Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Menikmati Dunia Barunya


__ADS_3

Alana sekarang disibukkan dengan pekerjaannya. Ia sudah menjadi kepercayaan atasannya di butik. Bahkan dia sudah menggantikan desainer yang sudah tidak lagi bekerja di butiknya. Setelah teman kerjanya resign, Alana yang menggantikan tugasnya di butik.


“Lan, sudah jam istirahat, jangan kerja terus, kamu tidak makan siang?” tanya Tita pemilik butik.


“Nanti, Bu. Lagian saya bawa bekal kok,” jawab Alana.


“Nanti kalau keponakan saya datang, bilang saya sedang keluar dengan suami. Dia ke sini dengan anaknya, suruh nunggu di ruangan atas saja ya, Lan?” ucap Tita.


“Baik, Bu.”


“Sudah, Lan, istirahat dulu. Nanti dikira saya semena-mena dengan karyawan saya, Lan,” ucap Tita.


“Ibu ada-ada saja, iya nanti saya istirahat. Ini sebentar lagi kok, klien ini juga nanti mau menemui saya di sini, mau melihat hasil desain gaun pernikahannya,” jawab Alana.


Tita hanya mengangguk. Percuma, kalau Alana belum ingin istirahat, ya sudah, Tita tidak mau memaksanya.


Alana melanjutkan pekerjaannya hingga selesai. Setalah itu dia langsung turun dari ruang kerjanya menuju ke pantry. Seperti  biasa, ia makan di pantry, karena dia membawa bekal makanan sendiri. Ia tidak ingin ribet mencari makan di luar, karena cukup jauh ke warteg atau ke warung makan sederhana. Alana memang hanya bisa makan makanan warteg. Mana bisa ia makan di restoran, ia harus serba irit, karena ia juga ingin membeli rumah baru, dan ingin membuka toko busana kecil-kecilan, yang bajunya itu hasil dari desainnya sendiri.


Sejak ia sibuk dengan pekerjaannya, ia tidak mengurusi apa-apa yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, termasuk membalas chat yang ia rasa tidak penting, ia langsung skip semua pesan yang menurutnya tidak penting untuk ia balas. Ia hanya membacanya saja. Dan, pesan-pesan itu dari Fatih juga Ardha. Bukan Alana sombong, karena Alana ingin fokus dengan pekerjaannya saja. Selama Alana sibuk dengan dunia kerjanya, mereka berdua juga jarang menemuinya, karena Alana selalu membuat seribu alasan untuk tidak bertemu mereka. Alana tidak mau dekat dengan laki-laki dulu. Alana suka berteman dengan Fatih dan Ardha, hanya sekadar berteman saja, tapi tidak mau lebih. Fatih dan Ardha memang seperti sedang berlomba untuk mendapatkan dirinya. Alana paham sekali, mereka sedang berusaha keras untuk mengambil hatinya.


Alana sudah selesai makan siang, ia bersiap-siap untuk melanjutkan pekerjaannya lagi. Ia kembali naik ke atas, ke ruang kerjanya lagi.


“Mbak Alana, itu tadi ada tamu, katanya keponakannya Bu Tita, aku suruh nunggu di ruang tamu atas, soalnya Bu Tita dan Pak Fajar belum datang lagi,” ucap karyawan di bawah.


“Oh iya, Bu Tita memang sudah bilang sama aku. Ya sudah, nanti sekalian aku temui saja keponakan Bu Tita,” jawab Alana.

__ADS_1


Alana menaiki anak tangga dengan menyanyikan lagu kesukaannya. Tempat kerjanya kali ini benar-benar nyaman sekali untuk dirinya. Terhindar dari orang-orang yang setiap harinya menyusahkan dirinya, bukan menyusahkah, lebih tepatnya yang sok perhatian dengannya. Alana berhenti bernyanyi, saat sudah hampir sampai di ruang tamu, terlihat seorang pria duduk bersama anak perempuannya.


“Selamat siang, Pak,” sapa Alana.


“Alana?”


“Tante, Lana!” Anak perempuan itu langsung berhambur memeluk Alana.


“Pak Zhafran, Nina? Kok di sini?” tanya Alana.


“Tante, Nina kangen ... Nina kan sekarang tidak tinggal di rumah opa lagi. Nina sekarang ikut papa pindah ke rumah baru, jadi Nina jarang dengan Om Ardha, kalau sama Om Ardha kan pasti sering ketemu tante?” ucap Nina.


“Ini Nina kok di sini?” tanya Alana.


“Nina ikut papa, mau ketemu sama Oma Tita,” jawab Nina.


“Iya, Alana. Saya mau bertemu dengan Tante Tita. Beliau tanteku,” jawab Zhafran. “Jadi kamu kerja di sini sekarang? Bagus deh sesuai jurusan, daripada di cafe, pulang malam juga kan pastinya?” ucap Zhafran.


“I—iya, sih. Bu Titanya sedang keluar dengan Pak Fajar. Silakan tunggu dulu ya, Pak? Bapak mau minum apa?” Alana menawari minuman pada Zhafran.


“Apa saja deh,” jawab Zhafran.


“Tante, nanti makan es krim lagi, ya? Sama papa tapi,” ajak Nina.


“Nina ... Tante Alana masih kerja, Sayang ... jangan ganggu, ya? Nanti kalau mau pergi sama tante, kalau tante libur kerjanya,” tutur Zhafran.

__ADS_1


“Iya, nanti kalau tante libur, tante ajak Nina makan es krim deh, tapi jangan sama om Ardha, ya? Kita berdua saja?” ucap Alana.


“Oke, nanti berdua saja, ehm ... sama papa, ya? Aku tidak boleh pasti keluar berdua saja, kata papa masih musim penculikan, jadi harus selalu sama papa,” ucap Nina dengan lucu.


“Oke, nanti atur waktunya, ya sudah tante mau bikin minuman untuk papamu, kamu tunggu di sini, ya?” ucap Alana.


Alana ke pantry yang berada di dekat ruang tamu. Pantry di atas memang khusus untuk membuatkan minuman untuk tamu atau klien yang datang. Alana membuatkan kopi untuk Zhafran, dan mengambilkan minuman dingin untuk Nina.


“Silakan, Pak.” Alana menaruh kopi di meja, di depan Zhafran.


“Terima kasih, Alana, kopinya nikmat sekali baunya,” ucap Zhafran.


“Semoga suka dengan kopinya, Pak,” ucap Alana.


Nina sibuk dengan buku gambarnya. Ia sedang mewarnai, hobinya menggambar, Alana hanya diam memerhatikan Nina yang sedang mewarnai gambar yang Nina buat.


“Lan, kamu sering sama Ardha?” tanya Zhafran.


“Ya kan memang Pak Ardha sering di cafe Bu Tiara, Pak? Ya sering bertemu di situ saja,” jawab Alana.


“Sudah lama sekali saya tidak bertemu Ardha. Sudah lima bulanan mungkin. Saya jarang ke rumah, kalau pun ke rumah papi, juga paling ketemunya papi mami. Dua adikku sekarang super sibuk, apalagi Ardha sekarang membuka cabang bengkelnya, dan toko sparepart. Jadi di samping mengurus perusahaan papi, dia juga memiliki usaha sendiri, bengkel peninggalan dari adik opa,” jalas Zhafran.


“Iya sekarang juga saya jarang bertemu Pak Ardha. Terakhir dua bulan yang lalu, saat saya wisuda. Setelah itu sudah tidak pernah lihat. Ya kan tadinya saya kerja di cafe, ya setiap hari pasti bertemu Pak Ardha, apalagi Pak Ardha yang memang memberikan saya pekerjaan di cafe Bu Tiara,” jelas Alana.


“Iya, cafenya Tiara kan sudah jadi basecamp nya dia sejak dia SMA, dulu cafe itu milik ibunya Tiara, sekarang dikelola Tiara, setelah buka cabang lagi, cafe itu dikelola Alka, dan istrinya.”

__ADS_1


Alka memang sudah menikah, Alana tahu itu dari Fatih, saat Fatih mengajak Alana ke rumahnya. Yang tidak bisa Alana tolak adalah ajakan mamanya Fatih. Entah kenapa kalau mamanya Fatih ingin beremu, Alana langsung bergegas menemuinya, meski tanpa Fatih menjemputnya, dan tidak ada Fatih di rumah, ia selalu memenuhi apa yang mamanya Fatih mau. Alana tidak tahu, dekat dengan mamanya Fatih, ia menjadi tenang, apalagi setelah cerita dengan ibunya Fatih, rasanya beban hidupnya satu persatu melayang dan hilang. Alana lebih suka menemui Nadia di klinik Nadia, saat pulang dari butik, Alana pasti langsung mampir ke klinik Nadia, kalau Nadia minta bertemu dengannya.


__ADS_2