Sekelumit Asa

Sekelumit Asa
Makan bersama ...


__ADS_3

Setelah selesai menyuapi Anita, Rahmi mengambil makanan yang di bawa nya tadi dari atas nakas kemudian berjalan ke arah sofa. Rahmi duduk di sofa pendek berhadapan dengan Hendra.


" Makan lah ... Kalian pasti belum makan ! " Ucap Rahmi sambil menata makanan nya di atas meja.


Rahmi menyendok kan nasi ke dalam piring dan memberikan nya pada Dion dan Hendra.


" Terima kasih ... " Ucap Hendra saat menerima piring nasi dari tangan Rahmi.


Hendra melihat menu yang tersaji di meja. Ada capjay, sambal goreng ati ampela kentang, kwetiaw goreng, ayam goreng dan omlet. Sungguh menggoda selera.


Hendra menyendok semua menu ke dalam piring nya, sedang kan Dion sudah makan lebih dulu. Hendra melirik Dion, anak itu makan dengan sangat lahap.


Hendra menyendok kan makanan dari piring dan memasuk kan nya ke dalam mulut nya. Hendra menikmati suapan demi suapan nya. Bayangan - bayangan masa lalu nya tiba - tiba hadir kembali. Saat Hendra duduk bersama dengan Rahmi dan Anita di meja makan, menyantap masakan Rahmi dengan lahap sambil mengobrol dan sesekali ter tawa - tawa. Sungguh saat - saat yang selalu di rindu kan nya. Tak terasa sudut netra Hendra menitik kan cairan bening.


Rahmi yang memperhatikan Hendra pun ikut menangis namun dengan segera di usap nya air mata itu dengan tisu yang ada di meja.


" Boleh Dion nambah lagi tante, makanan nya enak sekali. " Ucap Dion mengaget kan Rahmi.


" Tentu saja boleh, makanan nya masih banyak ambil lah sepuas mu. " Ucap Rahmi.


" Jadi dia anak Hendra dengan wanita itu ya, pantas saja dia memanggil Anita kakak. Lalu ... Sejak kapan Hendra ada di sini, dan ... bagaimana mereka bisa bertemu dengan Anita. " Pikir Rahmi.


Sebenar nya banyak yang ingin ditanya kan Rahmi pada Hendra, namun dia mengurung kan niat nya.


Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...


Hendra tersedak, Rahmi segera menuang kan teh hangat yang di bawa nya ke dalam gelas dan memberi kan nya pada Hendra. Hendra meraih nya dengan cepat dan meminum nya.


" Makan lah dengan pelan dan jangan khawatir karena aku tidak akan meminta nya. " Ucap Rahmi sambil tersenyum.


Senyum yang selama ini slalu di rindu kan Hendra.


" Kau mau nambah lagi ? " Tanya Rahmi pada Hendra.


" Sebenar nya mulut ku masih ingin makan lagi, masakan mu lezat sekali. Tapi perut ku seperti nya sudah kenyang sekali. " Jawab Hendra.


" Baik lah kalau begitu, aku akan memberes kan nya. " Ucap Rahmi.


" Heemm ..... Terima kasih makanan nya. " Sahut Hendra.


Rahmi memberes kan makanan nya sedang kan Hendra memperhati kan nya. Setelah selesai Rahmi kemudian duduk di kursi samping ranjang Anita.


" Karena kau bilang akan di rawat beberapa hari, ibu membawa kan buku - buku mu. " Ucap Rahmi pada Anita.

__ADS_1


" Terima kasih bu, Anita memang membutuh kan nya. " Sahut Anita.


Rahmi mengobrol dengan Anita, Hendra memperhati kan mereka dari sofa.


Pukul 8 pagi seorang perawat datang membawa kursi roda.


" Permisi ... Saya kemari untuk menjemput nona Anita, ada serangkaian pemeriksaan yang harus dijalani dan siang nanti dokter akan memeriksa hasil nya. "


" Iya suster, silahkan. " Ucap Rahmi.


Hendra mendekat dan menggendong Anita lalu menduduk kan nya di kursi roda.


" Silahkan salah satu keluarga ikut untuk membantu. " Ucap perawat.


" Biar saya saja suster. " Sahut Rahmi.


Rahmi pun berjalan mengikuti Anita dan perawat menuju ruang pemeriksaan.


Hendra mendapat email laporan perusahaan dari asisten nya kemudian meminta Bimo untuk mengantar tas kerja nya yang berisi laptop dan berkas - berkas yang lain.


Setengah jam kemudian Bimo datang mengantar kan nya dan Hendra pun sibuk berkutat dengan laptop nya.


" Pah ... Apa Dion boleh jalan - jalan sebentar, Dion bosan ? " Tanya Dion.


" Iya pah. " Sahut Dion yang kemudian berjalan keluar.


Hendra pun menerus kan kembali pekerjaan nya.


Setengah jam kemudian, bersamaan dengan Dion yang kembali. Anita, Rahmi dan perawat pun kembali.


Hendra mendekat dan menggendong Anita lalu menduduk kan nya di ranjang.


" Bagaimana suster ? " Tanya Hendra.


" Pemeriksaan nya lancar dan hasil nya juga sudah keluar. Namun Dokter sedang tidak ada di tempat, jadi baru akan memeriksa hasil nya nanti siang dan akan memberitahu anda setelah nya. " Ucap perawat.


" Baik suster, terima kasih. " Sahut Hendra.


" Sama - sama pak, permisi. " Perawat itu berpamitan lalu keluar dengan membawa kursi roda nya.


" Kau baik - baik saja sayang ? " Tanya Hendra pada Anita.


" Iya ayah. Anita hanya mengantuk setelah minum obat tadi. " Jawab Anita.

__ADS_1


" Beristirahat lah kalau begitu. " Ucap Hendra sambil menyelimuti Anita.


Rahmi tersenyum melihat Hendra yang begitu perhatian pada Anita.


" Rahmi ... Apa kita bisa bicara sebentar ? " Tanya Hendra.


" Tentu saja, bicara lah. " Jawab Rahmi.


" Maksud ku, empat mata. Bagaimana kalau kita ke taman ? " Tanya Hendra lagi.


" Baik - lah. " Jawab Rahmi agak ragu.


" Dion ... Apa kau bisa menjaga kakak mu ? Papa ada perlu sebentar dengan ibu Rahmi. " Pinta Hendra.


" Tentu saja pah, tidak masalah. " Jawab Dion.


" Terima kasih. Kalau ada apa - apa hubungi papa. " Ucap Hendra yang di angguki Dion.


Hendra berjalan bersama Rahmi menuju taman rumah sakit. Taman yang cukup luas dengan ber aneka macam tanaman dan bunga, selain itu juga terdapat kolam ikan yang cukup besar.


Hendra dan Rahmi duduk di bangku panjang yang terletak persis di bawah pohon besar.


" Tempat ini mengingat kan ku dengan danau yang sering kita kunjungi dulu. " Ucap Rahmi tiba - tiba.


" Sejak kepergian ku, apa kau masih sering mengunjunginya ? " Tanya Hendra.


" Tidak ... Mana sempat aku pergi ke tempat seperti itu. Satu - satu nya tempat yang sering ku kunjungi hanya lah pasar. " Ucap Rahmi.


" Maaf kan aku, hidup mu pasti sangat berat selama ini. " Ucap Hendra.


" Yah ... Kalau di pikir - pikir memang seperti itu. Aku harus mengerjakan dua peran sekaligus. Menjadi ibu rumah tangga untuk merawat Anita, dan mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kami. Memang berat, tapi jangan khawatir karena aku menikmati nya. " Ucap Rahmi.


Hendra meraih tangan Rahmi dan menggenggam nya. Rahmi sempat terlena, tangan Hendra terasa hangat sekali dan membuat nya merasa nyaman. Namun sesaat kemudian dia tersadar dan menarik tangan nya dari genggaman Hendra.


" Kau tidak pulang. Istri mu pasti khawatir. Jangan khawatir kan Anita, aku akan menjaga nya dengan baik kau bisa mengunjungi nya lain kali. " Ucap Rahmi.


" Sukma sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. " Sahut Hendra.


" Oya ... Maaf kan aku, aku turut berduka. " Ucap Rahmi.


" Terima kasih. " Sahut Hendra.


Mereka berdua pun terdiam lagi.

__ADS_1


__ADS_2