
Tak terasa sang surya sudah menampakkan sinar nya. Jam besar yang tergantung di dinding masjid menunjukkan pukul 06.10 pagi yang berarti sdh satu jam lebih anita sholat dan mengaji. Dan Anita merasa lebih tenang setelahnya.
Anitapun melipat kembali mukena yang dipakainya dan menaruhnya kembali di almari tempat dia mengambilnya tadi.
Kruuk ... kruuk ... kruuk ... Perut Anita berbunyi.
" Aduh ... Kenapa baru jam segini sudah lapar sekali. Apa aku sekalian beli sarapan ya, pasti ibu, ayah dan mama merry juga sudah sangat lapar karena dari kemarin tidak makan. Tapi ... baru jam segini, apa sudah ada warung yang buka ya. " Batin Anita.
Anita pun berjalan - jalan sebentar di area depan rumahsakit. Warung makan dan toko berjejer - jejer namun belum ada satupun yang buka. Anita berjalan kearah samping rumah sakit. Ada beberapa warung yang sudah mulai buka.
Anita pun membeli empat buah nasi bungkus, empat cup bubur kacang ijo, tiga teh hangat, satu kopi panas untuk sang ayah dan dua botol besar air mineral.
***
Anita berjalan kearah kursi tunggu dan duduk disamping ibunya.
" Kamu bawa apa sayang ? banyak sekali. " Tanya Rahmi.
" Anita habis beli sarapan di warung terdekat bu, makanlah. Kalian semua pasti lapar. " Ucap Anita sambil mengeluarkan bawaan nya dari dalam kantong kresek.
" Terima kasih sayang, kamu juga makan ya. " Sahut Rahmi.
" Iya bu. " Jawab Anita.
Saat mau makan, pandangan Anita tertuju pada Mama Merry yang duduk bersandar dikursi yang berhadapan dengan Anita sambil memejamkan mata. Gurat kelelahan dengan kantung mata yang sedikit menghitam menghiasi wajah nya, meski sama sekali tidak mengurangi kecantikan nya yang khas eropa. Anita pun melipat kembali bungkusan nya. Dan mengambil yang baru untuk Mama Merry.
" Mah ... " Panggil Anita pelan sambil memegang tangan Merry.
" Ah ... Ada apa nak ? Maaf mama tertidur. " Ucap Merry.
" Tidak mah, Anita yang minta maaf karena membangunkan Mama. Ini ... Makan dulu mah, mumpung masih hangat. " Ucap Anita sambil menyodorkan bungkusan pada Merry.
" Terima kasih Anita, tapi Mama tidak berselera makan. " Sahut Merry.
" Mama harus makan agar tidak ikut sakit, bukankah mama harus menjaga Andy ? Bagaimana Mama bisa menjaga orang sakit kalau Mama sendiri ikut sakit ? " Bujuk Anita.
" Baiklah nak, Mama akan makan. Terima kasih sudah memperhatikan Mama. " Ucap Merry.
Mereka bertiga pun makan bersama.
__ADS_1
" Wah ... lagi pada sarapan ya ? " Suara Hendra tiba - tiba terdengar.
" Ayah dari mana saja ? " Tanya Anita.
" Tadi Ayah menelpon bibi dirumah untuk menyiapkan baju ganti. Ayah juga meminta pengacara Ayah mampir kerumah sebentar untuk mengambil nya. Setelah itu Ayah berjalan - jalan sebentar menghirup udara segar.
" Lalu ... Bagaimana dengan Dion ? " Tanya Anita.
" Dion baik - baik saja. Ada bibi dan yang lain yang menjaga nya.
" Ya sudah, kalau begitu Ayah ikut makan ya. " Ucap Anita sambil menduduk kan sang Ayah di kursi dan menyiapkan sarapan nya.
***
Dua jam kemudian, pengacara yang ditunggu Hendra pun datang. Seorang pemuda dengan wajah tampan berusia 26 tahun berperawakan tinggi dengan badan atletis rambut rapi dan setelan jas mahal memberikan kesan tegas dan berwibawa.
" Perkenalkan semua, Ini Arya. Pengacara yang akan menangani kasus Andy dan Anita. " Ucap Hendra memperkenalkan sang pengacara.
Arya pun bergantian menyalami ketiga wanita didepannya.
" Kupikir pengacara Ayah sudah tua. Ternyata masih muda. Apa dia benar - benar seorang pengacara ? " Pikir Anita.
" Om Hendra bisa saja, saya tidak sehebat itu. Masih butuh banyak belajar om. " Sahut Arya merendah.
Tak berapa lama kemudian, Hendra, Anita dan Arya pun berangkat ke kantor polisi dengan menggunakan mobil Arya.
Dari kaca spion di kursi kemudi nya, Arya memperhatikan Anita yang duduk dikursi belakang nya sambil menyenderkan kepalanya dijendela. Meski matanya mengarah keluar jendela, namun pikiran nya entah kemana. Ya ... Anita memang sedang melamun. Banyak hal yang dipikirkan sekaligus dicemaskan nya.
Sampai dikantor polisi, Arya membantu Anita untuk membuat BAP. Setelah itu Anita dimintai keterangan guna penyelidikan lebih lanjut.
Meski bukan pelaku kriminal dan hanya dimintai keterangan saja, namun Anita merasa takut dan gugup. Tangan nya terasa dingin dan wajahnya berkeringat. Ini kali pertamanya dia berurusan dengan polisi. Arya pun menyadari hal itu.
" Apa kamu melakukan kejahatan ? " Tanya Arya.
" Apa maksudmu ? Aku ini warga negara yang baik. " Jawab Anita tak terima.
" Kalau begitu jangan takut, kamu hanya akan dimintai keterangan saja. Mereka tidak akan menghukum mu. Penyidik akan mengajukan beberapa pertanyaan, jawablah sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Dan jika kamu memang tidak tahu, jawablah tidak tahu. " Ucap Arya.
Anita pun mengangguk pertanda mengerti.
__ADS_1
***
" Dokter ... Bagaimana keadaan anak saya ? " Tanya Merry pada Dokter yang baru saja memeriksa.
" Operasinya kemarin berjalan lancar. Meski pisau nya menusuk cukup dalam tapi sama sekali tudak melukai organ dalam nya. Tanda vitalnya juga terkontrol bagus. Tapi entah kenapa pasien masih belum sadar. Mungkin pengaruh kondisi alam bawah sadarnya. Kita tunggu saja dulu, semoga pasien bisa segera sadar. " Ucap Dokter menjelaskan.
" Lalu ... Apa kami sudah boleh menjenguk nya Dok, saya ingin melihat putra saya. " Tanya Merry.
" Tidak masalah, tapi tolong jangan ribut dan mengganggu pasien. " Jawab Dokter.
" Baik Dok, terima kasih. " Sahut Merry.
Sebelum Merry melangkah masuk keruangan Andy, sebuah suara mengejutkan nya.
" Aunty ... What happend to Andy ? How's it going ? " Tanya sang keponakan yang tak lain adalah Catherina wilson atau Cathy.
Merry menatap sang sopir yang berdiri disamping Cathy.
" Maaf nyonya ... Non Catherine curiga saat melihat saya membawa koper baju nyonya. Dia memaksa saya untuk mengatakan yang terjadi. " Ucap Sang sopir tanpa ditanya, seolah tahu arti tatapan sang majikan.
" Please auntie ... answer me. Is Andy okay ? " Tanya Cathy lagi.
" He is okay now, don't worry. " Sahut Merry.
" But mainly how did this happend auntie ? Bukankah kemarin Andy pergi dengan Anita ? " Tanya Cathy lagi.
" Ceritanya panjang, sudah lah yang penting sekarang Andy baik - baik saja. Tante mau masuk dulu untuk melihat Andy.
" Cathy ikut tante ... " Ucap Cathy.
" Tidak, kamu disini saja. Andy belum boleh dijenguk banyak orang. " Sahut Merry.
" But I wanna see him auntie. " Bujuk Cathy.
" Please Cathy ... Kalau kamu mau disini, kamu harus nurut tante. Kalau tidak, lebih baik kamu kembali kerumah. " Ucap Merry dengan nada agak tinggi.
Cathrine pun menurut kemudian duduk di kursi tunggu.
Bukan nya tidak boleh menjenguk, tapi Merry tahu betul sifat Cathy. Jika melihat Andy, dia pasti akan heboh dan berteriak histeris. Merry takut jika hal itu akan mengganggu Andy.
__ADS_1