
Ardha mengatur hatinya yang sangat kacau, melihat wanita yang sangat ia cinta bersanding dengan kakak kandungnya. Ingin rasanya Ardha pergi menjauh dari acara pernikahan Alana dan Zhafran. Tapi, dia tidak mungkin melakukannya, yang ada semua akan curiga jika dia tidak ada di tempat acara, bahkan papinya bisa murka dengan dirinya.
Fatih berdiri di sebelah Ardha, yang sedang menyaksikan Zhafran yang sebentar lagi akan mengucapkan kalimat qobul di depan penghulu, dan para saksi.
“Sabar ya, Kak.” Fatih menepuk pundak Ardha.
“Sakit sekali, Tih,” ucapnya lirih.
“Aku paham perasaanmu, aku juga sama, Kak. Tapi sedikit beda, karena yang aku rasa ini, bukan karena cinta untuk kekasih, melainkan cinta untuk adikku. Aku gak rela sekali Alana menikah dengan kakakmu. Gak rela, Kak. Entah kenapa aku berat sekali melepas Alana menikah dengan Kak Zhafran. Padahal Alana itu siapa? Tapi, rasanya dia itu seperti adikku sendiri, Kak,” ucap Fatih.
“Ya mungkin karena kamu ngebayanginnya itu Ayleen, Tih,” ucap Ardha.
“Kalian kalah saing dengan duda, ya?” ucap Alka yang tiba-tiba berdiri di sebelah Ardha.
“Gak usah ikut-ikutan ngomong kamu!” tukas Ardha.
“Santai, Bro ... Jangan ngegas. Aku juga gak rela dia menikah dengan kakakmu. Aku ngarepinnya kamu yang akan menikahinya. Kok jadi Kak Zhafran sih? Kakakmu itu playboy cap kapaknya Wiro Sableng! Gak pantas banget dapat Alana yang kalem, cantik, baik, lemah lembut. Ya kakakmu pantasnya sama tuh orang-orang macam Binka,” ujar Alka tanpa basa-basi.
“Gitu-gitu juga kakakku lho, Al? Biarlah, semua manusia kan pengin berubah. Siapa tahu dengan Alana, Kak Zhafran menjadi lebih baik? Meski aku makin tidak baik-baik saja,” ujar Ardha.
Alka menarik napasnya dengan berat mendengar Ardha bicara seperti itu, “kamu kurang gercep, Ar!”
“Ya mungkin,” jawab Ardha.
Dari tadi Acha dan Zhalina mendengarkan ucapan Ardha, Alka, dan Fatih. Tapi sedikit samar, karena suasana memang bising, dan ada orang yang sedang membaca ayat suci Al-Qur’an sebelum ijab qobul di laksanakan.
“Kalian ngomongin apa nih? Seru sekali sepertinya?” ucap Acha.
“Ya jelas seru lah, kan yang mau menikah ini orang yang sangat mereka kagumi? Duh sepertinya ini hari patah hati buat kalian nih?” ujar Zhalina.
“Kak Lina bisa saja. Gak lah, ya memang nih aku sedikit gak terima sih Alana menikah sama Kak Zhafran? Lihat dong adik kalian masih bujangan semua? Masa Alana milih duda? Ntar populasi bujang tua tambah banyak! Ya, perawan tua juga sih?” gurau Alka mengalihkan pembicaraan supaya mereka tidak curiga kalau Ardha sangat mencintai Alana.
“Kau! Maksud kau apa, Hah? Perawan tua? Bulan depan aku dilamar!” tukas Zhalina.
“Kak Acha juga tuh udah dilamar sama Pak Dokter,” imbuh Fatih.
“Makanya kalau ngomong cari tahu kebenarannya. Mereka dah setengah laku. Ya alias udah dikasih panjer sih?” gurau Ardha dengan terkekeh, untuk menghilangkan rasa sakit hatinya.
“Kau kira kami barang? Pakai acara panjer segala!” umpat Zhalina.
“Kalian itu kalau ngomong sama Bu guru itu yang benar, biar dikasih nilai A+,” ujar Alka.
__ADS_1
“Sudah itu ijab qobulnya mau mulai,” ucap Ardha.
Ardha mendengarkan Zhafran yang dengan lancar mengucapkan qobul di hadapan penghulu dan para saksi. Semua saksi dan tamu yang menyaksikan mengucapkan kata Sah. Zhafran sudah sah menjadi suami Alana. Ardha menundukkan kepalanya saat melihat Zhafran mengecup kening Alana, dan menyematkan cincin di jari manis Alana.
“Harusnya aku yang di sana, bukan Kak Zhafran. Lan, semoga kamu bahagia, aku sangat mencintaimu,” ucap Ardha dalam hati.
Ardha masih menundukkan kepalanya, dan sedikit menyeka sudut matanya yang membasah. Ia sebisa mungkin menahan tangisannya. Alka dan Fatih tahu bagaimana perasaan Ardha saat ini. Mereka mengusap punggung Ardha, menenangkan gejolak hati Ardha saat ini.
Seusai acara akad selesai, semua keluarga memberikan selamat pada Alana dan Zhafran. Ardha pun memberikan selamat untuk mereka.
“Jaga Alana, jangan sakiti dia, semoga kalian bahagia,” ucap Ardha.
“Itu pasti, Brother,” jawab Zhafran.
“Kak, titip kakakku yang bandel ini, ya?” ucap Ardha pada Alana.
“Itu pasti, Ar,” jawab Alana.
Setelah memberikan selamat pada Alana dam Zhafran, dan selesai foto bersama, Ardha menuju ke meja, ia duduk sendirian, dengan menatap Alana yang bersanding dengan kakaknya di pelaminan super megah.
“Aku harus pergi, aku gak bisa di sini terus, bisa-bisa aku gila kalau melihat mereka bahagia,” ucap Ardha.
^^^
“Lan,” panggil Zhafran.
“Iya, Mas?” jawab Alana.
“Kamu sudah siap?” tanya Zhafran.
“Si—siap bagaimana maksudnya, Mas?”
“Ya siap jadi istri aku,” jawab Zhafran dengan terkekeh.
“Dasar! Ya siap dong?” jawab Alana.
“Kalau sudah siap, ayo?” ajak Zhafran.
“Ih apaan sih, Mas? Jangan begitu, kalau itu aku masih takut, Mas,” ucap Alana.
“Nanti aku ajari, biar gak takut. Yuk mandi,” ajak Zhafran. Alana hanya mengangguk, dia langsung ke kamar mandi, lalu membersihkan diri.
__ADS_1
“Alana?”
“I—iya, Mas?”
“Mandi bareng, yuk?”
“Ehm ... Eng—enggak, Mas?” jawab Alan gugup. Ia langsung membawa handuk dan berlari kek kamar mandi.
Zhafran tersenyum sendiri melihat tingkah lucu Alana yang sedikit lucu menggemaskan.
“Istri kecilku, lucu sekali dia. Sangat lugu sekali,” ucap Zhafran dalam hati.
Alana sudah siap dengan gaun santai, untuk menemui tamu undangan yang baru saja datang.
Zhafran menggamit tangan Alana, dan mengajaknya menemui tamu-tamunya.
^^^
Nadia benar-benar tidak tahu, kenapa dirinya sama sekali tidak tahu kalau Alana akan menikah dengan Zhafran. Padahal ia sering dengan Alana, tapi Alana tidak pernah menceritakan kedekatannya dengan Zhafran.
Nadia juga semakin penasaran dengan gelang yang dipakai Nina, yang katanya pemberian dari Alana.
Alana memang sengaja memakaikan gelang itu pada Nina, supaya ada orang yang tahu dan penasaran dengan gelangnya.
^
Alana masih berpikir soal saat itu di kedai es krim Nadia penasaran dengan gelang yang dipakai Nina. Padahal Alana ingin sekali menanyakannya pada Nadia, tapi sayangnya Nadia dan Devan saat itu gugup untuk pulang.
“Kenapa Tante Nadia gugup saat melihat gelangku yang Nina Pakai? Masa iya Tante Nadia mamaku? Tapi banyak yang bilang kami sama, bagai pinang dibelah dua. Masa iya Tante Nadia mamaku?” gumam Alana dalam hati.
Zhafran melihat istrinya sedang bengong di tepi ranjang. Ia mendekatinya, dan mengusap bahunya.
“Jangan dipikirkan. Aku gak buru-buru minta, Lan. Jangan mikirin ya? Santai saja. Nanti kamu malah stres sendiri,” ujar Zhafran.
“Ih mas apaan sih? Aku lagi mikir gelang itu, Mas.”
“Gelang dari orang tua kandungmu?”
“Iya.”
“Sudah nanti mas akan bantu kamu, Sayang.”
__ADS_1