
" Baiklah kalau itu keinginan mbak Anita. Ini pesanan nya mas Andy mbak, meja nomor 14. " Sahut Cindy.
Meski Cindy mengenal Anita dan Andy, tapi dia sama sekali tidak tahu jika Anita dan Andy berpacaran. Yang dia tahu hanya Anita adalah putri Hendra sedangkan Andy adalah keponakan Hendra. Jadi wajar jika mereka berdua selalu akrab.
" Andy disini ya mbak ? " Tanya Anita.
" Iya mbak sama pacar nya. " Sahut Cindy.
" Pacar nya, siapa ? " Tanya Anita yang terkejut.
" Eh ga tahu juga sih pacar nya apa bukan. Tapi cewek nya manja gitu sama mas Andy. Oya mbak, cewek nya bule lho. Tinggi, Sexi, cantik, baju nya kayak model gitu kebuka semua. Kalau aku sih udah masuk angin kali pake baju begituan. " Cerocos Cindy.
" Bisa aja mbak Cindy. Ya udah, aku antar ini dulu ya mbak. " Pamit Anita.
" Iya mbak, makasih. " Jawab Cindy.
" Cewek cantik ? Seksi ? Bule ? Siapa ? Kok Andy ga pernah cerita. " Batin Anita.
Hati Anita dag - dig - dug tak karuan, antara cemas, bingung, takut dan juga penasaran. Meski dia takut Andy menghianatinya, tapi dia tidak mau berprasangka buruk dulu.
" Mungkin saudara nya dari luar negri kali, Andy kan blesteran. " Batin Anita menenangkan hatinya sendiri.
Anita menghampiri meja Andy dan memindahkan pesanan satu persatu dari baki ke meja. Terlihat seorang cewek bule cantik sedang sibuk bercerita sedangkan Andy hanya diam dengan pandangan kearah taman hingga tidak menyadari kehadiran Anita.
" Lama banget sih. Udah kelaperan tahu. " Cebik Cathy yang sebenarnya bukan kesal karena menunggu makanan tapi kesal karena dari tadi Andy cuek padanya.
" Maaf mbak sudah menunggu lama, silahkan dinikmati. " Ucap Anita membuat Andy tersadar akan suara yang sudah sangat dihafal nya itu.
Andy menoleh dan menarik tangan Anita ketika Anita hendak beranjak pergi.
" Sayang ... " Panggil Andy.
" Maaf, saya masih banyak pekerjaan. Permisi ... " Pamit Anita sambil menarik tangan nya dari genggaman Andy.
Anitapun berjalan kebelakang.
__ADS_1
" Hah ... Sudah kuduga, pasti dia salah faham. " Batin Andy sambil mengusap kasar wajah nya.
" Apa kamu juga kenal dia ? Kenapa kamu panggil dia sayang ? " Tanya Cathy.
" Sudahlah ... Bukan urusanmu. " Jawab Andy.
" Aku hanya ingin memperingatkanmu. Jangan terlalu dekat dengan pelayan. Mereka tidak selevel dengan kita. Kalau dibaikin bisa ngelunjak. " Ucap Cathy.
" Memang apa bedanya mereka dengan kita ? Harta tidak membuat kita lebih terhormat, justru bisa saja membuat kita lebih buruk dari mereka. Satu hal lagi ... Gadis itu bukan pelayan, dia kekasihku, pacarku. " Ucap Andy dengan penekanan diakhir kalimat nya.
" What ? That girl ? Your girlfriend ? Hey, lama tidak bertemu ternyata seleramu jadi rendah begini ya. Biar kuingatkan Andy, dia itu hanya pelayan miskin rendahan yang tidak selevel dengan kita ndy. " Ucap Cathy.
" Jaga ucapanmu. Dia bukan pelayan. Dia pemilik restoran ini, dan dia juga kekasihku. Jadi aku tidak biarkan kau menghinanya. Satu lagi, gadis itu seratus kali lebih baik darimu. " Protes Andy.
Cathy pun diam karena beberapa tamu yang lain mulai memperhatikan mereka.
Didalam sebuah ruangan, Anita terlihat sedang mondar - mandir tidak jelas. Sesekali duduk, lalu berdiri lagi.
" Siapa ya cewek itu ? Apa dia saudara Andy ? Atau jangan - jangan dia mantan pacar Andy dulu sewaktu di Jerman. Tapi ... Kenapa mereka berhubungan lagi ? Pantas saja beberapa hari ini jarang menghubungiku, ga tahunya lagi jalan sama cewek. Lalu ... Kenapa juga dia membawanya kesini. Apa dia sengaja ingin menunjukkan padaku bahwa cewek yang dibawanya itu jauh lebih cantik dan seksi dariku ? Jahat sekali dia. " Pikir Anita sambil uring - uringan sendiri.
Andy tidak menyentuh makanan nya sama sekali, dia hanya mengaduk - aduk minuman nya dengan sedotan dan sesekali menyeruputnya sedikit. Berbeda dengan Cathy yang terlihat sangat menikmati makanannya.
" Hey ndy ..... " Cathy ingin mencegah, namun Andy sudah berjalan dengan cepat. Cathy pun akhirnya membiarkan nya dan meneruskan makannya.
" Anita dimana mbak ? " Andy bertanya pada Cindy.
" Mbak Anita dikantor nya pak Hendra mas, ujung lorong sebelah situ. " Jawab Cindy sambil menunjuk kearah kantor.
" Baiklah, terimakasih. " Ucap Andy yang kemudian berjalan kearah yang ditunjuk Cindy.
" Andy mengetuk pelan pintu beberapa kali, namun tidak ada sahutan sama sekali. Andy pun membuka pintu yang ternyata tidak terkunci itu dan masuk kedalam nya.
Andy melihat sosok yang dicarinya itu tengah berbaring disofa panjang sambil memejamkan mata. Andy menghampiri Anita dan berjongkok disampingnya. Andy mengusap - usap pelan kepala Anita dan mencium kening nya dengan lembut.
Anita yang merasa ada seseorang yang mencium kening nya pun terkejut dan membuka matanya.
__ADS_1
" Kau ? Sedang apa disini ? Kenapa tidak mengetuk pintu dulu ? " Tanya Anita saat tahu kekasihnya Andy lah sang pelaku.
" Aku sudah mengetuk beberapa kali sayang. Kau tertidur, jadi tidak mendengar nya. " Ucap Andy.
Anita pun bangkit dan duduk disofa itu, sedangkan Andy berdiri dari jongkoknya dan ikut duduk disamping Anita.
" Kau marah padaku ? " Tanya Andy karena Anita hanya diam saja sedari tadi.
" Tidak ! Kenapa aku harus marah ? " Jawab Anita.
" Lalu kenapa kau diam saja dari tadi ? " Tanya Andy lagi.
" Aku diam karena kau sendiri juga diam. " Sahut Anita sedikit kesal.
" Kau tidak ingin menanyakan sesuatu padaku ? " Tanya Andy.
" Soal apa ? " Jawab Anita singkat.
" Soal cewek yang datang bersamaku tadi. " Sahut Andy.
" Baiklah jika kau ingin aku bertanya, maka aku akan bertanya. Siapa cewek bule tadi ? Kau tidak perlu menjawabnya jika tidak ingin. " Ucap Anita sedikit sewot.
" Ha ha ha ha ha ..... " Tawa Andy menggelegar membuat Anita semakin sebal.
" Kenapa malah tertawa ? Pergilah jika tidak ingin bercerita. " Usir Anita sambil mendorong lengan Andy.
Namun Andy masih tak bergeser sedikit pun.
" Kamu sangat menggemaskan saat sedang cemburu sayang. " Ucap Andy sambil mencubit pipi Anita.
" Siapa yang cemburu, aku tidak cemburu. " Sahut Anita.
" Benar kau tidak sedang cemburu ? " Tanya Andy.
Anita tidak menjawab, hanya diam dan menunduk.
__ADS_1
Andy menggenggam tangan Anita dan mulai bercerita.
" Namanya Cathrinna Adams Wilson atau biasa dipanggil Cathy. Dia masih kerabat jauh mama dan juga teman sepermainanku saat kecil dulu. Sewaktu muda papa hanyalah seorang pedagang kecil. Meski kakek ku dari mama cukup kaya tapi papa tidak mau menerima bantuan nya sama sekali. Papa dan mama merintis usaha sendiri dikota ini dan menitipkan ku pada kakek nenek di Jerman sejak umurku 7 tahun. Jadi aku tumbuh dan bersekolah di Jerman. Beberapa tahun kemudian, bisnis papa berkembang sedikit demi sedikit. Dan saat umurku menginjak 14 tahun mama memintaku untuk tinggal dan menetap disini. " Cerita Andy.