
" Dengar ya Lastri, Laki - laki yang kamu lihat tadi adalah Den Andy. Anak tuan Wiratmaja pemilik villa ini sekaligus majikan ibu. Jadi ibu minta, jaga sopan santunmu. Jangan melakukan hal apapun yang bisa membuat malu ibu apalagi sampai membuat ibu dipecat, mengerti ? " Ucap Bi Sumi memperingati putrinya.
" Iya iya bu, Lastri ngerti. " Sahut Lastri.
Lastri memang masih remaja, dia baru saja lulus SMA tahun ini. Bi Sumi memintanya untuk melamar pekerjaan dipabrik dekat kampungnya. Namun Lastri tidak mau dan ngotot ingin kuliah dikota. Padahal jangankan untuk kuliah, cukup untuk biaya sehari - hari saja sudah bersyukur. Bi Sumi hanya punya satu anak saja yaitu Lastri. Sedangkan suaminya hanya bekerja serabutan dikampung. Itu pun dulu karena sejak setahun ini dia menganggur karena sering sakit - sakitan.
Dikampung, Lastri terkenal suka bikin rusuh dan pembuat onar. Dia selalu ikut campur urusan orang lain. Bahkan sering juga mengadu domba teman - teman dan tetangganya hingga memicu keributan.
Meski ibunya hanya seorang pembantu, namun Lastri selalu berlagak seperti orang kaya. Salah satu alasan nya ngotot ingin kuliah di kota tidak lain karena ingin mendapatkan pacar orang kaya. Dia bosan terus - terus an di kampung dan hidup miskin. Dia ingin hidup mewah dikota besar tanpa bekerja, karena itulah dia bercita - cita ingin memiliki suami orang kaya.
" Makanannya sudah siap Bi ? " Tanya Andy mengagetkan Bi Sumi.
" Sudah Den, sudah bibi siapin di meja makan. Mari silahkan Den, Non ... " Jawab Bi Sumi.
Andy dan Anita pun duduk di bangku meja makan dan menikmati makan siang mereka sedangkan Bi Sumi membersihkan dapur yang kotor bekas memasak tadi.
" Kasihan banget, ganteng - ganteng pacarnya jelek gitu. Cakepan aku kemana - mana kali. Oh iya, selain ganteng dia kan juga kaya. Kalau aku bisa jadi pacarnya bakalan jadi mantu orang kaya dong, terus ga perlu kerja. Tiap hari bisa nge-mall beli barang - barang branded. Bisa jalan - jalan keluar negeri, Beli rumah mewah. Terus bakalan aku sumpelin tuh mulut - mulut orang nyinyir di kampung pake duit aku. Pasti deh pada klepek - klepek ngemis - ngemis sama aku. Eh tapi kan udah ada pacarnya. Bodoh amat deh, cowok mana sih yang bisa menolak pesona Lastri sang kembang desa. " Cicit Lastri dalam hati.
Lastri mendekati meja makan dan berpura - pura membersihkan lemari disamping nya.
" Ehem ... "
" Ehem ... "
" Ehem ehem ... "
Lastri berdehem beberapa kali namun tak mendapat respon baik dari Andy maupun Anita.
" Ganteng - ganteng kok budeg gitu sih. Udah pasang tampang menggoda gini malah dicuekin. " Batin Lastri lagi.
" Permisi ... " Ucap Lastri sambil mengetuk meja beberapa kali.
" Ada apa ? " Tanya Andy.
__ADS_1
" Tadi kita udah ketemu didepan kamar, tapi belum berkenalan. Jadi saya hanya mau ngajak kenalan saja. Nama saya Lastri. " Ucap Lastri sambil mengulurkan tangannya.
Anita menyenggol tangan Andy, memberi kode agar Andy menyambut uluran tangan Lastri namun Andy tak menghiraukannya.
" Apa kamu tidak lihat kalau kami sedang makan ? " Ucap Andy geram karena merasa Lastri tidak sopan.
Bi Sumi yang melihat kejadian itu pun langsung mendekati Lastri.
" Maaf den, Maafkan anak Bibi kalau tidak sopan. " Ucap Bi Sumi.
" Hemm ... " Andy hanya berdehem.
" Terimakasih Den, Bibi permisi dulu. " Pamit Bi Sumi sambil menarik tangan Lastri menuju kamarnya.
Andy memang menganggap Bi Sumi sudah seperti keluarganya, namun Andy juga tidak akan mentolerir jika ada yang tidak sopan padanya. Tak terkecuali anak Bi Sumi.
" Apaan sih bu, memangnya Lastri kambing dari tadi ditarik - tarik terus. " Ucap Lastri sambil menarik tangannya dari genggaman sang Ibu.
" Siapa yang bikin malu sih bu, orang Lastri cuma ngajak kenalan aja. " Sanggah Lastri.
" Lastri ... Mereka itu sedang makan. Tidak sepantasnya kamu mengganggu, apalagi hanya untuk mengajak berkenalan. Lagipula siapa kamu sampai mengajak berkenalan ? Sadar Lastri, kamu itu hanya anak pembantu. Diamlah jika tidak ditanya lebih dulu. " Ucap Bi Sumi.
" Memangnya kenapa bu ? Apa pembantu bukan manusia ? Kenapa hanya berkenalan harus pilih - pilih orang. Lastri dan dia kan sama - sama tinggal disini jadi wajarkan kalau saling berkenalan. " Protes Lastri.
" Memang susah ya ngomong sama kamu. Pokoknya sekali lagi kamu bikin ulah, ibu pulangin kamu kekampung. " Ancam Bi Sumi yang kemudian keluar dari kamarnya.
Bi Sumi memang memanggil Lastri dari kampung untuk tinggal dan membantunya, karena Bi Nur yang bekerja bersamanya sedang cuti dan pulang kekampung halamannya.
Namun bukannya membantu, Lastri malah berbuat semaunya. Berlagak bak pemilik rumah dan meminta ibunya melakukan ini dan itu.
Sebenarnya Bi Sumi juga menyesal sudah memanggil Lastri dan memintanya pulang kembali kekampung untuk menjaga sang ayah, namun Lastri tidak mau karena ingin tinggal lebih lama.
" Dasar orangtua, bisanya cuma marah - marah saja. Sama sekali tidak peduli dengan anaknya. Padahal kan usaha ku ini juga buat dia. Coba kalau aku dapet suami orang kaya. Ibu sama bapak kan juga pasti ikut kaya dan ga perlu jadi pembantu lagi. " Gerutu Lastri.
__ADS_1
Selesai makan siang, Andy dan Anita melaksanakan sholat dzuhur bersama. Setelah itu sesuai dengan janjinya, Andy mengajak Anita berjalan - jalan kepantai.
Lastri menuju ruang makan dan mendapati sang ibu yang sedang membersihkan meja makan.
" Kemana mereka ? Kenapa cuma ada ibu. " Batin Lastri.
Lastri pun menuju pos satpam untuk bertanya, karena tidak mungkin dia bertanya pada sang ibu yang sudah pasti akan memarahinya lagi.
Lastri bergegas kekamarnya setelah tahu kemana Andy dan Anita pergi.
" Aku harus menyusul mereka. Tidak akan kubiarkan wanita itu berduaan dengan calon pacarku. " Batin Lastri.
" Pakai baju yang mana ya, kenapa bajuku jelek - jelek semua. Memang nasib, jadi anak orang miskin. " Gerutu Lastri sambil mengobrak - abrik isi lemarinya.
" Nah ... Ini saja deh. Lumayan. " Ucap Lastri yang kemudian segera berganti baju.
Sementara itu, Anita dan Andy sedang berjalan - jalan santai dipinggir pantai sambil bergandengan tangan. Menikmati semilir angin yang berhembus kencang menerpa mereka. Anitapun terlihat kesulitan karena rambut panjangnya menari - nari kesana kemari tertiup angin hingga menutupi sebagian dan bahkan seluruh wajahnya.
" Kita duduk dulu ya Ndy, aku capek. " Ucap Anita.
" Bagaimana kalau kugendong ? " Tawar Andy.
" Ngga ... Kita istirahat saja sebentar. " Tolak Anita.
" As your wish honey ( Seperti yang kau mau sayang ). " Ucap Andy.
Merekapun duduk diatas pasir dengan beralaskan sandal mereka.
Andy menggenggam tangan Anita, sedangkan Anita menyandarkan kepalanya di bahu Andy.
" Indah banget ya pemandangannya, anginnya juga sejuk. Rasanya pingin berlama - lama disini. " Ucap Anita.
" Ya sudah, kita disini saja yang lama. Sambil menunggu sunset, sambil mengobrol seperti ini. " Sahut Andy yang juga sedang menikmati kebersamaannya bersama Anita.
__ADS_1