Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Dia Yang Paling Mengerti Alana


__ADS_3

Zhafran sudah berada di rumah sakit. Nina sudah di bawa ke UGD. Semua menunggu di luar karena Nina masih di periksa dokter di dalam. Zhafran duduk dan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia benar-benar tidak tahu Nina begitu merasa kehilangan bundanya saat ini.


"Alana, Nina sakit, aku harus bagaimana? Maafkan aku Alana. Ini semua salahku. Andai waktu bisa ku putar kembali, aku tidak akan melakukan kesalahan itu Alana," gumam Zhafran


Tak terasa air mata Zhafran membanjiri pipinya, Isak tangisnya terdengar di depan ruang IGD. Dia menyesali apa yang ia perbuat. Tangis Zhafran semakin pecah, saat mengingat masa indah bersama Alana dan Nina yang sudah ia lalui. Zhafran menangis hingga sesegukan, baru kali ini Zhafran menangis hingga seperti itu. Arkan merangkul anak sulungnya itu yang mungkin sedang menyesali perbuatannya. Arkan menepuk punggung Zhafran. Dia tahu Zhafran baru merasakan kehilangan Alana di saat seperti ini.


"Benar yang papi bilang, aku adalah laki-laki yang bodoh, Pi. Papa dan suami macam apa aku ini pah..! Arrgghht!" Zhafran teriak dengan meremes rambutnya. Dia benar-benar merasa menyesal sekali.


"Sudah Zhafran, nasi sudah menjadi bubur, tidak bisa kembali seperti semula lagi. Ini pelajaran untuk kamu. Kedua kalinya rumah tanggamu hancur. Sekarang terserah kamu mau bagaimana, papi tidak akan ikut campur lagi," ucap Arkan.


Zhafran hanya terdiam, dia masih menangis dan di rangkul papinya. Zhafran masih memikirkan di mana Alana sekarang. Zhafran sudah benar-benar kehilangan kontak Alana, dia tidak bisa menemukan Alana, nomornya sudah tidak aktif. Dia juga sudah berusaha menanyakan pada pegawai Alana di butik, tapi semuanya tidak tahu. Menurut salah satu karyawan kepercayaan Alana, sekarang Alana sudah menyerahkan butiknya pada dirinya sejak satu minggu yang lalu. Karena Alana ada urusan lain, dan memiliki cabang butik yang harus di kembangkan lagi.


"Zhafran, Zhalina, Tante Thalia, kok pada di sini?" tanya Binka yang kala itu baru berangkat untuk shift malam.


Zhalina menatap tajam Binka yang mendekati dirinya dan lainnya. Zhalina juga mendekati Binka dengan tatapan semakin menajam dan murka sekali dengan Binka.


"Plaakkk!" Satu tamparan dari Lina mendarat di pipi Binka. Binka memegangi pipinya yang sakit karena di tampar Zhalina.


"Kejam kamu! Kamu merusak hidup kakakku lagi! Lihat Nina sekarang jadi korbanmu! Kamu wanita kejam, Binka!" Zhalina mendorong tubuh Binka dengan keras dan terpental jauh, beruntung ada Devan di belakangnya, Devan menangkapnya.


"Zhalina, bukan seperti itu caranya. Jangan kasar, Nak," tutur Devan.


“Om Dev, dia membuat Kak Zhafran seperti ini, Kak Alana pergi, sekarang Nina sakit. Semua ini gara-gara perempuan laknat ini, Om Dev!" Zhalina mau memukul Binka lagi, tapi Nadia dan Thalia melerainya.


"Jangan seperti ini Lina, kita bisa selesaikan ini baik-baik," tutur Nadia.


"Jadi Nina di dalam?" tanya Binka.


Devan hanya menganggukkan kepalanya. Binka lari masuk ke dalam menerobos pintu IGD yang tertutup. Dia melihat anaknya terbaring lemah di pembaringan. Dokter jaga sedang memeriksa Nina kala itu.


"Ada apa suster Binka?" tanya Dokter tersebut.


"Bagaimana putri saya, Dok?" tanya Binka.


"Jadi ini putri suster?" tanya Dokter tersebut.


"Iya Dok," jawab Binka.


"Putri suster mengalami sedikit trauma, dia dari tadi memanggil bunda, apa sudah lama tidak bertemu suster?" tanya Dokter itu.


"Iya, Dok. Bisa aku menemuinya?"


"Silakan, sus."


Binka mendekati putrinya yang dari tadi memanggil Alana. Binka begitu sakit melihat anaknya seperti ini. Memangil bunda tanpa henti, hingga dia tertidur pulas karena efek obat yang dokter berikan.


"Nak maafkan mamah, mamah janji akan mencari bunda, mamah rela melakukan apapun asal kamu sembuh, sayang," ucap Binka dengan isak tangisnya.


Binka terus menciumi Nina, dia menangis di samping pembaringan Nina. Binka benar-benar menyesali apa yang sudah ia perbuat. Semua sudah sia-sia, Alana juga tak tahu entah ke mana. Binka tidak bisa menghubunginya. Binka semakin menangis di samping putrinya, hingga semua kelaurga Zhafran masuk ke dalam ruangan Nina.


"Puas kamu melihat putrimu seperti ini?" ucap Zhalina dengan tatapan tajam pada Binka.


Binka hanya diam saja tidak menyahutinya, karena memang dialah yang salah dalam masalah ini.


"Lina ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat," ucap Thalia.

__ADS_1


Zhalina terdiam, dia mendekati pembaringan keponakannya itu. Suster masuk ke dalam IGD, akan memindahkan Nina ke ruangan pasien. Semua keluarga berjalan di belakang suster yang membawa Nina menuju ke ruangan pasien.


Ardha melihat keluarganya yang baru saja keluar dari IGD dan menuju ke ruangan pasien. Ardha segera berlari menghampirinya. Ardha berjalan di samping Zhalina. Zhafran menoleh ke arah Ardha yang sedang berjalan beriringan dengan Zhalina.


"Ardha, aku mau bicara," ucap Zhafran.


"Hmm, mau bicara apa?" tanya Ardha.


"Kita duduk di sana," ajak Zhafran.


Semua tahu apa yang akan di bicarakan Zhafran dengan Ardha. Apalagi kalau tidak bicara soal Alana. Semua keluarga tak menghiraukan mereka, karena ini adalah masalah hati mereka. Semua mengantar Nina ke ruangannya, sedangkan Ardha dan Zhafran duduk di kursi yang berada di seberang ruangan Nina.


"Ada apa, kak?" tanya Ardha.


"Kakak mau tanya, apa benar yang kamu katakan tadi? Kalau kamu mencintai Alana?" tanya Zhafran.


"Ya seperti yang kakak dengar," jawab Ardha santai.


"Kenapa kamu membiarkan aku menikahi dia? Bodoh!" ucap Zhafran.


"Mana ku tahu, wanita yang akan Kakak Nikahi adalah Alana, kakak merahasiakannya. Dan aaku tahunya Alana masih sendiri, dia pun merahasiakannya?" jawab Ardha.


"Ternyata, kakak menyakitinya, kakak tidak mencintainya, dan Kakak kejam. Sekarang aku tidak tahu Alana di mana? Dan lihatlah, karena kebodohan kakak, keponakan ku seperti ini," ucap Ardha dengan nada ketus.


"Iya, kakak bodoh, kakak menyia-nyiakan istri sebaik Alana, kakak memang bodoh," ucap Zhafran dengan penuh penyesalan.


"Sekarang baru tahu, kan? Bagaimana rasanya tidak ada Alana dalam hidup kakak?" Ardha terus berbicara dengan nada ketus dengan kakaknya. “Aku tidak tahu harus mencari dia di mana. Aku tahu Alana, jika sedang ada masalah dia pasti menghindari semua orang yang sedang bermasalah dengannya. Seperti dulu saat ada masalah dengan Alka dan Tiara. Dia langsung menghilang dari kostnya, untuk menghindari aku dan Fatih,” jelas Ardha.


“Fatih? Kenapa harus menghindari kamu dan Fatih?”


“Kenapa kamu gak bilang, Ar?”


“Sekarang aku kehilangan Alana lagi, di mana dia. Dia sedang hamil anakmu, Kak. Aku sempat meminta bantuan Fatih, untuk menelefon ibunya saja Alana tidak di rumahnya. Untung Fatih punya alasan, tanya Alana sudah pulang atau belum, karena seminggu yang lalu, Fatih mengantar Alana ke rumah ibunya,” jelas Ardha.


“Dia menemui ibunya?”


“Iya, kata Fatih begitu. Fatih hanya mengantar saja, lalu langsung pulang,” jawab Ardha.


Zhafran sama sekali tidak tahu Alana menemui ibunya. Setelah memutuskan untuk berpisah, Alana sudah tidak mau lagi melibatkan apa pun urusannya dengan Zhafran.


“Sejak memutuskan untuk berpisah, Alana sudah tidak mau lagi melibatkan aku dalam hal apa pun. Memang seminggu yang lalu dia tidak pulang sehari semalam, dia hanya bilang sedang ada urusan. Aku mencoba tanya, dan ingin menjemputnya di mana, tapi dia langsung menonatifkan telefonnya. Pagi-paginya dia sudah pulang ke rumah saat aku mau ke kantor. Aku tanya dia, dia hanya diam, dan langsung masuk ke dalam rumah,” jelas Zhafran.


“Alana memang seperti itu, setiap kali ada masalah dengan orang, dia akan menghidarinya, dan dia tidak akan mau bertemu dengan orangnya lagi,” jelas Ardha.


Ardha tidak menyangka kakaknya akan menyakiti Alana seperti ini. Sekarang dia harus kehilangan Alana lagi. Tapi, kali ini Ardha tidak akan menyerah, dia akan mencari Alana sampai ketemu. Saat mereka masih mengobrol soal Alana, tiba-tiba terdengar erangan wanita menangis dari ruangan Nina. Ya, Binka dia keluar dari ruangan Nina dengan tangisan yang histeris.


"Maafkan mama Nina! Iya mama salah, maafkan mama. Kamu boleh membenci mamah seumur hidupmu, nak! Arrgghht!" Binka menangis histris dan menjatuhkan dirinya ke lantai, dia masih terus menangis.


Zhafran berlari mendekatinya, dia memeluk Binka yang sedang kacau saat itu. Thalia, Nadia, Arkan, dan Devan keluar dari ruangan Nina.


"Ibu macam apa aku, Zhafran! Aku membuat anakku menderita seperti ini, cari Alana Zhafran, cari dia. Kembalilah dengan Alana. Tinggalkan aku. Aku tahu, aku adalah pengacau hidup kamu, Zhafran. Cari Alana, cari dia. Aku akan pergi, aku bisa membesarkan anak ini sendiri. Maafkan aku." Binka beranjak dari lantai dan melepaskan pelukan Zhafran.


Binka berjalan dengan gontai, tatapan matanya kosong. Zhafran hanya melihatnya. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa. Terdengar juga suara tangis Nina yang histeris. Zhafran akan masuk menemui Nina, tapi Arkan dan lainnya menghalangi.


"Kamu kejar Binka, dia masih hamil, dia juga sedang tidak baik hatinya. Nina tadi mengusirnya, Nina mungkin sedang trauma dengan kepergian Alana, biar Ardha dan Zhalina yang menenangkan. Kamu kejar Binka, dia juga membutuhkan seseorang untuk berbagi kegundahan hatinya," tutur Arkan.

__ADS_1


"Benar kata papimu, kamu juga masih mencintainya, bukan? Masalah Nina, kami yang akan membujuknya," imbuh Devan.


Thalia dan Nadia hanya menepuk pundak Zhafran dan menyuruhnya mengejar Binka yang jalannya semakin gontai. Zhafran mencium tangan Maminya, meminta maaf, dan menangis memeluk Thalia sebelum mengjar Binka.


“Maafkan aku, Mi. Maafkan aku,” ucap Zhafran.


“Kejar dia, mami sangat kecewa dengan kamu dan Binka, tapi semua sudah terjadi, mau bagaimana lagi?” ucap Thalia.


Sementara, Ardha di dalam ruangan Nina, ia sudah berhasil menenangkan hati Nina. Tangis Nina reda seketika saat Ardha datang, dan memberikan dia pengertian pada Nina. Nina sudah stabil dan tenang lagi. Ardha masih terus memberikan nasihat untuk Nina.


"Nina kan anak pintar, Nina jangan seperti itu. Mama Binka, juga mama Nina. Bunda pergi, karena memang bunda sudah tidak bisa tinggal serumah dengan papa. Tapi, Om Ardha janji sama tuan putri om yang cantik ini. Om akan menemukan bunda, nanti kita main lagi bersama bunda. Jalan-jalan bersama bunda. Makan es krim bersama, terus masak udang krispy bareng lagi, bagaimana?" Ardha terus membujuk Nina.


"Janji?" Nina menunjukkan jari kelingkingnya di depan Ardha.


"Janji, sayang." Ardha menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Nina.


"Pintarnya tuan putri, Om. Sekarang jangan menangis, jangan marah lagi dengan papa atau mama. Dan satu lagi, tuan putrinya Om ini belum makan, makan dulu, ya? Om tadi mampir beli bubur ayam kesukaanmu. Sekarang tuan putri harus makan, biar bunda juga cepat pulang." Ardha membujuk Nina untuk makan, karena Nina dari tadi siang belum makan.


Semua melihat kedekatan Ardha dengan Nina, begitu pula Binka dan Zhafran yang sudah datang, tapi mereka bersembunyi di balik tirai dan belum menampakan diri.


"Om, pengen udang crispy buatan bunda," pinta Nina.


"Besok kalau kamu sudah sembuh, Om buatkna untuk kamu," ucap Ardha.


"Apa om, bisa?" tanya Nina.


"Bisa dong, Nina lupa, kan waktu itu, bunda kamu ngajarin Om masak sama kamu," jawab Ardha.


Memang saat itu, Zhafran sedang bekerja, Ardha datang ke runmah Zhafran, dan hanya ada Alana dan Nina yang sedang berada di dapur. Mereka sedang memasak bersama. Dan, akhirnya Ardha ikut masak dengan Alana dan Nina. Alana juga mengajari Ardha memasak.


"Oh, iya. Nina lupa, waktu itu sampai baju Om isinya tepung, kan?" Nina mengurai senyumnya sambil memakan buburnya.


Zhafran merasa Nina sangat dekat dengan Ardha dan Alana. Zhafran semakin tahu, kalau Ardha benar-benar mencintai Alana.


Setelah selesai menyuapi Nina, Ardha keluar dari ruangan Nina. Nina minta dengan Zhalina saja di ruanganya. Ardha duduk di sebelah Zhafran yang sedang tercenung, memikirkan bagaimana Alana di luar sana.


“Kamu tahu Alana suka ke mana, Ar?” tanya Zhafran.


“Yang aku tahu, dia suka di taman kalau sedang jenuh, kadang makan es krim, itu saja yang aku tahu,” jawab Ardha.


“Kamu sering pergi dengan Alana dan Nina?”


“Ya tidak sering, tapi pernah beberapa kali. Nina sangat menyayangi Alana dari dulu. Ia dekat sekali dengan Alana, sejak Alana kerja di cafenya Tiara. Mereka sering main di taman, makan es krim bareng, dan Nina itu adalah alasan supaya aku bisa mengajaknya jalan. Kalau tidak sama Nina, mana mungkin Alana mau diajak pergi?” jelas Ardha.


“Kau bodoh, Ar! Kenapa kamu tidak menyatakan perasaanmu pada Alana? Sebelum aku mengenalnya dekat?”


“Iya aku bodoh, tapi itu semua aku lakukan supaya Alana bisa menentukan masa depannya dulu. Sebetulnya dari Alana wisuda, aku sudah ingin mengungkapkannya, tapi aku tahu bagaimana Alana, Alana ingin bekerja dulu, ingin mencari jati dirinya, ingin bisa membahagiakan ibunya, bekerja sesuai dengan jurusan yang ia ambil, karena ingin membuktikan pada mendiang ayahnya, dia bisa menjadi seorang desainer,” jelas Ardha.


“Sedekat itu kamu dengan Alana, tapi kamu membiarkan dia menikah dengan orang sepertiku, yang akhirnya menyakiti dirinya. Aku menyesal, Ar,” ucapnya dengan suara serak.


“Tidak usah menyesal, itu sudah keputusan kakak. Kakak sudah berani bertindak seperti itu, ya kakak harus bisa bertnggung jawab dengan apa yang akan terjadi? Aku mengikhlaskan Alana menikah dengan kakak juga karena Nina, kalau tidak karena Nina, aku tidak akan membiarkan pernikahan kakak dan Alana terjadi, karena aku tahu kakak masih belum bisa mencitai perempuan selain Kak Binka, meski Kak Binka sudah mengkhiantai kakak. Sekarang ya sudah, semua sudah terjadi, kakak bebas, silakan nikahi Kak Binka lagi, dan aku akan mencari Alana, banyak sekali beban dalam hidup Alana, juga soal orang tua kandungnya, aku dan Fatih pernah berjanji akan membantu mencarinya, jadi sekarang aku tidak akan menyerah mencari Alana.”


Zhafran hanya diam saja. Padahal ia pun sudah berjanji akan membantu mencari di mana orang tua kandung Alana, tapi sampai menikah dua tahun, Zhafran malah melupakan itu.


"Banyak yang aku tidak tahu soal Alana. Aku tidak pernah mengerti dirinya. Dan ternyata Ardha yang lebih tahu segalanya soal Alana. Dia yang paling mengerti Alana, sedangkan aku malah menyakiti Alana seperti ini, maafkan aku, Alana," gumam Zhafran.

__ADS_1


__ADS_2