
" Syukur deh kalo gitu. Kami ikut seneng. " Ucap Sinta.
" Kamu pasti bahagia banget dong sekarang. " Ucap Adis
" Mana ada orang sakit bahagia ? " Sungut Amel.
" Maksud ku bukan bahagia karena sakit nya, tapi karena ketemu ayah nya. masak gitu aja harus dijelasin. " Sanggah Adis.
" Habis kamu nya aja yang ngomong nya ga jelas. " Protes Amel.
" Yang lain nya aja faham, cuma kamu aja yang enggak. " Ucap Adis.
" Jadi maksud mu cuma aku yang bodoh gitu ? " Protes Amel lagi.
" Aku kan ga bilang gitu. " Elak Adis.
" Sudah sudah, kenapa kalian berdua suka banget bertengkar sih ? Ga di sekolah, dirumah, dijalan, bahkan dirumahsakit juga masih saja bertengkar. Ga malu apa sama om dan tante yang lihatin tuh. " Sungut Sinta menengahi sambil memonyongkan bibir nya kearah Rahmi dan Hendra.
Adis dan Amel pun mengangguk sambil tersenyum kearah Hendra dan Rahmi yang sedang memperhatikan mereka.
" Eh nit, Ayah mu ternyata ganteng juga ya. Ga kalah ganteng sama papa nya Vera. " Ucap Amel.
" Kamu mel, ga boleh lihat bening dikit aja langsung kesengsem. " Sahut Adis.
" Siapa juga yang kesengsem. Amel kan cuma muji doang. Ga lihat apa tiap hari para penggemar Amel yang semuanya muda - muda dan ganteng - ganteng pada ngejar - ngejar Amel. Ga mungkin lah Amel naksir om - om. " Cerocos Amel.
" Kali aja seleramu udah berubah Mel. Lagian ... Punya penggemar tukang siomay, tukang bakso ma tukang gado - gado aja dibanggain. " Bantah Adis.
" Biarin ... Yang penting punya penggemar. " Ucap Amel.
" Kamu sengaja kali mel, tiap beli ga pernah bayar. Jadi pada nungguin kamu deh tiap pulang sekolah. Dah gitu pake acara kabur lagi, jelas aja lah mereka pada ngejar - ngejar kamu. " Protes Adis membuat Anita dan Sinta tertawa.
Sedangkan Amel hanya cemberut sambil memonyongkan bibir nya karena ucapan Adis tadi memang benar.
" Sudah nit, ga usah di dengerin tuh tom and jerry. Eh omong - omong, buka dong nit tas nya ! Penasaran nih isinya apaan. " Ucap Sinta.
" Iya nih, sama. Aku juga penasaran. " Sahut Amel.
Sedangkan Adis hanya ikut mengangguk.
Anita membuka tas kecil pemberian ayah nya tadi.
" Waah ... Handphone keluaran terbaru. " Pekik Adis sambil menutup mulut nya saat melihat didalam tas itu berisi kardus HP.
" Bisa saja kan cuma kardus nya doang, mungkin isi nya beda kali. Buka dong nit ! " Ucap Amel.
Anita membuka kardus HP yang ternyata masih segelan itu, dan benar saja didalam nya ada sebuah Smartphone keluaran terbaru berwarna merah maroon yang harga nya bisa dipastikan bernilai dua digit.
__ADS_1
" Waah ... " Ucap Adis, Amel dan Sinta serempak.
" Ini kan type yang aku incer. Aku minta beliin papa ku ga dibolehin. Katanya sih karena HP ku masih bagus. Apa aku hancurin aja ya handphone ku biar dibeliin yang baru. " Ucap Adis asal.
" Daripada dihancurin, mending di shodaqohin ke aku aja. " Sahut Amel.
" Enakan kamu dong. " Ucap Adis.
" Ya iyalah. Eh nit, tukeran dong sama punyaku mau ga ? " Tanya Amel.
" Handphone mu kan dah butut, minta tuker yang baru. Memang nya Anita bodoh apa. " Protes Adis.
" Ha ha ha ... Sudah sudah, Bisa darah tinggi aku dengerin kalian bertengkar terus. " Gerutu Anita.
Beberapa saat kemudian, Teman - teman Anita pun berpamitan pulang.
" Om ... Tante ... Kita mau pamit pulang dulu. " Pamit Sinta mewakili teman - teman nya.
" Lho ... Kok buru - buru. " Ucap Hendra.
" Iya Om, takut kesorean. Anak gadis kan ga boleh pulang malem - malem om. Entar diculik penjahat kan bahaya. " Sahut Amel.
" Penjahat juga pilih - pilih kali mel kalau mau culik orang. Bisa bangkrut tuh penjahat kalo nyulik kamu. Makan kamu seporsi aja kayak makanan kita bertiga. " Protes Adis.
" Om ... Tante ... Maaf ya kalo dari tadi Adis bikin ribut melulu. Emang nih anak dimana aja suka bikin ribut. " Ucap Amel.
" Kok mulut ? " Tanya Amel.
" Kamu kan lempar batu nya pake mulut ga pake tangan. " Jawab Adis.
" Enak aja, dikira Amel suka makan batu apa ? " Protes Amel disambut tawa oleh semua nya.
" Maaf ya om ... Tante ... Kalau kita bikin ribut. " Ucap Sinta.
" Tidak apa - apa, Justru tante senang sekali kalian jenguk Anita. Tuh lihat, dari tadi Anita ketawa - ketawa terus. " Sahut Rahmi.
" Kalau begitu kami permisi dulu Om ... Tante ... " Ucap Sinta lagi.
" Iya ... Terima kasih ya sudah mau datang menjenguk Anita. Terima kasih juga atas buah tangan nya.
" Sama - sama tante. Permisi ... Asaalamu'alaikum ... " Pamit Sinta diikuti Adis dan Amel yang bergantian untuk salaman.
Mereka pun pulang dan Rahmi menutup pintu kembali.
" Oya ayah ... Apa handphone nya bisa dikembalikan ke toko nya ? " Tanya Anita membuat Hendra berjalan mendekati nya.
" Kenapa sayang ? Kamu tidak suka model nya, atau warna nya ? " Tanya Hendra balik.
__ADS_1
" Bukan begitu ayah. Anita suka kok. Tapi ... Apa ini tidak terlalu mahal ? Ayah kan juga harus membayar biaya pengobatan Anita. Beli HP nya yang murah - murah saja, yang second juga ga masalah. " Ucap Anita.
" Ooh ... Ayah pikir kamu tidak suka. Itu bukan apa - apa sayang, hanya pemberian kecil saja. Selama ini ayah bahkan tidak pernah memberikan mu hadiah apapun, jadi diterima ya. Dan jangan khawatir soal biaya pengobatan, uang ayah masih cukup kok. Bahkan untuk biaya kuliah maupun pernikahan kamu, insya allah juga masih cukup. Jadi jangan cemas ya. " Ucap Hendra.
Anita melirik Rahmi, meminta persetujuan dari sang ibu. Rahmi pun mengangguk pertanda setuju.
" Baikkah ayah, Anita terima. Terima kasih banyak ayah. Anita senang sekali. " Ucap Anita.
" Sama - sama sayang. " Ucap Hendra sambil mencium pucuk kepala Anita.
Pukul 18.10 malam, seseorang mengetuk pintu.
" Assalamu'alaikum ... " Sapa Andy yang sudah berdiri di depan pintu.
" Eh ... Nak Andy, masuk nak. " Ucap Rahmi.
" ibu ... om ... " Panggil Andy sambil menyalimi tangan kedua nya.
" Wah ... Kamu keren sekali ndy. Om jadi inget waktu masih muda dulu. " Ucap Hendra sambil memperhatikan penampilan Andy.
" Om bisa saja, sekarang juga om masih ganteng kok. " Puji Andy.
" Memang sih, semua orang juga bilang begitu. " Ucap Hendra percaya diri.
" Sudah berumur, masih juga ga mau kalah sama anak muda. " Protes Rahmi.
" Tapi suka kan ? " Ucap Hendra sambil mendekat kan wajah nya ke wajah Rahmi.
Rahmi memalingkan muka nya karena malu.
" Ha ha ha ha ..... " Andy dan Anita kompak tertawa.
" Sudah ayah, jangan goda ibu lagi. Lihat, wajah ibu jadi semerah tomat. " Ucap Anita.
" Oya ... berhubung Andy sudah datang, bagaimana kalau kita sholat maghrib di masjid sekalian cari makan malam ? " Hendra bertanya pada Rahmi.
" Boleh ... Kamu sudah sholat ndy ? " Tanya Rahmi.
" Sudah bu, tadi sebelum masuk Andy sholat dulu di masjid depan. " Ucap Andy.
" Kalau begitu, ibu titip Anita ya. " Ucap Rahmi.
" Iya bu. Jangan khawatir, Andy akan jaga Anita. " Sahut Andy.
" Baiklah kalau begitu, Om tinggal dulu ya. " Sela Hendra.
" Iya om silahkan. " Ucap Andy.
__ADS_1