Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Berdebat Soal Nama Bayi


__ADS_3

Nadia hanya diam, melihat dua perempuan saling berinteraksi dari hati ke hati, melihat Alana yang begitu dekat dengan ibunya, padahal hanya ibu tiri saja. Arofah pun terlihat begitu menyayangi Alana, dari tadi Arofah terus menguatkan Alana yang mungkin hatinya masih belum stabil karena melahirkan tanpa seorang suami.


“Bu, apa aku bisa menjadi ibu yang kuat seperti ibu? Menjadi orang tua tunggal untuk anakku?” tanya Alana pada Arofah.


“Kamu pasti sanggup, Nak. Sudah jangan memikirkan apa yang belum terjadi. Kamu tidak sendirian, ada ibu, budhe, Iwan, Ardha, dan Pak Dev sama Bu Nadia,” ucap Arofah.


“Tante Nadia di sini dari kapan?” tanya Alana.


“Dari kamu di ruang operasi, Lan,” jawab Nadia dengan mata berkaca-kaca.


Ingin rasanya dia memeluk Alana, tapi ia tidak mau membuat Alana shocked karena hal yang belum diketahui Alana.


“Lan, ibu mau jelaskan sama kamu, obrolan tadi pagi yang tertunda,” ucap Arofah.


“Obrolan yang mana, Bu?” tanya Alana.


“Soal orang tua kandung kamu, Lan,” jawab Arofah.


Devan dan Nadia saling memandang, dia sangka Arofah tidak akan mengatakan sekarang, tapi malah akan mengatakannya.


“Bu tidak usah dilanjutkan, kalau ibu tidak siap untuk bilang itu. Alana tidak apa-apa, Alana tahu perasaan ibu kok,” ucap Alana.


“Kamu harus tahu, Lan. Sudah terlalu lama ibu menyembunyikan semua ini, ibu benar-benar egois, maafkan ibu. Sekarang kamu harus tahu semuanya, Lan.”


“Ibu sudah yakin. Percayalah pada Alana, meski Alana tahu orang tua kandung Alana, Alana tidak akan berhenti menyayangi ibu,” ucap Alana.


Nadia paham, tidak mungkin Alana meninggalkan ibunya begitu saja. Dari kecil Alana dengan ibunya, ibunya yang merawat Alana hingga Alana berhasil meraih cita-citanya. Ibunya sangat menyayangi Alana,


“Siapa orang tua kandungku, Bu? Lalu di mana sekarang? Apa mereka masih ada?” tanya Alana.


“Mereka masih ada, mereka masih sehat, dan mereka juga dekat dengan kamu,” jawab Arofah.


“Dekat dengan aku gimana, Bu?” tanya Alana.


Alana melihat Devan dan Nadia yang saling merangkul. Nadia juga menangis dipelukan Devan.


“Sebetulnya ibu ingin memberitahukan kamu sejak lama, Lan, bahwa Pak Devan dan Bu Nadia orang tua kandungmu,” ucap Arofah dengan menunduk dan mencium tangan Alana.

__ADS_1


“I—ini ibu gak bercanda, kan? Ibu gak bohong?” Alana tidak percaya dengan apa yang dikatakan ibunya.


“Iya, mereka adalah orang tua kandungmu, Lan,” ucap Arofah dengan menunjuk ke arah Nadia dan Devan.


“I—ini gak mungkin, Bu?” ucap Alana tidak percaya.


“Ini foto kamu, Lan. Ini foto-foto kamu masih bayi.” Nadia menunjukkan semua foto Ayleen saat masih bayi dari ponselnya. Alana juga meminta ibunya untuk mengambil ponselnya, dan ingin melihat foto yang Alana ambil dari album foto di rumah ibunya.


Alana melihatnya, menyamakan dengan foto yang ada di ponsel Nadia. Arofah pun mengambil baju bayi saat Alana jatuh.


“I—ibu .... ini benar? Ini semuanya benar?” tanya Alana.


“Iya, Lan. Semuanya benar, tidak ada yang ibu tutupi,” jawab Arofah.


Arofah menceritakan semuanya pada Alana, soal dirinya yang meminta Aninggar membawa Alana ke Jogja, demi tidak ketahuan Devan dan Nadia yang membawa tim pencarian dan polisi ke kampungnya, menyusuri tiap rumah, tanya satu persatu rumah warga, barangkali ada yang menemukan Alana.


“Maafkan ibu, Lan. Ibu melakukan itu, karena ibu ingin memiliki anak, ibu sudah dua puluh tahun menikah belum punya anak, Lan. Jadi menemukan kamu hidup ibu berubah, ibu dan ayah merasakan hidup yang sempurna dengan adanya kamu. Maafkan ibu, seharusnya ibu mengembalikan kamu pada kedua orang tuamu, bukan malah menyembunyikanmu, maafkan ibu sekali lagi, Alana,” ucap Arofah dengan berurai air mata.


“Ibu tidak salah. Alana tahu apa yang ibu rasakan. Mungkin kalau Alana jadi ibu, Alana akan melakukan hal yang sama,” ucap Alana.


“Jadi tante dan om orang tua kandungku?” Tanya Alana pada Dev dan Nadia.


“Aku papamu, Nak.” Devan mendekati Alana, dia menangis, tubuhnya bergetar menciumi kening Alana. Ini yang sudah bertahun-tahun Devan tunggu, bertemu dengan putri bungsunya yang hilang. Ayleen sudah kembali.


“Andaikan papa tahu kamu adalah putri papa, papa tidak akan pernah membiarkan kamu menderita seperti ini, Nak. Maafkan papa,” ucap Devan.


“Om, boleh Alana memanggil papa?” ucap Alana.


“Ini papamu, Lin,” ucap Devan. “Ayleen ku sudah kembali,” ucap Devan.


“Ternyata Om Dev dan Tante Nadia  orang tuaku,” ucap Alana.


Alana dipeluk Nadia dan Devan. Tidak tahu harus bagaimana, semua ini adalah kenyataan yang tak terduga. Selama ini dia dekat dengan Nadia dan Devan, juga anak-anaknya, ternyata Devan dan Nadia adalah orang tua kandungnya.


“Mulai sekarang, kamu ada dalam pengawasan papa, papa tidak mau kamu disakiti orang lagi, Sayang,” ucap Devan.


“Pa, papa gak akan ajak aku tinggal di rumah papa, kan?” tanya Alana.

__ADS_1


“Kenapa kamu tanya seperti itu?” tanya Devan. “Kamu anak papa, seharusnya kamu pulang ke rumah papa, Nak,” imbuhnya.


“Alana mau di sini, Pa. Alana pengin tinggal di rumah budhe saja, dengan ibu juga,” ucap Alana.


“Itu nanti kita pikirkan lagi, Nak. Yang penting kamu sehat dulu ya?” jawab Devan.


Devan sebetulnya ingin sekali membawa Alana pulang, tapi dia tahu Alana sangat menyayangi ibunya. Tidak bisa dipungkiri, dari kecil Alana dibesarkan oleh ibunya, bukan dirinya dan Nadia, jadi wajar Alana masih ingin bersama ibunya.


Nadia juga tidak bisa berkata apa-apa lagi. Yang paling penting adalah Ayleen kembali, dengan keadaan utuh. Mau dia tinggal dengan ibunya atau dirinya, itu tidak masalah bagi Nadia. Tidak mungkin mudah bagi Alana harus meninggalkan ibunya yang sudah puluhan tahun merawatnya, hanya karena orang tua kandungnya sudah kembali


“Ar, Wan? Kalian sudah memberi nama keponakan kalian, kan? Nama yang aku titip pada kalian?” tanya Alana.


“Iya, sudah. Tapi, ada yang gak terima aku kasih nama bayimu,” jawab Iwan.


“Siapa? Bukannya ibu dan budhe juga sudah setuju?” tanya Alana.


“Tuh papamu,” jawab Ardha.


“Pa, kenapa?”


“Ya gak terima saja cucuku dikasih nama sembarangan sama mereka!” jawab Devan.


“Sembarangan dari Hongkong, Pak! Jelas-jelas Alana yang memberikan pada kami kok?” ucap Iwan.


“Lagian Om Dev ini sensitif sekali dari tadi? Masalah nama saja ribut om ini?” ucap Ardha.


“Kamu yang ngajak ribut aku dari tadi,” jawabnya.


“Papa, Ardha, Iwan ... sudah dong jangan gitu? Kalau papa mau menambahkan nama belkang juga tidak apa-apa kok? Kan Alana Cuma ngasih Askara saja?”


“Baik, nanti papa pikirkan, nama yang pas dan cocok untuk nama belakang Askara,” jawab Devan.


“Halah pakai mikir-mikir nih bapak!” tukas Iwan.


“Iwan ... jangan gitu?” tegur Aninggar.


“Iya,Wan, jangan gitu, gini saja,” tambah Devan.

__ADS_1


“Iwan, Ardha, kalian itu selalu begitu?” ucap Alana


Nadia hanya menggeleng melihat Devan yang seperti itu pada Iwan dan Ardha. Dari tadi mereka berdebat soal nama bayinya Alana. Seolah ingin merebutkan nama yang pas untuk bayi Alana.


__ADS_2