Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Istri Terbaik


__ADS_3

Alana  masih belum bisa memejamkan matanya, ia dari tadi membolak-balikkan tubuhnya mencari posisi yang pas untuk tidur. Zhafran sudah dari tadi tidur, namun Alana masih saja kepikiran gelang yang ia pakaikan pada Nina, dan karena ekspresi wajah Nadia dan Devan yang menurutnya aneh, Alana jadi penasaran dengan pasangan suami istri yang sangat baik dengan dirinya.


“Masa sih Tante Nadia dan Om Dev orang tuaku? Ah gak mungkin, tapi kalau mendengar cerita mereka waktu itu, anak bayinya hilang di desa tempat aku tinggal? Masa yang ditemukan ibu itu anak mereka? Tapi, mereka bilang anaknya jatuh ke jurang? Kalau ibu menemukan aku kan di depan rumah? Di teras rumah tepatnya. Apa aku harus cari tahu lagi soal anak mereka? Misalnya melihat foto bayi mereka yang hilang? Aku kan ada foto saat aku bayi, yang kemarin aku ambil dari album foto di lemari ibu?” gumam Alana.


Zhafran mengeliatkan tubuhnya, ia mengerjapkan matanya, karena ia merasa istrinya dari tadi gelisah. “Sayang belum tidur?” Suara serak Zhafran terdengar oleh Alana, Alana menoleh dan mengangguk, “Belum bisa tidur, Mas,” jawabnya.


Zhafran menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Diusapnya kepala Alana dan menyandarkannya di dada bidangnya. “Mikirin apa, Lan?” tanya Zahfran.


“Kepikiran Tante Nadia,” jawab Alana.


“Tante Nadia mamanya Fatih?” tanya Zhafran.


“Hmmm ....” Jawabnya seraya menganggukkan kepalanya.


Zhafran menarik napasnya dengan berat, “Memang ada apa dengan Tante Nadia?” tanya Zhafran.


Nadia beringsut, melepasakan tubuhnya dari pelukan Zhafran, ia duduk sejajar dengan Zhafran, dengan bersandar di sandaran tempat tidur. “Aku bingung mas, harus cerita dari mana?” jawab Alana.


“Why? Kok Bingung?”


“Ya bingung saja, kan aku hanya menebak-nebak saja sih, jadi bingung benar atau tidak.”


“Benar atau tidak maksudnya gimana?” tanya Zhafran penasaran.


“Jadi gini, ingat saat Ardha mas suruh antar Nina ke aku, kan? Nina kan minta makan es krim. Aku sama Ardha nurutin dong, kedai es krim itu ketemu sama Tante Nadia dan Om Dev, terus lihat gelang yang Nina pakai, mereka sepertinya tahu sekali dengan gelang itu?”


“Lalu kamu merasa kamu itu anak mereka gitu?” sergah Zhafran.


“Ya mungkin,” jawab Alana.


“Alana ... mana mungkin sih? Lagian Zhafranapa mikirnya ke mereka, sih?”


“Ya karena anak mereka yang hilang itu, jatuhnya tepat di desaku, Mas. Sedangkan aku ini posisinya hanya anak angkat ibuku yang ditemukan di teras rumah. Bisa jadi ada orang yang mengambilku dari jurang, lalu ditaruh di teras rumah ibu? Mungkin saja, kan?”


Zhafran menghela napasnya, bisa-bisanya Alana tidak bisa tidur hanya memikirkan Nadia dan Devan itu orang tua kandungnya. “Lan, tapi anak hilang kan bukan kamu saja?” ujarnya.


“Iya sih, ya hanya perasaanku saja mungkin, Mas. Maaf ya aku sudah ganggu tidur mas,” ucapnya.


“Tapi, bisa jadi juga sih?”


“Mas tahu soal anak Tante Nadia dan Om Dev yang namanya Ayleen? Punya fotonya ndak?” tanya Alana.


“Kalau tahu sih tahu, tapi kan aku lupa wajanya seperti apa? Aku saja lihatnya pas menjenguk ke sana, dia kan hilang saat bayi, ya gak tahu banget seperti apa?” jawab Zhafran.


“Sudah ah, aku pusing mikir siapa orang tua kandungku. Ibu seperti merahasiakan sekali, padahal aku sudah ajak bicara baik-baik, sepertinya ibu gak rela banget aku tahu siapa orang tua kandungku, padahal aku kan pengin tahu saja, aku gak akan pergi dari ibu, ibu ya tetap ibuku, meski ibu adalah ibu angkatku, ibu yang membesarkanku, ibu yang merawatku dari aku kecil, masa aku pergi gitu saja, Mas?” ucap Alana.


“Ya sudah, kamu tidak usah mikir terlalu berat, jalani saja, mas akan bantu kamu sebisa mas, mas juga ingin kamu tahu siapa orang tua kandungmu. Ayo tidur, kamu itu seharian kan capek, nanti kamu sakit, kalau terlalu memikirkan semua ini,” tutur Zhafran.


“Iya, banyak sekali tugasku sekarang, gak hanya mikirin itu saja. Aku sampai lupa aku sudah menjadi seorang istri sekaligus seorang ibu,” ucap Alana dengan mengulas senyuman di depan Zhafran.


“Iya itu yang utama, kehidupan baru kamu sudah di depan mata, mesti kamu masih bingung di mana orang tua kandungmu, setidaknya kamu tahu ada aku di depanmu, di sisimu, yang akan selalu menjagamu. Sudah tidur yuk?”


“Makasih ya, Mas,” ucap Alana.


“Sini peluk.”


Alana tidur di pelukan Zhafran. Rasa nyaman membuat Alana cepat memejamkan matanya. Zahfran masih mengusap kepala Alana yang berada di dadanya. Ia tidak menyangka akan menjadi suami dari Alana, gadis yang selalu ia bela saat dimarahin Alka, saat Alana bekerja di cafe Tiara. Gadis lugu yang sopan, dan cantik itu ternyata mampu mengalihkan dunianya, mampu membuka hatinya kembali untuk jatuh cinta, dan mampu membuang rasa sakit di hatinya yang disebabkan oleh mantan istrinya.


^^^


Sudah 3 Minggu berlalu Zhafran menikah dengan Alana. Mereka hidup seperti biasa. Namun, tidak bagi Zhafran, Zhafran merasa hidupnya lebih sempurna memiliki istri seperti Alana. Istri yang begitu patuh dengan suami, tidak pernah membantah suaminya, dan istri yang benar-benar berbakti pada suaminya.


Bagaimana Zhafran tidak merasa sempurna hidupnya, segala keperluannya Alana yang menyiapkan dari hal sekecil apa pun. Zhafran keluar dari kamarnya, karena sudah tidak melihat Alana di kamar. Ia bangun sudah tidak Alana di dalam kamarnya. Zhafran melihat istrinya yang sedang di dapur, sedang menyiapkan sarapan pagi.


"Pagi sayang." Zhafran memeluk Alana dari belakang, yang membuat Alana sedikit terjingkat.


"Mas Zhafran! Kamu mengagetkanku saja," ucap Alana sambil mengiris sayuran yang akan dimasaknya.


"Hmmp ... pagi-pagi udah ninggalin aku di kamar sendirian," ucap Zhafran dengan manja dan menenggelamkan wajahnya di tengkuk Alana.


"Kan sudah jam 5 pagi, Sayang? Aku hasrus nyiapin sarapan kamu dan Nina," ucap Alana.


“Aku kira kamu marah denganku, Lan,” ucap Zhafran.

__ADS_1


“Marah? Marah karena apa?” tanya Alana. Padahal Alana tahu, pasti suaminya akan membahas soal semalam, di mana Zhafran sedikit membandingkan cara bercinta Alana dengan Binka. Jelas sangat beda, Alana baru mengenal apa itu bercinta setelah menikah, sedangkan Binka? Sebelum menikah saja sudah sering begituan?


“Yang semalam, saat aku bilang soal Binka,” jawab Zhafran.


“Ya gak masalah sih, tapi mas harus tahu, aku ya aku, aku bukan matan istrimu, aku ya memang bisanya seperti itu, aku belum bisa melakukan hal lebih dari yang seperti itu, maaf ya mas, istrimu ini bodoh sekali soal urusan di ranjang,” ucap Alana dengan menunduk, dan merasakan ngilu di hatinya.


“Maafkan aku, kalau aku terlalu berlebihan ya, Lan?” ucap Zhafran.


"Sudah jangan bahas ini, Mas. Mending sekarang mas mandi dulu," titah Alana.


"Nanti, masih ingin memeluk kamu,"ucap Zhafran dengan manja.


"Nina sudah bangun belum?" tanya Alana.


"Sepertinya belum," jawab Zhafran yang semakin mengeratkan pelukannya pada Alana.


"Lan, Nina kan udah lima tahun, masa mau tidur satu kamar terus? Masa kalau mau gituan kita harus di kamar tamu terus?" protes Zhafran dengan bergelayut manja.


"Bagaimana kalau kita bikinkan kamar untuk Nina, kita desain kamarnya sebagus mungkin, supaya dia mau tidur di kamarnya sendiri?" ujar Alana dengan membalikan tubuhnya menghadap Zhafran.


“Boleh juga ide kamu, Sayang. Nanti kita bahas ini dengan Nina, ya? Sudah dua minggu ini, masa kita gituan selalu di kamar tamu?” Zhafran semakin protes saja. “Untung saat kita malam pertama, Nina sama oma dan opanya seminggu, kalau tidak, ya kita gak bisa gituan, apalagi kan aku harus privatin kamu dulu, Lan?” lanjutnya.


“Privatin apaan sih! Iya iya ... aku memang tidak bisa soal gituan, lha mas tahu sendiri aku kan perawan ting-ting, kenal dekat sama laki-laki yang pertama saja sama duda? Wajib dong om duda ganteng ini ngajarin aku yang masih lugu?” ucap Alana dengan terkekeh.


“Kamu itu bisa saja, Lan. Gemas aku lihatnya,” ucap Zhafran dengan menarik hidung Alana.


"Sakit, Mas ...." Alana mengaduh lirih sambil memegang hidungnya.


"Hidungmu gemesin, Sayang,” ucap Zhafran dengan mencium kilas bibir Alana.


“Sudah sana mandi, jangan ganggu aku sedang masak," titah Alana.


"Iya, aku mau mandi," jawabnya.


"Mau pakai air hangat?"


"Tidak usah, Lan, biar segar," jawab Zhafran.


"Aku beruntung sekali memiliki Alana. Istri yang benar-benar patuh dan taat dengan suami. Maafkan aku semalam, Lan, yang tidak sengaja menyinggung perasaanmu," gumam Zhafran.


Alana masih merasakan ada seseorang yang memerhatikan dia di belakangnya. Alana menoleh ke belakang, dan terlihat Zhafran sedang memandanginya. Alana hanya menggelengkan kepalanya, dia mengecilkan kompornya, lalu mendekati suaminya.


"Mau mandi, tapi masih di sini terus?" ucap Alana sambil melingkarkan tangannya di pinggang Zhafran.


"Aku mau sarapan dulu, lapar," ucap Zhafran.


"Oke, sudah matang itu tumis brokoli dagingnya. Mau aku siapkan sekarang?" tanya Alana.


"Oke, sekarang saja, mumpung Nina belum bangun. Kalau sudah bangun, kamu sudah jadi hak milik Nina, kan aku tidak disuapi kamu jadinya," ucap Zhafran dengan manja.


"Manjanya ... ya sudah aku tata sekarang masakannya." Alana menata sarapannya di meja makan.


Padahal baru pukul 06.15, Zhafran sudah ingin sarapan. Harumnya masakan Alana begitu menggoda lidahnya. Setiap masakan yang di sajikan Alana, pasti Zhafran menghabiskannya. Karena memang lezat sekali masakan Alana.


"Dia selalu membuat aku cepat lapar, semua masakannya benar-benar sangat menggodaku," gumam Zhafran.


Alana sudah selesai menata sarapannya di meja makan. Zhafran mendudukkan dirinya di kursi samping Alana. Alana mengambilakn nasi untuk Zhafran. Zhafran mulai menyantap sarapan paginya. Dia merasakan masakan istirnya benar-benar sangat lezat sekali.


"Lan, kamu masak kok gak pernah keasinan, atau hambar gitu? Apa resepnya?" tanya Zhafran.


“Resepnya ada di hati, masaknya harus pakai cinta, Sayang?” jawab Alana dengan tersenyum genit.


“Jangan mancing begitu, kamu mau aku makan di atas meja makan?”


Mata Alana membulat, alisnya berkerut, dan pipinya memerah karena ucapan Zhafran yang seperti itu. “Ini bagaimana ceritanya masa di atas meja makan?” ujar Alana dengan lugu dan menunduk menyembunyikan wajahnya yang sedang malu, membayangkan begituan di atas meja makan.


“Ya bisa dong? Mau coba, yuk?” tantang Zhafran dengan bercanda.


“Ih ... enggak! Jangan gitu ih!” ucap Alana dengan wajah yang sedikit tegang.


“Kenapa? Kok gak mau?”


“Mas ih, tempat tidur saja luas, dan empuk, masa di meja makan yang keras gini? Yang ada badan aku sakit, Mas. Di atas tempat tidur saja pada pegel,” ucapnya dengan wajah memerah.

__ADS_1


"Kamu itu menggemaskan sekali, ya." Zhafran mencium pipi Alana yang memerah dan mengembung karena sedang mengunyah makanan.


Alana menunduk malu, karena Zhafran bicara seintim itu di pagi hari. Semalam saja masih terasa capeknya karena Zhafran memintanya sampai tiga kali, sekarang pagi-pagi, dan sedang sarapan membahas seperti itu, dan membahas main di atas meja makan. Alana bergidik ngeri mendengarnya. Apalagi dia baru mengalami hal demikian, dan pengalamannya belum banyak soal itu.


“Sudah jangan cemberut, iya maaf mas gak aneh-aneh kok mintanya? Mas kan Cuma bercanda, Sayang?” ucap Zhafran.


“Iya, tapi kan malu, Mas. Aku gak pernah begitu, pengalamanku belum sampai situ, tapi kalau mas mau, it’s okay sih,” ucap Alana dengan tertawa.


“Kan mau juga, kan? Mau merasakan variasi gaya baru?” ucap Zhafran yang membuat Alana menunduk malu.


“Ya, kalau suamiku minta bagaimana? Ya aku nurut dong? Nurutin alurnya bagaimana? Toh yang penting aku dan kamu sama-sama nyaman, Mas?” jelas Alana.


“Pintar sekali istriku ini,” puji Zhafran dangan memeluk Alana dari samping, dan menciumi pipi Alana berkali-kali.


“Ya sudah makan dulu, nanti kamu terlambat ngantor lho?” ujar Alana.


“Nanti aku pengin meluk kamu lagi, gemas sekali aku sama kamu.” Zhafran menciumi pipi Alana lagi, dia benar-benar gemas dengan setiap tingkah Alana yang lucu dan lugu.


“Mas jangan gini ih, mas itu sukanya membangunkan singa lagi tidur, ya?” ujar Alana yang merasakan tangan suaminya sudah menyentuh bagian tubuh lainnya. “Awas nanti kepengin lagi?” imbuhnya.


"Yuk sekarang? Kita kunci kamar kita, biar Nina gak keluar kamar, terus kita coba di sini, di atas meja," bisik Zhafran dengan terkekeh.


"Mas, sudah mau jam 7 itu, jangan macam-macam," ucap Alana.


"Ya sudah, nanti malam, ya?" pinta Zhafran.


"Kamu yakin mau di sini?" tanya Alana.


"Iya, dong! Harus coba kita," jawab Zhafran dengan tegas.


Tidak dipungkiri, memang Alana masih belum bisa membuat Zhafran puas dengan permainannya. Zhafran mengerti, Alana masih malu, membuka baju di depan Zhafran saja Alana masih malu-malu, melakukan itu pun Alana tidak seagresif Binka. Dulu dengan Binka, setiap sudut rumahnya pernah terjamah untuk bercinta, bahkan di taman belakang sekali pun, apalagi di rumah tidak ada pembantu, karena pembantunya hanya sampai sore saja, dan Nina selalu ikut dengan opa dan omanya.


"Oke, aku siap kok, atau mau aku di atas misalnya, kan semalam mas kecewa karena aku gak mau?" tantang Alana. Alana tidak mau lagi dibanding-bandingkan dengan mantan istri Zhafran, ia terima tantangan suaminya nanti malam.


"Yakin nih?" Zhafran dengan gemas mencubit pipi Alana. “Jangan bahas semalam ya, Sayang? Aku minta maaf, bukan aku marah, maafkan aku. Yang penting kamu nyaman,” lanjutnya.


"Ya sudah, kamu mandi, aku mau njemur pakaian dulu, setelah itu mandi, jadi Nina bangun aku sudah rapi," ucap Alana.


"Kamu nyuci?" tanya Zhafran.


"Iya, sudah selesai, sih," jawab Alana.


"Lan, besok pakai asisten, ya? Nanti kamu lelah,"


"Selagi aku masih bisa melakukannya sendiri tidak masalah, Mas," ucap Alana.


"Pokoknya besok harus ada asisten di sini. Aku gak mau kamu lelah."


"Oke, deh. Aku nurut suami"


Zhafran masuk ke dalam kamarnya untuk mandi. Alana mengemasi piring dan gelas kotor setelah di gunakan sarapan tadi. Lalu mencucinya, setelah itu, dia masuk ke dalam kamar menyiapkan baju kerja untuk suaminya seperti biasanya.


Alana berjalan ke arah teras belakang untuk menjemur baju yang baru selesai ia cuci. Dia memang selalu seperti itu, karena dia sudah terbiasa mandiri sejak kecil, meski dulu saat sebelum ayahnya meninggal, di rumah Alana memakai pembantu, tapi tetap saja Alana cuci pakaian sendiri katanya ingin belajar hidup mandiri, padahal ibu dan ayahnya melarangnya, karena ada pembantu.


Zhafran sudah selesai mandi. Zhafran keluar dari kamar mandi dan langsung mendekat ke arah tempat tidur. Dia sudah melihat baju kerja yang Alana siapkan di atas temaota tidur.


"Aku terlalu dimanjakan oleh istriku seperti ini, aku tidak boleh mengecewakannya lagi, apalagi membandingkan dengan Binka, yang benar-benar jauh sekali dari kata istri terbaik. Iya Binka memang terbaik di atas ranjang, hanya itu kelebihannya, yang lain tidak ada. Aku jadi merasa, Alana adalah pelengkap hidupku,” gumam Zhafran.


Alana yang baru saja selesai menjemur pakaian, dia masuk ke dalam kamar untuk mandi. Dia melihat suaminya yang sudah memakai pakaian kerjanya. Zhafran terlihat begitu tampan sekali.


"Mas Zhafran tidak pernah berubah. Dia masih sangat tampan sekali, meski umurnya tujuh belas tahun di atasku," gumam Alana.


Alana mendekati suaminya yang sedang melempar senyuman ke arah dirinya. Alana mengambil alih memasangkan dasi pada Zhafran.


"Sudah selesai. Kamu mau berangkat dulu atau menunggu aku mandi?" tanya Alana.


"Mandilah, aku akan menunggumu di sini, sambil membuka email yang dari semalam sudah masuk," jawab Zhafran.


"Oke." Alana masuk ke dalam kamar mandi.


Zhafran duduk di samping Nina yang masih tertidur pulas, dia mengusap kepalanya dan mencium kening Nina.


"Terima kasih, sayang. Kamu sudah memilihkan istri yang baik untuk papah," lirih Zhafran di samping Nina.

__ADS_1


__ADS_2