
" Maaf kan aku, aku benar - benar minta maaf. Aku selalu mencintaimu, baik dulu, sekarang dan selamanya. Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi mu dihatiku. Kau sudah tahu kan alasan kenapa dulu aku bersedia melepasmu ? Ku mohon Rahmi, kita masih punya kesempatan untuk bersama lagi. Dan kali ini aku berjanji aku tidak akan mengecewakan mu, aku pasti akan membuat mu bahagia. Kita berempat akan jadi keluarga bahagia. Kumohon ... " Bujuk Hendra sambil mengeratkan genggaman tangan nya.
" Aku memaafkan mu. Tapi sekarang kita sama - sama sudah tua. Aku juga sama sekali tidak pernah berpikir untuk berumahtangga lagi. Bagiku, Anita lah prioritas utama ku. Lagipula Anita sedang sakit. Aku rasa bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini. " Ucap Rahmi.
" Tidak ada kata tua dalam sebuah hubungan. Apalagi jika ini menyangkut kebahagiaan kita. Anita juga pasti akan senang sekali jika kita bisa berkumpul bersama lagi. " Bujuk Hendra lagi.
Rahmi diam mencerna kata - kata Hendra.
" Aku tidak memintamu menjawab sekarang, karena benar katamu ini bukan waktu yang tepat.
Terimakasih sudah bersedia memaafkan ku. Dan kumohon pikirkan lah permintaan ku tadi, aku akan menunggu jawaban mu. " Ucap Hendra sambil mengusap - usap tangan Rahmi.
Rahmi pun hanya mengangguki.
Sementara itu di ruangan Anita, Dion terlihat sedang asyik menonton TV sedangkan Anita bersedekap sambil melamunkan sesuatu.
" Kira - kira apa yang ingin dibicarakan ayah pada ibu ya ? Apa ayah ingin meminta maaf pada ibu ? Aku harap ibu mau memaafkan ayah. Pasti bahagia sekali jika bisa berkumpul lagi seperti dulu. Hi hi hi .... " Batin Anita sambil tersenyum sendiri.
Tak lama kemudian Rahmi dan Hendra pun sudah masuk kembali ke ruangan Anita.
** Sore Hari nya **
Tok tok tok ....
Seseorang mengetuk pintu ruangan Anita. Rahmi berjalan kearah pintu dan membukakan nya.
" Adis, Amel, Sinta ... Mari masuk nak ! " Ucap Rahmi mempersilahkan masuk.
" Terimakasih tante. " Ucap mereka bersamaan sambil bersalaman bergantian dan berjalan masuk.
" Teman - teman ... Haaahh ... Aku kangen sekali. " Teriak Anita sambil merentangkan kedua tangan nya.
Mereka bertiga pun berhambur dan memeluk Anita bersamaan.
" Benarkah ? Kukira kau sudah lupa dengan kami. Kau bahkan tidak memberi kabar jika sedang sakit. " Cebik Adis.
" Mana mungkin aku lupa dengan kalian, sahabat terbaik ku. Maaf karena aku tidak memberi kabar, ponsel ku hancur terlindas motor. "
" Iya ... Kami juga sudah tahu, Andy yang memberitahu saat kami menanyakan mu. Dia juga yang bilang jika kamu sedang dirawat disini. " Ucap Sinta.
__ADS_1
" Oya ... Apa dia juga ikut dengan kalian ? " Tanya Anita sambil mengarahkan pandangan nya ke arah pintu.
" Cie cie cie ..... Baru juga semalem ketemu, udah kangen aja nih. " Goda Amel hingga membuat Anita malu.
" Andy bilang tadi mau pulang dulu. setelah itu baru menyusul kesini. " Terang Adis.
" Oya nit, bagaimana kondisimu sekarang ? " Tanya Sinta.
" Hanya luka di kedua siku, kedua lutut dan juga telapak tangan ku. " Ucap Anita sambil memperlihatkan luka - luka nya.
" Luka mu banyak begitu kenapa bilang hanya sih ? Kalau aku udah nangis terus kali, secara kan perih banget pastinya. " Ucap Amel.
" Kamu mah emang dasar cengeng. Jangan kan punya banyak luka kayak Anita. Cuma tersandung dan lutut mu berdarah sedikit saja nangis nya udah kayah patah hati aja. " Gerutu Adis.
" Biarin ... Nama nya juga lutut yang sakit, pasti ga bisa buat ngapa - ngapain kan ? buat jalan aja juga pasti sakit. Apalagi lutut artis kayak Amel gini. Berharga sekali tahu. " Cebik Amel.
" Udah udah ... Ini kan rumah sakit, kenapa malah pada ribut sih. " Sela Sinta.
" Tau nih, jengukin orang sakit bukan nya di bawain makanan kek, disuapin kek, malah pada ribut sendiri. " Protes Anita.
" Oh iya, sampe lupa. Nih ... Kita bawain buah dan cake kesukaan mu. " Ucap Adis sambil meletak kan bawaan nya diatas nakas.
Ditengah obrolan tiba - tiba terdengar suara pintu terbuka. Semuanya pun serentak menoleh kearah pintu. Hendra yang baru masuk pun merasa bingung karena semua pandangan mengarah pada nya.
Amel, Adis dan Sinta yang merasa asing dengan wajah Hendra pun penasaran.
" Wah ... Ramai sekali. Kalian pasti teman - teman nya Anita ya. " Sapa Hendra mencairkan suasana.
Amel, Adis dan Sinta pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
" Sudah selesai urusan nya ayah ? " Tanya Anita.
" Sudah ... Dion juga sudah melihat - lihat sekolahan baru nya. Mudah - mudahan saja betah. " Jawab Hendra yang baru saja selesai mengurus pindah sekolah Dion.
" Syukur lah. Oya, Kenapa ayah sendirian. Dion mana ? " Tanya Anita lagi.
" Dion Ayah tinggal di rumah. Soal nya besok dia sudah mulai berangkat sekolah. Jadi harus mempersiapkan perlengkapan sekolah, alat - alat tulis dan sebagai nya.
" Oo ... Begitu. " Ucap Anita sambil manggut - manggut.
__ADS_1
Anita mengalihkan pandangan nya ke arah ketiga teman nya yang sedang bengong. Seolah tahu apa yang sedang mereka pikirkan, Anita pun mengenalkan mereka.
" Ayah ... Kenalkan, Mereka bertiga sahabat Anita. Teman - teman kenalkan ini ayah ku. " Ucap Anita.
" Amel om ...
" Adis om ...
" Sinta om ...
Ucap mereka bertiga sambil menyalimi tangan Hendra satu per satu.
" Cantik - cantik sekali. Om ayah nya Anita. Panggil saja om Hendra. Maaf ya jika Anita menyusahkan kalian. Dan juga, terima kasih sudah mau menjadi teman Anita. " Ucap Hendra tulus.
" Ah ... Iya om, Anita memang sering menyusahkan. Tapi ga apa - apa kok om, kita semua ikhlas. " Ucap Amel.
" Enak aja kalo ngomong. Ga pah, bohong pah. " Sela Anita sambil mencubit lengan Amel.
" Aauuww ..... " Pekik Amel.
" Ga kok om, Anita ga pernah nyusahin kita. Anita anak yang baik, justru kita yang merasa beruntung punya teman Anita. " Ucap Sinta.
" Iya om. Anita juga pintar, dia selalu dapat peringkat tiga besar dikelas. Jangan percaya omongan artis kamar mandi ini om. He he ... " Ucap Adis sambil menyenggol lengan Amel.
" Ha ha ha ... Kalian bertiga memang lucu. Oya sayang, ayah belikan Ini untuk mu. " Ucap Hendra sambil menyodorkan tas kecil pada Anita.
" Apa ini ayah ? Tanya Anita sambil menerima tas kecil itu.
" Kamu lihat saja sendiri, semoga kamu suka. Oya semuanya, om tinggal kesana dulu ya. Lanjutkan saja obrolan kalian " Sahut Hendra sambil menunjuk kearah sofa.
" Iya om. " Sahut Adis, Amel dan Sinta bersamaan.
Hendra pun menghampiri Rahmi yang sedang duduk di sofa sambil menonton TV.
" Eh nit ... Itu tadi beneran ayah mu ya ? " Tanya Adis.
" Ya iyalah, masak ayah bohongan. " Sahut Anita.
" Bukan nya ayah kamu udah 9 tahun ini menghilang ya nit ? " Tanya Amel yang langsung mendapat pelototan dari Adis.
__ADS_1
" Iya, itu memang dia. Ayah kandung ku yang selama 9 tahun ini menghilang. Dan sekarang kami sudah bersama lagi. " Jawab Anita sambil tersenyum.