Sekelumit Asa

Sekelumit Asa
Kerinduan Anita ...


__ADS_3

Anak kecil itu langsung bangun dan mendekati Anita.


" Kak bangun kak, kakak tidak apa - apa ? " Tanya anak kecil itu.


Anita membuka mata nya, dia merasakan sakit dipunggung nya dan nyeri di beberapa bagian tubuh nya. Anak kecil itu meraih tangan Anita dan ingin membantu nya berdiri, tapi kedua lutut Anita terluka, siku dan juga telapak tangan nya juga terluka hingga dia tidak sanggup berdiri dan hanya mampu untuk duduk saja.


" Dion ... Kau baik - baik saja nak? Kau tidak terluka kan ? " Ucap laki - laki paruh baya itu sambil memeluk dan memeriksa setiap inci tubuh anak laki - laki nya yang ternyata bernama dion.


" Dion tidak apa - apa pah ... Kakak ini yang menolong dion, tapi malah dia yang terluka. " Ucap dion


Pria itu melepaskan pelukan nya pada dion dan mendekati Anita.


" Kau terluka nak ? Terima kasih sudah menolong putraku, mari kuantar ke rumah sakit. " Tawar lelaki paruh baya itu pada Anita.


Anita yang menunduk sambil meniup - niup lutut nya yang sakit kemudian mendongak, menatap lelaki yang mengajak nya bicara.


Pandangan mereka beradu. Mata Anita berkaca - kaca, sebisa mungkin dia menahan tangis nya.


" A ... A - yah ... " Ucap Anita lirih.


" Anita ... Ini sungguh kau nak ? Kau ... Anita anak ku kan ? " Tanya lelaki itu sambil menggoyang - goyang pundak Anita kemudian memeluk nya.


" Ayah sangat merindukan mu nak. " Ucap lelaki itu lagi sambil mengeratkan pelukan nya.


Air mata yang sedari tadi ditahan Anita pun mengalir tanpa permisi. Anita merasa nyaman dalam pelukan lelaki itu. Pelukan yang selama 10 tahun ini sangat dirindukan nya. Tapi disaat yang sama, dada nya terasa sangat sesak. semua memori masa kecil nya seolah berputar kembali di pikiran nya. Ingin rasa nya dia berontak dan melepaskan diri dari pelukan ayah nya tapi badan nya seolah mengabaikan keinginan nya itu. Rasa rindu nya pada sang ayah membuat nya ingin merasakan pelukan itu lebih lama.


" Anita ..... " Panggil Andy yang bingung melihat Anita duduk di trotoar dengan seorang lelaki yang memeluk nya.


Lelaki itu melepaskan pelukan nya dan m


enoleh ke sumber suara.


" Om Hendra ..... " Ucap Andy terkejut saat tahu lelaki yang memeluk kekasih nya adalah om hendra.


" Anita ... Om Hendra ... Ada apa sebenar nya ini, apa kalian saling mengenal ? " Tanya Andy.


" Anak itu hampir tertabrak motor dan aku menolong nya. Jadi papa nya mengucap kan terima kasih padaku, itu saja. " Ucap Anita.


" Dia terluka ndy, sebaik nya kita bawa kerumah sakit dulu. " Ucap om Hendra.

__ADS_1


" Aku tidak apa - apa. Ndy ... Bisakah kau membantuku berdiri, aku ingin pulang saja. " Tolak Anita.


Andy mendekati Anita dan memeriksa setiap inci tubuh nya.


" Bagaimana mungkin bisa tidak apa - apa sementara badan mu penuh dengan luka seperti ini. " Protes Andy.


" Hanya luka kecil, aku bisa mengobati nya dirumah. " Tolak Anita.


" Kau memang keras kepala, sama sepertiku. Jangan dengarkan dia ndy, kita bawa kerumah sakit saja. Mobil om diseberang, biar om ambil dulu. " Ucap om Hendra.


Tanpa mendengar jawaban dari keduanya, om Hendra berjalan sambil menggandeng Dion ke seberang untuk mengambil mobil nya.


Andy menggendong Anita, om Hendra membuka kan pintu belakang mobil.


" Sayang ... Kau ikut lah om Hendra. Aku akan mengikuti dari belakang. " Perintah Andy.


Anita hanya diam tidak menanggapi.


" Om ... titip Anita. " Pinta Andy.


" Tentu saja, jangan khawatir. " Jawab om Hendra.


" Maaf kan Ayah Anita ... Maaf atas semua yang kau alami di masa lalu. Dan maaf atas apa yang kau alami hari ini. Itu semua karena ayah. " Ucap om Hendra sambil melihat Anita lewat kaca spion.


" Maaf ... Aku sedang tidak ingin bicara. Aku mengantuk. " Sahut Anita.


" Baik lah. Tidur lah kalau begitu. Ayah akan membangunkan mu jika sudah sampai. Nanti kita bicara lagi. " Ucap om Hendra.


Anita memejamkan mata, meski tidak tidur sama sekali. Dia menangis sesenggukan sambil memiringkan tubuh nya agar sang ayah tidak melihat nya, meski masih bisa mendengar tangisan nya walau lirih.


Perasaan nya campur aduk tak karuan, antara senang, sedih, benci, bingung. Semua itu membuat dada nya terasa sangat sesak.


*** Pov bu Rahmi ***


Bu Rahmi sedang menutup toko nya. Dia menutup toko nya lebih awal karena merasa badan nya sedang tidak sehat dan ingin beristirahat.


" Anita kemana ya. Sudah jam segini kenapa belum pulang. Semoga tidak terjadi hal buruk lagi pada nya. " Batin bu Rahmi.


Selesai menutup toko bu Rahmi masuk kerumah dan menunaikan sholat ashar.

__ADS_1


Sebuah mobil mewah masuk ke halaman rumah bu Rahmi, kemudian berhenti setelah mobil terparkir sempurna. Seorang pria setengah baya berperawakan gagah dan masih terlihat tampan diusia nya turun dari mobil itu. Pria yang bernama pak Ferdy alias papa Vera itu berjalan menuju pintu. Pintu terbuka, pak Ferdy melihat kedalam namun tak tampak seorang pun. Dia pun kemudian mengetuk pintu.


" Tok tok tok ..... Permisi. Selamat siang ... " Pak Ferdy mengetuk pintu beberapa kali namun belum ada orang yang keluar.


" Tok tok tok .... Permisi ... " Teriak pak Ferdy lebih kencang.


Selesai salam bu Rahmi hanya melepas mukena bawah nya, sedangkan mukena yang atas masih dipakai nya. Dia pun berjalan keluar kamar menuju depan karena sedari tadi mendengar pintu diketuk dan suara orang berteriak.


Pak Ferdy menunggu sambil bersandar di kusen pintu, dia memperhatikan toko yang ada didepan nya. " Cukup besar, namun bangunan nya terlihat rapuh. Rumah nya pun sepertinya tidak pernah direnovasi. " Gumam pak Ferdy sambil memperhatikan sekitar nya.


" Siapa ya ... Sepertinya aku tidak mengenal nya. " Batin bu Rahmi saat melihat seorang pria berdiri di pintu dan membelakangi nya.


" Permisi ... Anda mencari siapa ya ? " Sapa bu Rahmi.


Mendengar sesorang bertanya, pak Ferdy pun menoleh ke sumber suara.


" Rahmi .....


" Ferdy .....


Panggil mereka bersamaan dengan ekspresi sama - sama terkejut.


Suasana hening sejenak karena mereka berkutat dengan pikiran masing - masing.


" Mari ... Silahkan duduk. " Bu Rahmi membuka obrolan dengan mempersilahkan tamu nya duduk.


" Terima kasih . " Ucap pak Ferdy.


Pak Ferdy duduk dan mereka pun terdiam lagi. Suasana canggung seketika tercipta.


" Bagaimana kabar mu ? Sudah lama sekali tidak bertemu. " Tanya pak Ferdy.


" Alhamdulilah kabar ku baik, bagaimana kabar mu dan keluarga ? " Tanya bu Rahmi balik.


" Aku dan anak ku baik, sedangkan istriku sudah lama sekali meninggal. " Jawab pak Ferdy.


" Aku turut berduka, maaf tidak mengetahui nya. " Ucap bu Rahmi.


" Terima kasih, tidak masalah. " Sahut pak Ferdy.

__ADS_1


__ADS_2