karena ulahnya yang memintanya lagi dan lagi. Zhafran mencium Zhafraningnya dan mengusap kepalanya.


"Dia berbeda sekali dengan Binka. Dia istri idaman semua pria. Tidak hanya cantik, dia bisa melayani suaminya baik lahir maupun batin. Bodohnya aku, aku masih saja mencintai Binka hingga saat ini," gumam Zhafran.


"Lan, matamu masih sayu sekali, apa masih mengantuk?" Tanya Zhafran.


"Ya lumayan," jawab Alana.


"Apa kamu selalu bangun pagi-pagi sekali?" Tanya Zhafran.


"Iya, Mas. Ibu dan almarhum ayah selalu mengajariku bangun pagi-pagi sekali. Kata ibu dan ayah, perempuan itu jangan malas-malasan. Ya akhirnya, aku sudah terbiasa bangun pagi," jawab Alana.


Zhafran dan Alana saling bertukar cerita, mereka juga sesekali menyelipkan candaan di sela-sela ceritanya. Saat mereka sedang asik bercerita dan bercanda. Mereka mendengar seorang wanita memanggil nama Zhafran. Jarak wanita itu sangat dekat dengan mereka. Wanita dengan laki-laki tampan di sampingnya memanggil Zhafran dan mendekatinya.


"Zhafran?" panggil wanita itu.


"Binka?" Zhafran memanggil balik perempuan itu.


Wajah Alana berubah seketika saat melihat Binka menghampiri Zhafran dan dirinya. Zhafran tahu, Alana terlihat gelisah wajahnya. Raut wajah Alana menyiratkan rasa cemburu dan rasa takut, serta tidak enak hati dengan Binka.


"Zhafran, ka—kamu  dengan Alana?" tanya Binka dengan membulatkan matanya, saat melihat Zhafran menggandeng tangan Alana. Dia tidak percaya Zhafran dengan Alana.


"Kamu juga dengan Alex, kan?" tanya Zhafran dengan melihat Alex di samping Binka.

__ADS_1


"Iya, aku dengan Alex. Mau dengan siapa lagi, Zhafran? Kamu dan Alana?" tanya Binka.


Alana tersenyum tidak enak hati dengan Binka. Alana juga menundukkan kepalanya.


"Alana, iya aku dengan Alana, dia istriku," jawab Zhafran dengan tegas.


"Istrimu? Mana mungkin seleramu? Aku tidak percaya," ucap Binka dengan nada sirik pada Alana.


"Selera? Aku memang berselra dengan wanita sepertimu, Binka. Cantik, tubuhmu seksi, perfect, tapi untuk apa kalau di diumbar untuk pria lain." Zhafran merasa marah saat Alana di sebut bukan seleranya.


"Hmm…" Binka membuang napasnya dengan kasar.


"Sejak kapan kalian menikah?" tanya Binka.


"Sudah hampir satu bulan ini, dan kami di sini, sedang berbulan madu, iya kan, sayang?" jawab Zhafran dengan mengeratkan pelukannya pada Alana.


"Iya, kami sudah hampir satu bulan menikah," jawab Alana.


"Oh..." jawab Binka dengan tatapan tidak senang pada Alana.


"Kamu sudah di nikahi laki-laki pilihanmu itu?" tanya Zhafran


"Kami akan segera menikah," jawab Binka.


"Kamu wanita, jangan cuma menjadi mainan dia saja, minta kepastian padanya." Zhafran berbicara seakan menyindir Binka yang hanya di jadikan pelampiasan Alex dan simpanan Alex.


"Itu pasti, Zhafran," tukas Binka dengan nada setengah menekan.


"Ayo sayang, kita ke Vila, kamu katanya mau masak udang saus tiram, aku rindu sekali masakan kamu," ajak Zhafran pada Alana.


"Oke, ayo ke Villa." Alana mengiyakan ajakan suaminya untuk kembali ke Villa.


Zhafran meninggalkan Binka dengan Alex. Dia merangkul Alana dan berjalan menuju ke Vila. Alana dari tadi terdiam saja, hatinya bergemuruh hebat, karena dia masih melihat cinta pada diri Zhafran untuk Binka.


"Tak apa kamu mencintai Binka, asal kamu masih di sampingku, karena aku mencintaimu, Zhafran," gumam Alana


Zhafran melihat istrinya memasak dengan melamun saja. Zhafran mendekatinya, dia tau apa yang ada di pikiran istrinya. Zhafran tau, Alana merasa tidak enak hati karena bertemu Binka tadi.


"Jangan di pikirkan kata-kata Binka. Kamu perempuan terbaik yang pernah hadir dalam hidupku," ucap Zhafran sambil mengusap pipi Alana.


"Apa mas masih mencintai Binka?" tanya Alana.


Zhafran hanya terdiam dan menatap sayu wajah istrinya yang sendu itu.

__ADS_1


"Aku tahu jawabannya, Mas. Aku tahu kamu masih mencintai Binka. Sudah jangan pikirkan pertanyaanku tadi, aku tidak apa-apa kalau kamu masih mencintainya, ayo sarapan, aku lapar, Sayang." Sebenarnya hati Alana sangat sakit sekali. Tapi, dia menyembunyikan dan pura-pura tersenyum.


__ADS_2