Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Kabar Bahagia


__ADS_3

Fatih mengurai pelukan mamanya. Ia menyeka air mata mamanya. Ia sebetulnya tidak ingin melihat mamanya menangis, tapi ia pun penasaran dan ingin tahu, kenapa saat mama dan papanya menikah di sudah lahir.


“Kenapa mama malu? Apa yang terjadi sebenarnya, Ma?” tanya Fatih penasaran.


“Biar mama duduk dulu, Tih,” ucap Acha.


Nadia duduk di sebelah Devan. Devan mengusap bahu Nadia, memang ini harusnya sudah di bicarakan sejak awal harusnya, jadi tidak membuat Fatih sibuk mencari kebenaran sendiri. Nadia menarik napas panjang sebelum menjelaskan pada Fatih dan Shaka.


“Jadi dulu mama hamil duluan dengan papamu, masih ada mama Ica juga,” ucap Nadia.


“Papa selingkuh sama mama, saat masih ada mama Ica? Ya begitu?” tanya Shaka.


“Shaka ... diam dulu! Biar mama menjelaskan!” tukas Acha. Nadia tidak bisa membendung air matanya. Nadia menangis dengan sesegukkan, benar pasti tanggapan kedua putranya mengira mamanya perusak rumah tangga orang.


“Bukan, bukan seperti itu Shaka,” ucap Devan.


“Kepergian Om Keenan membuat mama terpuruk, benar-benar terpuruk. Pesta pernikahan yang sudah kami rancang, rumah yang sudah kami siapkan, hari dan tanggal pernikahan yang sudah kami tentukan, dan satu minggu lagi kami akan resmi menjadi suami istri, semuanya musnah malam itu. Keenan pergi meninggalkan mama selamanya. Mama terpuruk, mama sudah seperti orang yang tidak waras. Hingga malam itu, malam yang kelam itu terjadi, mama pun masih dalam pikiran kosong, mama tidak tahu apa-apa malam itu. Mama ....” Nadia semakin terisak saat menjelaskan. Acha merangkul mamanya menguatkan mamanya.


“Om Keenan meninggal karena melindungi papa. Papa akan ditusuk perampok yang membegal kami di jalan. Harusnya papa yang meninggal, tapi Om Keenan menyelamatkan papa. Kepergian Keenan membuat papa hancur, papa anak tunggal, dan sejak ada Keenan, papa merasakan memiliki adik, papa bahagia. Keenan pergi karena melindungi papa. Saat itu papa benar-benar hancur. Papa sering pulang malam, sering mabok, seperti orang tidak waras, sama seperti mama kalian. Dan malam itu, papa ke rumah Om Keenan dalam keadaan mabuk, di sana ada mama kalian yang juga sedang menangis, terpuruk akan kepergian Keenan. Malam itu terjadi sesuatu yang tidak kami inginkan, kami sama-sama terpuruk, dan kami melakukan apa yang seharusnya tidak kami lakukan. Dan, mama hamil kamu setelah malam itu,” jelas Devan.


“Maafkan mama. Mama merahasiakan ini karena mama malu dengan kalian, mama malu mama pernah berbuat hal yang sangat memalukan itu. Hamil di luar nikah, dan yang menghamili adalah calon kakak ipar mama. Mama minta maaf, mama bukan mama yang baik, mama tidak bisa menjaga apa yang harusnya mama jaga, maafkan mama, Fatih, Shaka,” ucap Nadia dengan berlinang air mata.


“Ma, mama jangan bicara seperti itu. Mama adalah mama terbaik untuk Fatih, untuk semua anak mama. Mama jangan bilang gitu lagi, apa pun masa lalu mama, mama adalah mamaku yang terbaik. Aku beruntung dilahirkan dari rahim mama. Aku sayang mama, sangat mencintai mama,” ucap Fatih.

__ADS_1


“Iya, Ma. Jangan bilang seperti itu. Shaka beruntung dilahirkan mama. Mama adalah mama yang terbaik di dunia ini. Jangan bilang gitu lagi ya, Ma?” ucap Shaka.


“Tarus papa menikahi mama setelah aku lahir?” tanya Fatih.


“Papa menikahi mama, atas izin mama Ica. Tapi dengan syarat, setelah Fatih lahir, papa akan menceraikan mama. Namun, semua itu tidak terjadi, papa dan mama hanya pisah rumah sampai kamu berusia hampir satu tahun. Karena Kak Acha, kami kembali bersatu, papa menikahi mama lagi, karena papa pernah menalak mamamu, meski belum sah secara hukum kami bercerai. Jadi kamu itu anak kandung mama dan papa, kamu anak kami, Fatih. Kamu lahir beberapa bulan sebelum mama Ica meniggal. Kalian anak-anak mama dan papa,” ucap Devan.


Fatih dan Shaka memeluk Devan. Semua yang selama ini membuat Fatih penasaran akhirnya terjawab juga. Fatih sedikit menyesal, karena dia meminta penjelasan sampai mamanya menangis.


“Maafkan Fatih, Ma. Sudah buat mama menangis. Setelah ini, Fatih janji, Fatih akan membuat mama tersenyum dan bahagia,” ucap Fatih dengan mencium mamanya.


“Mama lega, sudah menceritakan semua itu padamu, Nak. Terima kasih, kalian sudah menyayangi mama,” ucap Nadia dengan memeluk ketiga anaknya.


“Kalau masih ada Ayleen, pasti sempurna bahagiaku,” ucap Nadia dalam hati.


Memang di dunia ini banyak sekali yang mirip, malah kadang bedang bapak dan ibu tapi mereka seperti kembar, wajahnya sama. Namun, kali ini  berbeda, Fatih tidak hanya melihat Alana mirip dengan mamanya, tapi ia merasakan ada ikatan yang kuat dengan Alana. Ia tidak pernah tahu apa makana favorit Alana, tapi ia yakin sekali Alana pasti suka sekali dengan makanan yang tadi siang ia kirimkan. Buktinya Alana senang sekali, dia suka sekali sampai Alana video call dengan dirinya saking senangnya dikirim makanan favoritnya.


Saat itu Fatih merasa seperti sedang video call dengan adiknya sendiri. Itu kenapa ia tidak berani menyimpulkan kalau dirinya jatuh cinta dengan Alana. Dia malah lebih ingin sekali setiap hari memerhatikan Alana, apalagi sejak ia tahu kalau Alana itu bukan anak kandung orang tuanya.


Nadia tersenyum melihat ketiga anaknya yang sudah tumbuh dewasa. Ia berhasil merawat dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Nadia tidak pernah memaksa anaknya ingin menjadi apa, semua Nadia serahkan pada anaknya untuk menentukan masa depannya sendiri. Nadia dan Devan hanya mendampingi dan mendoakan mereka hingga mereka sukses dan bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.


“Mama bahagia memiliki kalian, terima kasih atas semua kasih sayang dan cinta kalian yang kalian berikan pada mama,” ucap Nadia.


“Mama ... aku sayang mama, kami semua sayang mama dan papa. Kalian adalah papa dan mama terbaik kami,” ucap Fatih.

__ADS_1


“Aku sayang mama dan papa,” ucap Acha dan Shaka, lalu memeluk mama dan papanya.


“Kalian tahu, ada kabar bahagia yang belum kalian dengar,” ucap Nadia.


“Apa itu, Ma?” tanya Devan.


“Iya apa, Ma?” tanya Shaka penasaran.


“Kakak kamu sepertinya sebentar lagi akan dilamar?” ucap Nadia.


“Siapa Acha?” tanya Devan, dan Nadia mengangguk dengan tersenyum bahagia. “Dengan siapa? Yang kemarin ke klinik kamu itu? Siapa namanya, papa lupa,” tanya Devan.


“Namanya Riki, Pa,” ucap Nadia.


“Oh iya Dokter Riki, papa lupa. Yang kalau sore sekarang praktiknya di klinik Pakde Akmal, kan?” tanya Devan.


“Iya benar,” jawab Nadia.


“Ih mama, jangan gitu ih, orang belum apa-apa kok bilang mau dilamar? Pacaran saja enggak?” ucap Acha.


“Kata siapa belum apa-apa? Kemarin Riki ke klinik mama itu pamit sama mama dan papa mau ajak kamu dinner, terus tanya sama papa juga, kalau Acha mau, boleh gak Acha buat saya, Om? Dia cari istri, bukan cari pacar. Dia dengan berani lho bilang minta kamu, dengan tegas dan gagah tanpa ragu ingin kamu jadi istrinya. Dia bilang sendiri sama papa, tanya mamamu,” jelas Devan.


“Ah masa seperti itu? Papa ngarang sukanya, gak mungkinlah, belum kenal langsung ajak nikah? Papa ngada-ngada. Lagian aku kan hanya kenal biasa saja dengan Dokter Riki,” ucap Acha.

__ADS_1


Acha tidak tahu kenapa Dokter Riki bicara sepert itu dengan mama dan papanya, padahal selama ini dia dan Riki hanya sebatas teman kerja saja, bertemu juga biasa saja, jarang ngobrol. Jangankan membicarakan hal serius, mengobrol saja jarang?


__ADS_2