
Zhafran sudah mengantongi beberapa bukti perselingkuhan istrinya. Hampir sepuluh tahun hidup bersama, ternyata dia malah dikhianati oleh istri yang sangat ia cintai.
Pagi harinya Zhafran langsung meminta berkemas untuk check out dari hotel. Ia bilang pada Binka, ada urusan mendadak di kantor. Ia harus menemui klien penting di kantor. Padahal itu hanya alasan Zhafran saja. Dia ingin sekali mencari tahu di mana tempat biasa Binka dan selingkuhannya bertemu. Semalam Zhafran membaca semua chat masuk dari selingkuhannya Binka, dan mereka akan bertemu saat nanti Binka sudah pulang dari liburan.
“Ini kok jadi gini, Pa? Kan kita masih tiga hari lagi di sini?” tanya Binka dengan raut wajah kecewa, padahal itu hanya pura-pura.
Binka sebetulnya sudah ingin pulang menemui selingkuhannya. Seperti itu percakapannya semalam di dalam chat dengan laki-laki tersebut.
“Maafkan aku, Sayang, ini tadi Danang bilang, ada klien penting yang harus aku temui besok pagi, jadi aku harus pulang. Ini kesempatan besar, Sayang. Maafkan aku, kita tidak bisa jalan-jalan lagi, dan beli oleh-oleh buat teman kamu,” ucap Zhafran.
“It’s okay, tidak masalah, aku mengerti kamu, Sayang,” ucapnya dengan mengulas senyuman.
Zhafran tahu, pasti istrinya sangat bahagia dan senang, karena akan pulang mendadak. Zhafran yakin istrinya akan mengabari selingkuhannya langsung, kalau dia akan pulang saat ini. Zhafran untungnya tahu soal menyadap, jadi semua pesan dari selingkuhan Binka akan tersadap di ponselnya.
“Aku masih bisa terima kamu marah-marah, kamu kesal, kamu kumpul dengan teman kamu sampai malam, aku masih bisa terima itu, tapi kalau sudah urusan selingkuh, apalagi sampai menodai pernikahan kita, aku tidak terima itu, Binka. Apa pun alasannya, aku tidak terima! Kurang apa aku, semua yang kamu aku turuti. Kamu minta mobil mewah, rumah mewah, apa pun yang kamu minta aku mengabulkan semua. Aku tidak lagi bermain wanita setelah mengenalmu, tapi apa sekarang? Kamu bermain gila dengan pria itu, sampai kamu mengirimkan gambar dan video polosmu pada lelaki itu, aku tidak akan terima, dan tidak akan mengampuni itu, Binka!” Zhafran duduk dengan memijit keningnya, sambil menunggu Binka mengemasi barang bawaannya.
“Pa, kok kita pulang? Katanya masih tiga hari lagi?” tanya Nina.
“Papa ada pekerjaan mendadak, Nak. Gak apa-apa kita pulang, ya?” jawab Zhafran.
“Iya, gak apa-apa. Aku juga sudah pengin mainan sama Om Ardha dan Tante Lina, sama pengin makan es krim lagi bareng Tante Alana,” ucap Nina.
“Tante Alana?” tanya Zhafran.
“Iya, kemarin aku sama Om Ardha sama Tante Alana makan es krim bareng? Kami menjemput Tante Alana ke kampusnya,” jawab Nina.
“Tante Alana itu siapa, Nin?” tanya Binka.
“Itu yang kerja di cafenya Tante Tiara,” jawab Nina.
__ADS_1
“Oh jadi pelayan cafe? Apa Ardha dekat sama dia, Pa?” tanya Binka.
“Kalau itu aku tidak tahu, Ma. Dia kerja part time di cafe Tiara. Pagi sampai siang kuliah, dan siang sampai malam di cafenya Tiara,” jelas Zhafran
“Oh aku kira Ardha pacaran sama pelayan cafe? Masa adiknya seorang Zhafran pacaran sama pelayan cafe? Gak balance, kan?” ucap Binka.
“Ya kalau jodoh kenapa? Yang penting setia, kan? Tidak selingkuh, dan tidak mengkhianati pernikahan. Jadi istri yang mampu menjaga kehormatan dirinya dan kehormatan suami.” Ucapan Zhafran sedikit menohok. Binka hanya diam, karena dia memang sedang berada di fase, di mana dia sedang bermain api di belakang suaminya. Dia selingkuh dengan dr. Alex, pria yang juga sudah beristri.
“Ya iya dong, harus setia yang paling utama,” ucap Binka singkat, dan dengan mengulas senyuman bingung.
Binka merasa suaminya seperti tahu kalau dirinya sedang macam-macam. Sedang bermain api di belakang suaminya. Binka menarik napas dalam-dalam, ia harus bisa menyembunyikan rasa gugup karena Zhafran menyinggung soal perselingkuhan.
“Oh iya, Nin. Nanti dari bandara, Nina langsung ke rumah oma saja, ya? Papa kan sedang sibuk, mama juga pasti besok sibuk. Susternya Nina dan mbak di rumah kan belum pada berangkat, karena mereka papa suruh liburan juga, nanti berangkat juga empat harian lagi, jadi gak apa-apa kan kalau Nina di rumah oma? Katanya kangen Om Ardha sama Tante Lina?” ucap Zhafran.
“Oke, Nina juga kangen opa. Opa kan udah janji mau ajak Nina jalan-jalan kemarin, tapi kan Nina harus ikut mama dan papa ke sini?” ucap Nina.
“Iya, Ma,” jawab Nina.
Zhafran semakin yakin, Nina sudah ingin sekali bertemu dengan selingkuhannya itu. Bukannya dia melarang Nina ke rumah omanya, tapi dia malah setuju Nina pulang langsung ke rumah omanya. Padahal Binka masih punya cuti tiga hari lagi, kan masih libur.
“Apa dia lupa kalau masih punya cuti tiga hari lagi? Memang kalau sudah tidak sayang dengan anak ya seperti itu, tega sekali kamu, Binka! Kamu tidak hanya menyakitiku, tapi menyakiti Nina juga, dan keluargaku,” ucap Zhafran dalam hati.
^^^
Tidak seperti biasanya Alana melihat Tiara ada di cafe siang ini. Dia juga memanggil Alana ke ruangannya. Alana melihat ada Alka juga di dalam ruangan Tiara, juga seorang perempuan yang semalam menemui Alana di kostnya.
“Ibu memanggil, Saya?” tanya Alana.
“Duduk, Alana!” ucapnya sedikit meninggi.
__ADS_1
Alana duduk di sebelah perempuan yang semalam memarahinya saat ia diantar Alka pulang dari cafe.
“Ada hubungan apa kamu dengan adik saya!” tanya Tiara dengan penekanan.
“Hubungan? Maksud Bu Tiara hubungan bagaimana? Ya saya dengan Pak Alka hanya sebatas bos dan karyawan, Bu. Memang ada hubungan apa lagi?” jawab Alana apa adanya.
“Sejak kapan adik saya mengantar jemput kamu, Alana? Kamu lihat perempuan di sebelahmu? Dia calon istri adik saya!” tegas Tiara.
“Ya mana saya tahu, Bu? Pak Alka kan menawari saya tumpangan, memang dua kali Pak Alka mengantar saya ke kost, sudah hanya sebatas itu saja,” jawab Alana.
“Tapi aku mencintai Alana, Kak! Aku tidak mencintai Cintya!” tegas Alka.
“Kamu sudah mau tunangan sama Cintya, tapi kamu bilang tidak mencintainya? Alka, hargai keputusan mama!” tegas Tiara.
Alka memang sudah dijodohkan dengan anak dari sahabat mamanya, tapi Alka tidak menginginkannya. Alka menolak keras, tapi sekeras-kerasnya Alka menolak, tetap saja perjodohan itu terus berlangsung, dan bulan depan Alka harus tunangan.
“Ini kan maunya mama, Kak?! Aku berhak memilih siapa calon pendampingku, Kak!”
“Alka, kalau mau memilih pun tidak dengan Alana, lihat Alana siapa! Alana hanya pelayan di sini!”
“Maaf, saya memang hanya sebatas pelayan di sini, saya juga tidak menginginkan adik anda, bahkan jika saya sama derajatnya dengan keluarga anda, saya tidak akan menerima adik anda, karena saya tidak menyukainya! Saya memang pelayan, Bu, tapi tolong jangan merendahkan pekerjaan saya. Ingat, Bu, tidak ada pelayan di cafe ibu, cafe ibu tidak akan ramai. Apa ibu akan menjadi bos sekaligus pelayan?” jawab Alana. “Mulai hari ini, saya mengundurkan diri. Masih banyak kok pekerjaan, kalau kita mau cari,” lanjutnya.
“Bagus, kamu sadar diri juga, sebelum saya memecat kamu, kamu sudah mengundurkan diri. Silakan keluar dari ruangan saya! Saya kira kamu bisa dipercaya, tapi malah mendekati adik saya?!” ucap Tiara.
“Sekali lagi saya katakan, saya tidak mendekati adik anda!” tegas Alana dengan pergi dari ruangan Tiara.
Alana tidak menyangka hari ini akan kehilangan pekerjaannya. Dia tidak tahu bagaimana nantinya, padahal ia sedang butuh uang banyak untuk biaya wisuda, dan lainnya.
“Aku yakin akan ada pelangi setelah turun hujan. Ada benarnya juga aku keluar dari cafe ini, aku tidak mau berurusan dengan orang-orang kaya yang sombong! Saya memang miskin, tapi saya masih punya harga diri!” gumam Alana.
__ADS_1