
Alana keluar dari kamar mandinya, dia memakai Bathrobe nya dan berjalan ke arah lemari untuk mengambil bajunya. Dia mengambil dres lengan 3/4 dan panjang selutut berwarna grey. Zhafran mengernyitkan dahinya, karena lagi dan lagi Alana memakai dress dengan lengan yang agak panjang. Kadang juga dia memakai dress yang bermotif bunga dan modelnya seperti daster. Dia jarang sekali melihat istrinya memakai pakaian seksi walaupun di dalam rumah.
"Kenaapa kamu suka dengan dress model seperti ini? Apa tidak ada model lain?" tanya Zhafran.
"Model yang bagaimana maksud kamu, Mas?" tanya Alana.
"Yang lengan pendek, atau yang tanpa lengan. Atau pakai hot pants saat di rumah, atau daster yang agak seksian gitu? Macam lingerie? Kamu jarang sekali pakai pakaian seperti itu, Lan. Aku lihat pakaianmu modelnya sederhana semua," ujar Zhafran.
Alana tersenyum manis di hadapan suaminya, setelah memakai dress nya. Dia mengeringkan rambutnya dengan handuk dan berjalan mendekati Zhafran yang sedang duduk di tempat tidur Nina.
"Kamu tidak suka aku berpenampilan seperti ini? Atau aku harus berpenampilan seksi?" tanya Alana dengan mendudukan dirinya di samping Zhafran.
"Ya heran saja, biasanya wanita yang cantik dan seksi seperti kamu sering memakai pakaian yang minim dan seksi. Ya seperti ...."
"Binka maksud kamu?" Alana memotong ucapan Zhafran.
"Ya, bukan seperti itu, Lan," jawab Zhafran gugup.
"Iya, aku tahu, memang Binka dari dulu selalu berpakaian seksi. Tapi, aku risih jika aku harus berpakaian seperti itu. Sebaik-baiknya wanita adalah wanita yang mau menutup tubuh seksinya dengan pakaian yang baik, Mas, dan tidak mengumbarnya. Apa mas mau, istrinya di lihat seksi oleh laki-laki lain? Tubuhnya di kagumi oleh laki-laki di luar sana? Tidak, kan? Mas juga punya anak perempuan, anak kita perempuan lho? Masa ibunya mau memberikan contoh yang tidak baik? Walau di dalam rumah, aku tetap berpakaian sopan, karena itu juga nantinya akan ditiru anak perempuan kita, Mas," tutur Alana.
"Kamu memang yang terbaik, Lan. Aku beruntung memiliki istri sebaik kamu, terima kasih, Sayang." Zhafran memeluk istrinya dan mencium lembut bibir Alana.
Bibir mereka beradu cukup lama hingga terdengar kecapan lembut dari bibir mereka.
"Bunda ... papa ... kalian ciuman?" tanya Nina dengan polos yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Adu, Nina ... kamu tidak bisa melihat papanya senang dengan bundamu." Zhafran berdecih lirih.
Alana hanya tersenyum dan langsung memeluk Nina yang sudah bangun. Nina duduk di pangkuan Alana dan menenggelamkan wajahnya di dada Alana.
"Papa curang, Nina belum cium bunda, papa sudah menciumnya," ucap Nina dengan kesal.
"Nina sih, bangunnya kesiangan, keduluan papa, kan?" ucap Zhafran.
Nina mencium pipi Alana dan bibir Alana, mencoba menghilangkan jejak ciuman papanya di pipi dan bibir Alana.
"Ya sudah, papa minta maaf, nanti biar Nina dulu yang mencium bunda. Sekarang gantian dong, cium papa." Zhafran menarik tubuh Nina yang masih duduk di pangkuan Alana.
"Cium papa." Pinta Zhafran pada Nina yang sudah berada di pangkuannya.
Nina mencium pipi Zhafran dengan sayang. Dia sangat lucu sekali kalau cemburu melihat Zhafran dan Alana bermesraan. Seakan dia tak rela Alana di manja oleh papanya. Dan tidak rela juga Alana mencium papanya. Berbeda sekali dengan mamanya dulu, mau mamanya bermesraan dengan papanya, dia diam kalau sudah dikasih ponsel, dan mainan ponsel.
"Kamu itu ada-ada saja, sudah jangan cemberut, ayo ke depan antar papa, papa mau ke kantor." Zhafran menggendong Nina ke luar dari kamar menuju ke teras.
Alana menyisir rambutnya sebentar dan setelah itu keluar mengekori Zhafran yang sedang berjalan ke arah teras rumah. Zhafran berpamitan dengan istri dan anaknya sebelum berangkat ke kantor. Saat sudah berpamitan, Zhafran melihat mobil Ardha masuk ke halaman rumahnya. Ardha keluar dari mobilnya dan melepas kaca matanya. Ardha ke rumah Zhafran akan berpamitan untuk berangkat Ke Jogja lagi, karena cutinya sudah habis. Nina dengan senang bersorak karena Ardha datang,
"Yeay ... Om Ardha datang!" Nina langsung berpindah ke ke gendongan Ardha dari gendongan Zhafran.
"Kamu pasti belum mandi, ya?" tanya Ardha sambil mencium sayang pipi Nina.
"Belum, kan baru bangun, Om," ucap Nina dengan lucu dan mencium pipi Ardha.
"Joroknya ... Cewek baru bangun," ucap Ardha.
"Om juga jorok, wleee ...," ucapnya sambil menjulurkan lidahnya dengan lucu.
"Sana mandi sama Om Ardha," titah Zhafran.
"Yeay ... mandi sama Om, ya?" pinta Nina.
"Iya, nanti mandi sama, Om," jawab Ardha.
__ADS_1
"Kamu ada apa pagi-pagi sudah ke sini, Ar?" tanya Zhafran.
"Ardha mau berangkat ke Jogja lagi, cuti Ardha sudah habis, jadi Ardha ke sini pagi-pagi biar bisa pamit dengan kakak," jawab Ardha.
"Aku kira kamu tidak akan berangkat lagi ke sana, dan mengurus perusahaan papi," ucap Zhafran.
"Aku tidak bisa melepaskan pekerjaanku itu, Kak," jawab Ardha.
"Ya sudah, kalau itu keputusanmu, aku berangkat ke kantor. Jangan lupa mandiin Nina," ucap nya sambil mengacak-acak rambut Ardha dengan sayang.
"Siap bos! Hati-hati, ingat pesanku kemarin, kan?" tanya Ardha.
"Iya ingat, kamu juga hati-hati berangkat ke Jogjanya, ingat jangan lama-lama di sana," ucap Zhafran.
"Iya," jawab Ardha.
Zhafran berangkat ke kantor, dia masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya pada Nina, Alana, dan Ardha. Alana mempersilakan Ardha masuk ke dalam. Sebelum berangkat Ardha memandikan keponakannya yang ia sayangi. Alana membuatkan kopi untuk Ardha saat Ardha sedang memandikan Nina. Padahal Alana membujuk Nina agar mandi dengan dirinya, tapi Nina maunya dengan Ardha.
"Nin, baju Om basah dong, aduh ... Yang bener ah mandinya. Om kan mau berangkat ke Jogja, sayang." Ardha menghentikan Nina yang bermain air dan mengarahkan ke Ardha.
"Ups ... maaf Om," ucap Nina sambil menutupi bibir mungilnya dan tertawa.
"Ah Nina nakal, ayo sudah, jangan lama-lama, nanti masuk angin." Ardha membersihkan sisa air yang menempel di tubuh Nina dengan handuknya, lalu menggendong Nina ke kamarnya.
Nina memang memiliki kamar sendiri, tapi dia belum mau tidur sendiri di kamarnya. Ardha memakaikan baju Nina. Alana melihatnya dari kejauhan. Dia melihat baju Ardha basah sekali bagian depannya. Alana mendekatinya dan mengambil sisir untuk menyusiri rambut Nina.
"Ar, bajumu basah sekali," ucap Alana.
"Nih, tadi Nina mainan air lalu mengarahkan padaku, kak," jawab Ardha.
"Hmmm nakal ya, kamu. Om Ardha kan mau berangkat kerja, Sayang," ucap Alana pada Nina.
"Ya sudah ayo keluar," ajak Alana.
"Ar, kopinya di minum dulu,"
"Ah iya, Kak. Terima kasih." Ardha berjalan ke arah ruang tamu bersama Nina. Dia meminum kopi buatan Alana di temani dengan Nina karena Alana masih mengambil sarapan untuk Nina.
Alana berjalan ke arah Ardha dan Nina yang sedang mengobrol, entah apa yang mereka obrolkan. Ardha memang akrab dengan Nina. Dia sangat menyayangi Nina, hingga dia rela Alana menikah dengan kakaknya, untuk kebahagiaan Nina.
"Kalian mengobrol apa, sih? Serius sekali?" tanya Alana.
"Ada deh ... rahasia," ucap Nina dengan lucu.
"Hmm main rahasia-rahasiaan ya?" ucap Alana.
Alana menyuapi Nina. Dari tadi Nina makan dengan lahap sekali. Dia sangat menyukai masakan Alana. Alana melihat baju Ardha yang masih basah. Selesai menyuapi Nina, Alana menaruh piring bekas makan Nina dan setelah itu mengambilkan baju Zhafran agar Ardha mengganti bajunya.
"Ardha, ganti bajumu, pakai baju Kak Zhafran, bajumu basah sekali," titah Alana.
"Kak, aku sama Kak Zhafran badannya gede aku, mana mungkin cukup?"ucap Ardha.
"Coba dulu, sana ke kamar tamu,"
"Hmm ... Kak Lana gak percayaan, ya sudah sini aku coba,"
Ardha mencoba memakai baju Zhafran. Ya memang badan Ardha lebih berisi daripada Zhafran, dan lebih Atletis daripada Zhafran, pastinya lebih tinggi Ardha dengan Zhafran, walaupun Ardha adiknya. Ya, seperti taksiran Ardha, bajunya benar-benar sempit di pakai Ardha. Ardha keluar memperlihatkan pada Alana. Ya Zhafran pun tak kalah atletisnya, tapi kurang berisi seperti Ardha. Karena Ardha memang lebih suka merawat badannya, sedang Zhafran, urusan pekerjaan dan perempuan paling utaman.
"Nih, kak, ketat, kan?"ucap Ardha.
Alana tertawa melihta Ardha kesempitan memakai baju Zhafran.
__ADS_1
"Ya sudah lepas, aku ambilkan baju yang lain," ucap Alana.
“Oke, aku tunggu, Kak,” jawab Ardha.
Alana ke kamarnya dan mengambil baju kemeja pria berwarna merah hati yang ia desain sendiri, dan ia jahit sendiri di butik Tita. Entah tiba-tiba Alana ingin membuat baju kemeja pria saat itu, saat ia merindukan ayahnya.
"Ini coba dulu." Alana memberikan kemaja itu pada Ardha.
Ardha mencobanya di kamar tamu. Pas sekali di badan Ardha. Kemeja berwarna Maroon melekat sempurna di tubuh Ardha. Ardha keluar dan memperlihatkannya pada Alana.
"Bagaimana?" tanya Ardha.
"Hmmm … sempurna,"ucap Alana.
"Aku pinjam dulu, nanti pulang aku kembalikan," ucap Ardha.
"Sudah pakai saja, itu aku yang membuatnya, saat pertama kali aku kerja di butik Tante Tita, aku buat tiga kalau gak salah, kalau aku ingat ayah, aku pasti membuat desain baju pria. Sebentar aku ambilkan lagi, pasti di Mas Zhafran kegedean, kan satu ukuran itu aku buatnya,” ucap Alana.
"Jadi ini untuk aku?" tanya Ardha.
"Iya, pakai saja, itu untuk kamu, nanti aku ambilkan lagi yang dua, tapi motif," jawab Alana.
“Hmmm ... enak nih, main ke sini tujuannya mau pamit, malah dikasih baju sama Kakak Ipar,” ucap Ardha dengan terkekeh.
“Gak apa-apa, daripada gak kepakai sayang, kan?” jawab Alana.
Alana mengambilkan dua kemeja lagi untuk Ardha. Ardha mencobanya lagi, dan memang pas sekali di badan Ardha.
“Lumayan nih buat kerja,” ucap Ardha. “Makasih ya, Kak?”
“Iya, sama-sama, sudah pakai saja,” jawab Alana.
Alana dan Ardha mengobrol sebentar sebelum Ardha pamit untuk berangkat ke Jogja.
“Kamu bahagia, Lan?” Ingin sekali Ardha menanyakan hal seperti itu, tapi ia hanya bisa bertanya dalam hatinya, karena ia rasa ia tak pantas menanyakan hal itu pada Alana, apalagi ada Nina.
"Kak, sudah siang, Ardha berangkat Ke Jogja, ya?" pamit Ardha.
"Oke, kamu hati-hati,"
"Siap!"
"Kalau sudah sampai kabari kami,"
"Iya, Kak, tapi aku tidak punya kontak kakak yang baru," ucap Ardha.
"Catat nomorku yang baru." Alana menyebutkan nomor ponselnya pada Ardha dan Ardha dengan segera mencatat di ponselnya.
"Terima kasih," ucap Ardha.
“Sama-sama, Ar,” jawab Alana.
"Nin, Om berangkat dulu, ya? Kamu jangan nakal sama bunda dan papa, jadi anak yang penurut, oke," tutur Ardha pada Nina.
"Oke, Om hati-hati," jawab Nina.
"Siap, tuan putriku." Ardha mencium Nina dan Nina juga mencium Ardha.
Ardha masuk ke dalam mobilnya dan melambaikan tangan pada Alana dan Nina. Ardha melajukan mobilnya menuju Ke Jogja, tempat di mana dia bekerja dan berusaha melupakan Alana, tapi nihil adanya.
"Aku rela, Alana dengan Kakak, tidak apa-apa, aku sudah dapat nomor Alana yang baru dan dapat kenang-kenangan tiga kemeja buatannya," gumam Ardha dengan senyum bahagia.
__ADS_1