
Ban belakang motor Andy bocor terkena paku hingga Andy kehilangan jejak mobil Hendra. Andy mendorong motor nya dan mencari bengkel terdekat. Beruntung tak jauh dari situ ada sebuah bengkel yang baru saja mau tutup, telat sedikit saja maka Andy harus menuntun motor nya lagi untuk mencari bengkel yang lebih jauh.
Andy meminta pemilik bengkel untuk mengganti ban dalam baru untuk nya karena dia tidak mau lama menunggu jika hanya ditambal. Sebelum nya Andy sudah mengirim pesan pada Hendra kalau ban motor nya bocor dan meminta Hendra untuk mengurus Anita sebentar. Hendra pun juga sudah memberitahu Andy di rumah sakit mana dia akan membawa Anita.
Mobil Hendra sudah sampai di depan IGD sebuah rumah sakit swasta. Hendra turun dari mobil nya dan membuka kan pintu untuk Dion.
" Papa ... Siapa sebenar nya kakak itu ? Kenapa tadi dia memanggil papa dengan sebutan ayah ? " Tanya Dion saat turun dari mobil.
" Dia kakak mu sayang. " Jawab Hendra.
" Kakak ... Kenapa mama dan papa tidak pernah mengatakan pada Dion sebelum nya ? Dan kenapa Dion baru melihat kakak sekarang ? " Tanya Dion bingung.
" Cerita nya panjang sayang, nanti papa ceritakan. Sekarang kita harus membawa kakak mu masuk agar segera diobati. " Ucap Hendra.
Dion mengangguk pertanda setuju.
Hendra membuka pintu belakang mobil dan menunduk. Anita terlelap dengan pipi dan rambut yang masih basah karena air mata nya.
Hendra menatap Anita lekat - lekat. Putri yang dulu ditinggal kan nya dan yang selama ini di rindukan nya sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.
" Kau dan ibu mu pasti sangat menderita selama ini. Maaf kan ayah sayang, ayah sudah sangat berdosa pada kalian. " Ucap Hendra dalam hati.
Hendra mengusap - usap dengan lembut pucuk kepala Anita membuat si empu nya bangun dan menatap nya.
" Sudah sampai sayang. Ayo masuk, ayah akan menggendong mu. " Ucap Hendra.
" Tidak usah terima kasih, biar Andy saja yang menggendong ku. " Sahut Anita.
" Andy masih dibengkel, ban motor belakang nya bocor sewaktu dijalan tadi. Dia akan menyusul kesini kalau sudah selesai. " Terang Hendra menjelaskan.
" Kalau begitu biar aku jalan sendiri saja, aku bisa. " Ucap Anita sambil menurun kan kaki nya ke tanah.
__ADS_1
Saat Anita hendak berdiri dan kedua kaki nya berpijak di tanah Anita terjatuh karena kedua lutut nya terasa perih sekali. Untung Hendra memegangi nya dengan kuat.
" Kenapa kau keras kepala sekali. Jika kau tidak memikirkan dirimu sendiri, setidak nya pikir kan orang lain yang menyayangimu. " Ucap Hendra yang dengan secepat kilat langsung membopong Anita.
Hendra berjalan dan Dion mengekor di belakang nya. Anita mendongak menatap wajah ayah nya. Wajah yang selalu di rindu kan nya selama ini. Wajah yang sama yang dulu meninggal kan nya. Yah ... Tidak banyak yang berubah dari Hendra. Meski umur nya bertambah tua, tapi wajah nya masih sama dengan yang dulu. Hanya penampilan nya yang terlihat lebih rapi dan mentereng.
Ingin rasa nya Anita melompat turun dan mencoba berjalan sendiri, namun yang terjadi ... Anita mengalung kan tangan nya di leher sang ayah dan menenggelam kan wajah nya di dada sang ayah. Menghirup dalam - dalam aroma tubuh yang sudah sejak lama di rindukan nya. Hendra tersenyum melihat Anita seperti itu.
Hendra sudah masuk ke ruang IGD, seorang perawat laki - laki menghampiri dan meminta Hendra membaring kan Anita di bad yang sudah disediakan.
Perawat menanyakan yang terjadi pada Anita, kemudian pergi untuk memanggil dokter. Tak berapa lama, sorang dokter datang dengan perawat tadi dibelakang nya dengan mendorong troli yang berisi alat - alat medis di atas nya.
" Anda siapa ? " Tanya sang dokter.
" Saya Ayah nya. " Jawab Hendra.
" Baik lah ... Silahkan bapak tunggu sebentar, saya akan mengobati luka - luka nya. " Kata sang dokter yang kemudian meminta perawat menutup tirai mengelilingi bad Anita.
Hendra menggandeng Dion dan duduk di kursi tunggu.
Andy datang dan menghampiri Hendra.
" Bagaimana keadaan Anita om ? " Tanya Andy.
" Dokter sedang mengobati nya, tenang lah. " Jawab Hendra sambil menepuk pundak Andy.
Andy mengangguk dan duduk disamping Hendra.
" Apa dia kekasih mu yang waktu itu datang bersamamu ke restoran ? " Tanya Hendra.
" Iya om, Anita kekasih ku. Apa om mengenal Anita sebelum nya ? " Tanya Andy balik.
__ADS_1
Meski Andy tidak melihat langsung kronologi kejadian yang menimpa Anita, tapi dari sorot mata, ekspresi dan percakapan mereka Andy bisa menyimpulkan jika Anita dan Om Hendra sudah saling mengenal sebelum nya.
Perawat membuka korden dan mendorong troli nya pergi.
Suara korden terbuka terdengar saat Hendra baru mau menjawab pertanyaan Andy.
" Nanti om ceritakan, ayo kita temui Anita dulu. " Ucap Hendra sambil meraih pundak Andy dan kemudian berjalan ber iringan.
" Sayang ... Kau tidak apa - apa ? " Tanya Andy menghampiri Anita dan mencium kening nya.
Andy khawatir saat melihat kepala, kedua tangan dan kedua kaki Anita dibalut perban semua.
" Aku tidak apa - apa. " Sahut Anita sambil tersenyum.
" Bagaimana keadaan putri saya dok ? " Hendra bertanya pada dokter.
Andy pun terkejut saat mendengar Hendra menyebut Anita sebagai putri nya.
" Luka - luka luar putri bapak sudah diobati semua dan tidak ada yang serius. Tapi ... Putri bapak mengeluh kan sakit di punggung nya, tepat ditulang belakang nya. Saya saran kan agar putri bapak di rawat inap. Diagnosa saya, terjadi sesuatu pada tulang belakang Anita saat membentur setang motor dengan keras. Saya akan menghubungi dokter ortopedi untuk pemeriksaan lebih lanjut. " Terang sang dokter.
" Baiklah dok, kami setuju asalkan putri saya bisa sembuh. Terima kasih. " Ucap Hendra sambil menyalami sang dokter.
" Sama - sama, permisi. " Jawab sang dokter yang kemudian pergi ke ruangan nya.
Seorang perawat perempuan datang menghampiri mereka.
" Silahkan salah satu keluarga ikut saya untuk mengurus administrasi. " Ucap sang perawat.
Andy beranjak hendak mengikuti sang perawat, namun Hendra menahan nya.
" Biar om saja ndy, temanilah Anita. " Pinta Hendra pada Andy.
__ADS_1
" Baiklah om. " Ucap Andy setuju karena dia merasa Om Hendra lah selaku ayah Anita yang lebih berhak untuk itu.
Hendra mengikuti sang perawat menuju loket administrasi. Seorang perawat lain mendatangi Anita dengan membawa kursi roda dan memasang kan infus di tangan Anita. Andy menggendong Anita dan menduduk kan nya di kursi roda. Sang perawat mendorong Anita menuju ruang rawat inap nya dan Andy mengikuti dibelakang nya.