Sekelumit Asa

Sekelumit Asa
Masih belum sadar


__ADS_3

Mata Anita pelan - pelan terbuka. Sangat berat baginya untuk bangun karena badan nya masih terasa lelah, lemas dan juga mengantuk. Namun Anita memaksakan dirinya untuk bangun.


Anita duduk ditepi kasur yang ditidurinya, beberapa kali mengucek matanya dan menoleh kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 01.30 malam.


" Ternyata sudah 3 jam lebih aku tertidur, padahal rasanya baru sebentar memejamkan mata. " Batin Anita.


Anita mengambil karet dari sakunya dan menguncir rambut nya asal - asal an. Setelah nya Anita menuju kamar mandi untuk buang air dan mencuci muka.


Dengan penuh semangat Anita berjalan menuju ruang ICU, berharap bisa melihat kondisi Andy.


Anita mengedarkan pandangan nya disekitar ruang ICU namun tak mendapati sosok sang Ayah, hanya Mama Merry dan Ibu nya yang tengah tertidur dikursi panjang tepat didepan ruang ICU.


" Mungkin Ayah sudah pulang lebih dulu. " Pikir Anita.


Anita mencoba untuk tidak bersuara karena takut membangunkan mereka.


Dengan perlahan Anita berjalan ke meja perawat dan meminta ijin pada perawat yang jaga agar bisa menjenguk Andy, namun sang perawat mengatakan bahwa Dokter belum mengijinkan pasien untuk dijenguk. Anita pun pasrah dan kembali duduk di kursi tunggu bersama Ibunya dan Mama Merry.


Dengan posisi masih duduk Anita mencoba memejamkan matanya, namun bayangan kejadian saat Andy ditusuk selalu berkelebat dipikiran nya. Hingga membuatnya susah untuk memejamkan mata.


" Ya Tuhan ... Tolong lindungilah Andy. Berikan kesembuhan padanya. Aku tidak ingin kehilangan dia. Hanya kepada-Mu aku memohon ya Allah. Kabulkanlah do'aku. Aamiin ... " Do'a Anita yang kemudian mengatupkan kedua telapak tangannya hingga menutupi mukanya.


Namun Anita terkejut saat tiba - tiba tangan seseorang menyentuh pundaknya.


Anita menutup mulutnya agar suara teriakannya tidak memekakkan telinga dan membangunkan Ibunya dan Mama Merry yang tengah terlelap. Anita perlahan menoleh untuk melihat tangan siapa yang masih bertengger dipundaknya dan mengejutkannya.


" Ayah ... " Panggil Anita.


" Maaf ... Ayah mengagetkanmu. " Sahut Hendra.


" Tidak apa - apa Ayah, Anita yang sedang tidak fokus. " Jawab Anita.


" Kenapa kau tidak beristirahat saja sayang. Masih tengah malam, kau juga pasti sangat lelah dan mengantuk. " Ucap Hendra yang ikut duduk disebelah Anita.


" Tadi Anita sudah tidur sebentar Ayah, dan sekarang masih belum mengantuk lagi. Ayah dari mana saja ? " Tanya Anita.


" Ayah hanya berjalan - jalan sebentar diluar karena bosan. " Jawab Hendra.

__ADS_1


" Oh ... Anita kira Ayah sudah pulang tadi. " Sahut Anita.


" Tidak mungkin Ayah meninggalkan putri tercinta Ayah dalam kondisi seperti ini. " Ucap Hendra sambil membelai rambut Anita.


Anita pun kemudian menyandarkan kepalanya dibahu Hendra dan Hendra pun merangkul Anita sambil masih mengusap - usap pucuk kepalanya. Seolah - olah ingin memberikan perlindungan pada sang putri tercinta.


" Anita takut Ayah ... Anita takut kehilangan Andy. Anita tidak sanggup jika harus kehilangan Andy, Ayah. " Ucap Anita sambil menangis sesenggukan hingga airmatanya membasahi kemeja sang Ayah.


" Tenanglah sayang ... Andy pria yang kuat. Ayah yakin dia bisa melewati ini semua. Kita pun juga harus kuat agar bisa selalu merawat dan menjaga Andy. Dan jangan lupa, kita juga bantu dia dengan do'a. " Sahut sang Ayah mencoba untuk menenangkan hati sang Putri.


Kata - kata sederhana, namun cukup berhasil membuat hati Anita sedikit tenang. Anita pun kembali duduk tegak menyender pada sandaran kursi.


" Oh iya tadi saat kamu sedang beristirahat, ada dua orang polisi yang datang. Mereka memintamu ke kantor polisi untuk membuat BAP dan memberikan kesaksian. " Jelas Hendra.


" Tapi Anita tidak ingin pergi dari sini Ayah. Apa tidak bisa ditunda ? Anita ingin selalu bersama Andy. Bagaimana jika Andy memerlukan Anita ? Bagaimana jika Andy bangun Anita tidak ada disisinya ? " Protes Anita.


" Tenanglah sayang ... Andy tidak akan kenapa - kenapa. Ada Ibu dan Tante Merry yang menjaganya. Kamu harus mau bekerjasama dengan polisi agar kasus ini cepat selesai. Apa kamu tidak ingin para pelaku penusukan Andy mendapatkan hukumannya ? " Tanya Hendra.


" Tentu saja Ayah. Anita ingin mereka mendapatkan hukuman yang setimpal atas apa yang telah mereka lakukan pada Andy. " Jawab Anita.


" Kalau begitu pagi nanti kamu harus kekantor polisi ya ! Jangan takut, Ayah dan pengacara Ayah akan mendampingimu. " Ucap Hendra.


***


Adzan shubuh berkumandang. Karena letak masjid yang berada tepat didepan rumah sakit hingga membuat suara adzan terdengar cukup keras. Anita, Rahmi dan Merry pun serempak bangun. Hendra tidak kelihatan karena sudah lebih dahulu ke masjid.


" Ibu dan Mama sholat saja duluan, biar Anita yang menunggu Andy. Kalau sudah selesai, baru kita gantian. " Ucap Anita.


" Baiklah sayang. Kalau ada apa - apa telpon Mama ya. " Ucap Merry.


" Iya mah. " Sahut Anita.


Merry dan Rahmi pun pergi ke masjid.


Tak berapa lama kemudian dua orang perawat masuk keruangan Andy untuk mengecek kondisi Andy. Salah seorang perawat menyibak kan tirai agar cahaya matahari pagi nanti bisa masuk kedalam ruangan. 10 menit kemudian, perawat itu pun keluar ruangan.


" Bagaimana keadaan Andy sus ? " Tanya Anita.

__ADS_1


" Kondisi pasien stabil. Detak jantung, denyut nadi dan tekanan darah juga normal. Tapi pasien masih belum sadar. " Ucap seorang perawat.


" Apa saya sudah boleh menjenguk sus ? " Tanya Anita lagi.


" Sementara masih belum. Nanti saat Dokter datang memeriksa, nona bisa menanyakan nya langsung. " Jawab sang perawat.


" Baiklah Sus, terimakasih. " Ucap Anita sambil tertunduk lesu.


" Oh iya, tadi saya sudah menyibakkan tirai ruangan agar cahaya bisa masuk. Nona bisa melihat pasien dari kaca jika mau. " Ucap perawat satunya.


" Tentu saja sus, terimakasih. " Sahut Anita lagi.


" Sama - sama, Kami permisi dulu. " Pamit sang perawat yang diangguki Anita.


Anita memandangi Andy dari kaca. Tangan nya tidak berhenti mengusap - usap kaca, seolah sedang mengusap - usap wajah Andy.


Berbagai peralatan medis yang tidak diketahui Anita menempel ditubuh Andy.


" Bagunlah sayang ... Aku merindukanmu. " Gumam Anita lirih.


Tak terasa airmata pun membasahi pipinya.


" Nak ... " Panggil Rahmi sambil memegang pundak Anita, membuat Anita sedikit terkejut.


" Ibu ... " Sahut Anita.


" Apa Dokter sudah memeriksa ? Bagaimana keadaan Andy ? " Tanya Mama Merry.


" Belum mah, mungkin nanti sekitar jam 8 atau 9 pagi. Tadi hanya perawat yang mengecek kondisi Andy. Mereka bilang meski belum sadar, tapi kondisi Andy sudah stabil. " Jawab Anita.


" Syukurlah kalau begitu. " Ucap Merry.


" Pergilah sholat shubuh dulu nak, biar Ibu dan Tante Merry yang bergantian menjaga Andy. " Ucap Rahmi yang diangguki oleh Merry.


" Baiklah ... Bu .. Mah .. Anita kemasjid dulu ya. " Pamit Anita.


" Pergilah sayang, kami akan menjaga Andy. " Ucap Merry.

__ADS_1


Anita pun berjalan keluar menuju masjid untuk sholat shubuh. Lantunan ayat - ayat Al - qur'an dan do'a pun tak lupa dia lafadz kan untuk kesembuhan Andy.


__ADS_2