Sekelumit Asa

Sekelumit Asa
Malam yang tertunda ...


__ADS_3

Untuk Dewasa ( 18 tahun up )


***


" Berhati - hati lah sayang ... Untung kau hanya menabrak ku, coba kalau menabrak tembok ! " Ucap Hendra memperingat kan.


" Kau sengaja kan, aku tahu itu. " Sahut Rahmi sambil mengerucut kan bibir nya.


" Habis kau lucu sih ... tidur sambil jalan. Emh ... Atau harus nya jalan sambil tidur ya. " Ucap Hendra sambil berpikir.


" Sama saja sayang. Aku masih ngantuk, mataku susah sekali dibuka. " Sahut Rahmi sambil sengaja membelalak kan mata nya.


Hendra tertawa melihat nya dan mencubit pipi Rahmi gemas.


" Ya sudah, ayo sholat dulu. Mungkin air wudhu bisa menyegar kan mu. " Ajak Hendra sambil menarik tangan Rahmi.


Selesai sholat, bel pintu berbunyi. Rahmi merapikan mukena nya. Hendra keluar masih mengenakan sarung nya dan hanya melepas peci nya saja. Dia berjalan menuju pintu dan membuka nya.


Pengantar makanan datang, Hendra membayar nya dan membawa masuk makanan nya setelah menutup pintu kembali.


Hendra meletak kan makanan nya di meja ruang tengah, Rahmi menghampiri nya.


" Siapa yang datang sayang ? " Tanya Rahmi.


" Hanya pengantar makanan. " Jawab Hendra.


" Cepat sekali. Kapan kau memesan nya ? " Tanya Rahmi lagi.


" Tadi, waktu kau tidur. " Jawab Hendra.


" Ooh ... Ya sudah, aku ambil piring, sendok dan air minum dulu. " Ucap Rahmi.


" Iya sayang, terima kasih. " Sahut Hendra.


Rahmi memindahkan makanan dari kemasan ke piring yang dibawanya, kemudian menyodor kan piring satu nya pada Hendra.

__ADS_1


Mereka makan malam sambil menonton tv dan sesekali bercanda.


Setelah selesai, Rahmi membawa piring dan gelas kotor ke dapur kemudian mencuci nya.


Rahmi kembali ke ruang tengah untuk menemani suami nya menonton tv.


Rahmi memaksa membuka mata nya lebar - lebar, namun apa daya rasa kantuk nya sudah tidak tertahan lagi.


Hendra memperhatikan istrinya yang terus saja menguap dan sesekali memejam kan mata nya.


" Kau masih mengantuk sayang ? " Tanya Hendra membuat Rahmi kaget.


" Iya nih, mataku ga bisa diajak kompromi. Bawa an nya merem terus. " Jawab Rahmi.


" Ya sudah, kalo begitu kita sholat isya' dulu biar kau bisa tidur tanpa terganggu.


Rahmi mengangguk pertanda setuju. Mereka pun kemudian sholat isya' berjama'ah.


" Tidur lah sayang, aku masih ingin menonton tv. " Ucap Hendra sambil mencium kening Rahmi setelah menyelesaikan sholat.


Rahmi mengangguk dan pergi ke kamar, sedang kan Hendra ke ruang tengah lagi untuk menonton tv.


Rahmi merasa kegerahan, badan nya juga terasa lengket. Rahmi baru ingat kalau sore tadi dia belum mandi. Rahmi mencium kedua ketiak nya bergantian.


" Huuh ... Bau asem. Bisa mual - mual suamiku kalau tidur dengan ku yang bau seperti ini. hi hi hi ... " Gumam Rahmi sambil terkikik geli.


Rahmi bangun dari ranjang nya, mengambil handuk nya di lemari dan keluar kamar menuju kamar mandi.


Hendra memperhatikan Rahmi yang keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kamar.


Rahmi hanya memakai handuk untuk menuntupi sebagian badan nya dan handuk kecil menutup rambut nya yang basah. Dada, punggung, leher dan paha mulus Rahmi terekspose dengan jelas, membuat Hendra menelan saliva nya dengan kasar.


Rahmi masuk ke kamar, Hendra mematikan tv dan mengikuti Rahmi masuk ke kamar.


Rahmi duduk di depan meja rias masih mengenakan handuk nya. Dia sedang mengering kan rambut nya dengan hair dryer. Hendra melepas sarung nya dan melipat nya kembali. Dia juga melepas kaos nya dan hanya menyisakan celana pendek saja. Hendra duduk di pinggir ranjang dan memperhatikan Rahmi.

__ADS_1


Rahmi mematikan hair dryer nya setelah selesai dan berjalan menuju lemari untuk mengambil baju. Rahmi terkejut dan memegangi handuk nya saat Hendra tiba - tiba memeluk nya dari belakang.


" Kau mau apa sayang ? " Tanya Hendra sambil menaruh dagu nya di bahu mulus Rahmi yang terbuka.


" Aku mau memakai baju. " Jawab Rahmi.


Hendra menghirup dalam - dalam aroma wangi sabun mandi dari tubuh Rahmi, kemudian memain kan rambut Rahmi dan mencium wangi sampo nya.


Hendra menyibak kan rambut Rahmi kesamping, mengecup leher putih jenjang nya dan sedikit menggigit nya hingga meninggal kan stempel kepemilikan disana. Rahmi mendesah dan mencengkram handuk nya kuat.


" Kenapa harus di pakai jika nanti dilepas lagi. " Ucap Hendra.


Rahmi mengerut kan kening nya, sejenak mencerna kata - kata Hendra. Kemudian tersenyum saat faham kemana arah pembicaraan Hendra.


" Kata siapa aku mau melepas nya lagi ? Sudah pakai baju ya tidur lah. " Ucap Rahmi menggoda Hendra.


" Aku tidak akan mengijin kan nya. Kita belum melakukan malam pertama semalam, sekarang aku menagih nya. "


" Semalam aku menunggumu di kamar, kau terlalu lama sampai aku ketiduran. " Protes Rahmi.


" Apa dayaku. Aku ingin secepat nya menyusul mu. Tapi teman - teman ku tidak mengijin kan nya. Mereka terus saja menahan ku dan berbicara terus kesana kemari. Saat mereka pulang dan aku masuk kamar, kau sudah tidur. " Hendra menjelas kan dengan muka ditekuk karena sebal.


" Ha ha ha ha ha ...... " Rahmi tak bisa menahan tawa nya saat melihat ekspresi Hendra dari kaca lemari yang seperti anak kecil.


" Kau menertawakan ku ? Kau akan menyesal melakukan nya. Aku tidak akan melepas kan mu. " Ucap Hendra dengan senyum smirk.


" Maaf ... aku benar - benar tidak bisa menahan nya, ekspresi mu lucu sekali sayang. " Sahut Rahmi masih tersenyum geli


Hendra membalik kan tubuh Rahmi dengan cepat hingga menghadap nya. Ditarik nya handuk Rahmi dengan cepat hingga Rahmi tidak sempat menahan nya. Hendra melempar handuk itu ke sembarang arah. Rahmi terkejut dan membelalak kan mata nya, kedua tangan nya reflek menutupi bagian atas nya.


Hendra meraih kedua tangan Rahmi dengan kedua tangan nya dan mengalungkan tangan Rahmi ke leher nya. Tangan Hendra melingkar ke pinggang Rahmi dan menarik nya hingga badan Rahmi menempel badan Hendra. Tangan Hendra yang satu menyusup ke tengkuk Rahmi kemudian menekan kearah nya hingga bibir kedua nya beradu.


Hendra mencium bibir ranum Rahmi dan menekan tengkuk nya kembali untuk memperdalam ciuman nya. Hendra menggigit pelan bibir bawah Rahmi hingga bibir yang mengatup itu jadi terbuka. Dengan segera Hendra melahap bibir itu, Rahmi pun membalas ciuman Hendra. Sangat dalam dan lama hingga Rahmi kehabisan nafas.


Hendra menghentikan ciuman nya dan Rahmi pun bernafas dengan lega.

__ADS_1


Hendra sedikit menunduk dan menempel kan bibir nya di leher Rahmi. Hendra mencium dan menyusuri setiap inchi leher jenjang Rahmi, begitu pun dengan bahu dan sekitar nya. Meninggal kan banyak sekali bekas kepemilikan disana.


Hendra menggendong Rahmi membuat Rahmi terkejut dan reflek mengalungkan kedua tangan nya ke leher Hendra.


__ADS_2