
" Mana mungkin ayah meninggal kan putri ayah sendirian, apalagi saat sedang sakit seperti ini. Jangan khawatir kan soal pekerjaan, karena sudah ada yang mengurus nya. " Sahut Hendra.
" Apa Dion tidak bersekolah ayah ? " Tanya Anita.
" Ayah baru akan mengurus kepindahan nya besok. Ayah meminta nya menetap disini dan dia setuju. Dion akan dijaga pengasuh nya dan beberapa orang suruhan ayah jika ayah keluar kota. " Jawab Hendra.
" Oo ... Begitu. " Ucap Anita sambil manggut - manggut.
" Kalau begitu om pulang saja. Om kan harus menyiapkan berkas - berkas kepindahan Dion. Besok setelah urusan om selesai, baru om kemari. Jangan khawatir karena Andy yang akan menjaga Anita. " Andy mencoba membujuk Hendra pulang agar bisa berduaan bersama Anita.
" Kenapa malah kau yang jadi mengusir om. Bilang saja kalau kau mau berduaan dengan Anita, ya kan ? " Tuding Hendra.
" Jangan asal tuduh om, Andy ini cowok baik - baik. Andy ga bakal kok macem - macem sama Anita. Paling cuma satu macem aja. " Protes Andy.
" Mau satu macem atau dua macem sama saja. Kalian kan belum menikah. Kalau berduaan bisa bahaya, karena syetan ada diantara kalian. Apalagi semalaman, tidak ... tidak ... Om tidak akan ijin kan. " Sahut Hendra.
" Andy tidak mungkin seperti itu om, apalagi ini rumah sakit dan Anita pun juga sedang sakit. " Elak Andy.
" Tapi bisa saja kan kau tergoda dan mengambil kesempatan. " Bantah Hendra.
" Tapi om, Andy kan ....
" Sudah ... Sudah ... Kenapa kalian malah bertengkar ? Apa tidak bisa aku beristirahat dengan tenang ! " Anita berteriak kesal mengaget kan Andy dan Hendra yang sedang bertengkar.
" Keluar lah ... Aku ingin tidur. " Imbuh Anita.
" Baik lah sayang, tidur lah. " Ucap Hendra pada Anita.
" Ndy ... Keluar lah. Anita meminta mu keluar. " Sambung Hendra lagi.
" Bukan Andy, tapi Anita menyuruh om yang keluar. " Sahut Andy.
__ADS_1
" Kenapa om harus keluar, om kan ayah nya. " Imbuh Hendra.
" Andy juga kekasih nya, jadi Anita pasti lebih ingin bersama Andy. " Elak Andy.
" Tidak bisa, om yang lebih berhak atas putri om. " Protes Hendra.
" Tapi Andy kan yang .....
" Berhenti ... !!! " Teriak Anita lagi, membuat Andy dan Hendra menutup telinga mereka.
" Kalian berdua keluar lah ... Sekarang ... " Ucap Anita lagi.
" Kami ... ? " Ucap Hendra dan Andy bersamaan sambil menunjuk diri mereka dengan telunjuk.
" Iya ... Kalian berdua keluar lah dulu. Aku ingin istirahat dan tidak ingin diganggu. " Ucap Anita yang kemudian berbaring dan menutup seluruh tubuh nya dengan selimut.
Andy menyambar tas nya dan meninggalkan jaket nya kemudian keluar dan Hendra mengekor di belakang nya.
Mereka berdua akhir nya memutus kan untuk sholat isya' di masjid dan nongkrong di warung depan sambil mengobrol, sembari menunggu Anita tertidur.
Hendra juga menceritakan kisah nya yang dulu meninggalkan Anita dan ibu nya. Andy menyimak dan mengerti karena Anita juga sudah menceritakan garis besar nya.
Andy juga menelpon sang mama dan memberitahu bahwa dia tidak akan pulang malam ini.
Anita terlihat gelisah didalam kamar. Meski ruangan sudah tenang karena Hendra dan Andy sudah keluar tapi Anita masih susah memejam kan mata.
Sekujur tubuh nya terasa sakit semua, luka - luka nya terasa perih dan punggung nya juga nyeri sekali. Anita memanggil perawat lewat panggilan telpon. Perawat datang untuk memeriksa kemudian menyuntik kan antibiotik dan memberikan obat pereda nyeri pada Anita. Anita bergerak kesana kemari mencari posisi yang enak untuk tidur. Dan 30 menit kemudian Anita pun tertidur.
Pukul 21.30 Hendra dan Andy kembali keruangan Anita. Saat didepan pintu, seorang perawat menghampiri mereka.
" Permisi pak ... " Sapa sang perawat.
__ADS_1
" Ya suster, ada apa ? " Tanya Hendra.
" Tadi nona Anita mengeluh jika tidak bisa tidur karena badan nya terasa sakit semua, luka - luka nya terasa perih dan punggung nya juga terasa nyeri. " Ucap perawat.
" Lalu bagaimana suster, apa Anita baik - baik saja ? " Tanya Hendra.
Andy juga serius ikut mendengar kan karena khawatir.
" Saya sudah menyuntik kan antibiotik dan memberi kan obat pereda nyeri sekaligus obat tidur. Dan sekarang nona Anita baru saja tertidur. Jadi saya harap agar jangan berisik ataupun bersuara keras agar pasien bisa tidur dengan nyenyak. " Pesan sang perawat.
" Baiklah suster, terima kasih. " Ucap Hendra.
" Sama - sama. Kalau ada apa - apa hubungi kami lewat line telpon. Permisi. " Ucap sang perawat yang kemudian pergi.
Hendra memegang handle pintu dan membuka nya pelan - pelan. Kemudian mereka masuk dan menutup pintu kembali dengan pelan. Hendra dan Andy mendekati ranjang Anita. Hendra mengusap keringat di kening Anita kemudian mencium pucuk kepala nya. Andy juga ingin melakukan nya tapi diurung kan karena ada Hendra yang mengawasi. Mereka pun kemudian berjalan menuju sofa.
Hendra duduk disofa panjang samping Dion , sedang kan Andy duduk disofa pendek menghadap tv. Mereka pun ikut memejam kan mata dan terlelap dengan posisi duduk.
Pukul 23.45 Andy terbangun dan ke kamar mandi untuk buang air kecil. Setelah itu Andy meraih botol minum dinakas tempat tidur Anita, kemudian meneguk nya beberapa kali.
Andy melirik Hendra dan Dion yang masih terlelap. Andy pun mengendap - endap beralih ke samping kiri ranjang Anita dan pelan - pelan naik keranjang Anita yang kebetulan berukuran cukup besar.
Dengan perlahan Andy mengangkat kepala Anita dan menyelip kan tangan nya dibawah nya kemudian ikut berbaring disamping nya.
Andy memiring kan tubuh nya dan menatap lekat Anita. Diusap - usap nya kepala Anita dan dibelai nya wajah Anita dengan tangan yang satu nya.
" Kamu cantik sekali sayang. Semoga cepat sembuh. I love you. " Ucap Andy berbisik ditelinga Anita.
Anita yang merasakan geli ditelinga nya menggeliat dan memeluk Andy. Dibenam kan nya wajah nya di dada Andy.
Dalam tidur nya, Anita merasa sedang memeluk guling. Meski bagi nya terasa lebih hangat dan lebih nyaman sekali. Anita juga merasakan pucuk kepala nya serasa terhembus pelan oleh angin. Diciumi nya guling itu yang aroma nya terasa seperti harum tubuh Andy. Hal itu membuat Anita terlelap lebih dalam hingga tidur nya terasa sangat nyenyak sekali.
__ADS_1
Berbanding terbalik dengan Anita, Mata Andy masih terjaga karena rasa kantuk nya tiba - tiba hilang. Jantung nya berdetak lebih kencang dari biasa nya. Meski Andy sudah sering memeluk Anita, namun dalam keadaan tidur berpelukan seperti ini entah kenapa dia merasa sangat gugup. Kening nya berkeringat, meski AC nya lumayan dingin. Darah nya seolah berdesir lebih cepat. Celana nya pun tiba - tiba terasa sesak karena sesuatu dibalik celana nya itu bangkit dan serasa ingin mengamuk.
Sebisa mungkin Andy mengendalikan hasrat nya karena takut menuntut lebih dari Anita. Andy pun terlihat gelisah hingga mata nya sulit sekali dipejam kan.