Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Makin Ke sini, Makin Tak Karuan


__ADS_3

Alana masih terdiam mencerna ucapan Zhafran. Sudah satu bulan Alana dekat dengan Zhafran, itu pun karena Nina. Kadang Nina juga sering main di rumah Alana, apalagi jarak kontrakan Alana dengan rumah Zhafran cukup dekat, jadi mau kapan pun Nina meminta ke rumah Alana, pasti Zhafran mengantarnya. Karena seringnya bertemu dengan Zhafran, Alana juga semakin dekat dengannya. Kadang kalau Alana libur, Zhafran mengajaknya keluar bersama Nina, apalagi Alana gadis yang baik, dan Nina menyukainya.


Malam ini Nina masih di rumah Alana, sore hari saat Alana sudah pulang dari butik Zhafran mengantar Nina ke rumah Alana. Padahal Zhafran sudah merayu Nina untuk ikut menemui klien, tapi Nina tidak mau, Nina lebih memilih main di rumah Alana, sambil menunggu papanya pulang menemui klien. Alana menemani Nina yang sudah tertidur. Sudah jam sepuluh malam Zhafran belum menjemput Nina juga. Padahal Alana pun sudah mengantuk, karena dia tidak pernah tidur semalam itu.


“Ini Pak Zhafran kok belum jemput sih? Sudah jam sepuluh lebih lho? Mau tidur takutnya nanti aku gak dengar Pak Zhafran kalau datang? Kalau tidak tidur aku ngantuk sekali,” ucap Alana.


Alana menunggu Zhafran di ruang tamu, matanya sudah tidak bisa melawan kantuk. Alana terjingkat mendengar telefon masuk. Ia melihat nama Zhafran di layar ponselnya.


“Pak di mana? Aku sudah ngantuk, Nina juga sudah tidur?” Alana langsung nyerocos bicara seperti itu dengan nada seperti anak kecil yang sudah ngantuk berat.


“Aku di depan rumahmu, bukakan pintu, ya? Maaf aku kemalaman, karena tadi menemui dua klien sekaligus. Ayo bukakan pintu, aku juga bawa makanan buat kamu.”


Alana langsung ke depan, membukakan pintu rumahnya. Alana melihat Zhafran baru keluar dari mobil dan menenteng kantung plastik kecil lalu berjalan menghampirinya.


“Maaf aku lama pulangnya,” ucap Zhafran dengan mengulas senyumannya yang begitu memikat.


“Aku sudah ngantuk, Pak. Silakan masuk,” jawab Alana.


“Jangan manyun gitu dong? Kamu lucu sekali, aku jadi gemas lihatnya, seperti Nina kalau sudah ngambek seperti itu,” ucap Zhafran dengan mengacak-acak rambut Alana.


“Ish Pak Zhafran tangannya!” tukas Alana, lalu langsung nyelonong masuk ke dalam.


“Alana, aku belum makan, mau temani aku makan malam?”


“Aneh sekali, habis menemui klien masa gak makan malam sekalian?” jawab Alana.


“Ya kan ketemunya di cafe, yang satu di bar,” ucap Zhafran.


“Bar? Ketemu klien apa perempuan penghibur, Pak?” ujar Alana.


“Di Bar kan bukan tempat wanita penghibur saja, Alana? Klienku memang inginnya ketemu di sana, jadi ya aku nurut saja,” jelas Zhafran.


“Oh begitu?” jawab Alana lalu ia meninggalkan Zhafran.


“Iya, kenapa kok pergi?” tanya Zhafran.


“Ya gak aneh saja, ketemu klien di bar?” jawab Alana.

__ADS_1


“Iya kan dia yang minta, Lan? Kamu mau ke mana, Alana?”


“Ambil piring sama gelas, mau makan, kan? Itu makanan bukan?” jawab Alana.


“Iya, ini makanan. Aku beli mie tek-tek yang dekat jalan menujuk ke sini, itu enak lho? Aku juga sering beli sama Nina,” ucap Zhafran sambil mengekori Alana ke dapur.


“Aku kira Pak Zhafran anti makanan kaki lima?” ucap Alana.


“Kenapa harus anti? Orang makanannya enak,  bersih juga kok yang jualan?” jawab Zhafran.


Alana sibuk mengambilkan piring dan gelas, sambil mendengarkan Zhafran bicara soal klien yang ditemuinya tadi, kenapa sampai malam belum pulang. Zhafran juga membantu menata piring dan gelas di meja makan.


“Ah maaf, Pak.” Ucap Alana saat tangannya bersamaan menyentuh eskan yang berisi air putih.


“Hmm iya, tidak apa-apa,” jawab Zhafran. “Aku bantu menuang air putih, ya? Kamu siapkan makanannya saja,” lanjutnya.


“Oke.” Jawab Alana dengan sedikit gugup.


Alana merasa Zhafran makin ke sini makin tidak karuan. Ya tidak karuan perhatiannya. Alana tidak menyangka seorang Zhafran yang Alana kenal adalah orang yang dingin, sombong, dan sok perfect itu ternyata penuh perhatian juga. Tapi, lama-lama Alana juga tidak nyaman dengan Zhafran yang makin ke sini makin perhatian dengannya. Juga sering menitipkan Nina padanya kalau sore hari harus menemui klien. Bukan Alana tidak mau dititipka Nina, tapi ia tidak mau terlalu dekat dengan papanya Nina, nanti malah disangka yang tidak-tidak, apalagi status papanya Nina duda.


Alana mulai makan mie tek-tek yang Zhafran belikan tadi. Pun Zhafran, dia juga menikmati mie nya dengan Alana, di selingi dengan obrolan ringan soal pekerjaan mereka, Nina, dan mengobrol yang lainnya.


“Ih apaan sih, Pak! Aku bisa sendiri, jangan begitu ih!” Alana langsung menepiskan tangan Zhafran yang menyentuh bibirnya.


“Aku reflek, Lan. Sudah kebiasaan juga sih kalau Nina belepotan gitu, aku bersihin langsung,” jelas Zhafran.


“Tapi aku kan bukan Nina, Pak? Aku bisa sendiri,” ucap Alana dengan sedikit tidak karuan.


Melihat pesona Zhafran yang tampan dengan senyuman yang menawan saja sudah tidak karuan sekali, ditambah perhatian Zhafran yang makin ke sini makin perhatian dengannya.


Alana baru pernah merasakan hal  seaneh ini dengan pria. Dengan Ardha, Fatih, dan Alka saat itu dia malah biasa saja. Tidak ada getaran hati yang membuat Alana salah tingkah, tidak bisa menggetarkan hati yang membuat Alana makin gelisah saat menunggu kabar dari Zhafran. Entah dari mana perasaan seperti itu berasal. Sejak dekat dengan Zhafran ia merasa ada sesuatu yang aneh di dalam hatinya.


“Lan?”


“Iya, Pak,” jawab Alana.


“Boleh tanya?”

__ADS_1


“Tanya apa?”


“Kamu sudah punya pacar?” tanya Zhafran.


“Kalau sudah, mana mungkin aku bisa dekat dengan Pak Zhafran? Pastilah pacarku cemburu. Lagian aku belum memikirkan untuk punya pacar, Pak,” jawab Alana.


“Gak ada yang suka kamu? Atau kamu yang tidak suka?”


“Lebih tepatnya aku tidak suka,” jawab Alana.


“Siapa yang suka sama kamu? Alka?”


“Ya termasuk dia, dan karena dia aku jadi dikeluarkan dari cafe. Ya aku mengundurkan diri lebih dulu sih, sebelum dipecat,” jelas Alana.


“Oh jadi begitu? Lalu sekarang sudah ada yang dekat lagi?”  tanya Zhafran, dan hanya dijawab Alana dengan gelengan kepala saja.


Alana bingung sendiri, kenapa papanya Nina tiba-tiba menanyakan pacar. Bagaimana dia memiliki pacar, dia saja bingung dengan status hidupnya? Siapa orang tua kandungnya? Alana sudah berusaha mencari bukti, tapi sampai saat ini dia belum menemukan bukti apa pun untuk mencari siapa orang tua kandungnya.


“Lan?”


“Iya?”


“Mau menikah denganku?” Alana menautkan kedua alisnya. Dia tidak menyangka Zhafran tiba-tiba mengajak dirinya menikah.


“I—ini aku tidak salah dengar, Pak? Pak Zhafran jangan bercanda deh? Masa ngajakin nikah aku? Aneh bapak ini? Atau gara-gara makan mie tek-tek? Ini mie tek-teknya gak ada obat yang bikin orang aneh, kan?” cerocos Alana.


“Hei, aku serius, Lan. Mau menikah denganku?”


“Pak, jangan ngigau ih. Bangun, Pak!” tukas Alana.


“Yang ngantuk itu kamu,” jawab Zhafran.


“Ini gak mimpi kan seorang Pak Zhafran mengajak nikah aku? Orang yang tidak jelas asal-usulnya?” ucap Alana.


“Ini gak mimpi, aku serius, Alana. Aku jatuh cinta denganmu,” ucap Zhafra dengan tangannya menggenggam tangan Alana.


“Eh jangan gini!” Alana langsung menepiskan tangan Zhafran yang menggenggamnya.

__ADS_1


“Lan, aku serius. Aku jatuh cinta denganmu, kamu benar-benar membuat aku bisa senyaman ini, Lan. Sekali lagi aku tanya kamu, maukah menikah denganku?” tanya Zhafran.


“Sudah malam, Pak. Lebih baik Pak Zhafran pulang, saya bangunkan Nina dulu.” Alana meneguk air putihnya, lalu beranjak dari meja makan, ke kamar untuk membangungkan Nina.


__ADS_2