
" Seperti hal nya kau yang menyayangi putrimu, aku pun juga sangat menyayangi putriku. Apa yang sudah dilakukan Vera bukan lah hanya becandaan atau pun keisengan semata. Yang dilakukan Vera adalah sebuah tindakan kriminal yang mengancam nyawa orang lain. Aku tidak bisa membayang kan jika putriku tidak segera ditemukan saat itu juga, mungkin mayat nya lah yang akan ditemukan ke esokan hari nya. " Ucap Rahmi sambil berurai air mata.
" Aku tahu itu Rahmi. Karena itu aku mohon ampunilah putriku. Pihak sekolah sudah menskors nya saat selesai ujian nanti. Dan aku pun juga akan memberinya hukuman agar dia jera. Aku juga akan mengganti biaya pengobatan Anita dan ganti rugi psikis nya sebagai kompensasi. Tapi aku mohon maaf kan putriku, dan jangan bawa masalah ini ke jalur hukum. Nama baik keluarga ku akan tercemar jika sampai putriku dipenjara. Masa depan nya juga akan hancur, begitu pun dengan bisnis ku. " Ferdy berusaha membujuk Rahmi dan menyodorkan amplop coklat tebal yang berisi uang.
" Kau memang benar. Putrimu jadi seperti itu karena mu. Apa kau pikir semua bisa diselesaikan dengan uang ? Apa kau pikir aku mata duitan hingga mau menerima sogokan mu ? Apa hanya nama baik keluarga mu dan kelangsungan bisnis mu saja yang kau pikir kan ? Apakah keselamatan putriku kau anggap tidak penting ? Asal kau tahu saja, bukan penjara yang akan menghancur kan masa depan putrimu. Tapi hilang nya moralitas, kemerosotan akhlak, kesombongan, ambisi dan egoisme putrimu sendiri yang akan membuat masa depan nya hancur, dan itu semua karena mu. " Ucap Rahmi geram.
" Iya kau benar. Aku terlalu sibuk dengan dunia ku hingga melupakan putriku. Aku bukan ayah yang baik karena tidak bisa mendidik putri ku dengan baik. Itu semua memang salah ku, aku pun menyadari nya. Aku menyadari nya saat semua nya sudah terlambat. Putriku sangat keras kepala, dia sama sekali tidak mau mendengar kan omongan ku. Dia selalu punya alasan untuk membenar kan semua kesalahan nya. Aku sudah gagal. Aku gagal sebagai orangtua. " Ucap Ferdy menyesali kesalahan nya selama ini.
" Aku pun juga punya banyak kekurangan sebagai orang tua. Tapi aku bersyukur putriku tumbuh dengan sangat baik. Tidak ada kata terlambat. Kau bisa melakukan nya jika kau mau. Didiklah putrimu dengan baik sebelum dia menghancur kan diri nya sendiri dan orang lain nanti nya. " Ucap Rahmi memberi nasehat.
" Terimakasih, aku akan melakukan nya. Tapi ... apa itu berarti kau sudah memaafkan putriku ? " Tanya Ferdy.
" Jika putrimu sendiri yang datang untuk meminta maaf dan menunjuk kan penyesalan nya, dengan senang hati aku akan memaaf kan nya. Tapi seperti nya putrimu tidak mau meminta maaf dan mengakui kesalahan nya. Jadi tidak alasan bagiku untuk memaaf kan nya. " Jawab Rahmi.
" Apa itu arti nya kau akan melapor kan putri ku ke kantor polisi ? " Tanya Ferdy lagi.
" Bukan aku yang berhak memutus kan nya, melain kan putriku Anita. Tapi jangan khawatir, aku akan membujuk nya agar tidak membawa kasus ini ke jalur hukum. " Jawab Rahmi.
" Terima kasih Rahmi. Terima kasih atas semua nasehat dan juga bantuan mu. " Ucap Ferdy sambil menggenggam tangan Rahmi.
" Baiklah ... Sudah hampir petang, pulang lah dan jangan lupa bawa amplop itu kembali. " Sahut Rahmi sambil menarik tangan nya dari genggaman Ferdy.
" Kenapa kau tidak mau menerima nya ? Kumohon terimalah, dan jangan menganggap itu sogokan. Anggap itu sebagai permintaan maaf ku, meski aku tahu itu tak seberapa dibandingkan apa yang dilakukan putriku. " Ucap Ferdy lagi.
__ADS_1
" Aku tidak butuh itu. Ambil uang mu dan segera lah pergi. Kau sudah terlalu lama disini. Aku tidak mau orang lain berpikiran macam - macam tentang kita. " Tolak Rahmi.
" Baiklah, kalau begitu. Aku pergi, sekali lagi terima kasih. " Ferdy berdiri, meraih amplop coklat yang tergeletak diatas meja dan berbalik menuju pintu.
Rahmi mengikuti nya karena hendak menutup pintu saat Ferdy sudah pergi nanti.
Ferdy berbalik dengan tiba - tiba membuat Rahmi membentur dada nya. Ferdy memanfaat kan momen itu, dia meraih pundak Rahmi dan menenggelam kan kepala Rahmi di dada nya.
Jantung Ferdy berdetak dengan cepat, mungkin Rahmi juga merasakan nya. Seulas senyum terbersit di bibir Ferdy. Dia benar - benar merindukan saat - saat bersama dengan Rahmi seperti ini.
Rahmi mendorong Ferdy hingga terlepas dari pelukan nya, kemudian memundur kan langkah nya sedikit menjauh dari Ferdy.
" Kau mau apa lagi ? " Tanya Rahmi.
" Aku rasa tidak perlu karena kita sudah tidak ada urusan lagi. " Jawab Rahmi sedikit ketus.
" Ayolah ... Bukan kah kita masih berteman. Siapa tahu aku membutuh kan bantuan mu suatu saat, begitu pun sebalik nya. " Bujuk Ferdy.
" Tidak perlu. Pergilah ... Kumohon ... " Pinta Rahmi.
" Baiklah ... Aku permisi. " Pamit Ferdy dengan raut kekecewaan di wajah nya.
Ferdy melangkah keluar dan menaiki mobil nya. Rahmi memperhatikan sambil berdiri di teras. Ferdy membuka kaca mobil nya dan melambaikan tangan nya pada Rahmi.
__ADS_1
" Aku akan kesini lagi lain kali. Tunggu lah kedatangan ku. " Teriak Ferdy sambil melambai kemudian melajukan mobil nya dan berlalu pergi.
" Ckckck ... Kata nya CEO, kenapa tidak ada wibawa nya sama sekali. Malah terlihat seperti anak kecil. " Gerutu Rahmi sambil tersenyum dan menggeleng - geleng kan kepala nya.
" Kenapa masih belum ada kabar dari Anita. Nomor nya juga tidak bisa dihubungi, bahkan nomer Andy juga tidak aktif. Teman - teman nya pun tidak ada satu pun yang tahu keberadaan Anita. Semoga saja tidak terjadi apa - apa padanya. " Gumam Rahmi dengan raut kecemasan di wajah nya.
Rahmi pun masuk kedalam rumah nya kemudian menutup pintu.
*** Pov Anita ***
Hendra bersama Dion masuk kedalam ruangan Anita setelah menyelesaikan administrasi nya.
Andy terlihat sedang duduk disamping ranjang Anita dan menyuapi nya.
" Bagaimana ndy, apa semua nya baik ? " Tanya Hendra pada Andy.
" Iya om, Anita sudah dipasang infus. Perawat bilang besok pagi baru akan dilakukan pemeriksaan foto thorax sekaligus berkonsultasi dengan dokter ortopedi. " Jawab Andy.
" Bagus lah kalau begitu. " Ucap Hendra sambil menepuk pelan bahu Andy.
" Tadi ayah melihat orang berjualan martabak dan kue bandung di depan masjid saat sholat tadi, jadi ayah belikan untuk mu. Bukan kah dulu sewaktu kecil kamu sangat menyukai nya. Tiap ayah pulang kerja, kau selalu merengek minta dibelikan. " Ucap Hendra sambil mengingat masa kecil Anita dulu.
Hendra pun meletak kan bawaan nya diatas nakas.
__ADS_1
" Ternyata ayah masih mengingat nya. " Batin Anita dengan mata berkaca - kaca.